Rompang 16

1974 Words
Assalamu’alaikum, readers. Selamat Hari Ulang Tahun untuk Indonesia yang ke-76. Merdeka!! Semoga semua rakyat Indonesia selalu dilimpahkan kesehatan. Dan semoga pandemi ini segera berlalu. Aamiin Mohon maaf jika alurnya suka maju mundur, ide yang keluar memang seperti ini. Mohon dimaklumi, ya. Insya Allah bab 20 ke atas akan menggunakan alur maju terus. Bismillah. Happy reading!! Kembali ke perpustakaan. Awal mula Arsya dan Anjani menjadi akrab. Tangis Anjani mulai reda. Setelah menumpahkan segala keluh kesah dan rasa mengganjal dalam d**a disertai dengan isakan tangis yang mengiringi, sekarang ia mulai merasa tenang. Tidak peduli akan respons Arsya padanya, baginya yang terpenting saat ini adalah kelegaan. Mungkin Arsya akan menilainya sebagai perempuan cengeng yang bertopeng wajah ganas dan datar. Mungkin juga Arsya akan menilainya sebagai guru yang terlalu blak-blakan dan tanpa pikir panjang dalam bertindak. “Menurut Bapak bagaimana? Apa yang saya katakan salah?” tanya Anjani meminta pendapat setelah hening mengisi ruang perpustakaan yang berukuran lima kali tujuh meter itu. Anjani sedang butuh pendapat orang lain. Bisa saja masalah ini akan usai dalam jangka waktu yang cukup lama. Tidak hanya sehari dua hari. Ia harus menghubungi guru mata pelajaran agar memberikan nilai baru. Lalu ia harus meminta surat dari staff Tata Usaha untuk perubahan nilai anak didiknya. Apabila semua pihak dapat diajak kerjasama dengan cepat, mungkin semua ini dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih satu minggu. Jika hanya Anjani sendiri yang menilai tindakannya tadi pagi, bisa saja ia menilai bahwa apa yang ia lakukan adalah yang terbaik. Namun, penilaian itu bersifat subjektif dan hanya sebuah pembelaan diri. Maka dari itu, ia membutuhkan pandangan dari sudut orang lain. Dan orang terpilih tersebut adalah Arsya. Rekan guru yang selama ini tidak pernah dekat dengannya yang siang ini memergoki dirinya menangis kemudian memberikan tawaran untuk menjadi tempatnya menyampaikan keluh kesah. Entah perasaan apa ini, yang jelas Arsya merasa bahwa ia tidak suka dengan Anjani yang memanggilnya dengan sebutan ‘Bapak’. Dalam percakapan biasanya, ia akan merasa baik-baik saja. Namun, di siang menuju sore ini ia merasa panggilan itu sangat mengganggu pendengarannya. Untuk sejenak, ia menepis hal itu. Anjani sedang membutuhkan sandaran dari orang lain. Itulah mengapa kehadirannya di sini dibutuhkan. Ia dipercaya oleh Anjani menjadi seseorang yang mampu mendengarkan ceritanya dengan baik. Apabila ia memaksakan kehendak untuk mengomel karena panggilan yang kurang tepat di telinganya itu, kemungkinan Anjani akan meninggalkannya sendiri dan enggan mendekat lagi padanya. Harusnya ia cukup bersyukur karena jarak yang Anjani bentangkan mulai perempuan itu kikis perlahan. Apabila jarak itu semakin terkikis sedikit demi sedikit, jarak itu lama-kelamaan akan hilang dan mereka dapat menjadi rekan kerja yang baik. ‘Fokus dulu, Arsya,’ peringat batinnya. “Ini saya harus berkata jujur kan ya, Bu?” Anjani mengangguk. Ia harus siap mendengarkan apa pun kalimat yang akan Arsya ucapkan. Entah mengapa, Anjani merasa suara Arsya kali ini begitu meneduhkan. Sedikit menghilangkan rasa gundah dan sedih atas peristiwa yang terjadi hari ini. Arsya mengembuskan napas perlahan. Otaknya sedang merangkai kata terbaik agar tidak menyakiti perasaan Anjani saat ini. “Ehm.. ini saya jujur ya, Bu. Mohon maaf jika nanti ada perkataan yang menyakiti perasaan Bu Anjani,” ucap Arsya. Melihat anggukan Anjani yang tidak mempermasalahkan hal itu membuat Arsya melanjutkan ucapannya. “Ada di satu sisi Bu Anjani kurang tepat dalam memilih tindakan. Dan di sisi lain guru mata pelajaran yang bersangkutan juga salah. Sisi terakhir, orang tua tersebut juga salah.” Arsya mengucapkannya dengan lembut dan perlahan. Membuat Anjani merasa tenang. Dalam benaknya ia juga menyadari bahwa dirinya juga ikut andil dalam membuat kericuhan kecil siang ini. “Boleh saya memberikan saran, Bu?” tanya Arsya meminta persetujuan. Ia tidak ingin menjadi seseorang yang dengan percaya diri tiba-tiba menjabarkan saran terhadap permasalahan orang lain yang sedang bercerita padanya. Ia tahu bahwa setiap orang memiliki hati yang lapang dan terbuka dengan porsi yang berbeda. Ada pula orang yang tidak menerima saran dan marah jika ada yang menyampaikan saran. “Silakan, Pak,” jawab Anjani. “Lain kali, Bu Anjani dapat memikirkan sejenak jawaban yang tepat terhadap setiap permasalahan, baik yang menyangkut siswa atau wali murid. Hal ini pun dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berpikir matang-matang dan dipikirkan dampak ke belakangnya adalah langkah yang tepat agar tidak memunculkan masalah juga penyesalan di belakang.” Arsya mengambil napas sejenak. “Sedangkan untuk kesalahan guru mata pelajaran yang tadi Bu Anjani dan wali murid bahas, saya tidak dapat memberikan komentar apa pun. Toh itu semua sudah terjadi. Jadikan sebagai pengalaman. Ambil hikmahnya.” Anjani mengangguk-angguk setiap Arsya menyelesaikan ucapannya. Ia berjanji akan selalu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. “Ibu bisa dapat belajar lebih teliti lagi. Belajar menjadi wali kelas yang lebih hebat lagi dengan memantau perkembangan diri dari setiap siswa. Bu Anjani juga dapat mengambil sisi positif dari omelan wali murid tadi agar Bu Anjani tidak gampang berucap sesuatu yang mungkin saja tidak ada kaitannya dengan kehidupan Sang Lawan Bicara. Misalnya berkaitan dengan jabatan tadi. Rasa-rasanya hal itu sangat tidak perlu dibicarakan. Pekerjaan apa pun yang sedang ditekuni oleh seseorang, itu adalah pekerjaan yang terbaik versi mereka dan Allah. Dan terakhir, Bu Anjani harus ikhlas dalam memaafkan segala perkataan yang mungkin telah menggores hati,” pesan Arsya. Ucapan Arsya sangat meneduhkan. Membuatnya merasa lega. Rasa dongkol dan benci yang pernah ia berikan pada Arsya tanpa alasan—ah, lebih tepatnya karena Arsya laki-laki yang berkemungkinan akan bertindak sama seperti ayahnya—telah terkikis bagai batu yang terus terkena percikan air. Ia merasa sedikit menyesal. ‘Mengapa aku dulu begitu anti-pati dengan Arsya? Padahal Arsya luar biasa bijak dan lembut dalam berbicara,’ batinnya. Melihat Anjani yang hanya diam saja sambil memandang sebuah buku yang ada di atas meja di hadapan mereka, membuatnya menjadi tak enak hati. Ia takut jika ada perkataan yang mungkin saja menambah luka di hati perempuan yang dulu begitu jauh dari jangkauannya. “Apa perkataan saya ada yang menyakiti perasaan Bu Anjani?” tanya Arsya pelan. Ia menjadi menyesal karena berbicara terlalu panjang. Ia takut jika dinilai terlalu ikut campur urusan Anjani. “Mohon maaf jika apa yang saya katakan malah membuat Bu Anjani tidak nyaman.” ‘Kamu sih sok iya banget, Sya. Kamu ikut campur terlalu dalam di urusannya Anjani.’ Anjani menggeleng dengan kuat. Kepalanya ia gelengkan dengan cepat ke kanan dan ke kiri membuat Arsya merasa ngeri ketika memandangnya. “Tidak, Pak. Tidak sama sekali. Saya malah merasa tertampar. Saya lebih disadarkan karena ucapan Pak Arsya. Apalagi Pak Arsya mengucapkan dengan lembut dan pelan. Semakin menampar saya dengan kuat,” jawab Anjani. “Bekas tamparannya di mana, Bu? Panas dan merah, nggak?” Arsya bertanya dengan wajah serius. Anjani memandang Arsya dengan tatapan bingung. Kernyitan di dahinya menunjukkan bahwa ia tidak memahami maksud pertanyaan Arsya. Namun, dalam kebingungannya itu otaknya terus bekerja. Setelah beberapa menit ia baru paham akan maksud pertanyaan absurd Arsya itu. Membuat Anjani memberikan tatapan datarnya. ‘Yah, sepertinya tidak satu frekuensi pemikirannya. Apa karena bahan bercandaanku yang tidak berbobot?’ Batinnya kecewa. Anjani memperhatikan perubahan ekspresi Arsya. Ekspresi yang sebelumnya terlihat bahagia, kini terselimuti sendu. ‘Apa aku salah dalam merespons candaannya Pak Arsya? Harusnya kamu sadar diri Anjani. Arsya sudah meluangkan waktunya demi mendengarkan tangisan dan ceritamu.’ “Maaf, Pak. Saya tadi sempat loading lama karena pertanyaan Bapak. Sekarang saya sudah paham, tetapi saya tidak tahu harus merespons apa,” ujar Anjani jujur. Ia juga memasang cengiran di wajahnya. Membuat Arsya mengusap belakang kepalanya untuk menghalau rasa malu yang menyergapnya. “Tidak apa-apa, Bu. Bahan candaan saya saja yang kurang berbobot.” “Bukan begitu, Pak. Mungkin saya yang mengira bahwa kita akan berbincang serius sampai akhir, eh tiba-tiba Bapak ngajak bercanda. Jadinya ya seperti ini.” Anjani mencoba berbicara jujur. Ia merasa tak enak hati sendiri jika begini. Arsya melebarkan senyumnya disertai dengan cengiran. “Kadang saya memang suka bercanda pada waktu yang tidak tepat, Bu. Candaan itu rasa-rasanya seperti terlontar sendiri tanpa saya perintah,” jelas Arsya. Anjani tersenyum memaklumi. Ia juga cukup takjub dengan kemampuan Arsya bercanda. Tidak salah jika laki-laki di hadapannya ini sering disebut sebagai guru yang supel kepada siapa pun. “Ehm.. sepertinya ini sudah sore, Pak. Terima kasih atas waktu dan saran yang Bapak berikan pada saya. Maafkan saya jika ada sesuatu yang kurang berkenan di hati Bapak. Dan jika saya boleh minta tolong, tolong rahasiakan hal ini dari siapa pun ya, Pak. Biar saya selesaikan dengan guru mata pelajaran, Bu Tutik, dan juga siswa yang tadi melayangkan protes,” pinta Anjani dengan wajah memohon. “Kalau urusan merahasiakan, insya Allah semuanya aman dengan saya, Bu.” Anjani melebarkan senyumnya lega. “Terima kasih ya, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Soalnya saya harus kembali ke rumah lebih cepat.” Anjani berjalan meninggalkan Arsya setelah laki-laki itu menganggukkan kepalanya. Anjani merasa lega, tetapi juga malu pada Arsya. Semoga apa yang terjadi hari ini adalah hal yang terbaik. “Pamit ke aku kayak nutup pidato acara formal saja, Bu,” gumam Arsya sambil menggeleng. *** Anjani melemaskan tubuhnya sekitar 10 menit sebelum merebahkan tubuhnya di atas kasur. Putri baru saja terlelap pukul 8 malam, kemudian ia membantu Sukma memotong kain yang telah diberikan garis dengan kapur khusus jahit. Tubuhnya sedikit kelelahan, tapi tak selelah ibunya. Ibunya harus menjaga Putri saat ia ke sekolah, lalu menjahit kain jika Putri tidur. Anjani sudah pernah meminta Sukma untuk berhenti menjahit, biar ia saja yang menanggung biaya hidup mereka. Namun, dengan tegas Sukma menolaknya. Menurut Sukma, dirinya masih mampu untuk bekerja. Sayang jika membiarkan energinya banyak yang mengendap dalam tubuh. Maka, seperti itulah ritme aktivitas Sukma. Ia baru akan terlelap sekitar pukul 10 malam. Anjani segera merebahkan tubuhnya. Punggungnya merasa begitu nyaman karena telah bertemu dengan kasur empuknya. Ia memandang langit-langit kamarnya yang gelap. Rasa kantuk yang sempat hadir, tiba-tiba lenyap kala mengingat sore tadi di perpustakaan. Pipinya terasa hangat. Ia juga malu. Senyum malu tersungging di bibir ranumnya. “Ya ampun, Jani. Kenapa kamu bisa malu-maluin seperti itu sih?” gumam Anjani gemas pada dirinya sendiri. Ia membolak-balikkan tubuhnya. Sungguh ia malu. Entah bagaimana nanti ia harus bersikap saat bertemu dengan Arsya di sekolah? “Sudah. Jangan dipikirkan. Mari tidur dulu. Kamu harus bangun pagi untuk membantu ibu,” sugestinya. Ia mencoba memejamkan matanya. Namun, nyatanya usaha tersebut tidak ada hasilnya. Memejamkan mata dengan penuh paksaan malah membuatnya tidak dapat tidur. Ia menyibak selimutnya dengan kesal. Kemudian mengambil handphone yang ia letakkan di meja dekat kasur. Ia menggulir-gulir menu di ponselnya. Saat sedang asyik menonton status w******p teman-temannya yang belum sempat ia tonton, sebuah notifikasi pemberitahuan dari i********: masuk ke handphone-nya. Arsya Widjayanto mulai mengikuti Anda. Mata Anjani membelalak. Cahaya yang hanya sedikit di kamarnya membuat bola matanya berakomodasi penuh untuk memastikan bahwa apa yang baru saja ia lihat bukanlah sebuah fatamorgana. Anjani mengklik pemberitahuan tersebut. Dan benar saja, akun Arsya mengikuti akun i********:-nya. Sebelum ia menekan menu ‘Ikuti Balik’, ia memilih melihat profil Arsya. Penataan feed i********: Arsya rapi. “Ternyata Pak Arsya termasuk orang yang aestethic juga,” gumamnya sambil jempolnya terus menggulir foto Arsya hingga paling bawah. Foto yang di-upload tidak terlalu banyak, kurang lebih 30 foto. Itu pun hanya foto event-event tertentu dan penting. Tidak ada foto Arsya yang seorang diri di suatu tempat. Puas memandangi satu per satu foto di akun i********: Arsya, ia menekan menu ‘Ikuti Balik’. Untungnya ia tidak sampai salah pencet tanda ‘love’ pada foto Arsya. Ia tidak ingin memalukan dirinya sendiri semakin dalam. Cukup sudah Arsya melihatnya menangis. Jangan yang lain. Anjani keluar dari i********: dan kembali pada w******p. Ia melanjutkan kegiatannya menonton status teman-temannya. Hingga matanya lama-lama jenuh karena melihat cahaya handphone di tengah-tengah kegelapan kamarnya. Ia menghapus riwayat semua aplikasi yang baru saja ia buka. Ia kunci handphone-nya dan diletakkan kembali di meja samping kasur. Selimutnya ia selimutkan kembali untuk menghalau angin malam yang membawa udara dingin. Tak berapa lama akhirnya ia terlelap. Tidak menyadari bahwa ada sebuah panggilan tak terjawab dari salah satu kontak w******p-nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD