Rompang 19

2068 Words
Jika saya saja yakin akan kemampuan kamu. Lalu mengapa kamu yang tak yakin dengan kemampuan diri kamu sendiri? by Anjani. Auditorium Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam sebuah universitas tampak penuh dengan lautan manusia. Jajaran kursi berbahan stainless dengan sandaran dan alas duduk terbuat dari spon yang dilapisi kain merah tidak ada yang kosong. Semua sudah bertuan. Bahkan banyak orang yang berdiri di belakang jajaran kursi itu. Obrolan saling bersahutan, membuat suasana semakin ramai. Panggung kecil di bagian depan auditorium yang semula hanya berupa panggung dengan kursi sofa dan meja telah disulap dengan begitu cantik. Jajaran berbagai jenis tanaman hidup ditata dengan apik. Meliuk-liuk membentuk sebuah taman kecil. Di tengah-tengah tanaman itu terdapat air mancur kecil. Tidak memancarkan air seperti di sebuah taman kota, hanya memancarkan air sedikit ke atas—mungkin sekitar dua centimeter dari pipa air. Dua orang Master of Ceremony—laki-laki dan perempuan—tampak berbincang serius dengan seorang pria yang usianya berkisar 40 tahun. Salah satu lagu dari band Indonesia diputar untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosan menunggu agenda puncak yaitu babak final olimpiade dilanjut dengan pengumuman dan penyerahan hadiah juara olimpiade juga Karya Tulis Ilmiah yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Biologi. “Bu, saya deg-degan,” adu Tiwi pada Anjani yang duduk di sampingnya. “Ingat pesan saya, ya. Tidak perlu terburu dengan waktu. Pikirkan dulu di pikiran jawabannya, jika kamu sudah yakin bahwa itu jawabannya baru pencet bel. Saya yakin dengan kemampuan ingatan dan cara analisis kamu. Jika saya saja yakin, kenapa kamu tidak?” Anjani menepuk bahu Tiwi berulang dengan lembut. Setelahnya ia juga mengelus lengan atas Tiwi. Tiwi berusaha melengkungkan senyumnya di tengah rasa kepanikan yang melanda. Senyum itu terlihat kaku, tapi Tiwi merasa sedikit lega. Ia mengangguk berulang kali, mencoba meyakinkan diri bahwa ia mampu. Juga menunjukkan pada Anjani bahwa ia bisa. Di samping Tiwi duduk Ammar yang tidak lolos dalam lima besar. Ia hanya lolos dalam 20 besar. Namun itu adalah pencapaian yang luar biasa bagi mereka, apalagi sekolah mereka dan juga mereka sendiri baru mengikuti olimpiade ini untuk pertama kalinya. “Kamu pasti bisa, Wi. Aku percaya itu,” sahut Ammar. Tiwi menolehkan kepalanya ke arah Ammar. Ia mengucapkan terima kasih. Ia juga meminta dukungan doa dari Ammar agar dirinya setidaknya bisa menduduki tiga besar. “Kamu pasti bisa jadi juara pertama, Wi. Kamu harus percaya. Bu Anjani dan aku percaya sama kamu. Kamu juga harus percaya dan yakin pada dirimu sendiri,” ucap Ammar menggebu. Ia mengepalkan tangannya tanda semangat. Tiwi menjadi lebih semangat. Degup jantung yang semula bekerja lebih cepat mulai berjalan normal. Ia mensugesti dirinya bahwa ia mampu menaklukkan semifinal dan menjadi juara. Tiwi mencium tangan Anjani dan Arsya sebelum ia berjalan ke bagian depan auditorium. Anjani dan Arsya memberikan semangat juga mendoakan Tiwi. Arsya menemani Anjani—lebih tepatnya menjadi sopir untuk rombongan sekolah mereka. Arsya yang menjadi pembimbing kedua Karya Tulis Ilmiah menawarkan diri untuk ikut menuju universitas tempat dilaksanakannya lomba. Hasil KTI anak bimbingan mereka lolos dalam 20 besar. Maka Arsya dengan tangan terbuka dan tidak keberatan memutuskan untuk mendampingi para peserta didiknya. Bukan itu sebenarnya alasan utamanya. Ia ingin menghabiskan banyak waktu dengan Anjani. Babak semifinal dan