"Memang perusahaan Kakak bergerak di bidang apa?" Aluna kembali bertanya kembali, wajahnya terus memperhatikan Wira seolah ingin mengenal lebih jauh pria yang berada di hadapannya.
"Kayaknya tidak usah panggil kakak, panggil nama saja biar kita lebih akrab." jawab Wira masih menggunakan wajah datar.
"Iya maaf, kalau panggilanku membuatmu tidak nyaman. Memangnya sekarang kamu bekerja di perusahaan apa?"
"Aku bekerja di perusahaan baju olahraga, dan aku menjualnya lewat toko-toko yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan berada di luar negeri."
"Luar biasa, hebat kalau kakak bergerak di bidang itu."
"Iya, tapi sekarang selera konsumen sudah sedikit bergeser, mereka lebih suka berbelanja lewat aplikasi online, tidak suka lewat outlet outlet resmi."
"Tidak! Tidak semua orang suka berbelanja online, seperti aku yang lebih suka berbelanja datang ke Toko langsung, karena aku bisa meraba dan melihat dengan jelas barang yang hendak aku beli, seperti para wanita cantik yang suka datang ke mall untuk menghias dirinya."
"Mungkin memang masih ada orang yang tidak suka berbelanja online, tapi kebanyakan sekarang mode belanja mereka sudah sedikit beralih, karena mereka tidak suka kerumunan atau berkeliling-keliling di pasar panas-panasan. mereka lebih baik menunggu di rumah sambil melepaskan lelah setelah bekerja."
"Memangnya sekarang perusahaanmu omsetnya sedang turun sehingga Kamu terlihat mengeluh, apakah perusahaan tidak Mencoba membuka penjualan lewat Gerai Online?"
"Tidak, perusahaanku baik-baik aja. karena kami juga tidak mau ketinggalan zaman, apalagi kami berada dalam perusahaan yang sangat besar, sehingga banyak ide dan gagasan yang cemerlang. kami membuka penjualan online Namun kami tetap berharap para konsumen untuk datang ke outlet outlet yang tersebar, karena seperti yang sudah kamu tadi bilang, kepuasan berbelanja itu yaitu meraba dan melihat secara langsung, tidak berharap-harap cemas takut barang yang dikirimkan tidak sesuai dengan keinginan."
"Apapun yang terjadi, semoga saja perusahaan kamu selalu berada dalam kemajuan. Oh ya kesibukanmu apa selain bekerja di perusahaan?" tanya Aluna yang semakin tertarik dengan pria yang berada di hadapannya, karena mereka mulai menemukan kesamaan.
"Maksudnya kesibukan?" dahi Wira terlihat mengkerut.
"Ya kesibukan. masa setiap hari kamu bekerja tidak ada hiburan ataupun olahraga?"
"Tidak ada?"
"Kenapa sampai tidak ada kesibukan padahal seorang manusia yang hidup harus ada hiburan agar tidak stress akibat tekanan pekerjaan, dan seorang manusia yang hidup mereka juga perlu berolahraga agar tubuhnya tetap sehat."
"Untuk apa hiburan, kita ketika datang ke tempat-tempat seperti itu kita hanya dijadikan bahan candaan dan olokan. terus olahraga juga tidak ada gunanya Kalaupun kita olahraga, dan mau berolahraga apa dengan keterbatasan yang kita miliki?"
"Kenapa kamu ngomongnya seperti itu, manusia itu tidak boleh menyerah dengan keadaan. seperti aku yang tetap berolahraga meski hanya menggunakan kursi roda. aku bermain musik meski aku memiliki keterbatasan. sejatinya Manusia itu memiliki hak dan kewajiban yang sama baik penyandang disabilitas ataupun orang normal, yaitu bertahan hidup dengan kemampuan masing-masing."
"Bagaimana cara bermain tenis orang yang tidak memiliki kaki?" tanya Wira sambil memperhatikan sekujur tubuh Aluna, menerka-nerka apa yang Gadis itu lakukan ketika berolahraga.
"Ya sama seperti orang pada umumnya, yang berbeda kita bergerak menggunakan kursi roda, sedangkan orang lain bergerak menggunakan kedua kaki."
"Oh begitu Jadi penasaran bagaimana orang-orang seperti kita bermain tenis?"
"Nanti suatu saat kamu bisa melihat, kalau sekarang kamu sibuk bekerja maka kita harus menyempatkan diri untuk berolahraga agar tubuh kita tetap sehat meski dalam keterbatasan."
"Terus pekerjaanmu sekarang apa?" ujar Wira mulai balik bertanya.
"Aku tergabung dalam salah satu musik orkestra, aku sebagai pemain biola. meski penghasilannya tidak menentukan tapi cukup untuk bertahan hidup di Jakarta."
Wira yang terus mendengarkan cerita Aluna dia mulai sedikit tertarik dengan kepribadian gadis itu, karena ternyata selain cantik Aluna sangat gigih dalam memperjuangkan kehidupan, berbeda dengan dirinya yang selalu mendapat kemudahan apalagi dalam menaklukkan seorang wanita.
"Jangan, jangan sampai aku memiliki pacar wanita yang tidak bisa berjalan. bagaimana dia akan mengurusku kalau dia memiliki keterbatasan." umpat Wira dalam hati mengusir jauh-jauh perasaan Yang sebentar lagi akan tumbuh di hatinya.
Mereka berdua pun terus mengobrol ngalor ngidul tanpa ada yang mengganggu, keluarga Aulia seolah menjauh untuk memberikan keleluasaan kepada dua insan yang sedang berkenalan, saling mendalami perasaan masing-masing.
Suasana pun semakin lama semakin siang hingga matahari perlahan-lahan turun menuju ke ufuk timur. Wira yang sudah pegal karena seharian dia duduk di kursi roda, Akhirnya dia pun meminta izin kepada keluarga Aluna untuk pulang kembali ke Jakarta, dan berjanji dia akan sering-sering main ke rumah itu meski janji itu hanyalah Janji palsu. soalnya Wira merasa kesal sudah dikerjain oleh Aulia, dia datang ke situ untuk mendapatkan cintanya, namun apa yang ia dapat hanyalah gadis lumpuh yang menemaninya.
Setelah mendapatkan izin dia pun mulai memutarkan roda kursinya untuk menuju mobil, awalnya Aulia memaksa untuk mengantar, namun dengan tegas Wira menolak karena ketika Aulia tahu kalau mobilnya bukan untuk penyandang disabilitas nanti penyamarannya bisa terbongkar. Walau harus merasa capek Wira tetap berpura-pura menaiki kursi rodanya sampai ke tempat parkir, bahkan ketika sudah jauh Wira pun bangkit kemudian berjalan sambil mendorong kursi roda.
Saat matahari merayap menuju ujung langit, suasana di Puncak berubah menjadi adegan yang penuh warna dan kehangatan. Pegunungan yang memayungi wilayah tersebut menjadi pemandangan megah di balik siluet pepohonan yang menjulang. Sinar senja menyelip di antara dedaunan dan mengecat langit dengan warna oranye dan merah yang hangat. Pepohonan yang rindang merespons gemulainya angin, membuat dedaunan berdesir dengan lembut. Di pinggir jalan, beberapa warung kecil mulai menyala, menyiapkan lampu-lampu kecil yang akan menjadi sumber cahaya di malam hari.
Beberapa orang berkumpul di tepi jalan, menikmati pemandangan yang semakin indah seiring dengan perlahan memudarnya cahaya matahari. Mungkin ada sekelompok pelancong yang sedang menikmati kopi hangat sambil duduk di teras warung, tertawa riang dan berbagi cerita perjalanan mereka. Di lapangan terbuka, anak-anak desa bermain di bawah cahaya senja, merayakan kebebasan sore mereka dengan riang gembira. Terdengar tawa mereka yang riuh menyatu dengan alunan musik lokal yang mungkin dimainkan dari beberapa sudut warung kopi tradisional.
Sementara itu, di beberapa villa yang tersebar di perbukitan, suasana tenang mulai menyelimuti. Beberapa pengunjung mungkin menikmati sore di teras mereka, duduk santai sambil menyaksikan langit berubah warna. Aroma makanan yang lezat mulai menyebar dari dapur-dapur yang sibuk menyiapkan hidangan untuk makan malam. Seiring berjalannya waktu, lampu-lampu di sepanjang jalan mulai berkedip, menyala satu per satu, memberikan kilau romantisme di sepanjang malam. Suara alam yang merdu, seperti kicau burung dan suara angin yang sepoi-sepoi, menciptakan latar belakang yang sempurna untuk menikmati ketenangan senja.
Wira tidaj bisa berlama-lama menikmati semua keindahan karena Secepatnya Dia harus pulang ke Jakarta agar tidak kemalaman dan dia bisa bermain ke klub malam untuk melanjutkan kehidupan yang glamor dengan terus bermain perempuan. Akhirnya dia pun mulai masuk ke mobil kemudian melaju menuju ke arah lembah untuk kembali ke tempat tinggalnya.
Kira-kira pukul 09.00 malam Wira pun sudah sampai di apartemen mewahnya, dengan segera dia pun membersihkan tubuh dan mengganti baju dengan pakaian yang bagus, lalu dia pun keluar kembali seperti tidak ada kelelahan dalam kehidupannya, Wira terus beraktivitas untuk menikmati kekayaan yang ia miliki.