Hampir satu jam Arsya mendampingi Anjani berpindah dari rak satu ke rak yang lain. Inilah hal yang paling ia benci. Menemani seorang perempuan ketika sudah berbelanja ke mall atau supermarket benar-benar membuat kesabarannya diuji.
Cara perempuan berpikir terkadang membuatnya heran. Mereka sudah menyusun list barang-barang yang akan dibeli, tetapi ketika tiba di bagian barang itu berada, mata mereka suka berkeliaran ke kanan dan kiri. Dan saat menemukan barang yang membuat mata bersinar cerah, mereka akan menimbang untuk membeli atau tidak. Proses berpikir itu seringnya membutuhkan waktu lama. Jika hanya memandang sekilas tidak mengapa, tetapi ia lebih sering melihat mereka khilaf. Sehingga kekhilafan itu membuat waktu belanja semakin lama dari dugaan.
Saat ini, Arsya sedang berdiri di belakang Anjani yang mengantri membayar di salah satu kasir. Kasir di supermarket ini tidak hanya satu atau dua orang, tetapi berjajar berdampingan hingga 10 orang bahkan lebih. Membuat transaksi dapat berjalan lebih cepat, pikir Arsya. Siang ini adalah kali pertama ia menginjakkan kakinya di supermarket itu.
Namun nyatanya harapan Arsya tidak sesuai dengan kenyataan di depan mata. Setiap kasir memiliki antrian yang mengular. Membuatnya harus mengambil napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan. Ia juga mensugesti dirinya agar tidak kesal dengan hal itu.
“Sabar ya, Mas. Di sini memang seperti ini,” kata Anjani tak enak hati. Ia pandang wajah Arsya yang terlihat bosan.
Arsya hanya mampu mengangguk pasrah. Anjani sudah memberitahunya bahwa supermarket ini memang salah satu supermarket yang menjual barang dengan harga yang miring. Banyak penjual besar yang memilih belanja barang di sini kemudian dijual kembali di toko mereka. Membuat mereka sering berbelanja hingga bertroli-troli. Hal itu yang menyebabkan transaksi pembayaran berjalan cukup lama.
Meskipun ia sedikit kesal, Arsya kagum dengan penataan barang-barang di supermarket itu. Berbagai rak berjajar rapi membentuk barisan. Jarak antar rak juga cukup lebar sehingga jika ada pembeli yang berpapasan tidak akan membuat ruas antar rak itu macet. Penataan yang apik dengan setiap rak terdiri atas jenis barang yang sama memudahkan pembeli dalam mengambil barang yang ingin dibeli. Misalnya rak sabun cuci piring, di rak tersebut akan tertata berbagai jenis dan merk sabun cuci piring mulai dari yang krim hingga cair. Selain itu, di ruas jalan antar rak diberikan penunjuk berupa papan bertuliskan jenis barang yang ditata pada rak tersebut. Sehingga dari jauh pembeli bisa dapat dengan mudah menuju tujuan. Hal itu tentu membuat kegiatan belanja lebih cepat.
Barang yang dijual juga sangat lengkap. Mulai dari kebutuhan pokok hingga mainan anak disediakan di supermarket itu. Terdapat dua baris rak yang berjajar rapi dengan jumlah per baris kurang lebih 10 rak. Ada pula rak di bagian ujung supermarket. Kemudian di sisi ujung lain merupakan area alat tulis, pakaian, kosmetik, dan mainan.
“Di supermarket ini akan sangat ramai jika orang-orang baru saja mendapatkan gaji, Mas. Biasanya akhir bulan atau awal bulan. Pembeli akan kesulitan berpindah tempat saking penuhnya. Makanya aku memilih di tanggal-tanggal yang jauh dari tanggal gajian,” jelas Anjani. Ia berusaha membuat Arsya nyaman. Meskipun tadi Arsya yang menawarkan diri untuk menemaninya, ia ingin tetap membuat Arsya merasa nyaman. Laki-laki itu sudah terlihat bosan karena menemaninya membeli banyak barang. Ditambah dengan harus berdiri mengantri di kasir, kakinya pasti akan terasa lelah. Batinnya juga kemungkinan akan merasa dongkol.
“Di pertengahan bulan saja segini ramainya. Bagaimana jika akhir dan awal bulan?” decak Arsya antara kagum juga kesal.
“Ya ramai dan penuhnya dua kali lipat dari ini, Mas. Di jam-jam setelah Ashar dan Maghrib juga merupakan jam-jam banyak pembeli.”
Arsya geleng-geleng. Mulai saat ini ia bertekad akan berusaha lebih sabar jika harus menemani Anjani berbelanja. Yah, jika mereka berjodoh tentunya Arsya yang akan mengantar dan menemani Anjani untuk berbelanja keperluan mereka nanti. Membayangkan hal itu membuat Arsya jadi senyum-senyum sendiri. Melupakan sejenak rasa jenuh dan dongkolnya.
“Kenapa kamu jadi senyum-senyum sendiri, Mas?” tanya Anjani heran. Saat tidak mendengar Arsya menjawab penjelasannya, ia pun menoleh ke belakang. Ia dibuat heran dengan senyum Arsya yang terukir di wajah putih bersihnya dengan mata yang tampak menerawang.
Arsya tersadar dari bayangan masa depannya. “Nggak papa. Masih lama, ya?” Arsya mengarahkan kepala Anjani untuk kembali menghadap ke depan. Ia mempertahankan telapak tangannya di sisi kepala Anjani.
Anjani berdecak sebal karena ulah Arsya yang terkadang suka aneh-aneh. “Mas!! Jangan aneh-aneh, deh. Dilihatin banyak orang itu. Antrian di depan kita juga masih tiga orang,” gerutu Anjani di akhir kalimatnya.
“Biarin,” ucap Arsya cuek. Dengan seperti itu setidaknya ia dapat sedikit mengalihkan kebosanannya. Rasanya sangat tepat, kebersamaannya dengan Anjani membuatnya melupakan rasa lelah dan penat.
Anjani berusaha melepaskan tangan Arsya yang menempel di kepalanya. Namun, tenaga Arsya lebih besar daripada dirinya sehingga membuat Anjani cemberut karena tangan Arsya yang masih bertengger di kepalanya.
Arsya mengembuskan napas lega ketika akhirnya mereka keluar dari supermarket. Tangan kanan dan kiri Arsya menenteng dua tas belanja warna oranye besar. Anjani sudah meminta agar dirinya membawa salah satu tas belanja itu, tetapi dengan tegas Arsya menolaknya.
“Sudah, Dek! Biar aku saja yang bawa. Kamu cukup jalan di sampingku itu sudah sangat membantu,” kata Arsya lembut.
Hati Anjani seketika meleleh. Panas matahari yang menyengat tidak membuatnya kegerahan karena mendengar ucapan Arsya yang menyejukkan. Sebenarnya ia cukup geli dengan perumpamaannya. Intinya, ia meleleh karena perbuatan Arsya siang ini. Ia juga ikut lega saat melihat senyum bahagia Arsya setelah keluar supermarket. Ia benar-benar merasa bersalah mengijinkan laki-laki itu ikut bersamanya.
“Ehm.. kita beli es degan yuk, Mas. Yang dekat Makam Parimono itu,” ajak Anjani saat mereka sudah di dalam mobil dan baru saja keluar area supermarket.
Arsya mengangguk menyetujui. Ia juga cukup haus. Ajakan Anjani sangat tepat untuk melepas dahaganya.
Mobil Arsya berhenti di tepi jalan dekat dengan warung es degan tersebut. Warung es degan dekat Makam Parimono siang ini cukup ramai. Di warung ini menjual berbagai varian rasa es degan. Es dengan berbahan air kelapa dicampur dengan gula juga serutan kelapa muda memang banyak digemari oleh pembeli apalagi di siang yang cukup terik seperti ini. Ada pula yang dicampur dengan alpukat, sirup merah, atau pun durian. Degan sendiri merupakan sebutan untuk kelapa muda.
“Ramai juga,” kata Arsya.
“Disini kan memang es-nya enak. Jadi wajar kalau banyak yang beli,” balas Anjani. “Mas di dalam saja biar aku yang beli. Mau yang original atau gimana?”
“Yang pakai sirup saja, Dek.”
Anjani mengangguk paham. Ia segera keluar mobil dan berjalan menuju warung. Ada lima orang yang sedang membeli. Anjani pun ikut duduk mengantri dengan pembeli lain.
“Berapa, Mbak?” tanya Sang Penjual saat tiba giliran Anjani.
“Dua, Mas. Yang pake sirup merah, ya. Terus dibungkus di cup ya, Mas. Jangan plastik,” ucap Anjani.
“Siap, Mbak.”
Kurang lebih 10 menit, pesanan Anjani telah siap. Ia memberikan uangnya sesuai dengan jumlah yang penjual ucapkan. Ia menerima dua cup es degan. Cup yang digunakan bukan cup gelas untuk minuman pop ice dan sejenisnya, tetapi ukuran cup yang lebih panjang dari itu.
Anjani masuk kembali ke mobil dan memberikan satu cup es degan pada Arsya. Arsya menerimanya dengan tidak sabar. Sudah lama juga ia tidak membeli minuman itu.
“Ahhhh.. segarnya,” ucap Arsya setelah meneguk es degan miliknya. “Tidak terlalu manis, airnya juga terasa kelapa banget. Pokoknya segar dan enak.”
“Alhamdulillah kalau kamu suka, Mas. Air untuk es ini memang pake air kelapanya, Mas. Makanya terasa kelapa banget.”
Arsya mengangguk. Ia kembali meneguk es degan miliknya. Setelah dirasa cukup melepas dahaga, ia kembali melajukan mobilnya menuju rumah Anjani.
***
Arsya menepikan mobilnya di depan rumah Anjani. Anjani segera melepas seat belt yang melingkari tubuhnya. Arsya telah keluar lebih dulu dari mobil kemudian membuka pintu jok tengah. Melihat hal itu, Anjani mempercepat langkahnya. Namun, keterburu-buruan itu membuatnya tersandung kakinya sendiri.
“Aduh,” reflek Anjani.
“Kenapa, Jan?” tanya Arsya panik. Ia sudah berdiri di depan Anjani dengan menjijing dua tas kain dengan sablonan nama supermarket dengan cetakan besar dan tebal yang mereka kunjungi tadi.
“Sebentar.” Anjani menunjukkan telapak tangan kanannya pada Arsya. Kemudian ia mencoba menggerakkan pergelangan kaki kanannya. “Alhamdulillah. Kakiku baik-baik saja, tadi tersandung kakiku sendiri saat turun dari mobil,” ucap Anjani penuh kelegaan. Membuat Arsya ikut mengembuskan napas lega.
“Lain kali hati-hati, Dek. Sekarang, ayo masuk ke dalam rumah,” ajak Arsya.
Anjani dengan santainya mengiyakan. Hingga ketika tersadar, ia hanya mampu menggeleng dan menggerutu. “Kan yang punya rumah aku, kenapa jadi Mas Arsya yang mempersilakan masuk ke rumah.” Sambil menggerutu dan menghentakkan kaki sebal, ia berjalan masuk ke dalam rumah. Dan ia semakin sebal saat melihat Arsya yang sudah berbincang seru bersama Sukma.
Kunjungan Arsya ke rumah Anjani yang sudah beberapa kali membuat hubungan antara ibunya dengan laki-laki itu semakin akrab. Mungkin jika orang yang baru pertama kali melihat mereka akan menganggap Sukma dan Arsya adalah ibu dan anak.
“Putri Sayang.” Arsya menoel-noel pipi Putri dengan gemas. Sedangkan Putri hanya diam mengamati wajah Arsya yang jaraknya begitu dekat dengannya.
“Mas Arsya!! Kamu sudah cuci tangan? Jauhkan tangan kamu dari Putri sebelum kamu menoel-noel keponakanku!” teriak Anjani heboh. Suaranya memenuhi ruang tamu mereka. Rambatan gelombang suaranya bisa jadi juga teralirkan hingga dapur. Bahkan Putri pun dengan cepat menoleh kepada tantenya itu ketika mendengar suara Anjani yang menggelegar.
“Anjani!! Pelankan suaramu,” tegas Sukma.
Anjani meringis. Ia merasa bersalah karena refleknya yang tidak tepat. “Maaf ya, Sayang,” kata Anjani sambil memandang Putri yang juga membalas pandangannya. “Tante mau cuci tangan dulu, ya.” Ia berjalan masuk ke ruang tengah, tetapi saat tidak ada langkah yang mengikutinya ia membalikkan tubuhnya. “Mas Arsya!!” panggil Anjani dengan penuh penekanan juga tatapan tajam.
Arsya segera menyusul Anjani. Ia tidak ingin diamuk Anjani ketika perempuan itu dalam mode galak. “Jangan galak-galak dong, Mbak. Aku jadi takut ini,” ucap Arsya dengan suara pura-pura takut.
Anjani tidak peduli. Ia memilih mengabaikan Arsya. Ia meminta Arsya masuk ke kamar mandi yang ada di dekat dapur sedangkan dirinya menuju ke kamar mandi yang berada di belakang rumah. Masih menempel pada bangunan utama rumah, hanya saja menghadap ke halaman belakang rumah yang penuh dengan berbagai pohon buah-buahan.
“Putri anak siapa? Putri anak pintar anak siapa?”
Anjani sayup-sayup mendengar suara seseorang yang mengajak Putri berbincang. Tidak ada sahutan dari Sang Ponakan karena Putri belum sampai pada tahap dapat berbicara jelas. Masih sekedar celotehan yang tidak mampu orang dewasa pahami.
“Lho? Putri sama siapa, Bu?” tanya Anjani panik ketika ibunya sibuk berkutat dengan kain batik salah satu pelanggan setia ibunya. Ibunya pernah bercerita bahwa pelanggannya itu menjahitkan banyak kain batik untuk dijadikan seragam ibu-ibu PKK. Waktu yang diberikan untuk pengerjaan baju itu hanya satu bulan sejak kain itu diberikan pada ibunya. Hal itu membuat ibunya harus kerja cepat dan sering istirahat larut malam.
“Sama Nak Arsya,” jawab Sukma sambil fokus menggunting kain yang sudah digaris dengan kapur khusus.
Mata Anjani membelalak. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruang tamu. Anjani mengembuskan napas lega kala Putri dalam keadaan baik-baik saja. Ia pun duduk di samping Arsya yang memangku Putri. Posisi Putri duduk di pangkuan Arsya menghadap ke depan. Ponakannya itu begitu tenang di pangkuan Arsya.
“Putri sama siapa ini?” tanya Anjani. Mendengar ada suara lain, Putri menolehkan kepalanya mencari sumber suara. Ketika melihat Anjani di dekatnya, ia pun melengkungkan senyum lucunya. Senyum Putri sungguh menggemaskan. Anjani mengusap-usap lembut pipi tembam Putri sebagai pelampiasan rasa gemasnya.
“Mas, kamu kok berani? Baru kali ini aku lihat kamu sama anak kecil, bayi di bawah satu tahun lagi. Biasanya kan laki-laki seusia kamu belum berani gendong anak seumuran Putri,” ucap Anjani takjub.
“Mbak Ayuni kan dokter anak. Terus aku sering jemput dia waktu ke rumah sakit. Kadang aku bantu dia buat nenangin anak-anak kalau lagi nangis.”
“Mereka langsung diam emangnya waktu kamu gendong?” Anjani tidak percaya jika Arsya juga akrab dengan anak-anak.
“Ya nggak waktu kugendong juga. Setidaknya beberapa menit setelah aku gendong mereka baru tenang.”
Mata Anjani berbinar cerah. Ia tidak menduga bahwa Arsya adalah seorang laki-laki yang menyayangi anak kecil. Apalagi seusia Putri. Ada beberapa saudara laki-lakinya—putra dari kerabat keluarga Sukma—yang memiliki anak seusia Putri belum berani menggendong anak mereka. Mereka beralasan tubuh bayi masih rawan sehingga membuat mereka takut memegang. Takut melukai. Dan ketika melihat Arsya tampak luwes menjaga Putri membuatnya kagum dengan Arsya. Laki-laki yang pernah ia pandang sinis itu ternyata memiliki sisi lain yang luar biasa.