Rutinitas CEO

1131 Words
Pagi menyapa dengan gemilang di apartemen mewah milik Angga Wira Aditya, membangunkan ruang dengan sinar matahari yang lembut memasuki jendela kaca besar. Cahaya tersebut melukis bayangan gemerlap di seluruh ruangan, memberikan nuansa kehangatan dan kecerahan. Dari ketinggian apartemen, pemandangan kota Jakarta yang megah terbentang di bawah, diterangi oleh pancaran sinar matahari pagi. Gedung-gedung pencakar langit menjulang di kejauhan, dan jalanan yang mulai ramai memperlihatkan kehidupan kota yang bangun dari tidur. Interior apartemen dipenuhi dengan furnitur elegan dan perabotan desain, menciptakan nuansa kemewahan yang menyatu dengan keindahan arsitektur modern. Lantai marmer yang bersih memberikan kilauan eksklusif di bawah cahaya pagi. Suasana sejuk dan tenang di apartemen mewah ini terhembus dari pendingin udara yang bekerja dengan sempurna. Keheningan diputus oleh desiran angin yang masuk dari balkon terbuka, membawa harum bunga-bunga yang mungkin ditanam di pot-pot cantik di tepi teras. Mata Wira yang tertutup perlahan mulai terbuka, tubuhnya menggeliat meregangkan otot-otot yang terasa kaku setelah lama tidak bergerak. di sampingnya tergeletak wanita cantik yang tidur dengan begitu pulas, mungkin merasa capek setelah bermain semalam. Wira mengambil jam weker yang masih menyala untuk dimatikan. "Terasa lelah banget badanku, Padahal tadi malam aku pulang pukul 12.00. mungkin gara-gara perjalanan yang jauh jadi tubuhku terasa lemas." gumam Wira sambil bangkit dari tempat tidurnya, kemudian dia menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. "Rania bangun! sudah siang. aku harus pergi ke kantor." Wira membangunkan gadis yang masih tidur lelap di kasurnya. "Aku masih ngantuk sandi, izinkan aku untuk tidur sampai siang hari." jawab wanita itu tanpa membuka mata. "Tidak bisa, kamu harus segera pulang nanti ada orang yang mencarimu." "Tolong izinkan aku untuk tidur hari ini, karena permainanmu semalam begitu luar biasa. aku masih lemas, Badanku terasa Ringsek." "Ya sudah kalau begitu nanti kalau badanmu sudah tidak lemas lagi, Kamu langsung pulang karena nanti malam ada orang penting yang akan datang ke rumahku." Jawab Wira sedikit berbohong, karena meski dia membutuhkan seorang wanita, tapi dia tidak mau memeliharanya untuk jangka waktu yang lama, dia hanya ingin memakai sekali kemudian mencampakkannya begitu saja. Rania tidak menjawab Dia hanya kembali mendengkur menikmati kemewahan yang ia dapat setelah berhubungan dengan Wira, melihat gadis itu masih tertidur Wira seolah tidak memperdulikannya. dengan segera dia pun mengenakan training dan jaket, tak lupa sepatu sport dia pakai, kelumpuhan yang kemarin terlihat sekarang tidak nampak dalam dirinya. Tring, tring, tring! Pintu apartemen itu terdengar berbunyi dengan segera Wira membukanya, terlihatlah seorang wanita tua yang datang dengan manggut memberi hormat. "Kebetulan Bibi sudah datang tolong perhatikan wanita yang sedang tidur di rumah saya, nanti kalau sudah bangun usir dia pergi." pinta Wira seperti sudah mengenal wanita itu. "Baik Pak." jawabnya tanpa bertanya lagi karena mungkin sudah paham apa yang dimaksudkan oleh pemilik rumah. Setelah menitipkan pesan Wira pun keluar dari apartemennya menuju lift untuk turun ke bawah, sampainya di halaman apartemen Wira mulai berlari pagi menikmati suasana yang begitu cerah. Wira merasakan kesegaran udara pagi saat langkah-langkahnya yang ringan menapaki trotoar. Langit pagi terbentang di atasnya, memberikan sentuhan biru yang tenang, sementara sinar matahari perlahan memasuki rongga-rongga pepohonan tumbuh di samping kanan kiri jalan. Dalam langkah-langkahnya yang mantap, Wira menyusuri jalan Raya yang dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi percakapan langit. Daun-daun bergetar ringan menyambut kehadiran sang pelari pagi, dan kabut tipis menyelimuti aspal menciptakan suasana misterius di sekitarnya. Nafasnya berirama, menyatu dengan langkah-langkahnya yang teratur. Setiap hirupan udara segar membawa kehidupan baru ke dalam tubuhnya, memberikan energi yang menyenangkan. Suara Deru mesin mobil dan klakson menjadi Irama penggambaran Kota Jakarta yang sudah terbangun dari tidur lelapnya. Wira memasuki area terbuka, di mana cahaya matahari menyentuh wajahnya dengan lembut. Gedung tinggi memberikan bayangan yang menyenangkan, menciptakan titik-titik cahaya yang dansa di atas tanah. Beberapa pesona alam mungkin menggoda pandangannya, menyulut rasa kekagumannya terhadap keindahan kota metropolitan. Wira terus berlari hingga akhirnya dia pun sampai di salah satu gedung yang di atasnya bertuliskan sportiva, gedung yang menjadi pusat produksi dan inovasi produk-produk yang bergerak di bidang olahraga. dengan segera Wira pun masuk ke dalam disambut hormat oleh orang-orang yang sudah berada di sana, Wira terus berlari menuju ruangan kantornya. Sesampainya di sana, Wira pun membersihkan tubuh kemudian memakai baju yang selalu dia siapkan di kantor, aktivitas yang padat membuatnya mengharuskan selalu tampil Prima dengan baju yang rapi dan bersih. "Andi masuk!" pinta Wira sambil menekan wireless yang ada di meja kerjanya. Tas selang Berapa lama orang yang diperintah pun mengetuk pintu Kemudian masuk sambil memberi hormat, walaupun Andi sebagai seorang sahabat dia tetap menghormati atasannya karena profesional kerjanya sudah Tidak diragukan lagi. "Tolong bacakan Agenda saya hari ini!" pinta Wira yang sudah rapi dan duduk di kursi eksekutifnya. "Jam 09.00 kita rapat dengan para Manager, jam 12.00 kita makan siang bersama teman-teman. jam 03.00 kita rapat kembali tentang evaluasi kinerja yang sudah kita lakukan " "Teman-teman yang mana?" "Rekan bisnis kita karena itu sudah menjadi rutinitas, seminggu sekali kita akan bertemu sambil mengobrol mencari peluang-peluang baru untuk kemajuan usaha." "Oke kamu boleh melanjutkan kerja kembali!" Setelah Andi pergi Wira pun mulai membuka dokumen-dokumen yang berada di meja Kerjanya, dia dengan cermat meneliti semuanya takut ada yang terlewat. namun Entah mengapa hari itu dia tidak terlalu fokus karena bayangan Aluna terus mengganggu pikirannya, walaupun Tadi malam dia sudah berkencan dengan Rania, dia tidak bisa melupakan kecantikan Aluna, mungkin dia merasa bersalah sudah berbohong kalau dia pura-pura cacat. "Aluna, Aluna.....! sayang kakimu tidak normal kalau kakimu normal kamu akan sangat cantik dan mungkin aku tertarik untuk mamacarimu, dan mungkin akan kujadikan kamu sebagai wanita satu-satunya yang aku miliki." gumam Wira yang merebahkan punggungnya ke sandaran kursi, kejadian kemarin ketika mengobrol dengan gadis berkursi roda kini mulai terbayang kembali. "Tidak, tidak....! aku tidak boleh suka dengan wanita yang cacat, Aku tidak terlalu tua dan masih banyak wanita normal yang menginginkanku menjadi pasangan hidupnya. jangan, jangan sampai aku tergoda olehnya." dengan segera Wira pun mengusir jauh-jauh perasaan kagum itu karena walau bagaimanapun Aluna bukanlah tipenya. ~ Siang hari Sesuai dengan jadwal yang sudah dibacakan oleh sekretarisnya, Wira ditemani oleh Andi Mereka pun sudah berada di salah satu restoran ternama bersama rekan-rekan bisnis lainnya yang sudah berkumpul sejak dari tadi. obrolan Mereka terlihat serius membahas kemajuan-kemajuan bisnis yang sedang mereka tangani, saling bertukar pikiran, saling memotivasi agar terus maju tidak mogok di tengah jalan. Selesai membahas bisnis, biasanya mereka akan membahas masalah-masalah pribadi dengan lelucon agar tekanan perusahaan sedikit terkurangi. seperti kala itu mereka yang terus memuji soalnya hampir setiap malam Wira selalu mendapatkan wanita yang berbeda, dengan ketampanan dan kegagahannya. "Memang benar-benar hebat sang penakluk kita ini, kemarin dia pergi ke Puncak untuk bertemu dengan keluarga seorang gadis, namun tadi malam dia sudah mendapat gadis yang bar, dan dengan singkat dia pun bisa meluluhkan. Terus bagaimana pengalaman ketika kamu pergi ke Puncak, Apakah Gadis itu sudah kamu tiduri seperti gadis-gadis yang lain?" tanya salah seorang rekan bisnis yang mulai membuka pembicaraan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD