Usir Rania!

1128 Words
Di dalam restoran mewah, suasana eksklusif dan privasi meresap ke setiap sudut ruangan. Cahaya temaram dari lampu gantung mewah menciptakan suasana yang hangat dan romantis. Meja-meja yang ditata dengan indah dilengkapi dengan peralatan makan yang berkilau, mencerminkan kemewahan yang diusung oleh tempat ini. Dinding-dinding dihiasi dengan seni-seni bernilai tinggi, menciptakan suasana artistik yang memikat. Sentuhan warna emas dan nuansa netral memberikan kesan elegan yang sempurna, menciptakan latar belakang yang cocok untuk pengalaman kuliner yang istimewa. Perabotan kulit dan kayu mahoni memberikan sentuhan klasik yang menyatu dengan desain interior modern. Kursi-kursi empuk dan meja-meja yang terbuat dari bahan-bahan berkualitas tinggi menambahkan kenyamanan ekstra bagi para tamu yang datang. Pelayan-pelayan yang berpakaian rapi dengan senyum ramah melangkah tenang di antara meja-meja, siap memberikan pelayanan tanpa cela. Suara-suara pelan dari langkah kaki dan obrolan lembut menciptakan kesan privasi dan eksklusivitas bagi setiap tamu. Dari dapur terbuka tercium aroma menggoda dari hidangan-hidangan istimewa yang sedang disiapkan. Koki-koki berbakat dan penuh dedikasi bekerja di balik kaca yang bersih, menambahkan elemen teatrikal pada pengalaman bersantap di restoran ini. Wira bersama teman-temannya setelah menyantap makan dan mengobrol, serta menyetujui taruhan akhirnya mereka pun satu persatu perlahan meninggalkan ruangan eksklusif di restoran itu untuk melanjutkan pekerjaannya atau bertemu Klien di restoran lain. tinggallah Wira dan Andi yang masih memiliki waktu panjang karena acara pertemuan dengan karyawan nanti pukul 03.00 sore, itu pun tidak akan lama hanya membaca laporan. "Apa nggak sebaiknya kamu urungkan niatmu untuk menjadikan Aluna sebagai taruhan, walaupun itu bukan ibumu tapi menyakiti orang lain adalah hal yang tidak diperbolehkan, baik dalam hukum agama ataupun negara." ujar Andi mengingatkan atasannya meski tidak melarang untuk mendekati perempuan-perempuan malam, tapi kalau untuk Aluna hati Andi tidak mengizinkan. Entah mengapa dia bisa seperti itu padahal dia belum pernah bertemu dengannya. "Aku tidak akan menyakitinya, justru aku ingin mengangkat derajatnya dengan ketampanan dan kemewahan yang aku miliki, agar dia yang sedang terpuruk bisa bangkit kembali." jawab Wira yang akan sangat sulit untuk dinasehati. "Lebih baik kita membiarkan daripada kita mengganggu ketentraman hidup orang lain, apalagi kalau kita tidak memberikan manfaat bagi mereka. kalau kamu hadir meski awalnya memberikan kebahagiaan tapi akhirnya disakiti, mendingan sekarang kamu urungkan saja niat itu." Andi tetap Kukuh mengingatkan. "Aku sudah berucap Andi, Maka aku harus membuktikannya bahwa wanita secantik apapun, bagaimanapun keadaan mereka, tetap akan bertekuk lutut meminta cintaku." "Ya sudah kalau itu kemauanmu, Tapi ingat jangan sampai merepotkanku ketika nantinya ada masalah, kamu harus menanggungnya sendirian!" "Jangan begitulah kita kan sahabat, maka kita harus saling membantu ketika ada kesusahan." "Sahabat macam apa yang datang ketika waktu butuh, itu bukan sahabat itu hanya menumpang hidup." Jawab Andi dengan mencibir. Kring, kring, kring! Belum sempat menjawab ucapan Andi, telepon Wira pun ternyata. pegawai yang suka membersihkan apartemennya menelepon membuat Wira dengan segera mengangkatnya. "Ada apa Bi?" tanya Wira Setelah telepon itu terhubung. "Wanita yang berada di rumah tidak mau pergi, padahal sudah dari dua jam yang lalu bangun dari tidurnya." "Kok bisa tidak mau pergi?: "Mohon maaf Pak, karena perempuan itu menganggap kalau bapak adalah kekasihnya dan Sebentar lagi bapak akan menikahinya, bahkan saya diancam kalau saya berani mengusirnya lagi saya akan dipecat." "Ya sudah tunggu, dan terus pantau wanita itu, nanti dia mencuri barang-barang berharga saya." putus Wira dengan mematikan sambungan teleponnya. "Ada apa?" tanya Andi yang terlihat penasaran. "Ayo kita kembali ke kantor, supaya kita bisa beristirahat sebelum acara rapat dimulai." Akhirnya mereka berdua pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian meninggalkan restoran yang sangat mewah untuk kembali ke kantornya. Sesampainya di Kantor Perusahaan sportiva Andi yang hendak turun ditahan oleh Wira. "Kamu sebaiknya ke apartemenku dan urus wanita yang tidak mau pulang!" "Maksudnya?" tanya Andi yang terlihat mengerutkan dahi. "Tadi malam aku membawa seorang wanita ke rumah dan sampai sekarang wanita itu tidak mau pergi, padahal aku sudah memberikan keluasan sampai tubuhnya kembali pulih, setelah semalaman bekerja menemaniku. namun tadi asisten rumah tangga yang menelepon wanita itu tidak mau pulang, Kamu urus dia agar wanita itu secepatnya pergi." "Maksudnya bagaimana, ini di luar job desk pekerjaan saya." "Ya intinya kamu datang ke apartemen ku, nanti ketika ada wanita yang masih berada di rumah kamu usir." "Mohon maaf aku tidak bisa mengerjakan karena aku bekerja di perusahaan sportiva, hanya sebagai sekretaris bukan sebagai pesuruh." "Tolonglah Andi kalau kamu bukan yang menolongku. Aku mau minta tolong sama siapa lagi, aku mau minta tolong sama Lisa nanti dia marah, seperti anak kecil. jadi tolonglah untuk yang terakhir kalinya!" "Nggak bisa!" "Sekarang baru pukul 02.00 siang, setelah kamu menyelesaikan pekerjaanmu kamu boleh pulang." ujar Wira sambil melirik jam yang ada di tangannya, kemudian dia mengulum senyum seperti mendapatkan ide berlian. "Maaf, Pokoknya saya nggak bisa." "Kamu datang ke sana paling sekitar 15 menit, Terus kamu pulang ke rumah. kamu bisa bermain dengan anakmu, bahkan bisa mengajak mereka mau nonton. kalau tidak punya tiketnya nanti aku yang belikan." Andi pun terdiam seolah sedang menimbang baik buruknya tawaran yang diberikan oleh atasan. setelah dipikirkan ternyata perkataan Wira ada benarnya, soalnya dia tidak memiliki banyak waktu untuk keluarga, karena pekerjaan di kantor selalu sibuk. melihat Andi terdiam dengan segera Wira pun mengeluarkan handphone kemudian menuliskan sesuatu hingga dia pun menunjukkan ke arah bawahannya, bukti transfer Yang masuk ke rekening Andi. "Cukup untuk membeli tiket dan membeli popcorn 1 kontainer. sudah jangan banyak pertimbangan, tolong selesaikan, nanti ketika aku pulang perempuan itu sudah tidak ada di rumah." Andi yang sudah kalah berdebat, Dia hanya bisa menarik nafas dalam merasa kesal dengan atasannya yang selalu menyuruhnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tidak pernah Ia buat. namun meski begitu Andi tidak bisa menolak apalagi dengan imbalan yang Begitu Berharga. "Oke bro, thank you!" ujar Wira sambil menepuk bahu Andi, kemudian dia pun keluar dari mobilnya meninggalkan bawahan sekaligus sahabatnya yang masih terdiam. Seperginya Wira Andi yang sudah kalah telak dia pun memutarkan kemudinya kemudian keluar kembali dari perusahaan tempat ia bekerja, menuju ke salah satu apartemen mewah yang berada di kota Jakarta. Di perjalanan dia terus berpikir bagaimana caranya untuk menyuruh wanita yang berada di apartemen Wira agar segera keluar. Sampai akhirnya dia pun mendapatkan ide dari cerita-cerita Wira sebelumnya, sehingga wajahnya yang semula terlihat kusut ini mulai berseri kembali. Sesampainya di apartemen, Andi pun masuk ke dalam lobi kemudian naik ke lantai paling atas. sampainya di pintu kamar dengan segera dia pun membuka pintu itu dengan sandi yang diketahuinya sejak dari lama, karena Andi dan wira tidak ada rahasia di antara mereka, sehingga dengan mudah Andi pun bisa masuk ke dalam. Benar saja, di apartemen Wira terlihat ada seorang wanita yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi, dengan layar yang begitu lebar, di bawahnya berserakan Kulit Kacang dan tisu bekas mengusap air mata, namun ketika melihat ada orang asing yang masuk ke apartemen wanita itu menatap heran ke arah Andi. "Kamu siapa?" Tanya Rania, wanita yang tidak mau pergi dari apartemen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD