"Iya seharusnya kita itu mengobrolkan hal-hal yang romantis ataupun Masa depan yang dipenuhi kebahagiaan, bukan membahas masa lalu yang harusnya dikubur menjadi kenangan-kenangan Indah." tanggap Aluna dengan mengulum senyum Karena dia sudah bisa membuat Wira berkata jujur tentang kehidupannya.
Mereka berdua terus mengobrol membahas hal-hal yang penting maupun yang tidak penting, sampai akhirnya Aluna pun mengajak Wira pulang karena waktu sudah mulai hampir mendekati ke tengah malam.
Setelah membayar semuanya, Wira dan Aluna pun mengambil jaket dan jas yang tadi dititipkan, kemudian mereka keluar dari restoran untuk bulan ke rumah.
"Mau aku antar?" tanya Wira setelah berada di parkiran.
"Berani berbuat berani bertanggung jawab. berani mengajak harus berani mengantar pulang." jawab Aluna dengan mengulum senyum seolah menantang keberanian pria yang akhir-akhir ini mulai hadir dalam benaknya.
"Sebentar, aku pesankan mobilnya terlebih dahulu." Wira pun mengeluarkan handphone untuk memesan taksi online yang bisa mengantar mereka.
"Tunggu dulu! Lebih baik kita jalan-jalan sebentar menikmati suasana malam yang mulai sejuk, jarang-jarang kita mendapat suasana Asri di kota Jakarta yang penuh dengan polusi, penuh dengan kebisingan." tahan Aluna yang terlihat seperti enggan berpisah dengan Wira.
"Baiklah kalau kamu memaksa." jawab Wira sambil mendorong kembali kursi roda milik Aluna, namun untuk sekarang gadis cantik yang duduk di kursi roda itu menolak, dia lebih memilih menggenggam tangan Wira sampai akhirnya kursi rodanya pun mulai tertarik dibantu dengan tangan kiri yang menggerakkan kursinya.
Mereka terlihat saling menggenggam, sudut tetapan mereka saling menunjukkan ketertarikan satu sama lain. meski belum ada ungkapan yang mengarah ke sana, namun mereka yakin kalau mereka saling memiliki perasaan yang sama, perasaan nyaman ketika bersama.
Suasana jalan yang dilalui terlihat oleh muda-mudi yang sedang menikmati malam mingguan dengan berbagai macam kegiatan, mulai dari menikmati kuliner yang terjejer rapi di setiap sudut trotoar. Ada pula yang hanya duduk-duduk sambil mengobrol bersama teman temannya. Namun mereka semua tidak memperdulikan keberadaan kedua orang yang disabilitas mungkin kehidupan di sana sudah terlalu ribet untuk mengurusi urusan orang lain.
Wira berjalan paling depan karena dia memiliki kursi elektrik yang bisa bergerak tanpa menggunakan kayuhan tangan, sedangkan Aluna yang berada di belakang dia pun memegang sandaran kursi roda milik Wira sehingga Aluna tidak harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk terus mengikuti kemana arah laki-laki yang membawanya.
Bintang-bintang di langit terlihat bersinar begitu terang seolah ingin menjadi saksi bisu tentang kedekatan kedua insan yang saling menebar benih rasa cinta, angin malam mulai berhembus membuat suasana semakin terasa romantis, apalagi ketika Wira sudah memasuki apartemen Aluna halaman yang sangat luas yang di setiap sudut ditanami oleh pohon-pohon yang rindang. Kebahagiaan yang sedang dirasakan membuat mereka tidak sadar kalau dirinya sudah sampai di tempat tujuan.
"Inilah tempat tinggalku sekarang." ujar Aluna sambil menunjuk ke gedung yang tidak terlalu tinggi.
"Iya aku tahu, karena Lisa pernah menceritakannya." jawab Wira yang menggeserkan kursi rodanya supaya bisa berhadapan dengan Aluna.
"Oh iya, kayaknya kamu sangat dekat dengan para asistenmu. sampai-sampai dia mau disuruh Untuk mengantarkan kursi roda milikku?
"Aku selalu berusaha lebih baik ketika menjalin hubungan, supaya Semua orang bisa meraih hasil maksimal dengan komunikasi yang berjalan sebagaimana mestinya."
"Kayaknya kamu juga sangat paham masalah diplomasi?" tanya Aluna dengan wajah kekaguman.
"Lumayan karena aku bergerak dan bekerja di arah sana, yang mengharuskanku berkomunikasi setiap hari dengan orang-orang yang baru, dan sebisa mungkin aku menjalin hubungan yang baik supaya karyawan-karyawan yang berada di bawahku bisa tetap hidup dan menghidupi keluarganya."
"Ternyata hatimu sangat mulia."
Mereka berdua terlihat terdiam seolah menikmati suara hewan-hewan malam yang terdengar dari arah saluran air menambah keasrian di tengah-tengah kota Jakarta yang sangat padat. dari arah depan sesekali terdengar suara kendaraan yang masih lewat namun tidak seramai ketika waktu siang.
Sesekali Wira ataupun Aluna Mereka mencuri pandang, seolah ingin meyakinkan bahwa di hadapannya adalah seorang manusia bukan seorang malaikat yang dikirimkan untuk menemani kesepiannya.
Lamunan Mereka pun terhenti sesaat ketika Aluna membuka sepatunya, dengan segera Wira pun mengulurkan tangan untuk menyimpannya. Seolah ingin menunjukkan bahwa dia adalah laki-laki terbaik yang penuh perhatian.
"Kamu tidak nyaman memakai sepatu? Padahal kita hanya duduk di kursi roda. sepatu hanya menjadi penutup di tengah-tengah kepiluan?" tanya Wira dengan wajah yang sangat prihatin melihat kondisi Aluna.
"Tidak, menurutku sepatu adalah hal yang penting. meski kita tidak pernah menggunakannya namun sepatu bisa membuat kita lebih percaya diri dan menyelamatkanku dari rasa dingin."
"Terus kenapa kamu membukanya?"
"Meski sepatu menjadi penunjang penampilan tapi sesekali kita harus melepaskannya. untuk membiarkan pori-pori kaki kita bernapas dan menikmati udara yang sangat segar, jarang-jarang kan kita mendapatkan kesegaran di tengah gedung-gedung pencakar langit." jawab Aluna dengan mengulum senyum kemudian dia pun mendorong kursi rodanya.
Melihat kekasihnya sudah berjalan kembali Wira pun menghampiri. kemudian mengulurkan tangan untuk mengajaknya berpegangan. sampai akhirnya Aluna pun memutarkan kursi rodanya mengelilingi Wira seperti seorang penari yang sedang mengimbangi pasangannya, sampai akhirnya mereka pun terus berkeliling keliling saling mengitari satu sama lain di halaman apartemen yang nampak sunyi, karena mungkin penghuninya Sudah terlelap tidur atau belum pulang menikmati malam yang panjang.
Kedua sudut bibir Aluna tidak pernah sedikitpun Turun ke bawah, selalu tertarik ke atas penuh kebahagiaan. merasa bahwa Wira adalah orang yang paling mengerti dirinya memanjakan dan menghormati wanita, layaknya seorang wanita yang tidak memiliki kekurangan.
Desiran angin yang bertiup ke arah dedaunan menjadikan suara alunan musik yang sangat indah, di vokali oleh suara hewan-hewan malam yang terdengar begitu nyaring, Tak sedikitpun ada kelelahan.
"Aku boleh mengantar sampai ke depan pintu rumahmu?" tanya Wira yang masih menggenggam erat tangan Aluna, ketika dia sudah berada di depan pintu lobby apartemen.
"Untuk apa?" jawab gadis cantik itu yang tak melepaskan senyum indah dari bibirnya.
"Aku ingin memastikanmu selamat sampai tujuan, karena seperti yang sudah kamu bilang berani berbuat harus berani bertanggung jawab."
"Apa benar kamu hanya ingin memastikanku selamat atau kamu tertarik dengan bokongku yang sangat cantik, yang belum pernah dilihat oleh orang lain?"
"Itu alasan yang nomor 10, karena kalau tidak diizinkan aku hanya berharap dengan Kepalsuan."
Mendengar perkataan Wira Aluna pun tidak menjawab, Dia pun masuk ke lobi apartemen yang terlihat masih ada resepsionis di sana. Dengan manggut memberi hormat menunjukkan bahwa dirinya adalah wanita yang sangat ramah , tidak sombong seperti kebanyakan wanita pada umumnya. meski dia sudah memenangkan banyak penghargaan namun tidak ada sedikitpun keangkuhan tertanam di dalam jiwanya.
"Selamat malam Bu Aluna, Bagaimana pertunjukan malam ini?" Sapa resepsionis yang terlihat sangat akrab.
"Luar biasa hari ini semuanya berjalan lancar, mungkin ini salah satu dari doamu yang dikabulkan. Terima kasih nanti lain waktu kita adakan acara makan-makan."
"Sangat ditunggu kabar baiknya," jawab resepsionis itu sambil mengangkat ibu jarinya.
"Sudah saya pamit dulu." Ujar Aluna sambil memutar kembali roda kursinya untuk menuju kamarnya sedangkan Wira masih berada di belakangnya.