final berjalan dengan seru. Antarpeserta saling mengejar skor. Tiwi dan keempat siswa yang lain saling mendahului untuk memencet bel. Anjani, Arsya, Ammar, dan kelompok KTI duduk di kursi mereka dengan tidak tenang. Mereka terus memanjatkan doa agar Tiwi dapat melaju pada babak final. Doa mereka semakin kencang saat skor semua peserta sama. Ditambahlah tiga pertanyaan dadakan untuk menentukan tiga orang yang berhak masuk babak final. Napas SMA Cenderawasih Nusantara lega kala Tiwi berhasil lolos babak final. Bahkan Anjani berseru heboh sebagai pelampiasan rasa leganya. Ia mengabaikan pandangan orang-orang di sekitarnya. Ia hanya ingin menyalurkan kebahagiaannya. Anjani kemudian ijin kepada Arsya untuk maju mendekati tempat pelaksanaan final. Ia ingin mendokumentasi jalannya final. Final berjalan tak kalah serunya. Setelah menjawab pertanyaan masing-masing, peserta diberikan pertanyaan rebutan. Dan itulah yang paling menentukan siapa yang akan menjadi Sang Juara. Untuk saat ini, poin Tiwi memimpin di antara poin peserta lain. Tiwi berusaha menampilkan muka tenang agar pikirannya juga tenang. Satu soal terakhir adalah penentu apakah Tiwi menjadi juara pertama atau kedua. Skor Tiwi dengan salah satu peserta sama, sedangkan peserta satunya lagi skornya berjarak cukup jauh. Jantung Tiwi berdebar dengan cepat. Tiwi menutupi kegugupan dan ketakutannya dengan senyum tenang. Soal terakhir dibacakan oleh seorang dosen. Tiwi memahami apa yang dimaksudkan oleh pertanyaan tersebut. Telapak tangannya sudah bersiap di atas bel. Sedikit berkeringat karena kegugupan yang melanda. Tiwi segera menekan bel kala dosen selesai membacakan pertanyaan. Dengan yakin Tiwi menjawab dan jawabannya benar. Membuatnya bersorak senang. Ia bahkan melompat kegirangan. Anjani yang sedari tadi juga merasa deg-degan luar biasa seketika berseru heboh saat Tiwi menjawab dengan benar. Ia segera memeluk Tiwi yang berlari ke arahnya. Ia tepuk-tepuk punggung Sang Anak Didiknya dengan penuh sayang. “Selamat, Sayang. You are the best. I really proud of you,” ucap Anjani dengan penuh haru. “Thank you, Bu Jani,” balas Tiwi dengan menangis sesenggukan. Tentunya air mata bahagia. Ia benar-benar merasa tidak menyangka. Rasa haru benar-benar menyelimutinya. Kebahagiaan SMA Cenderawasih Nusantara tidak berhenti disitu saja. Tiba pada pengumuman lima besar pemenang Lomba KTI. Anjani yang telah kembali ke kursinya bersama Tiwi kembali dibuat ketar-ketir menunggu pengumuman. Jantung Arsya dan lainnya juga tidak kalah berdebarnya. “Dan inilah yang ditunggu-tunggu. Pengumuman Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas A.” MC berusaha menciptakan suasana tegang sambil menunggu judul KTI dan nama sekolah disebutkan. Peserta lain mengatur telinganya agar mereka dapat mendengar dengan jelas akan pengumuman tersebut. Juara kelima dan keempat baru saja disebutkan. Tepukan tangan yang membahana memenuhi ruang auditorium itu belum berhenti. MC melanjutkan membaca nama juara. “Juara kedua Lomba KTI jatuh kepada…..” MC menghentikan sejenak kalimatnya. Ia meliarkan pandangan ke seluruh peserta. Terlihat wajah yang menunggu dengan tidak sabaran. “SMA Cenderawasih Nusantara dengan judul karya yaitu, ‘Efektivitas Pembelajaran Biologi dengan Metode ………..’.” Belum selesai Sang MC menyebutkan judul karyanya, SMA Cenderawasih Nusantara sudah berteriak dengan heboh. Euphoria kebahagian tercetak jelas di wajah-wajah siswa SMA Cenderawasih Nusantara. Anjani dan Arsya tidak kalah bahagianya. Bahkan mereka hendak bergandengan tangan kemudian berjingkrak-jingkrak bahagia. Untungnya mereka segera sadar lokasi dan sadar diri. Anjani memilih memeluk siswinya yang tergabung dalam kelompok tersebut. Prosesi pemberian piala, sertifikat, dan hadiah baru saja berakhir. Satu per satu orang keluar meninggalkan auditorium. Begitu pula dengan Anjani, Arsya, dan siswa siswi mereka. Aura bahagia terlihat jelas. Apalagi para siswa siswi, mereka sangat bahagia. Senyum merekah terus tersungging di wajah mereka. “Selamat ya, Anak-anakku. Kalian luar biasa,” ucap Anjani tulus saat mereka sudah berada di luar gedung auditorium. Mata Anjani meliar memandang danau buatan yang terletak tepat di depan gedung auditorium. Pohon seno dan sengon yang dijadikan sebagai media tanam anggrek juga tanduk rusa mengelilingi danau itu. Kemudian netranya menangkap papan dari marmer hitam yang bertuliskan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Anjani tidak menyiakan papan tersebut begitu saja. Ia mengajak rombongannya berfoto. Dengan meminta bantuan pada panitia perlombaan yang sedang melintas, terabadikanlah beberapa potret keceriaan perwakilan warga SMA Cenderawasih Nusantara. *** Senin pagi ini, langit sudah terlihat cerah. Awan putih menggumpal pada beberapa sisi langit, tetapi tetap kecerahan langit biru yang memenuhi langit. Angin pagi berhembus membuat udara pagi hari semakin segar juga sedikit dingin. Anjani merapatkan jaketnya sebelum naik ke atas motor maticnya. Anjani menikmati segarnya udara di pagi ini dengan melajukan motornya pada kecepatan standar, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu pelan. Ia juga sesekali menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Pagi ini rasanya semangatnya sedang menggelora. Hatinya pun sedang merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Anjani memarkirkan motornya di parkiran motor sekolah khusus guru. Lalu dilangkahkan kakinya dengan riang menuju ruang guru. Hari ini upacara bendera akan berlangsung, ia harus tetap semangat agar tubuhnya tetap bugar dalam mengikuti upacara mulai dari awal hingga selesai. “Anjani!! Gimana hasilnya kemarin? Kamu diam-diam wae. Nggak bikin status, nggak juga ngabarin ke aku,” protes Nabila dari kursinya. Ia menghadapkan tubuhnya penuh ke arah Anjani. Anjani sedang asyik menikmati infused water-nya. Akhir-akhir ini kondisi tubuhnya sedikit kurang fit, ia memutuskan sering mengkonsumsi infused water berdasarkan saran dari Arsya. Dua kali sehari ia mengkonsumsi minuman itu dan hasilnya sudah mulai terasa. Tubuhnya terasa kembali segar dan lebih enteng. Shubuh tadi, ia membuat infused water dengan potongan daun sere, jeruk lemon—jeruk dengan bentuk seperti lemon tetapi ukurannya lebih kecil, kayu manis, dan jahe. Potongan-potongan itu kemudian ia siram dengan air hangat. Ia tidak ingin kehilangan kandungan vitamin C juga zat lain yang terkandung pada potongan-potongan itu. Setelah dingin ia masukkan ke dalam botol kaca kemudian ia dinginkan di kulkas agar ketika diminum terasa lebih segar. “Ih… malah sibuk dengan minumannya,” rajuk Nabila. “Gimana? Ayo cerita," lanjutnya memburu. “Nanti saja. Upacara sudah mau dimulai,” jawab Anjani santai. Para guru pun sudah mulai memenuhi ruang guru. Nabila mencebik kesal. Ia sudah tidak sabar menunggu cerita dari Anjani. Kemarin dirinya ingin mengirimkan pesan pada sahabatnya, tetapi karena asyik menikmati weekend membuatnya melupakan hal itu. Ia menghabiskan hari-harinya dengan maraton Drama Korea. “Ayo ke lapangan. Guru-guru lain sudah ke lapangan semua,” ajak Anjani. Ia merapikan penampilannya sejenak, terutama kerudungnya. Meskipun kesal, Nabila tetap mengangkat tubuhnya dari gravitasi kursi. Ia berjalan bersisian menuju ke lapangan. Para siswa pun sudah berbaris rapi di lapangan. Upacara berjalan dengan lancar dan tertib. Para siswa pun mendengarkan amanat pembina upacara dengan khidmat. Teriknya sinar matahari tidak menciptakan kegaduhan. Semua peserta upacara tenang. Sebelum para peserta dibubarkan, kesiswaan memberikan pengumuman penting. “Selamat pagi dan salam semangat untuk kita semua!!” sapa Waka Kesiswaan dengan penuh semangat. “Di pagi yang cerah ini, saya akan menyampaikan sesuatu. Sesuatu itu berkaitan dengan kemenangan sekolah kita. It is for the first time bagi sekolah kita memenangkan perlombaan ini. Perlombaan yang baru pertama kali kita ikuti. Di samping saya ini adalah piala kejuaran dari perlombaan tersebut. Sangat megah dan tinggi, ya?” Waka Kesiswaaan tersebut mengambil napas sejenak. “Baik langsung saja, saya ucapkan selamat kepada Ananda Tiwi dan kelompok LKTI yang telah memenangkan juara satu Olimpiade Biologi dan juara dua Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diadakan oleh Universitas A.” Tepuk tangan bergemuruh memenuhi lapangan. Teriakan heboh juga membuat lapangan semakin ramai. Tiwi dan kelompok pemenang LKTI berjalan ke podium lapangan yang dilapisi dengan keramik dan semen. Mereka menyerahkan piala besar itu kepada pihak sekolah. Tidak lupa, Staff Kesiswaan mengabdikan momen bahagia tersebut. Selain mengambil foto bersama kesiswaan dan kepala sekolah, Anjani juga Arsya diminta untuk naik ke atas podium. Mereka berfoto bersama. Kepala sekolah, Waka Kesiswaan, dan Waka Kurikulum mengucapkan selamat kepada Anjani dan Arsya yang telah berhasil membimbing juga mengantarkan peserta didik pada puncak kemenangan. Para guru dan peserta upacara telah membubarkan diri. Lapangan kembali lengang dan kosong. Angin pun mulai berhembus kencang, menerbangkan dedaunan kering. Burung-burung kecil terdengar berkicau. Burung itu juga berterbangan membuat langit terlihat semakin indah. “Jadi ini alasan kamu nggak cerita? Mau bikin surprise buat aku? Ihhh…… kamu tega banget tahu nggak sih, Jan.” Nabila kesal kepada sahabatnya. Namun, ia juga bangga pada Anjani. “Eh.. jangan-jangan kamu ke Surabaya kemarin sama Pak Arsya juga?” “Ya memang.” Anjani sibuk mengelompokkan lembaran-lembaran hasil laporan para siswa. Saat kembali ke ruang guru, Anjani memilih menjauh dari Nabila karena sedang tidak ingin diberondong oleh ocehan Nabila. Namun, saat ia masuk ke ruang guru. Nabila sudah memandangnya menuntut dari mejanya. Dan Anjani hanya memasang senyum tak bersalah. “Tuh kan. Kamu merahasiakan hal ini dari aku. Kamu jadi bisa foto-foto dong sama Pak Arsya.” Nabila terlihat iri dengan Anjani. “Aku kan juga pingin foto sama Pak Arsya.” “Memangnya kalau kamu sudah berhasil foto dengan Pak Arsya mau dibuat apa? Foto profil?” “Ya nggak berani. Nanti jadi omongan banyak orang. Ya setidaknya akan ku simpan di galeri handphone-ku.” Wajah Nabila tampak berbinar. Membayangkan hal itu saja sudah membuatnya bahagia apalagi jika hal itu benar terjadi kepadanya. “Tinggal ngajak Pak Arsya foto bareng saja. Beliau mungkin nggak keberatan.” Ide Anjani terlihat menggiurkan, tetapi ia masih memiliki rasa malu. “Tapi aku nggak berani, Jan,” ucap Nabila dengan cengerin. Anjani mengedikkan bahunya. Ia melanjutkan kesibukannya sebelum bel masuk pelajaran pertama berbunyi. Sedangkan Nabila sibuk memikirkan cara agar dapat berfoto berdua bersama Arsya tanpa memalukan dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD