Wajah Wira tiba-tiba berubah menjadi beku, setelah mengetahui benda yang dikeluarkan oleh Aluna adalah kursi yang belum terpasang oleh roda, kecantikan yang ia miliki seolah luntur karena kekurangan yang dimilikinya.
Berbeda dengan Aluna yang tetap mengulum senyum merasa bahagia sudah sampai ke rumahnya, tanpa meminta bantuan siapapun dia terus memasang kedua roda kursinya, lalu dia pun turun kemudian mendorong kursinya mendekati keluarga yang sudah menunggu di ambang pintu, yang pertama menyambut adalah kedua keponakannya.
"Kalian tega meninggalkan bibi sendirian ke sini, Kenapa tidak bareng bibi saja." ujar Aluna sambil menciumi kedua keponakannya, Bahkan dia terlihat mencubit kedua pipi anak-anak yang menggemaskan.
"Bibi Aluna kan hari ini ke sininya, berbeda dengan Bibi Aulia yang sejak kemarin sudah pulang. kami sudah kangen menjaga nenek, jadi kami memutuskan ikut dengan Bibi Aulia."
"Kalian sudah pandai menjawab ya, Awas kalian....!" ujar Aluna sambil mau mencubit kembali pipi Sari, namun bocah itu dengan segera berlari menghindari serangan.
Aluna disambut oleh Rani dengan pelukan hangat dan ciuman di kedua pipinya, kemudian dia pun memeluk kakaknya, lalu didorong menuju ke dalam menuju ke arah Wira yang diam membeku.
"Perkenalkan ini Adikku namanya Aluna, dan Aluna ini adalah Temanku bernama Wira." ujar Aulia memperkenalkan kedua orang yang memiliki kekurangan itu.
Untuk sementara waktu Aluna terdiam memperhatikan keadaan Wira yang meski sudah tua, tapi dia terlihat sangat gagah, Wira terlihat karismatik dengan setelan jas yang ia kenakan, meski hanya bergerak di atas kursi roda. dengan mengulum senyum dia mengeluarkan tangan untuk mengajak Wira berkenalan.
"Salam kenal." ujar Wira dengan wajah datar, seolah tidak menunjukkan ketertarikan terhadap wanita lumpuh yang mengajak berkenalan.
"Aluna, Wira ini masih lajang loh. Nanti kalian mengobrol Ya, siapa tahu saja ada kecocokan Di Antara Kalian." ujar Aulia seperti suara petir yang terdengar di tengah hari bolong, karena tujuan Wira berkunjung ke rumahnya bukan untuk mencari gadis lumpuh melainkan Mencari Cinta gadis yang sempurna tanpa memiliki kekurangan. namun meski begitu Wira tetap tersenyum untuk menyembunyikan kekecewaannya, dia masih berharap kalau Aulia hanya bercanda berkata seperti itu.
"Waktunya makan!" teriak Dewi saudara sepupu Aulia yang mulai membantu memindahkan makanan ke meja makan.
Melihat keluarganya sibuk, Aulia pun meminta izin untuk membantu Menyiapkan makan siang, meninggalkan Ketiga orang yang tidak bisa membantu karena keterbatasan yang mereka miliki.
Nurlela yang memperhatikan perubahan wajah Wira Dia seolah mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh pria itu, dengan segera dia pun mencolek tangan Wira.
"Ada apa Nek?" tanya Wira dengan mengerutkan dahi.
"Sini mendekat!" ujar nenek-nenek itu sambil memainkan jari telunjuknya, mengisyaratkan Wira agar mendekat ke arah wajahnya.
Wira pun kembali menggerakkan roda kursinya, setelah duduk sejajar dengan sang nenek dia pun mendekatkan kepala ke dekat bibir Nurlela.
"Hahaha kamu dijebak ya!" Ledeknya Sambil tertawa namun dengan suara pelan.
"Maksudnya Nek?" tanya Wira pura-pura tidak tahu.
"Iya kamu sudah dijebak oleh Aulia, kamu diajak ke sini seolah-olah dia menyukaimu, tapi ternyata dia ingin mengenalkan adiknya yang lumpuh."
"Masa iya begitu Nek?"
"Iyalah, aku sudah tahu kalau kamu menyukai Aulia, tapi ternyata dia tidak menyukaimu, dia hanya mencomblangkanmu dengan Aluna."
Mendengar penjelasan dari Nurlela Wira tidak menjawab lagi, karena makanan yang dipindahkan Sudah semuanya berada di atas meja. sebelum makan Ilham sebagai kepala keluarga mulai memanjatkan doa diamini oleh seluruh orang yang hadir. setelah itu barulah Mereka pun menyantap makanan masing-masing, diselingi dengan canda tawa keluarga yang begitu hangat, hanya Wiralah yang terlihat sedikit tidak tertarik, dia hanya menyahuti dan tersenyum ketika orang lain tertawa.
Perasaan Wira kala itu terasa campur aduk antara tetap tinggal di rumah Aulia atau secepatnya pulang, karena walaupun dia berpura-pura lumpuh dia tidak menginginkan pasangan hidupnya memiliki kekurangan. Wira menginginkan pasangan hidupnya adalah wanita sempurna seperti Aulia, namun rasanya keinginan itu tidak akan terwujud melihat Aulia yang seperti menjauhinya, ketika dia mengajak ngobrol atau menimpali perkataan Aulia, dia selalu melemparkan kepada adiknya yang terlihat begitu terlihat kagum dengan dirinya.
"Kenapa hari ini Hidupku sangat sial banget. tadi aku harus mendorong roda dari jalan sampai ke kampung, kepalaku terasa kebas meski terkena bola plastik. kurang ajar memang kedua Bocil itu, kalau aku tidak menyukai bibinya mungkin aku sudah mematahkan kedua kakinya, agar tidak kurang ajar terhadap orang tua. ditambah lagi Sekarang aku di dekat-dekat kan dengan wanita cacat yang sikap seperti orang gila, yang kerjaannya hanya mengulum senyum, ketika melihat wajahku. Apakah dia tidak sadar kalau dia sedikitpun tidak pantas bersanding denganku yang seorang CEO dengan memiliki kekayaan yang luar biasa." Umpat pria itu di dalam hati.
"Mohon maaf nak Wira, kalau jamuannya tidak memuaskan, karena beginilah keadaan di Kampung yang serba kekurangan." ujar Reni mulai mengajak Wira untuk menimbang pembicaraan.
Wira yang sedang terlarut dalam lamunan, dia hanya memainkan nasi yang berada di piringnya. sedangkan khayalannya terus menggerutu menyesali Kenapa dia tertipu Oleh Aulia, padahal dirinya sendirilah yang pandai menipu perempuan tetapi untuk kali ini dia kalah telak.
"Nak Wira kenapa diam, tidak Enak ya makanannya?" tanya Reni membuat Wira sedikit terkejut.
"Enak kok, enak Makanan ini sangat enak Bu, bahkan tidak kalah dengan restoran bintang 5."
"Ah, Nak Wira sangat pandai kalau membuat hati orang lain bahagia, semoga kita bisa terus berkumpul seperti ini."
"Amin." jawab orang-orang yang berada di situ dengan serempak, hanya Wira saja yang tidak menjawab karena dia sudah paham kemana arah tujuan, mereka yang sedikit demi sedikit mendekatkan Aluna dengan dirinya.
Obrolan pun terus berlanjut diselingi dengan sukacita yang begitu mendalam, sampai akhirnya acara makan bersama pun selesai. Nurlela yang sudah sepuh dibawa kembali ke kamar untuk beristirahat, sedangkan Saudara sepupu Aulia mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di kampung, Menikmati keindahan suasana Puncak yang sedang tidak terlalu panas.
Aulia dan ibunya, Mereka pun disibukkan untuk mencuci piring-piring bekas makan bersama. sedangkan Ilham berpamitan ada kepentingan dengan Pak RT untuk membahas pertanian. yang ada di ruangan itu hanyalah Wira dan Aluna membuat Wira semakin terdesak tidak bisa berbuat apa-apa.
Dalam hatinya, Wira ingin segera pulang. namun dia masih penasaran dengan Aulia mungkin kalau dia belum bisa menaklukkan hati gadis cantik itu, dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak, tidak akan bisa enak ketika makan. karena Aulia seolah sudah menjebaknya diantara dua pilihan yang sama sekali tidak menguntungkan. kalau dirinya pergi Wira akan dicap sebagai orang yang tidak tahu diri sudah memiliki kekurangan, tapi dia tidak mau menerima kekurangan orang lain. namun ketika dia terus berada di situ Itu bukan pilihan baik karena Aruna mulai mendekatinya.
"Kak Wira tinggal di apartemen yang sama ya dengan Kak Aulia?" ujar gadis berkursi roda itu mulai membuka pembicaraan.
"Tidak, aku tidak sapartemen dengan Aulia, karena apartemen itu adalah milik ibuku, kami tidak sengaja bertemu sehingga Aulia mengajakku ke sini.
"Kakak sangat hebat, aku sudah mendengar banyak cerita dari Kak Aulia tentang kehebatan kakak yang terus berjuang meski dalam keterbatasan."
"Aku tidak hebat, mungkin itu hanya kebetulan saja." Jawab Wira tanpa sedikitpun menunjukkan ketertarikan terhadap Aluna.