Dua Wanita Cantik

1044 Words
"Salam kenal Nek." ujar Wira sambil mengeluarkan tangan mengajak nenek itu berkenalan. "Salam kenal juga, Kamu kenal dengan cucuku gara-gara Kamu Satu apartemen?" tanya Nurlela mulai menginterogasi tamunya. "Iya satu apartemen, tapi kami beda kamar." "Ya iyalah, kalau satu kamar Pasti kalian sudah menikah. Apa jangan-jangan kalian sudah melakukan begituan?" "Enggak lah Nek, aku ini tidak bisa bergerak Mana mungkin aku berbuat yang tidak tidak. oh ya memangnya nenek mau kalau cucunya dinikahi oleh orang lumpuh sepertiku?" "Kenapa kamu nanya sama aku, tanya aja Aulia mau apa nggak!" Mendengar jawaban dari Nurlela Wira hanya mengulum senyum kemudian melirik ke arah Aulia yang sejak dari tadi memperhatikan, namun tidak ada perubahan wajah yang ditunjukkan, seolah Aulia menanggapi itu hanya candaan belaka, membuat Wira semakin penasaran ingin menaklukkan gadis cantik itu. "Ya sudah kalian lanjut ngobrol, Aku mau bantu ibu untuk menyiapkan makan siang kita." pamit Aulia sambil menuju ke dapur kemudian membantu kedua orang tuanya untuk menyiapkan makanan. "Sudah kenal Berapa lama dengan cucuku?" tanya Nurlela melanjutkan kembali introgasinya. "Baru beberapa hari aja Nek, namun aku sudah tertarik dengannya." "Pastilah, kamu akan tertarik karena cucuku sangat cantik, Bahkan bukan hanya kamu yang sudah tua, anak-anak muda di sini yang di bawah umur Aulia, mereka sering bermain ke rumah ini, mereka sangat baik dengan membawakan berbagai macam makanan, hanya untuk mendapatkan hati cucu nenek." "Terus sekarang Aulia berarti sudah punya pacar?" "Kalau itu nenek tidak tahu, karena dia sangat pandai menyimpan rahasia, sehingga jangankan nenek orang tuanya pun belum mengetahui, tapi melihat dari gerakannya Aulia tidak tertarik sekarang dengan seorang pria." "Dengan siapa?" Tanya Wira yang mulai bertekuk kencang takut pria itu bukanlah dirinya. "Ya kamulah, dia sudah berbicara banyak tentangmu padahal menurut Keterangan Yang kamu utarakan kalian baru saling mengenal beberapa hari terakhir." "Aku sangat beruntung bisa memiliki wanita cantik seperti Aulia." gumam Wira dengan pelan. "Ya sangat beruntunglah. kamu sudah tua, tidak normal seperti pria pada umumnya, hanya tertolong dengan kekayaan, tapi kamu bisa mendapatkan hati cucu nenek yang begitu cantik." "Lah emang nenek mendengar apa yang saya ucapkan?" tanya Wira dengan wajah yang memerah karena Nurlela bicara blak-blakan tanpa ada yang ditutup-tutupi, namun itu membuat Wira merasa senang karena orang yang mengobrol dengannya adalah dirinya sendiri, tidak pura-pura hanya demi menghormati kedudukan yang ia miliki. "Dengarlah kamu kan ngomong lumayan keras, dan ingat walaupun aku sudah tua aku tidak budeg seperti orang tua pada umumnya." "Maaf, kalau aku sudah mengumpat." "Tidak apa-apa, terus Kalian sudah ngelakuin apa aja, kalian kan satu apartemen." "Maksudnya ngelakuin apa aja?" jawab Wira balik bertanya dahinya terlihat mengerut menebak-nebak Apa yang dimaksudkan oleh Nurlela. "Alah jangan pura-pura, tidak tahu pasti kamu sangat paham Ke mana arah pembicaraanku." "Kami belum melakukan apa-apa, kami hanya Baru melakukan pendekatan belum ada perasaan yang diungkapkan." "Waduh ternyata kamu sangat lamban dalam bergerak, kalau bisa jangan membuang waktu nanti kamu menyesal." "Doakan saja supaya cucumu mau ya!" "Berani bayar berapa?" Tanya Nurlela sambil mengulum senyum, meski pembicaraannya sangat kesar dan blak-bla namun itu tidak menutupi kebaikannya. "Apapun yang nenek minta, pasti akan aku lakukan." "Aku catat janjimu, Awas kalau kamu bohong." "Tidak akan bohong Nek, karena seorang pengusaha tidak boleh berbohong. Oh iya Nenek sakit apa Kok nenek pakai selang oksigen?" "Maklumlah udah tua, segala penyakit berkumpul di tubuh ini, kalau bisa memilih nenek sudah bosan hidup di dunia namun Tuhan berkehendak lain, sehingga nenek harus terus menjalani kehidupan ini dengan bantuan alat yang menyebalkan ini." "Semangat Nek, aku yakin nenek pasti berumur panjang dan menyaksikan cucunya nenek dia bahagiakan olehku." Ujar Wira dengan percaya diri yang begitu tinggi. Halah kamu terlalu banyak memuji, Aku tidak terlalu suka dengan ungkapan-ungkapan seperti itu, karena biasanya semakin banyak ucapan yang dikeluarkan oleh laki-laki, semakin banyak kebohongan yang terkandung di dalamnya Oh iya ibumu Bagaimana kabarnya?" "Ibuku kemarin-kemarin sakit dan beberapa hari dirawat." "Semoga saja penyakitnya tidak terlalu parah." "Ibuku setelah dirawat dia meninggal." Jawab Wira dengan menunjukkan raut wajah sedih, seperti biasa dia menjual rasa iba, padahal diriinya tidak sedikitpun merasa sedih ketika orang tuanya pergi meninggalkan untuk selama-lamanya, karena sejak dari perceraian mereka Wira hidup mandiri. "Wah kalau begitu, berarti penyakitnya sangat parah. semoga saja ibumu bisa diterima oleh Tuhan dan diampuni segala dosa-dosanya." "Amin!" Mereka berdua terus mengobrol ngalor ngidul membahas dari hal yang penting sampai yang tidak penting, tidak sedikit Nurlela terlihat menggulung senyum menanggapi jawaban Wira yang sangat pandai ketika bergaul meski yang diajak berbicara adalah seorang perempuan tua. Orang tua Aulia yang sejak dari tadi menyimak obrolan kedua orang yang beda generasi itu terenyum seperti merasa bahagia bahwa Wira benar-benar adalah pria yang baik yang bisa diandalkan kedepannya. Suasana kala itu sudah mulai memasuki tengah hari, Namun cuaca yang sedikit mendung, sehingga matahari tidak terasa terik menimbulkan kenyamanan dan keindahan di tengah-tengah suasana pedesaan, udara yang masuk dari pintu yang terbuka terasa begitu sejuk, burung-burung terdengar berkicau dari arah lembah menambah keindahan kala itu. Keponakan Aulia yang bernama Indra dan Sari mereka terus bermain bola di halaman yang begitu luas, sesekali ditemani oleh saudara sepupu Aulia yang sedang berlibur dengan istrinya. dari arah jauh terlihat ada mobil SUV berwarna putih yang melaju di jalan pedesaan, semakin lama mobil itu semakin mendekat ke arah rumah Reni, hingga akhirnya tiba di halaman rumah, membuat Indra dan Sari Mereka pun berlari masuk ke dalam sambil berteriak. "Bibi Aluna datang, Bibi Aluna datang." ujarnya memberitahu orang-orang yang berada di rumah. Reni dan Aulia Mereka pun bergegas menuju ke luar untuk menyambut orang yang baru datang, dari pemanggilan namanya mungkin itulah saudara Aulia yang nomor tiga. bahkan bukan keluarga Ilham saja yang hendak menyambut Wira yang menyaksikan keriuhan, dia pun menggeserkan kursi rodanya agar bisa melihat siapa lagi yang datang ke rumah itu. Setelah mobil itu terparkir pintunya pun terbuka, terlihatlah seorang wanita yang sangat cantik dengan mengenakan jaket berwarna putih, rambutnya yang panjang tergerai lurus, ketika tersenyum terlihatlah gigi putih yang berjajar rapi, membuat Wira Terkesima melihat kecantikan wanita itu. ternyata dia sudah salah menilai kalau Aulia lah yang paling cantik, karena kenyataannya ada yang lebih cantik dari wanita yang baru iya kenal. Wajah Wira terlihat mengulum senyum, hatinya mulai terbagi dua antara mencintai Aulia ataupun Aluna, kedua-duanya sangat cantik ketika ditatap membuat siapapun orangnya akan kebingungan dalam menentukan pilihan. namun senyum itu terlihat memudar ketika Aulia mengambil sesuatu yang berada di kursi belakang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD