Sangat Membahagiakan

1118 Words
"Kenapa berhenti?" tanya Wira ketika sudah berada di depan pintu lift. "Mohon maaf liftnya hanya muat untuk satu kursi roda, kalau kamu mau kamu bisa menunggunya sementara waktu." "Baiklah, kalau memang keadaannya seperti itu." jawab Wira dengan sedikit berberat hati, Entah mengapa perasaannya Selalu tidak karuan ketika berpisah dengan Aluna. Wanita cantik berkursi roda itu melepaskan kembali Seuntai senyuman yang indah, kemudian ketika pintu lift terbuka dia pun masuk ke dalam sampai akhirnya pintu pun akan tertutup kembali. "Oh ya kamu tinggal di lantai berapa?" Tanya Wira yang belum mengetahui Alamat jelas wanita yang sedang didekati. "Lantai 3 nomor 172?" Wira yang disuruh menunggu dia pun terlihat meregangkan otot-otot yang terasa kaku, karena sudah terlalu lama duduk di atas kursi roda. dia menarik otot pinggangnya ke arah samping kiri kemudian ke arah samping sehingga terdengar bunyi kretek yang sangat nikmat. "Pegel ya kalau harus duduk di kursi roda?" tanya resepsionis yang terlihat memperhatikannya. "Yah!" jawab Wira singkat seolah enggan menanggapi pertanyaan orang yang dianggapnya sok kenal. "Nanti juga pasti akan bangkit, setelah diberikan service yang begitu memanjakan. lihat saja tubuhnya yang begitu mulus dan bodinya yang begitu seksi, pasti kamu tidak akan mampu mengimbanginya. "Apa sih, nggak jelas banget kamu!" "Alah pura-pura saja, Mana mungkin kamu mau mengantarkannya sampai ke kamar, Kalau kamu tidak menginginkan sesuatu. Mendengar pernyataan itu Wira terlihat mendengus kesal kemudian membalikkan kursi rodanya menetap ke arah lift, untuk menekan tombol agar lift yang berada di atas Turun ke bawah, mengacuhkan ocehan ocehan resepsionis yang mungkin sudah biasa mengobrol dengan para tamunya. "Apaan sih nggak jelas banget nih orang, kalau tidak sedang berpura-pura pasti akan ku patahkan lehernya." umpat Wira di dalam hati namun itu tidak lama karena pintu lift sudah mulai terbuka. "Paling baru nempel aja sudah muntah!" teriak sang resepsionis yang terus menggodanya. Dengan cueknya Wira pun masuk ke dalam dan menutup pintunya kembali, kemudian dia pun menekan tombol sesuai dengan lantai yang sudah diberitahu oleh Aluna. hatinya mulai berdegup dengan kencang menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya, Mungkin dia sedikit nervous soalnya ini baru pertama kalinya dia berkencan dengan wanita yang lumpuh. Pintu lift pun terbuka dibarengi dengan jantung yang semakin berdebar, perasaannya mulai tak karuan bahkan sedikit keringat dingin mulai bercucuran membasahi tubuh. ketakutan rasa bersalah mulai menyelimuti diri, seperti ketika minggu yang lalu di mana Wira merasa takut kalau dirinya menjadi orang yang benar-benar lumpuh. "Apa aku pulang saja dan lain kali aku melanjutkan kencannya?" gumamnya yang sedikit ragu-ragu Bahkan dia terlihat terdiam sesaat sebelum mencari nomor apartemen milik Aluna. "Lah gimana nanti saja, yang penting Sekarang aku sudah ada di sini aku harus mendapatkannya Lagian aku ingin mencoba Bagaimana rasanya berkencan dengan wanita yang tidak bisa bergerak." putusnya yang mulai menekan kembali tombol ups untuk melajukan kursi rodanya, suasana lorong apartemen terasa begitu sunyi karena waktu itu sudah menunjukkan lewat dari tengah malam. Sambil berjalan Wira pun terus memperhatikan nomor-nomor yang tertera di pintu kamar, mencari nomor sesuai dengan nomor yang diberikan. "170, 171, yang 172 nya ke mana?" tanya Wira di dalam hati ketika sudah berada di ujung lorong. "Mungkin dari pintu keluar lift ke sebelah kiri ataupun ke sebelah kanan?" ujar Wira sambil memutar kembali kursi rodanya menuju ke tempat semula. setelah itu, ia pun mengambil ke lorong ke sebelah kanan namun di sana tidak ditemukan nomor 172 melainkan nomor yang berada di bawahnya. sampai akhirnya Wira pun mengambil lorong sebelah kanan terlihatlah Aluna yang masih berada di lorong dekat pintu apartemennya. "Pasti kamu kesusahan? Maaf tadi aku lupa memberitahu kalau apartemenku berada di sebelah kanan dari pintu keluar lift." kata Aluna seperti yang sudah tahu kalau tamunya kesulitan mencari tempat tinggalnya. "Yah tidak apa-apa, aku tadi sampai ke ujung lorong namun tidak ada nomor 172 tapi ternyata berada di sebelah sini." jawab Wira sambil mendekatkan kursinya ke arah Aluna.! Brak! Kursi pun beradu, membuat kedua sudut masing-masing terangkat merasa lucu dengan tingkah laku mereka yang seperti anak kecil yang bermain-main dengan alat penyandang disabilitas. "Maaf kayaknya Aku terjebak." ujar Wira yang sudah berhadapan dengan Aluna. "Mau ke mana memang?" tanya Aluna yang terlihat memalingkan wajah. "Tadinya aku mau masuk ke dalam rumah, siapa tahu aja ada segelas teh ataupun segelas anggur di sana, untuk menghangatkan tubuhku yang dingin." "Hanya itukah yang kamu inginkan?" tanya Aluna seolah menantang. "Inginnya lebih dari itu, namun aku takut dicap sebagai pria yang tidak sopan." "Kamu masih penasaran dengan bokongku ya?" ujar Aluna dengan berbisik hembusan nafasnya yang lembut menyapu telinga laki-laki yang berada di sampingnya namun mereka berlawanan arah. Wira tidak menjawab, Dia pun mulai mencoba mendekatkan kepalanya ke arah kepala milik Aluna membuat mata gadis cantik itu terpejam bersiap menerima segala kemungkinan yang akan diberikan, sampai akhirnya kedua bibir yang terasa dingin mulai bertautan saling memberi kehangatan dengan kecupan-kecupan lembut penuh ungkapan dari perasaan masing-masing. Semakin lama mereka bergulat menggunakan bibir semakin menderu pula nafas yang dikeluarkan, perasaannya mulai terbawa suasana menikmati kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh sentuhan penuh cinta. bahkan tangan Aluna mulai mencoba meremas rambut, sehingga pria itu semakin bersemangat melahap bibir gadis milik wanita berkursi roda. Hasrat pria yang berpura-pura lumpuh itu, semakin berkejolak dia terus melumat bibir mungil milik Aluna Bahkan dia mulai menuruni leher panjang seolah tidak ingin melewatkan satu cm pun, dari tubuh gadis yang baru bisa dinikmati dengan perjuangan yang begitu berat membuat Aluna mendongakkan kepala memberikan keleluasaan agar Wira mudah mencumbunya. Puas bermain di leher bibir, Wira pun mulai kembali ke bibir milik Aluna sampai pergulatan itu terus terjadi tanpa ada yang mengganggu lorong apartemen yang sepi membuat mereka semakin leluasa memadu kasih mengungkapkan perasaan masing-masing, semakin lama semakin pula serangan-serangan yang diberikan sampai terlihat tangan Wira yang memegang kepala, Aluna mulai turun ke bagian d**a meremasnya dengan penuh kekaguman karena terlihat sangat kenyal dan menggairahkan. Mata Aluna hanya bisa terpejam, sekali dibuka sedikit untuk mengintip keadaan pria yang sedang mengungkapkan perasaan cintanya. dengan ciuman ciuman penuh hasrat dan gairah tangannya terlihat meremas sandaran kursi ketika bibir Wira menuruni ke bagian d**a dan tangannya mulai sedikit nakal menaikkan gaun untuk mengelus paha. Tidak mendapat penolakan dari Aluna, Wira pun semakin berani melumat d**a bagian atas yang terlihat putih dan sangat wangi jaket yang digunakan. sudah dibuka resletingnya bahkan Aluna sudah memamerkan paha mulus nan putih membuat Wira semakin bersemangat dan semakin berani ingin terus mengelus paha itu sampai ke pangkalnya, namun ketika hendak menyentuh tangan Aluna pun dengan segera menghentikan. "Kenapa?" tanya Wira dengan mengatur nafas yang memburuk. "Jangan ke tempat itu, nanti kalau aku terpanggil bagaimana kelanjutannya Apakah milikmu bisa berdiri tegak." Mendengar pertanyaan itu Wira pun sedikit tertegun, dia bukan tidak memiliki hasrat karena benda kesayangannya sudah berdiri tegak, namun yang menjadi Dilema Apakah benar orang yang memiliki kelainan saraf Masih bisa berdiri atau loyo seperti terong yang sudah direbus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD