Rompang 17

2330 Words
Mungkin ini memang sudah garis takdir dari Sang Kuasa sehingga kita menjadi lebih sering dipertemukan. Menjadi lebih sering menghabiskan waktu bersama. Saling berbagi cerita, tawa dan canda. Aku hanya berharap, semoga kebersamaan ini bukanlah kebersamaan yang semu. -Arsya- Pagi ini hari sedang cerah-cerahnya. Sinar matahari disertai dengan angin pagi membuat rambut-rambut halus di kulit berdiri karena udara terasa lebih dingin. Memasuki musim kemarau, langit akan bersih dari awan dan berwarna biru cerah yang menyegarkan mata. Angin kencang akan membuat tubuh terasa tersegarkan juga sedikit kegerahan ketika siang hari. Dan semua itu diciptakan oleh Allah secara seimbang. Malam hari, udara akan terasa lebih dingin. Membuat setiap insan harus merapatkan jaket atau selimutnya. Anjani berjalan menyusuri koridor yang menghubungkan ruang guru dengan ruang Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah. Angin pagi ini cukup membuatnya kedinginan. Selain membuat udara terasa lebih dingin, angin itu juga membawa dedaunan yang gugur di musim kemarau terbang di udara. Meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri lalu jatuh ke tanah. Anjani mengetuk pintu dari kayu jati yang diplitur dengan warna cokelat itu beberapa kali. Di atas pintu itu tertempel plat bertuliskan Waka Kurikulum. Sambil menunggu ijin dari Sang Pemilik Ruangan untuk memasuki ruang tersebut, Anjani mengamati lorong di depan ruangan tersebut. Tertata berbagai jenis tanaman yang saat ini sedang digemari oleh masyarakat pada rak yang terbuat dari kayu dan dicat warna putih. Dari atas ke bawah tertata bunga aglonema dengan berbagai jenis, ada aglonema lipstik, red anjamani, stardust, bigroy, dan red legacy. Tidak hanya aglonema, terdapat pula berbagai jenis keladi dan paling bawah sendiri ada janda bolong yang masih kecil juga monstera. Begitu selesai mengamati, dari dalam ruangan terdengar suara Bu Tutik mempersilakan Anjani masuk ke ruangannya. Anjani memutar engsel pintu perlahan. Ia mengucap salam yang dibalas Bu Tutik dengan hangat. “Silakan duduk, Bu,” ucap Bu Tutik mempersilakan Anjani untuk duduk di salah satu sofa yang berwarna krem. “Bu Anjani, ini ada pamflet dari salah satu universitas. Jika bisa, nanti pilih beberapa siswa untuk ikut olimpiadenya dan lomba karya tulisnya, ya” jelas Bu Tutik setelah Anjani duduk dengan nyaman. Bu Tutik memang tidak suka berbasa-basi. Menurutnya waktu adalah sesuatu yang berharga dan harus digunakan dengan baik. Anjani tadi dipanggil Bu Tutik untuk menuju ke ruangannya oleh salah satu petugas Tata Usaha. Dan duduklah sekarang salah satu guru Biologi SMA Cenderawasih Nusantara itu di hadapan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. “Untuk siswa yang akan berpartisipasi saya yang memilih atau bagaimana, Bu?” “Iya. Bu Anjani yang memilih karena njenengan* yang tahu kemampuan siswa itu seperti apa,” jawab Bu Tutik dengan jelas. (*kamu—berasal dari Bahasa Jawa, termasuk basa krama alus) Anjani mengangguk paham. “Untuk pamfletnya boleh saya bawa, Bu? Saya ingin membaca dan mencermati bagaimana alur olimpiade dan lomba karya tulisnya,” pinta Anjani sopan. “Monggo*. Silakan Ibu bawa. Untuk administrasinya nanti bisa langsung dibicarakan dengan bendahara sekolah seperti biasanya nggih^.” (*silakan—bahasa Jawa. ^ya—bahasa Jawa, termasuk basa krama alus) “Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu ya, Bu. Saya ingin segera memanggil siswa-siswa yang akan saya ikut sertakan dalam lomba ini agar persiapannya bisa lebih matang. Sebelumnya terima kasih atas informasinya, Bu,” pamit Anjani. “Iya, Bu. Sama-sama. Namun, seperti biasanya, ya, Bu. Jangan membuang waktu siswa belajar untuk hal yang sia-sia,” pesan Bu Tutik. Anjani mengangguk dan melengkungkan senyumnya yang sedikit kecut. Ini adalah salah satu sifat Bu Tutik yang sering menjadi perbincangan para dewan guru. Waktu harus digunakan sesuai dengan aturan. Anjani beranjak dari sofa yang tadi ia duduki. Ia bersalaman dengan Bu Tutik sebelum melangkah keluar dari ruang Waka Kurikulum itu. Anjani baru saja membalikkan badan setelah menutup pintu ruangan Bu Tutik. Dan ia dikejutkan dengan kehadiran Arsya yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Membuat kerja jantungnya menggila. Anjani mengambil napas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. Ia ingin menormalkan kerja jantungnya yang berdebar kencang karena ulah Arsya. Tidak lupa ia bergeser menjauhi pintu ruangan Bu Tutik. “Ngapain sih, Pak? Bikin orang jantungan saja,” gerutu Anjani. Arsya hanya nyengir tidak merasa bersalah. Kebiasaan Arsya ketika Anjani mengomelinya. “Tadi saya dari parkiran. Kemudian melihat Bu Anjani di sini, dan terbitlah keinginan saya untuk mengisengi njenengan.” Anjani melirik dengan kesal. Bibirnya juga tampak cemberut. “Kebiasaan deh. Jadi orang suka usil,” gumam Anjani sambil berjalan. Meninggalkan Arsya di belakangnya. Ia sedang malas menghadapi kejahilan Arsya. Arsya tertawa geli. Saat ini usil kepada Anjani adalah hobi barunya. “Bu, tunggu saya!” teriak Arsya tidak tahu malu. Teriakan itu semakin membuat Anjani mempercepat langkahnya. Beruntungnya saat ini masih jam pembelajaran sehingga tidak ada guru dan siswa yang memperhatikan tingkah laku dua guru itu. “Lain kali jangan kayak gitu, Pak. Saya nggak suka jadi pusat perhatian orang banyak,” ucap Anjani dengan ketus saat Arsya berhasil mengikutinya dan berdiri di sampingnya. Arsya dapat merasakan kekesalan Anjani. Ia menjadi tak enak hati. “Iya, Bu. Maaf, ya,” balas Arsya dengan suara lemah. Ia juga berjanji dalam batinnya dan mematrinya dengan kuat agar selalu membuat Anjani merasa nyaman ketika bersama dengannya. Anjani merasa ikut tak enak hati ketika mendengar suara Arsya yang bernada lemah itu. Namun, sesekali ia harus tegas. Ia ingin selalu merasa nyaman dengan apa pun yang terjadi padanya saat ini. Biar saja ia dianggap egois. Ia tidak peduli penilaian orang. “Urusan nilai yang salah itu sudah selesai, Bu?” tanya Arsya setelah hening di antara mereka. Arsya ingin memanfaatkan sisa waktu yang ada sebelum mereka tiba di ruang guru untuk berbincang dengan Anjani. Jika sudah di ruang guru, Anjani sering mengabaikannya. Membuatnya menjadi lebih sering uring-uringan setelah didiamkan oleh Anjani. “Alhamdulillah sudah beres, Pak. Terima kasih untuk sore itu ya, Pak,” ucap Anjani tulus. Terkadang jika mengingat sore itu, ia menjadi malu ketika bertemu Arsya. Namun saat melihat Arsya biasa saja, dirinya pun mulai membiasakan diri. Membuatnya juga lebih santai ketika bertemu Arsya. Berbeda dari beberapa bulan yang lalu, yang sering memandang Arsya dengan tatapan datar. Arsya membalasnya dengan senyuman yang juga tak kalah tulus. Ia menjadi teringat dengan sore itu. Sore yang telah membuat hatinya terbuka lebar untuk seorang perempuan. Perempuan yang saat ini sedang melangkah di sampingnya. Entahlah, Arsya juga tidak memahami cara kerja hati dan perasaannya. Yang pasti, karena seringnya memperhatikan Anjani sejak lama membuat perasaan pada Anjani juga mulai tumbuh. Jika diibaratkan dengan pelajaran Biologi, bagaikan biji yang jatuh pada media tanam yang tepat kemudian mendapatkan air untuk proses imbibisi. Dan lama-kelamaan tumbuhlah kecambah hingga menjadi tanaman yang besar dan kuat. Begitu pula dengan perasaan Arsya untuk Anjani yang semakin lama semakin bertumbuh dan menjadi kuat juga kokoh. “Iya, Bu. Sama-sama,” balas Arsya. Bertepatan dengan ucapan Arsya, mereka ternyata sudah tiba di ruang guru. Anjani pun mengangguk singkat pada Arsya sebagai tanda bahwa ia mendahului untuk menuju mejanya. 'Benar kan? Anjani memang akan seperti itu jika di ruang guru,' batin Arsya. Arsya geleng-geleng kecil melihat perubahan tingkah laku Anjani yang drastis. Ia juga melengkungkan senyum kecil karena telah berbincang meskipun hanya sebentar. Baginya, itu adalah suatu hal yang perlu ia syukuri. *** Ruang kelas berukuran 8 kali 12 meter itu cukup lengang siang ini. Hanya berisi lima siswa dan satu guru. Anjani duduk di kursi guru sambil mencoret-coret kertas putih di hadapannya. Sedangkan lima siswa yang duduk di kursi siswa itu juga sedang sibuk menggerakkan bolpoin mereka di atas kertas soal-soal itu. “Bagaimana? Sudah selesai? Sudah menemukan jawabannya?” tanya Anjani sambil berdiri dari duduknya. Ia melangkah ke hadapan para siswanya. Siang ini, setelah jam pembelajaran berakhir, Anjani dan lima siswa yang ia daftarkan dalam olimpiade Biologi sedang melakukan bimbingan intensif. Anjani memberikan kumpulan-kumpulan soal olimpiade kepada siswa yang ia pilih. Kemudian ia akan memberikan bimbingan selama tiga hari dalam seminggu. Tidak hanya mengerjakan soal-soal olimpiade tahun sebelumnya, Anjani juga menjelaskan materi yang berkaitan. “Sudah, Bu. Jawabannya yang B?” ucap seorang siswi dengan kerudung yang disampirkan ke bahu kanan dan kirinya. Ia tampak ragu dengan jawabannya. Anjani sengaja memasang wajah bertanya. “Yang lain apa jawabannya sama?” Pertanyaan Anjani membuat siswi tersebut semakin menciut. Siswi bernama Tiwi itu adalah salah satu siswi yang pintar dan cerdas. Beberapa kali Tiwi menjadi siswi yang menduduki peringkat satu parallel jurusan IPA tiap semester. Dibalik kepintarannya itu, Tiwi juga termasuk dalam jajaran siswi yang pemalu. Siswa siswi lain menggeleng, menandakan antara dua pilihan. Pertama jawabannya sama dan kedua belum menemukan jawaban. Hal itu membuat senyum Anjani timbul. “Gelengan kalian ini menandakan apa?” “Tidak tahu jawabannya kalau saya, Bu,” jawab Ammar. Anjani mengangguk. Senyumnya kembali melengkung. Ia paling suka ketika siswa merasa kesulitan dalam mengerjakan soal seperti ini. Menurutnya ketidaktahuan dan belum terselesaikannya sebuah soal akan memunculkan rasa ingin tahu siswa sehingga siswa akan memperhatikan dengan seksama penjelasan dari guru. Atau dengan kata lain diperlukan suatu stimulus yang tepat agar siswa dapat memberikan respons berupa perhatian penuh kepada gurunya. “Baiklah, mari kita bedah soalnya bersama-sama, ya,” ucap Anjani. Ia mengambil napas sejenak kemudian menghembuskannya. “Makhluk hidup diciptakan berpasang-pasangan. Jika seorang laki-laki bergolongan darah AB dan tidak menderita anemia sel sabit tetapi mempunyai ibu yang menderita sel sabit menikah dengan seorang perempuan bergolongan darah B dan menderita anemia sel sabit kemudian mempunyai empat anak dengan masing-masing mempunyai fenotip sebagai berikut: Pertama, golongan darah AB, tidak menderita anemia sel sabit. Kedua, golongan darah B, tidak menderita anemia sel sabit. Ketiga, golongan darah AB, menderita anemia sel sabit. Dan keempat, golongan darah B, menderita anemia sel sabit.” Anjani berhenti sejenak untuk mengambil napas. Diembuskannya perlahan sambil memandangi para siswanya yang sedang fokus mengamati soal. Anjani lega karena siswa begitu antusias dengan soal persilangan itu. “Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa genotip laki-laki dan genotip perempuan tersebut adalah?” Anjani mengedarkan pandangan ke seluruh siswa. Para siswa juga sudah mengalihkan fokusnya dari lembar soal itu kepada Anjani. “Sebelum itu, mari kita putar kembali ingatan kalian tentang penyakit menurun manusia. Materi ini akan dipelajari di kelas 12, jadi untuk yang kelas 11 mungkin kebingungan dengan materi ini. Namun, kalian tentu sudah sering bertemu soal-soal ini ketika bimbingan biologi.” Anjani menekankan kalimat terakhirnya. Ia memandang siswa siswinya bergantian satu per satu. “Tiwi, bisa kamu jelaskan penyakit anemia sel sabit ini penyakit yang menurun pada kromosom autosom atau kromosom gonosom? Dan juga sedikit materi tentang penyakit menurun pada manusia?” pinta Anjani tegas. Tiwi mengangguk. Meskipun jantungnya berdebar kencang, ia harus berani untuk menjelaskan materi tersebut. “Penyakit menurun manusia dibedakan menjadi dua. Pertama adalah penyakit menurun melalui kromosom autosom dan kedua melalui kromosom gonosom. Kromosom itu sendiri adalah kumpulan DNA yang melingkar rapat dan terletak di dalam inti sel atau yang biasa disebut dengan nukleus. Kromosom ini mengandung materi genetik yang akan diturunkan pada turunannya.” Tiwi mengambil jeda sejenak. Ia meminta persetujuan Anjani untuk menjelaskan lebih lanjut. Setelah melihat anggukan Anjani, Tiwi kembali melanjutkan penjelasannya. “Penyakit menurun autosom adalah penyakit yang diwariskan melalui kromosom autosom atau kromosom tubuh. Baik penyakit dominan atau pun resesif. Penyakit dominan akan terlihat dalam keadaan dominan homozigot atau dominan heterozigot. Penyakitnya adalah polidaktili, sindaktili, huntington, dan thalasemia. Jika dominan maka kemungkinan diturunkannya lebih besar daripada resesif. Untuk penyakit resesif terlihat dalam keadaan resesif heterozigot. Contoh penyakitnya adalah albino, fenilketonuria, dan anemia sel sabit atau disebut juga dengan sicklemia. Anemia sel sabit ditandai dengan eritrosit yang berbentuk bulan sabit sehingga tidak dapat mengedarkan oksigen dengan sempurna ke seluruh tubuh.” Tiwi mengembuskan napas lega karena ia berhasil menjelaskan dengan baik dan lancar. Rasa grogi di awal mulai menguap ketika penjelasannya meluncur begitu saja. “Give applause untuk Tiwi. You’re the best, Dear. Penjelasan Tiwi begitu rinci dan jelas. Mari kita kembali pada soal. Kita pahami dulu tentang Si Laki-laki ini. Ammar, menurut kamu apakah laki-laki ini dalam keadaan benar-benar normal tidak membawa penyakit anemia sel sabit? Ataukah normal tetapi dengan karier atau membawa penyakit anemia sel sabit?” Anjani memandang Ammar penuh. Ammar yang dipandangi seperti itu menjadi sedikit gugup dan takut. “Laki-laki tersebut normal tetapi karier anemia sel sabit, Bu,” ujar Ammar dengan pelan. Laki-laki itu takut menjawab salah. “Tiwi, apa benar seperti itu?” umpan Anjani pada Tiwi. “Benar, Bu. Meskipun laki-laki tersebut normal, tetapi laki-laki itu membawa penyakit anemia sel sabit yang diturunkan dari ibunya,” jelas Tiwi. “Good. Ammar dan Tiwi memberikan jawaban yang tepat. Jika seperti itu, genotipnya laki-laki itu bagaimana?” “S besar s kecil, Bu,” jawab kelima siswa itu serempak. Anjani mengangguk puas. “Kemudian genotip Si Perempuan itu bagaimana?” “s kecil s kecil, Bu.” “Nduk, bisa kamu jelaskan alasannya?” pinta Anjani pada siswi yang duduk di samping kanan Tiwi. Siswi tersebut mengangguk. “Perempuan tersebut menderita anemia sel sabit, sehingga genotipnya s kecil s kecil yang menandakan bahwa genotip tersebut homozigot dominan. Dan biasanya s kecil atau huruf kecil melambangkan sebagai sisi kebalikan dari sifat yang baik yang diwariskan.” Anjani melengkungkan senyum lebarnya. “Good, guys. Kalian luar biasa. Saya suka sekali jika kalian aktif seperti ini.” Para siswa ikut merasakan aura positif tersebut sehingga bimbingan berjalan lebih semangat. Anjani kembali menggembleng para siswa dengan berbagai pertanyaan yang menarik hingga tidak terasa bimbingan sudah berjalan selama 90 menit. “Wow, bimbingan siang ini terasa sangat seru. Sampai tidak terasa waktu sudah berjalan begitu cepat. Kalau begitu saya akhiri sampai di sini dulu, ya. Kita kembali bertemu besok siang. Sebelum saya tutup, mari kita ucapkan hamdalah juga berdoa semoga ilmu yang kita pelajari hari ini bermanfaat. Tidak hanya untuk saat pengerjaan olimpiade nanti, tetapi juga dalam kehidupan kita sehari-hari.” Ucapan hamdalah saling bersahutan. Kemudian mereka menundukkan kepala sejenak untuk memanjatkan doa kepada Allah. “Baik, sampai bertemu besok. Terima kasih atas antusias kalian hari ini. Wassalamu’alaikum warah matullahi wa barakatuh.” “Wa’alaikumsalam warah matullahi wa barakatuh,” jawab para siswa serempak. Sumber soal: Soal Kompetesi Sains Madrasah Tingkat Kabupaten/Kota tahun 2018. Sumber penjelasan : Ruang Guru Thank you for reading.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD