Rompang 14

2255 Words
Assalamu’alaikum. Happy weekend. Sambil rebahan, kalian bisa menikmati cerita Rompang ini, ya. Tapi, jangan lupa makan, mandi, dan istirahat yang cukup juga. Tetap jaga kesehatan dan juga protokol kesehatan, ya. Happy reading!! [Masa pendekatan Arsya dengan Anjani] Rasa lelah dan kantuk yang sempat hadir seketika menguap karena keberadaan Yasmine di ruangannya. Ingin sekali ia mengumpat dan memberikan sumpah serapah pada kakak perempuannya itu. Namun, tiba-tiba ada ide yang melintas di benaknya membuatnya menunda untuk menghubungi kakaknya. Ide gila yang baru saja terpikir itu memunculkan senyum tipis di bibirnya. Yasmine berdiri di tengah ruangan Arsya dengan canggung. Ia merasa tidak tahu harus melakukan apa. Melihat Arsya yang tampak tak peduli dengannya semakin membuatnya merasa sedang berada di tempat asing. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang telah masuk dalam perangkap Ayuni. ‘Bodoh sekali kamu, Yas,’ rutuknya. “Duduk di sana, Yas,” ucap Arsya sambil menunjuk sofa yang ada di ruangannya. Meskipun ia kesal, ia masih mengingat akan sopan santun. Yasmine mengangguk. Ia sedikit lega karena ternyata Arsya masih mengingat keberadaannya. Dua cup cokelat dingin ia letakkan di meja kaca. “Ehm… ini cokelat dinginnya, Mas,” kata Yasmine terbata. Beberapa kali bertemu, membuatnya masih kaku jika harus berbincang dengan Arsya. Selain karena takut akan wajah Arsya yang kadang kala tampak dingin, ia juga tidak pandai membuka topik obrolan. “Terima kasih, Yas. Berapa harganya?” Arsya berjalan mendekat ke arahnya sambil membuka dompet. Tampak Arsya mengambil selembar uang kertas seratus ribuan. “Tidak perlu, Mas,” tolak Yasmine halus sambil menggoyangkan telapak tangannya. Arsya tentu menolak hal itu. Ia letakkan selembar uang kertas itu di hadapan Yasmine. Kemudian ia mengambil satu cup cokelat dingin miliknya. “Diminum, Yas,” ucap Arsya. Ia kembali berjalan ke kursinya. Ia mulai menyesap minumannya dan asyik dengan handphone-nya. Yasmine mengangguk. Ia menjadi bingung sendiri. Kikuk sekali jika harus berhadapan dengan Arsya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Yasmine memilih mulai menghabiskan minumannya sambil memindai ruang kerja Arsya. Ruangan kerja Arsya tidak begitu luas. Semua peralatan medis dan perabotan tertata rapi di tempatnya. Tidak ada sesuatu yang menarik selain cara penataan ruang yang rapi dan sedikit kaku. Tidak ada sentuhan estetik sama sekali. Tidak ada pula sesuatu yang berbau milik pribadi. Jika ruangan pribadi dokter biasanya ditambah dengan lukisan atau foto keluarga, tidak dengan ruang kerja Arsya. Semuanya hanya tentang pekerjaan Arsya. Mata Yasmine berhenti memindai dan fokus pada Arsya yang sibuk dengan handphone-nya sambil sesekali menyesap cokelat dinginnya. Ingin sekali Yasmine mengajak laki-laki itu berbincang, tetapi melihat Arsya yang seperti merentangkan jarak padanya membuatnya mengurungkan niat itu. Ia pun sadar bahwa tidak ada topik pembicaraan yang akan diangkat. Cokelat dingin yang hanya tersisa setengah cup berhasil membuat pikirannya sedikit rileks. Ia sudah membuka mulutnya hendak mengucapkan sesuatu pada Arsya. Namun, ia segera mengatupkan bibirnya kembali kala melihat Arsya menempelkan handphone di telinganya. “Wa’alaikumsalam.. Galak banget,” kata Arsya. Yasmine memandang Arsya yang sibuk berbincang dengan seseorang melalui sambungan telepon itu. Malang sekali nasibnya. Ia benar-benar merasa seperti seseorang yang hanya bertugas membeli minuman dan mengantarkannya pada Sang Pemesan. Mengenaskan sekali Yasmine. Ia merasa seperti office girl. Ia menghela napas panjang. Hendak pamit pun tidak enak karena pasti akan memotong pembicaraan Arsya. Maka, mau tidak mau ia harus menunggu dengan sabar sambil mencuri dengar obrolan Arsya dengan Sang Lawan Bicara. “Iya, Sayang. Maaf tadi ada urusan mendadak. Kapan-kapan aku ke sana lagi. Jangan ngambek,” ucap Arsya lembut. Dada Yasmine tiba-tiba terasa sesak. Ada segumpal amarah dan rasa cemburu yang tiba-tiba hadir. ‘Apa Mas Arsya sudah memiliki pacar?’ batinnya nelangsa. Arsya tertawa riang. Yasmine tidak tahu apa yang diucapkan oleh seseorang di seberang sana sehingga memunculkan tawa lebar Arsya. Ia sungguh iri. Kapan ia bisa membuat Arsya tertawa seperti itu? “Iya. Salam buat ibu dan Putri, ya. I love you.” Perasaan Yasmine semakin tergores dalam. Mendengar Arsya mengucapkan kata cinta pada orang lain, membuatnya ingin menangis. Yasmine dapat merasakan ketulusan Arsya dalam mengucapkan kata cinta itu. ‘Apa tidak ada kesempatan untukku, Mas Sya?’ tanya batinnya menjerit. “Lho? Kamu masih di sini, Yas?” tanya Arsya dengan terkejut. Yasmine menyunggingkan senyum kaku. ‘Bahkan kehadiranmu pun tidak dapat dirasakan oleh Arsya, Yas. Mengenaskan!’ ejek batinnya. “Ehm.. kalau begitu aku permisi ya, Mas,” pamit Yasmine. “Terima kasih untuk cokelatnya, Yas,” balas Arsya. Yasmine hanya dapat mengangguk kaku. Belum juga melakukan pendekatan pada Arsya, Arsya sudah menganggapnya sebagai makhluk tak kasat mata. Belum lagi sepertinya Arsya sudah memiliki kekasih. Dirinya sudah tidak memiliki harapan sedikit pun. Yasmine melangkah keluar dari ruangan Arsya dengan langkah lunglai. Tulangnya terasa berubah seperti jelly. Yasmine menyandarkan tubuhnya pada dinding sebelum melangkah menuju lift. Ia butuh mengumpulkan tenaga untuk menjalani sisa hari. Kedatangannya ke ruangan Arsya menamparnya begitu kuat. Menyadarkannya bahwa ia tak berarti apa pun bagi Arsya. Arsya menyunggingkan senyum sinis. Untungnya Anjani kooperatif sehingga Yasmine dengan mudah dapat ia sadarkan bahwa ia tidak ingin menjalin hubungan dengan dokter anak itu. Bukan bermaksud sengaja memanfaatkan Anjani, tetapi ia memang ingin menelepon Anjani sejak tadi. Ia butuh jawaban sinis Anjani agar membuat mood-nya menjadi lebih baik. Entahlah, sedikit aneh. Tetapi hal itu memang berhasil membuat mengembalikan mood-nya. Senyum itu berubah menjadi senyum lebar saat ia tersadar bahwa Anjani telah menerima permintaannya tadi siang. Yah meskipun sedikit ia paksa, tetapi ia merasa sangat bahagia atas jawaban Anjani di akhir perbincangan mereka di telepon tadi. Ia merasa tidak menyesal saat memutuskan untuk mengganti nama kontak Anjani tadi siang. Dari nama kontak yang ia harapkan dapat benar-benar berubah di dunia nyata setidaknya sebulan ke depan, ternyata dikabulkan Tuhan sore ini. Bersyukur sekali Arsya. *** [Kembali ke masa sekarang] “Kotak apa ini, Jan?” tanya Nabila penasaran. Ia mengangkat dan mengamati kotak plastik bening yang berisi salad buah pemberian Arsya. Anjani mendongak dari kesibukannya membaca hasil laporan siswa-siswinya. “Oh itu? Salad buah,” jawab Anjani. “Kamu beli di mana? Kok nggak ngajak-ngajak aku kalau mau beli,” cecar Nabila. Anjani bingung hendak menjawab apa. Ia lirik Arsya yang juga sedang memandang ke mejanya. “Ehm.. kalau kamu mau, kamu bisa join saja sama aku,” ucap Anjani akhirnya. Ia memandang Arsya meminta persetujuan. Melihat Arsya yang mengangguk membuat Anjani mengembuskan napas lega. Ia tidak ingin mengecewakan Arsya. Meskipun hanya sekotak salad buah, ia harus tetap menghargai pemberian orang lain. “Wah!! Terima kasih, Anjani Sayang,” seru Nabila heboh. “Nggak usah berisik,” peringat Anjani tajam. Nabila cengengesan. Ia segera mengambil kursinya dan menariknya mendekat ke meja Anjani. Tindakan Nabila membuat Anjani mengernyit heran. “Mau ngapain?” tanya Anjani dengan dahi yang mengkerut. “Katanya boleh join salad buahnya,” balas Nabila polos. “Harus banget sekarang? Aku masih harus ngoreksi satu kelas lagi ini.” Nabila memasang wajah kecewa. “Yah…… Kenapa nggak dimakan sekarang saja sih, Jan?” Anjani menghela napas panjang. Mencoba bersabar. “Kalau kamu makan dulu saja gimana? Nanti sisakan buat aku,” saran Anjani. Ia tidak suka jika harus menunda pekerjaannya. Setelah ini ia tidak ada jadwal, sehingga memutuskan menyelesaikan koreksi laporan terlebih dahulu sebelum melakukan hal lain. Nabila jadi tidak enak sendiri. Ia yang minta, tetapi malah ia yang memburu Anjani. Tidak tahu diri sekali dirinya. “Aku tunggu kamu saja, Jan.” “Nggak papa?” tanya Anjani memastikan. Nabila mengangguk. Jika ia mengatakan tidak boleh, sahabat macam apa dirinya. Hanya demi makanan membuatnya menjadi orang yang tidak peka. Ia harus sadar diri. “Aku ke kursiku dulu, ya.” Anjani mempersilakan. Ia memilih mempercepat mengoreksi laporan agar tidak membuat Nabila menunggu. Satu jam kemudian, Anjani sudah selesai mengoreksi laporan itu. Ia dan Nabila menikmati salad buah yang diberikan Arsya. “Rasanya segar dan pas. Tidak terlalu manis. Buahnya juga terasa sangat segar, kadang-kadang kan ada beberapa potongan buah yang sudah gak terlalu segar,” kata Nabila setelah menyendok satu suapan. Anjani mengangguk menyetujui. Salad buah yang diberikan Arsya sepertinya harganya cukup mahal karena kualitas dan rasanya tidak kaleng-kaleng. “Kapan-kapan aku mau beli ini deh. Atau setelah ini aku pingin beli. Belinya di mana sih, Jan?” “Sudah dihabiskan dulu yang ini, Bil. Jangan cerewet deh,” omel Anjani. Jantungnya berdebar kencang. Ia hendak menjawab jujur tetapi takut semuanya jadi rumit. Biar nanti ia akan menanyakan pada Arsya di mana laki-laki itu membeli salad buah yang diberikan padanya. Hanya gara-gara sekotak salad bisa membuat semuanya menjadi kacau. Ia tidak ingin kekacauan terjadi. *** “Mas!! Lain kali jangan ngasih sesuatu ke aku kalau posisi masih di sekolah!” protes Anjani sebal. “Lho? Kenapa?” tanya Arsya bingung. “Hih… Anjani takut Nabila jadi curiga dan kepo. Males banget kalau sudah menghadapi kekepoan Nabila yang tingkat akut itu,” jelasnya. “Kan tadi Mas sudah bilang. Segera dimakan. Eh kamu malah sibuk nerusin koreksian laporan. Ya jangan salahkan aku kalau tiba-tiba Nabila datang dan meneror kamu dengan pertanyaan yang sama,” balas Arsya tenang. “Hih!! Nyebelin kamu memang. Emang itu beli di mana? Kalau misal nanti Nabila ingat dan tanya lagi biar aku bisa jawab,” desak Anjani. “Dikasih sama Mbak Ayuni. Tahu Mbak Ayuni kan?” Mimik muka Anjani menunjukkan kebingungan. Mana tahu dirinya siapa Ayuni itu. Anjani menggeleng. “Emang siapa Mbak Ayuni?” “Aku belum cerita?” “Cerita apa sih, Bapak? Jangan muter saja deh. Tinggal ngasih tahu siapa Mbak Ayuni saja muter terus kayak bianglala,” protesnya. Arsya tertawa kecil. “Sudah lima kali ini kamu memanggil dengan panggilan Bapak. Jadi, sisa 15 panggilan itu lagi dan kamu benar-benar harus menjadi pacarku,” ujap Arsya jumawa. “Kenapa sih ngebet banget? Aku kan sudah punya anak satu.” “Anak dari mana? Keponakan kamu itu Si Putri.” “Kamu itu juga ngapain sih tiba-tiba pake acara ngajak aku jadi pacar kamu? Banyak ancamannya pula. Wong kita juga baru deket beberapa waktu ini,” omel Anjani. “Kalau aku sudah merasa nyaman sama kamu terus aku harus gimana? Kamu kan harusnya sudah jadi pacarku. Eh malah tiba-tiba nggak mau dan membatalkan ucapan cinta kamu yang keceplosan itu katanya.” Anjani jadi malu. Pipinya bersemu. Ia menunduk. Ia merutuki bibirnya yang tidak bisa dikontrol sore itu. Setelah kunjungan pertama kali Arsya ke rumahnya, hatinya terasa nyaman dan tenang. Menjalani segala kegiatan pun terasa ringan. Hingga Arsya tiba-tiba meneleponnya. Dan bodohnya, di akhir sambungan telepon mereka, Anjani membalas ucapan cinta Arsya. Hal yang membuat Anjani ingin menenggelamkan diri dalam lautan dalam. Ia juga malu jika bertemu dengan Arsya karena antara logika, perasaan, dan bibir tidak sinkron. “Kan reflek itu, Mas. Salahkan saja antara logika dan bibirku yang sedang tidak sinkron.” “Alasan saja. Biasanya ucapan yang reflek itu adalah sesuatu yang sebenarnya dirasakan lho.” “Teori dari mana kayak gitu itu.” “Eh dibilangin nggak percaya.” Anjani cemberut. Kesal juga lama-lama dirinya jika harus berhadapan dengan Arsya. “Kamu itu suka banget mengalihkan topik ya? Gimana aku mau percaya sama kamu coba.” “Mengalihkan topik apa tho, Sayang?” Pipi Anjani dengan cepat memerah. Nasib tidak pernah dipanggil sayang oleh laki-laki selain keluarga membuatnya dengan mudah merasa tersipu. Arsya yang sedang melirik Anjani pun tersenyum lebar. ‘Menggemaskan sekali sih kamu, Jan.’ “Mbak Ayuni itu kakak perempuanku. Kamu pernah bertemu dengannya kok?” Anjani memutar tubuhnya menghadap Arsya. “Oh ya? Kapan?” Ia merasa tidak pernah bertemu dengan keluarga Arsya. Arsya memilih memfokuskan diri pada setir mobil karena lampu lalu lintas sedang menyala hijau. “Sebentar,” pinta Arsya pada Anjani agar menunggunya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju salah satu supermarket yang menjual berbagai kebutuhan rumah tangga. Sebenarnya hanya Anjani yang ingin ke sana seorang diri, tetapi Arsya memaksa akan mengantarnya. Anjani hendak membeli beberapa keperluan untuk dapurnya dan juga s**u untuk Putri. Harga barang-barang di supermarket itu sangat terjangkau. Bahkan lebih murah dari pasar. Anjani memilih belanja di supermarket itu sebulan sekali agar ongkos jalannya tidak terlalu mahal karena jarak dari rumahnya cukup jauh. Jika mengendarai sepeda motor kurang lebih 20 hingga 25 menit. “Kamu pernah membawa Putri ke rumah sakit pagi hari kan?” tanya Arsya ketika mobilnya sudah melaju di jalan yang cukup lengang. Anjani tampak berpikir. Mencoba mengingat-ingat. “Ah iya. Waktu itu Putri sedang demam dan aku bersama ibu membawanya ke rumah sakit.” “Mbak Ayuni itu dokter anak yang nangani Putri. Pagi itu aku sedang menjemput Mbak Ayuni dan melihat kamu baru saja dari apotek menebus obat,” tutur Arsya. “Iya aku ingat dengan dokter cantik itu. Namanya Mbak Ayuni? Waktu itu aku panik jadi tidak sempat melihat name tag-nya.” “Iya. Dia kakak kandungku. Jadi jangan berpikir macam-macam.” “Memangnya aku akan berpikir apa?” goda Anjani. Arsya baru saja memarkirkan mobilnya di depan supermarket. Anjani pun turun dari mobil saat Arsya mematikan mesin mobil. Arsya dan Anjani berjalan berdampingin menuju supermarket. “Sekarang sudah berani menggoda, ya,” ujar Arsya sambil mengusap pucuk kepala Anjani. “Mas!! Rusak nanti kerudungku,” protes Anjani. Arsya hanya nyengir. Tidak merasa bersalah sama sekali. “Gak usah cemberut gitu, ih. Sini Mas benarkan.” “Jangan! Yang ada malah rusak,” tolak Anjani dengan heboh. Arsya dibuatnya tertawa oleh kelakuan Anjani. “Jadi mau belanja apa saja?” Arsya meminta keranjang belanja merah yang baru saja diambil oleh Anjani. “Sabun, minyak, gula, s**u, dan keperluan-keperluan lainnya buat dapur, kamar mandi, dan cuci-cuci. Aku juga mau beli skincare.” Arsya mengangguk mengerti. Ia terus berjalan mengikuti kemana pun Anjani berjalan tanpa banyak protes dan tanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD