Rompang 18

2209 Words
Bismillah. Happy reading. Semenjak menjadi pembimbing olimpiade biologi, Anjani lebih sering menghabiskan waktunya di sekolah setelah jam pulang sekolah. Berbeda dari biasanya yang lebih sering menghabiskan waktu bersama Nabila untuk berjalan-jalan entah ke mall atau mencoba menu baru di suatu kafe. “Yah.. kamu sekarang sibuk banget, ya?” ujar Nabila dengan nada sendu. Ia merasa kehilangan teman yang selama ini sering menghabiskan waktu bersamanya itu. Anjani jadi merasa bersalah, tetapi ini adalah amanah baru untuknya. Tidak mungkin ia abaikan begitu saja. Toh ini semua demi kebaikan sekolah mereka. Demi meng-upgrade dan meningkatkan kualitas siswa siswi SMA Cenderawasih Nusantara. Juga menerapkan prinsipnya bahwa ia dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. “Maaf ya, Bil. In syaa Allah jika nanti bimbingan sudah selesai kita bisa sering menghabiskan waktu bersama lagi,” hibur Anjani. Ia lengkungkan senyum lebarnya pada Nabila untuk meyakinkan sahabatnya bahwa ia akan meluangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk sahabatnya itu. Nabila memaksakan senyum kecilnya sambil mengangguk-angguk. Ia mencoba mengerti akan kesibukan Anjani saat ini. “Kamu jangan terlalu memforsir diri. Kesehatan adalah hal terpenting,” pesan Nabila. Anjani tak kuasa menahan haru atas perhatian kecil Nabila. Ia dekatkan tubuhnya kemudian memeluk sahabatnya itu dari samping. “Terima kasih ya, Nabilaku Sayang. Kamu selalu mengerti aku.” Nabila membalas pelukan itu dengan mengusap-usapkan tangannya pada lengan Anjani. “Kalau begitu aku mau pulang dulu, ya. Ada baiknya juga kamu sibuk seperti ini, Jan. Aku jadi lebih menghemat, banyak uangku yang tersimpan sehingga tabunganku jadi banyak,” ucap Anjani dengan menyengir lebar. Anjani membalasnya dengan senyum bahagia. “Disimpan yang bener. Jangan sampai nanti kamu malah khilaf.” Nabila hanya menyengir. Ia kemudian berpamitan sekali lagi pada Nabila. Setelahnya sahabat Anjani itu berjalan meninggalkan ruang guru. Anjani segera mempersiapkan diri untuk menuju kelas, tempat diselenggarakannya bimbingan. Tidak ada ruang kelas khusus. Ruang yang digunakan adalah sebuah ruang kelas yang biasanya digunakan untuk proses pembelajaran. Ruang yang dipilih adalah ruang kelas pada jajaran bangunan paling depan dan juga mendapatkan pencahayaan yang cukup. Anjani memulai bimbingan dengan semangat yang membara. Ia ingin menciptakan suasana kelas yang penuh semangat agar siswa siswi juga ikut semangat. Jam-jam setelah pulang sekolah adalah jam-jam di mana para siswa sudah mulai lelah dan mengantuk. Anjani tidak ingin para siswanya mengantuk, agar ilmu yang mereka peroleh dapat diserap dengan baik. Ia pun lebih mempersingkat waktu bimbingan, hanya selama 60 menit. Hal itu bertujuan agar siswa tidak jenuh dan dapat segera beristirahat. Sudah banyak soal yang dikerjakan. Penjelasan materi juga sudah Anjani lakukan sesuai dengan soal yang ia bahas. Waktu pun berjalan dengan cepat, tidak terasa satu jam telah berlalu. Anjani segera menutup bimbingan tersebut. Satu per satu siswa mulai mengemasi barang-barang mereka kemudian berpamitan pada Anjani dengan mencium punggung tangan kanan Anjani dengan takzim. Tersisalah Anjani yang masih membereskan barang-barangnya. Ia mempercepat proses merapikan meja guru itu. Setelahnya ia berjalan ke luar kelas untuk menuju ruang guru. Tas bahunya masih ada di sana. Begitu keluar kelas, mendung di langit tampak menggantung dan siap diturunkan kapan saja. Anjani mempercepat langkahnya ke ruang guru. Ia tidak ingin kehujanan dalam perjalanan pulang. Anjani masuk ruang guru itu tanpa menoleh ke kanan dan kiri. Tidak menyadari jika ada seseorang yang sedang mengamati gerak-geriknya. Saat Anjani menyampirkan tas di bahunya dan hendak melangkahkan kaki menjauhi mejanya, ia dikejutkan dengan sebuah teguran dari seseorang. Anjani pun mengedarkan pandangannke seluruh penjuru ruang guru. Dilihatnya Arsya yang sedang duduk di kursinya. Arsya terlihat sedang memandangnya tenang. “Ya Allah, Pak. Bikin orang kaget saja,” kata Anjani sambil mengelus-elus dadanya. “Njenengan masuk ruangan nggak toleh kanan kiri, Bu. Saya dari tadi di sini,” jelas Arsya. “Saya buru-buru, Pak. Langit mendung banget, kayaknya mau hujan. Daripada saya kehujanan di jalan makanya saya buru-buru.” “Bareng sama saya saja gimana?” tawar Arsya santai. “Hah? Gimana?” Anjani merasa bahwa dirinya akhir-akhir ini menjadi lebih sering berpikir lama, merespons lebih lambat akan apa yang Arsya ucapkan. “Pulang sama saya saja. Daripada kehujanan di jalan jadi mending sama saya saja.” “Motor saya taruh mana? Terus saya dibonceng sama Pak Arsya begitu?” tanya Anjani memastikan. Arsya bingung menjelaskannya. Ia ingin mengatakan bahwa ia ke sekolah dengan mobil, tetapi sisi hatinya mengatakan bahwa tak nyaman rasanya menjelaskan hal itu pada Anjani. Ia tidak ingin dianggap pamer dan sok kaya. Meskipun sebenarnya itu adalah mobil atas namanya. Mobil yang ia beli menggunakan tabungan yang selama ini selalu ia tabung dengan taat. Melihat Arsya yang hanya diam saja, membuat Anjani sedikit panik. Angin sudah mulai berhembus sedikit kencang. Udara dingin mulai terasa. Tampaknya sebentar lagi hujan akan turun. “Kalau begitu saya pulang duluan ya, Pak. Sebentar lagi hujan. Assalamu’alaikum.” Anjani memperlebar langkahnya agar tiba di parkiran motor khusus guru dapat lebih cepat. Ia tak ingin air hujan datang lebih dulu sebelum ia tiba di rumah. *** Anjani baru saja melepaskan helm-nya dan meletakkan pada salah satu spion motornya. Ia menata tatanan kerudungnya sejenak. “Kemarin kehujanan tidak, Bu?” celetuk sebuah suara. Anjani menolehkan pandangannya ke sumber suara. Dilihatnya Arsya yang sudah berdiri di belakang motornya. Saking asyiknya dengan menata kerudungnya membuatnya tidak menyadari kehadiran Arsya. Anjani seakan baru tersadar, ia menoleh ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Tidak terlihat dalam pandangannya sepeda motor selain motornya dan motor petugas keamanan sekolah. “Alhamdulillah. Enggak, Pak. Tapi begitu sampai rumah, hujan deras. Ah, syukurnya saya sudah tiba di rumah,” jawab Anjani dengan lega. Ia kesampingkan sejenak akan motor Arsya yang tidak terlihat di parkiran. Ia berpikir mungkin motor Arsya di parkir di tempat lain atau ia berangkat ke sekolah dengan kendaraan umum. “Alhamdulillah,” sahut Arsya ikut lega. Mereka pun berjalan bersisian menuju ke ruang guru. Anjani tetap menjaga jarak. Ia memilih berjalan dua langkah di belakang Arsya. Ia tak enak hati jika nanti banyak yang melihat apalagi para siswa. “Oh iya, Bu. Kemarin anak-anak ngajak diskusi untuk pengamatan yang buat lomba karya tulis itu,” ucap Arsya. “Oh iya, Pak. Saya lupa menghubungi njenengan. Jadi nanti kita diskusi untuk hasil akhirnya selepas sekolah. Anak-anak kemarin menginformasikan hal itu pada saya.” “Iya, Bu. Anak-anak juga sudah mengirimkan pesan kepada saya kemarin malam.” Selain olimpiade, para siswa juga diikutkan dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah. Tema yang mereka angkat adalah tentang pendidikan yang berkaitan dengan kesehatan. Karena mata pelajaran yang diangkat adalah Biologi, maka Anjani yang menjadi pembimbing karya tersebut. Sedangkan Arsya dipilih sebagai pembimbing kedua karena kesehatan juga berkaitan dengan mata pelajaran yang Arsya kuasai. “Jani!!” Anjani dan Arsya menghentikan langkah mereka. Anjani juga Arsya menengok ke belakang. Terlihat Nabila yang sedang berjalan ke arah mereka. “Anjani dan Pak Arsya kok jalan bareng?” tanya Nabila dengan pandangan curiga. Anjani memilih mengabaikan pertanyaan tidak penting Nabila itu. Ia melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. “Tadi ketemu di tempat parkir terus sekalian jalan bareng ke ruang guru,” jawab Arsya. Nabila hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum malu. Arsya berusaha mempercepat langkahnya agar tidak membuat Nabila terlalu berharap padanya. Bukan ia terlalu percaya diri, hanya ingin menjaga perasaan perempuan yang tampak menaruh harapan padanya. Melihat Arsya yang berjalan terbirit membuat Nabila juga ikut mempercepat langkahnya. Mereka bertiga seperti barisan manusia yang sedang bermain jalan cepat. Membuat yang melihat, terutama beberapa siswa tersenyum tertahan. Lucu sekali tiga guru mereka, begitu ungkap batin para siswa. *** “Bu, nanti jadi kan sama anak-anak?” tanya Arsya. Ia berdiri di depan meja Anjani yang penuh dengan lembaran-lembaran kertas. Ia baru saja selesai melakukan pembelajaran di lapangan, praktik passing bawah, passing atas, servis, dan smash pada permainan bola voli. Anjani mendongak. Ia pandang Arsya yang terlihat segar. Seragam olah raga yang terpasang pas di tubuhnya semakin membuat penampilan Arsya memukau. “Bu..” Panggilan Arsya itu menyadarkan Anjani dari keterpanaannya pada perawakan juga tampang Arsya yang tampan. Ia mengedipkan matanya berulang untuk menghalau pikirannya yang meliar ke sana kemari. “Gimana, Pak?” Arsya tersenyum kecil. Lucu sekali melihat tatapan Anjani yang tampak memuja padanya. Ternyata tidak hanya dirinya yang tampak menaruh rasa pada Anjani. Anjani juga terlihat menyimpan kekaguman padanya. Tugasnya hanyalah meyakinkan Anjani saja setelah ini. “Nanti jadi jam berapa?” “Selepas Sholat Dhuhur, Pak. Di ruang kelas XI MIA 1.” Arsya mengangguk-angguk. “Baik, Bu. Terima kasih. Kalau begitu saya permisi. Jangan lupa makan, Bu,” pesan Arsya sambil meletakkan s**u cokelat kotak di atas meja Anjani. Kemudian ia memutar tubuhnya dan berjalan menuju mejanya. Anjani memandang punggung Arsya yang berjalan menjauh. Pandangannya kemudian beralih pada s**u cokelat kotak yang ada di atas mejanya. Hanya sekotak s**u tetapi mampu membuat dadanya berdesir hebat. ‘Kenapa sih kamu, Jan?’ gumam batinnya. ‘Jantung! Stop bekerja seperti itu.’ Denting notifikasi handphone-nya menandakan bahwa ada pesan yang masuk. Ia melihat handphone sejenak untuk meredakan debar jantung yang menggila. [Jangan lupa diminum. Jangan terlalu memforsir energi tanpa ada energi yang masuk ke dalam tubuh. Lebih baik mencegah datangnya penyakit daripada menjemput penyakit.] Anjani membaca rentetan kalimat itu dengan fokus. Pipinya tiba-tiba terasa panas dan bersemu. ‘Malu-maluin sekali sih kamu, Jan. Baru dapat pesan kayak gitu saja sudah kayak anak SMP yang mendapatkan gombalan,’ ejek batinnya. Ya mau bagaimana lagi jika hal itu memang sesuatu yang pertama dirasakannya. Anjani mencoba melirik ke meja Arsya. Arsya terlihat sibuk dengan handphone-nya. Netranya fokus memandang alat komunikasi itu. Anjani pun memilih mengambil kotak s**u cokelat pemberian Arsya. Ia mulai menyesap minuman rasa cokelat itu. Tidak menyadari jika Arsya sedang memandanginya. Laki-laki itu tersenyum kecil karena Anjani menerima pemberiannya. Meskipun kecil, semoga saja Anjani dapat merasakan manfaat pemberian kecilnya itu. Ruang kelas XI MIA 1 yang mulanya kosong karena jam pulang, saat ini telah ditempati oleh beberapa siswa. Mereka sedang berdiskusi membahas hasil penelitian mereka. Anjani baru saja selesai melaksanakan Sholat Dhuhur. Ia berjalan dari musholla sekolah menuju ruang guru. Saat sudah akan mencapai pintu ruang guru, terlihat Arsya yang akan keluar dari ruang guru. “Baru selesai sholat? Saya tunggu atau saya duluan menemui anak-anak, Bu?” Pertanyaan Arsya itu membuat Anjani menghentikan langkahnya. “Bapak duluan saja, Pak. Setidaknya biar anak-anak sudah ada yang mendampingi.” Arsya mengangguk mengerti. Ia kemudian berjalan menuju kelas XI MIA 1, sedangkan Anjani masuk ke ruang guru untuk meletakkan mukenahnya. Dari depan ruang kelas, Anjani mendengar Arsya yang sedang berbincang serius juga santai bersama anak-anak. Anjani mengucap salam membuat perbincangan itu berhenti sejenak untuk menjawab salam Anjani. “Seru sekali,” ujar Anjani saat sudah bergabung bersama anak-anak. Ia mengapresiasi cara Arsya dalam mendekatkan hubungan dengan anak-anak. Laki-laki itu tanpa sungkan duduk bergabung bersama para siswa. Berbeda dengan dirinya yang seperti memberi jarak pada siswa karena ia lebih suka duduk di kursi guru. Terkadang hanya berdiri di depan meja siswa. “Sudah sampai mana?” tanya Anjani. “Sampai pembahasan. Anak-anak cepat menangkap jadi mereka sudah menuliskan karyanya sesuai dengan aturan dari pelaksana lomba. Dijelaskan sedikit mereka sudah mampu membuat semuanya bagus. Anak-anak hanya bingung cara penyusunan pembahasan itu seperti apa. Bu Anjani saja ya yang menjelaskan,” pinta Arsya. Anjani tidak memprotes. Ia mulai meminta fokus anak-anak kepadanya. “Sebelum kita membahas tentang pembahasan. Jangan lupa menuliskan hasilnya ya. Kebanyakan hasil berupa tabel, grafik, dan juga bisa ditambahkan dengan foto.” Anjani menerima hasil print out karya tulis anak-anak. Ia berdecak kagum karena hasil kerja anak-anak sudah bagus. “Kita beralih pada pembahasan, ya? Untuk pembahasan kita perlu menganalisis hasil kurang lebih dua paragraf. Setelah itu, kita buat penyambung kalimat untuk paragraf berikutnya sesuai dengan hasil. Pembahasan disesuaikan dengan data dan juga rumusan masalah yang kita buat. Paham ya maksud saya?” Para siswa mengangguk mengerti. “Bu, kalau misal ada salah satu hasil data yang tidak menunjukkan perubahan setelah perlakuan bagaimana?” “Dijelaskan pada pembahasan berbagai faktor yang mungkin menyebabkan hal itu dapat terjadi. Kaitkan juga dengan variabel lain yang mungkin berkaitan.” Para siswa kembali mengangguk-angguk. Mereka fokus dengan laptop masing-masing kemudian memperbaiki hasil pengerjaan mereka. Setelah itu mereka menunjukkan hasilnya pada Arsya juga Anjani. “Hasil kerja kalian cepat dan bagus. Hanya perlu direvisi sedikit pada beberapa kata yang kurang baku,” kata Arsya. “Siap, Pak.” “Ada yang mau ditambahkan, Bu?” Anjani menggeleng. Namun, ia seakan teringat sesuatu. “Ehm.. saya hanya ingin mengingatkan agar kalian baca kembali isi karya tulis ini. Pastikan penulisan kalian terhindar dari typo atau kata yang tidak baku.” “Siap, Bu.” “Sudah jelas semua, ya? Apa ada yang ingin ditanyakan?” “Tidak, Pak. Semua sudah jelas.” “Kalau begitu kita akhiri pertemuan siang ini, ya. Semoga kita bisa mengharumkan nama sekolah dan pertemuan hari ini memberikan manfaat bagi kita semua. Aamiin. Kami akhiri, ya. Wassalamu’alaikum warah matullahi wa baraktuh.” “Wa’alaikumsalam warah matullahi wa baraktuh,” jawab para siswa serempak. Sebelum meninggalkan ruang kelas, para siswa mencium punggung tangan Arsya dan Anjani bergantian. Kemudian Arsya dan Anjani berjalan beriringin menuju ke ruang guru. “Langsung pulang, Bu?” “Iya, Pak.” “’Hati-hati di jalan, Bu.” “Siap, Pak. Saya duluan, ya. Njenengan juga hati-hati di jalan.” Arsya mengangguk. Ia melihat punggung Anjani yang mulai berjalan menjauhi ruang guru. Arsya pun ikut menyusul Anjani keluar dari ruang guru. Thank you for reading. See you on the next chapter. With love, Bilbul17
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD