Rompang 13

1896 Words
Assalamu'alaikum. Happy weekend. Maaf bab ini tidak sampai 2rb kata. Dunia real dan rasa malas saya sedang saling berkejaran. Semoga tetap enjoy dan menikmati alur cerita ini, ya. Happy reading!! Arsya berjalan tergesa menuju mobilnya. Anjani yang mengantarkan Arsya hingga depan gerbang dapat melihat bahwa tubuh tegap tinggi itu tidak dapat menutupi raut gelisah dan terburu. Anjani juga cukup terkejut kala melihat Arsya mengendarai mobil ke rumahnya. Selama ini, ia tidak pernah tahu Arsya mengendarai apa ketika ke sekolah. 'Apa aku terlalu abai dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar sehingga kendaraan apa yang Arsya kendarai saja aku tidak tahu?' tanya batinnya. ‘Jadi Arsya termasuk dari kalangan keluarga kaya?’ lanjut batin Anjani. Ia tidak terkejut melihat hal itu. Sesekali ia memperhatikan penampilan Arsya. Mulai dari kemeja, sepatu baik sport atau pun fantopel yang digunakan Arsya bermerk. Belum jam tangan sport yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Juga salah satu merk handphone keluaran Negeri Paman Sam dengan tipe yang meskipun bukan seri terbaru tetapi ia cukup tahu harganya yang di atas 10 juta itu. Anjani menjadi takut setelah mengetahui Arsya berasal dari kalangan keluarga berada. Mulai sekarang ia harus berhati-hati. Bukan takut ditindaas atau membedakan pertemanan, tetapi ia tidak siap mental jika berhadapan dengan keluarga berada. Membuatnya teringat dengan keluarga dari ayahnya yang selalu memandang keluarga mereka sinis dulu karena keluarganya tidak sekaya yang lain. Ia membenci orang-orang yang mengkotak-kotakkan harta sebagai landasan bersosialisasi. Rekan guru di sekolahnya juga banyak yang dari kalangan keluarga berada, tetapi setahunya tidak pernah ada yang mengendarai mobil ke sekolah kecuali kepala sekolah dan beberapa wakil kepala sekolah. Anjani kembali disadarkan ke dunia nyata kala Arsya membunyikan klakson pertanda pamit. Anjani mengangguk pertanda ia mempersilakan Sang Tamu melanjutkan laju mobilnya. Ia memperhatikan mobil Arsya hingga melewati jalan yang sedikit berkelok. Anjani pun masuk ke rumah setelah menutup gerbang. “Halo, Sayang. Kok sudah bangun sih sayangnya Aunty?” ucap Anjani sambil menoel-noel pipi tembam keponakannya. “Namanya juga masih bayi, Nduk. Tidurnya biasanya hanya sekitar 30-90 menit. Kalau malam baru tidurnya seperti orang dewasa,” jelas Sukma. “Tapi terkadang tiap bayi berbeda-beda,” lanjutnya. "Dan lama-kelamaan jam tidurnya akan sama seperti orang dewasa. Ada masanya kita akan merindukan masa-masa itu. Jadi, kita nikmati saja segala prosesnya sekarang." Anjani mengangguk. Ia dapat membayangkan sewaktu kecil mungkin sama seperti Putri. Mengingat hal itu, ia segera merangkul bahu ibunya. Pasti ibunya lelah karena harus merawatnya yang istirahatnya tak tentu itu. “Maafkan Anjani jika semasa balita hingga sebesar ini membuat Ibu repot dan lelah. Maaf juga jika Anjani banyak salah dan mungkin membentak Ibu,” ucap Anjani tulus. Ia menempelkan kepalanya pada bahu kanan ibunya. Sukma mengusap pipi Sang Putri dengan lembut. Lembut penuh kasih sayang yang melimpah. “Nduk, yang namanya orang tua tidak akan pernah direpotkan oleh anak-anaknya. Apalagi anak adalah pemberian, rejeki dari Gusti Allah. Dan anak adalah salah satu usaha dan keinginan orang tua itu sendiri. Jadi, orang tua harus bersabar dalam membimbing dan mendidik anak mereka hingga sukses. Tidak hanya sukses dunia tetapi juga sukses akhirat.” Anjani terenyuh mendengarkan pemaparan Sukma. Ia semakin mempererat pelukannya dan menempelkan kepalanya pada bahu ibunya. Bahu yang sejak ia lahir hingga sekarang menjadi sandarannya. Dalam hati ia berdoa semoga ibunya selalu dilimpahkan kesehatan agar mereka dapat terus bersama. Ia juga berharap jika suatu hari nanti menjadi seorang ibu, ia akan menjadi ibu yang sehebat Sukma. Putri yang berada di gendongan Sukma sedikit mendongak. Ia memperhatikan Sukma yang berbicara. Di usia Putri sekarang, bayi itu memang sudah mampu mendengar dengan baik. Ia sering menyimak siapa pun yang berbicara di dekatnya dengan diam dan memfokuskan pandangan pada Sang Pembicara. “Hih… kamu menggemaskan sekali, Sayang.” Anjani melepas pelukannya pada Sukma kemudian mendekat ke arah Putri. Ia cium pipi keponakannya dengan sayang. “Biar Anjani yang menggendong, Bu. Ibu lanjutkan menjahit. Seandainya Anjani bisa menjahit, pasti Anjani akan bantu Ibu agar pekerjaan Ibu cepat selesai.” Sukma melepaskan kaitan kain gendongan sehingga kain yang melintang di badannya terlepas. Sukma membawa Putri ke dekapan Anjani. “Karena kamu memang ditakdirkan oleh Allah untuk jadi guru, jadi pendidik. Jadi apa pun keahlian kamu, harus tetap disyukuri dan dijalani sepenuh hati,” pesan Sukma. “Siap, Bu. Insya Allah Anjani akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak.” “Dan yang paling penting kamu harus ikhlas dalam menyalurkan ilmu ke anak-anak. Jangan hanya mengejar gaji saja,” tegas Sukma. Anjani mengiyakan. Sukma berulang kali mengingatkan Anjani akan keikhlasan dan keberkahan dalam setiap tindakan. Anjani tidak pernah bosan mendengarkan pesan ibunya. Hal itu menunjukkan bahwa ibunya sayang dan peduli padanya. Dan dengan itu, ia akan selalu berusaha belajar ikhlas. *** Sedangkan Arsya di dalam mobilnya sibuk memasang handsfree. Kemudian ia mencari kontak dengan nama kakaknya. “Kenapa harus aku sih, Mbak? Kan jadwalku hanya malam hari.” Tanpa mengucap salam atau pun say hai, Arsya langsung memburu kakaknya dengan pertanyaan yang disertai decakan kesal. “Perjanjiannya kan aku aku ke sana kalau shift sore atau malam. Ini belum waktunya,” gerutu Arsya. Arsya semakin berdecak kesal karena jalanan di siang hari ini yang tiba-tiba padat, tidak biasanya. “Dek, kamu nggak lupa akan sumpah kamu kan? Kamu harus bersedia kapan pun saat dibutuhkan,” tegas Ayuni. Arsya mengembuskan napas pasrah. Ia merasa tertohok mendengarkan perkataan Ayuni. “Memangnya yang lain ke mana, Mbak? Yang jaga kan selalu tiga orang.” Arsya masih terus menggerutu dan protes. “Ada kecelakaan besar, Dek. Korbannya nggak hanya satu atau dua orang. Ketiga dokter sudah menangani beberapa korban. Sedangkan korban lain belum ada yang menangani. Kamu mau membiarkan korban yang lain kesakitan? Jangan egois!! Aku, Mama, dan Papa sudah menuruti kemauan kamu tentang kesibukan baru kamu ini. Tapi ingat, kamu punya tanggung jawab yang lebih besar.” Ayuni mengatakan itu dengan menggebu dan tegas. Kemudian sambungan telepon dimatikan oleh Ayuni tanpa menunggu jawaban Arsya. "Mama dan Papa mah nggak peduli, Mbak," gumamnya. Arsya memukulkan tangannya pada pinggiran stir. Ia paling benci jika diingatkan akan pekerjaan utama dan tanggung jawabnya. Belum lagi jika menyangkut mama dan papanya. Setelah memarkirkan mobilnya pada parkiran khusus, Arsya dengan langkah tergesa menuju sebuah ruangan. Di perjalanan menuju rumah sakit, ia sudah menghubungi asistennya agar menyiapkan perlengkapan untuknya. Di setiap lorong yang ia lewati, beberapa perawat dan dokter yang mengenalnya tidak berhenti menyapa dan melemparkan senyum. Arsya hanya membalasnya dengan anggukan karena ia diburu oleh waktu. “Scuba suits saya sudah disiapkan?” tanya Arsya tegas pada seorang laki-laki muda yang sudah mengenakan scuba suits berwarna hijau. Scuba suits atau seragam operasi adalah jenis pakaian sanitasi yang dikenakan oleh dokter, bidan atau pun perawat sebelum memasuki ruang operasi. Seragam dengan desain sederhana ini memiliki ukuran dan warna yang bervariasi. Scuba suits terdiri dari atasan dengan model kerah v-neck atau round neck, disertai dengan bawahan berupa celana panjang yang longgar. Desain seragam operasi yang sederhana ini membuatnya terminimalisir dari kontaminasi serta mudah dalam pencucian. Saat ini, seragam operasi ini mulai luas digunakan oleh staff rumah sakit, tidak lagi terbatas hanya digunakan di ruang operasi. Scuba suits yang digunakan untuk staff medis di ruang operasi biasanya berwarna hijau terang atau biru muda terang. Sedangkan yang digunakan oleh staff medis yang lain, terdapat warna dan pola yang beragam. “Sudah, Dok.” Arsya mengangguk. Ia berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Kemudian ia segera mengganti pakaiannya dengan scuba suits, lebih tepatnya melapisi pakaian kerjanya dengan scuba suits. Scuba suits warna hijau identik dengan pakaian bedah atau operasi, baik dokter, bidan, mau pun perawat. Warna ini dipilih karena hijau merupakan warna yang dapat memberikan efek ilusi optik. Ilusi yang mengganggu seperti warna merah pada organ dalam tubuh dan juga darah akan dibaurkan dengan warna pakaian yang digunakan sehingga tidak akan menjadi gangguan. Sebelum memasuki ruang tindakan atau operasi, dokter, bidan atau pun perawat harus dalam keadaan steril. Arsya mempercepat melapisi scuba suits-nya dengan apron medis, masker, penutup kepala, sarung tangan, dan terusan operasi. Tujuan menggunakan pakaian seperti itu adalah untuk melindungi orang yang memakainya dan pasien yang sedang ditangani agar terhindar dari zat-zat berbahaya seperti kimia, partikel kotor, dan radiasi yang berbahaya. Berbagai alat operasi sudah disiapkan. Mulai dari alat bedah hingga beberapa zat yang akan digunakan. Arsya menanyakan kepada semua pihak yang hadir apakah pasien sudah dalam kondisi siap untuk dioperasi. Kemudian tangannya dengan cekatan segera membuka bagian tubuh yang membutuhkan tindakan. Setelah dilakukan beberapa hal dan dirasa semuanya sudah sesuai ia dengan cepat menutup luka dengan jahitan. Butuh waktu hampir satu jam setengah untuk melakukan operasi. Ia segera mengembuskan napasnya lega karena operasi berjalan dengan lancar. Setelah memastikan bahwa asistennya akan melanjutkan menulis hasil operasi dengan baik, ia undur diri dari ruang operasi menuju ke ruangannya. Tubuhnya sedikit lelah. Ia ingin menyandarkan punggungnya pada kursi atau setidaknya merebahkan tubuhnya di ruang istirahat. Namun, harapannya menjadi harapan semu semata. Ada Ayuni yang sudah menunggunya di depan meja kerjanya. Ia berdecak kesal. Ia sedang ingin istirahat, sedang tidak ingin berdebat dengan Sang Kakak. “Lancar?” tanya Ayuni. Arsya hanya mengangguk. Ia mencuci tangannya kemudian beralih ke kamar mandi untuk mengganti seragam operasinya dengan pakaian yang lebih nyaman. “Ngapain ke sini?” tanya Arsya judes. “Galak bener. Kayak macan betina.” Arsya hanya mendengus. Ia sedang tidak ingin bercanda. Tubuhnya lelah. “Kan Mbak cuman mau nengok kamu, Dek. Di rumah kamu cuman numpang tidur doang. Mau ngajak ngobrol gimana, wong kamu sukanya kelayapan di luar rumah.” Ayuni tentu tahu alasan Arsya seperti itu, tetapi ia sedang ingin mengungkapkan segala isi hati dan keluh kesahnya bahwa ia merindukan kehadiran Arsya di tengah-tengah keluarga mereka. “Kamu masih marah sama Mama dan Papa?” “Ya menurut Mbak saja gimana?” balas Arsya ganas. “Kakak nggak pingin belikan aku minuman dingin gitu?” “Adek durhaka ya memang kamu itu!!” omel Ayuni. Arsya hanya menyunggingkan senyum kaku. Ia memilih menutup matanya sejenak. Jujur, ia sangat mengantuk. Di tengah rasa kantuk yang menyerang, terdengar suara Ayuni yang meminta tolong seseorang untuk membelikannya minuman dan diantar ke ruangannya. Arsya pun berdecak mendengar perkataan Ayuni. “Kenapa malah minta tolong dia sih, Mbak? Mbak pingin membuat dia semakin berharap?” “Ya siapa tahu hatimu bisa terbuka untuknya, Dek,” jawab Ayuni santai. Arsya semakin kesal dengan kelakuan Ayuni yang seenaknya itu. “Mbak!! Mbak tahu kan kalau aku sedang melakukan pendekatan dengan rekan kerjaku di sekolah?” geram Arsya. Ia jadi menyesal karena minta tolong pada Ayuni. “Kan masih pendekatan, Dek. Belum tentu Si Anjani mau sama kamu,” ucap Ayuni enteng. Arsya ingin sekali menyumpal mulut kakaknya yang suka bicara seenaknya itu. Namun, ia tidak ingin dicap sebagai adik durhaka. Cukup sudah dirinya menjadi anak durhaka. Tidak berselang lama, pintu ruangannya diketuk dan menampilkan wajah ayu seseorang yang membawa dua cup minuman dingin rasa cokelat. “Masuk sini, Yas,” pinta Ayuni. Perempuan itu pun dengan menunduk dan malu berjalan menghampiri Arsya dan Ayuni. Hal itu pun membuat Arsya dengan cepat membuka matanya. “Sudah, ya. Mbak mau kembali ke ruangan. Yasmine!! Kamu di sini saja nemenin Arsya,” kata Ayuni yang berhasil membuat Arsya dengan cepat melemparkan gumpalan kertas ke arah kakaknya. Ayuni menahan tawanya. Kemudian dengan langkah santai berjalan meninggalkan sepasang manusia itu. Sedangkan Yasmine dibuat bingung dengan situasi ini. Dan saat tiba di ruangan, Ayuni tidak dapat lagi menahan tawanya. Ia tertawa bahagia di atas penderitaan adiknya. "Biar semakin pusing dan lelah dia. Memang paling seru kalau ngerjain adik sendiri," gumamnya senang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD