Rania Marah

1132 Words
"Saya pemilik apartemen ini, terus anda siapa?" Jawab Andi balik bertanya sambil duduk di kursi sofa yang berada di hadapan Rania. "Jangan mengada-ngada, Mana mungkin kamu bisa mengakui milik orang lain. karena sudah jelas apartemen mewah ini milik pacar saya yang bernama sandi." ujar Rania yang mengaku bahwa dirinya adalah pacar sandi. di mana Wira tidak pernah jujur dengan nama, dia selalu bergonta-ganti nama setiap wanita yang ia temui. hanya dengan Aulia dia mengakui nama sebenarnya. "Hahaha kamu sudah diapain aja sama penipu itu, jangan-jangan kamu sudah direnggut kehormatanmu?" "Maksudnya penipu. Dan kenapa kamu bisa berpikiran sampai ke sana?" dahi Rania terlihat mengerut, wajahnya mulai pucat merasa takut dengan apa yang ia dengar. "Pria itu bukanlah pria yang baik, dia menyewa apartemenku untuk semalam saja, dan sekarang dia sudah pergi tanpa membayar." "Sudah, stop! Jangan mengada-ngada karena sudah jelas aku mengetahui bahwa Apartemen ini milik sandi." "Saya tidak mengada-ngada, bahwa Apartemen ini adalah milik saya karena saya bisa masuk sesuka hati saya." Mendengar penjelasan itu, Rania pun sedikit tertegun, karena kalau bukan pemiliknya Mana mungkin orang itu bisa masuk ke dalam. wajahnya mulai terlihat agak panik apalagi mendengar kalau Wira yang mengaku nama sandi belum membayar sewa apartemennya. "Sekarang tolong pergi tinggalkan rumah saya! atau saya hubungi pihak yang berwajib untuk mengurus orang yang tidak Diundang masuk ke dalam rumah saya." "Jangan usir saya Pak, tolong...! saya ini orang miskin yang hanya mengandalkan penjualan diri saya. jadi jangan Laporkan saya ke pihak yang berwajib, karena saya dalam waktu ini sebagai orang yang terkena tipu juga. soalnya sandi belum memberikan uang sepeserpun untuk layanan yang saya berikan." jawab Rania Mulai mengarang menarik simpati, dia beranggapan kalau Andi bukan orang biasa sehingga apartemennya sangat mewah seperti itu. "Kalau kamu tidak mau diusir, terus kamu mau apa kamu mau tinggal di rumah saya atau mau menyewa?" "Kalau bapak memperbolehkan. Saya ingin tinggal di apartemen ini, tapi tidak dengan menyewa melainkan menemani Bapak setiap hari. supaya bapak ada yang menemani tidak kesepian seperti sekarang." Jawab Rania sambil sedikit menggoda menaikkan baju yang dikenakan memamerkan paham mulus tampak goreng bawang. "Hahaha, kamu kira aku ini cowok murahan yang akan tidur dengan cewek murahan. sekarang jangan banyak berbicara lagi, kemasi bareng-barengmu dan tinggalkan ini!" T"olong Pak sehari lagi saja saya menikmati kemewahan ini, karena rumah saya sangat jelek dan sangat kumuh." "Ya sudah kalau kamu tetap kukuh, Tunggu sebentar saya akan panggilkan pihak Kepolisian." ujar Andi sambil mengeluarkan handphonenya. melihat keseriusan tuan rumah Rania pun mulai sedikit mengalah, dengan segera dia pun bangkit dari tempat duduk, kemudian masuk ke kamar untuk mengemasi semua barang-barangnya. Selesai mengemasi barang-barang dia pun keluar dari kamar lalu menemui Andi yang masih tetap duduk dengan santai, Bahkan dia terlihat menyandarkan punggungnya ke kursi sofa tidak memperdulikan kesusahan yang sedang dihadapi oleh Rania. "Bapak boleh mengusir saya, tapi Bapak harus membayar uang yang dijanjikan oleh sandi." "Uang apa?" tanya Andi dengan acuhnya. "Uang Menemaninya. tadi malam dia berjanji akan memberi saya uang 10 juta kalau dia berhasil memuaskannya, namun sekarang menurut Bapak dia sudah pergi tanpa membayar sewa. Terus bagaimana kerugian saya?" "Itu ditanggung masing-masing, kamu kira sewa apartemen mewah seperti ini harganya sangat murah. Ini sewanya hampir 30 juta lebih, gara-gara Si Sandi itu saya kehilangan 30 juta Karena sebenarnya ada orang yang ingin menyewa, namun dengan bujuk rayu dan tipunya Saya memilih dirinya untuk menyewakan terhadapnya Namun ternyata dia malah kabur. sekarang jangan banyak berbicara cepat tinggalkan tempat ini." "Tolonglah pak! nggak apa-apa tidak 10 juta juga yang penting saya ada untuk bertahan hidup minggu ini, dan Kalau Bapak mau nanti saya akan kasih gratis." ujar Rania dengan wajah memelas menjual kesedihan, agar Andi merasa simpati kepadanya. Andi yang sudah sangat paham dengan wanita-wanita yang ditemui oleh Wira, dia tidak sedikitpun bergeming ataupun terpancing, yang ada Dia terlihat mengencangkan urat wajah seperti hendak mau marah. "Kamu tidak ditahan saja, harusnya sudah beruntung karena saya sudah rugi uang 30 juta. saya membiarkanmu pergi tanpa meminta bayaran sedikitpun, itu kurang baik apa buat kamu?" "Tapi saya sudah ditiduri oleh sandi, Terus siapa yang mau bayar?" Jawab Rania Tak sedikitpun merasa malu dengan apa yang sudah ia perbuat. "Itu urusan kamu, kenapa kamu tidak hati-hati mudah percaya dengan orang yang baru ketemu. sekarang angkat kaki atau pihak yang berwajib yang mengusir." ancamnya sambil memainkan handphone, bersiap untuk menelepon kantor Kepolisian. Melihat keseriusan Andi, Rania pun tidak berkata lagi. dengan wajah yang dipenuhi amarah keluar dari apartemen mewah itu membuat sandi mengulum senyum setelah pintunya tertutup. Sore merayap masuk ke dalam apartemen mewah, memberikan sentuhan kehangatan pada interior yang elegan. Cahaya senja yang lembut memancar melalui jendela kaca besar, menciptakan nuansa yang damai dan menghadirkan pemandangan matahari terbenam yang menakjubkan. Furnitur mewah dan perabotan desain tampak begitu memesona di bawah cahaya senja. Warna-warna netral seperti krem dan abu-abu memberikan nuansa yang tenang, sementara aksen emas dan perak di detail-detail dekoratif menambah kilau kemewahan. Pemandangan kota dari jendela tampak hidup dengan lampu-lampu gemerlap yang mulai menyala. Langit senja yang memancarkan warna oranye dan merah melukis latar belakang yang menawan di balik gedung-gedung pencakar langit. Sementara waktu Andi terus termenung di kursi sofa yang berada di ruang tamu, menyayangkan perbuatan sahabatnya yang sudah kelewat batas, dia tidak segan-senggan menyakiti perempuan lain. yang Andi takutkan nanti akan menjadi karmanya ke depan. "Sudah pergi nak Andi?" tanya seorang wanita yang baru datang dari dapur dengan membawa segelas air putih. "Sudah bi, maaf gara-gara ke kurang ajaran Wira, Bibi harus kerja sampai sore." jawab Andi mewakili sahabatnya. "Tidak apa-apa nak, tidak usah meminta maaf, karena yang salah bukanlah nak Andi melainkan Pak Wira. Tapi walaupun begitu beliau tetap baik sama Bibi, kalau ada kerjaan seperti ini dia suka memberi uang lebih, intinya Pak Wira tidak pernah menyepelekan tenaga orang lain." "Iya sih kalau itu tidak usah diragukan lagi. tapi bagaimana kalau kita sedang memiliki acara lain atau kepentingan lain bersama keluarga, kita malah disuruh untuk mengerjakan di luar job desk pekerjaan kita. Bukannya itu tidak baik?" "Memang tidak baik, tapi mau bagaimana lagi kita tidak bisa memilih siapa bos kita, siapa majikan kita. yang terpenting kita harus selalu bersyukur." Andi pun terlihat manggut-manggut melihat kebesaran hati orang itu. setelah menghabiskan minuman Andi dan asisten rumah tangga pun meninggalkan apartemen Wira, dengan keadaan bersih. bahkan Andi yang merasa kasihan dia pun mengantarkan pulang asisten rumah tangga karena kebetulan jalannya searah. Di perjalanan pulang tak sengaja Andi melihat Arwi yang mengendarai motornya, motor butut berwarna merah kira-kira tahun 70-an. memang kehidupan saudara itu sangat berbeda jauh seperti langit dan bumi. Wira yang bergelimang harta dengan jabatan yang sangat tinggi di perusahaan, sedangkan Arwi hanyalah sebagai security di salah satu Rumah Sakit. Arwi terus mengendarai motornya dengan begitu pelan, karena ketika dia menarik tuas gas dengan kencang bukanlah kecepatan yang ia dapat namun asap putih yang mengepul keluar akan lebih tebal dari belakang knalpotnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD