"Hus, hus! hus!" perempuan yang baru datang mengusir anjing yang mendekati Wira, Bahkan dia mengambil batu untuk menjauhkan dari tamunya.
"Maaf kalau di kampung suka banyak anjing, karena banyak hewan buas yang sering masuk ke perkampungan, atau hanya sekedar untuk menjadi teman ketika pergi ke kebun." jelas Aulia setelah berhasil mengusir anjing kemudian dia menghampiri Wira yang ketakutan.
"Luar biasa. anjing adalah hewan yang sangat siaga. Namun sayang dia tidak bisa membedakan mana tamu yang datang dengan membawa kebaikan, mana tamu yang datang dengan membawa kejahatan." jawab Wira yang merasa bahagia karena disambut penuh senyum oleh Aulia, bahkan Gadis itu sudah memasang badan untuk menyelamatkan dirinya dari serangan hewan menakutkan itu.
"Kamu dari mana memakai kursi roda?" tanya Aulia yang memindai keadaan sekitar, mencari kendaraan yang digunakan oleh Wira. Namun sayang dia tidak menemukan.
"Aku menyimpan mobilku di jalan besar, aku ingin menikmati suasana segar udara di perkampungan dengan menggunakan kursi roda."
"Padahal kamu bisa menikmatinya di sini dan bawa mobilmu sampai ke depan rumah, supaya kamu tidak kecapean dan tidak mendorong roda sejauh itu."
"Tidak apa-apa, demi kamu aku sanggup melakukannya." jawab Wira mulai menjual rasa Iba.
Mendengar penjelasan dari Wira, Aulia tidak terlihat sedikit pun tidak tertarik. dia mulai mendorong kursi yang digunakan untuk menuju ke rumahnya.
"Awas....!" teriak suara anak kecil dari kejauhan.
Plak!
Belum saja tersadar dengan keadaan sekitar, tiba-tiba ada Sebuah bola yang terbang menuju ke arah wajah. Wira yang belum siap dia hanya memejamkan mata sehingga bola itu tepat mengenai kepalanya.
"Maaf, maaf om tidak sengaja." ujar anak kecil kira-kira berumur 10 tahun berlari ditemani seorang adik perempuan menuju ke arah Wira.
"Maafkan kakak saya Om, karena tidak hati-hati bermain bola." ujar yang kecil terlihat sangat menggemaskan namun berbeda dengan Wira yang merasa kesal di dalam hatinya, namun dia tidak menunjukkannya dia hanya tersenyum seperti merasa lucu kedua anak kecil yang menghampiri.
"Perkenalkan, ini keponakanku. yang besar namanya Indra sedangkan adiknya bernama Sari. Ayo kalian Saya minta maaf dan berkenalan dengan om Wira." jelas Aulia diakhiri dengan memerintahkan kedua keponakannya untuk berkenalan.
"Maafkan Indra Om Wira, Indra tidak sengaja menendang bola ke kepala Om." ulang anak itu yang menyadari kesalahannya.
"Tidak apa-apa, lagian itu bukan bola besar itu, hanya bola plastik. Om tidak apa-apa kalau hanya terkena benda seperti itu Om Wira masih kuat." jawabnya sambil mengucek rambut Indra dengan sedikit agak kasar, Kalau tidak ada Aulia Mungkin dia sudah menekuknya.
"Ya sudah kalian ambil bolanya nanti diambil orang. Terus kalau main jangan di luar nanti ketabrak motor di dalam saja kan di halaman kita sangat luas." ujar Aulia sambil kembali mendorong wira masuk menyusuri jalan perkampungan yang sangat besar karena cukup untuk dilalui dua mobil.
Di tengah keindahan pegunungan Puncak Bogor, sebuah perkampungan terlihat damai di tepi perbukitan hijau. Pagi itu, sinar matahari menyapa perlahan, menerangi pepohonan dan rumah-rumah tradisional yang berjejer dengan rapih. Udara segar dan sejuk memeluk setiap sudut perkampungan, menciptakan suasana yang menyegarkan.
Rumah-rumah tradisional dengan atap berbentuk khas daerah menambahkan nuansa kearifan lokal pada lanskap. Taman-taman kecil yang terawat indah menyuguhkan warna-warni bunga dan tanaman hias, menciptakan harmoni dengan lingkungan sekitar.
Di depan warung kopi kecil, sekelompok orang duduk santai sambil menikmati minuman hangat. Mereka terlibat dalam percakapan ringan, sambil melihat hamparan perkebunan teh yang memanjakan mata di kejauhan. Wira terus didorong oleh Aulia hingga akhirnya mereka pun tiba di salah satu rumah dengan halaman yang tampak luas
"Ini rumahmu?" tanya Wira dengan wajah penuh kekaguman.
"Inilah gubuk orang tuaku, karena Sampai sekarang aku belum memiliki rumah."
"Siapa itu Aulia?" salah seorang yang sedang duduk di halaman samping menatap ke arah hamparan hijau kebun teh.
"Ini Wira mas Seno, yang semalam aku ceritakan."
"Hai salam kenal." ujar laki-laki yang tadi bertanya sambil mengangkat tangan mengajak Wira bersalaman.
"Salam kenal juga." Jawab Wira dengan melakukan hal yang sama.
"Mereka adalah saudara sepupuku yang sengaja liburan ke rumah neneknya."
"Emang orang tuamu berapa bersaudara?" Tanya Wira mulai menyelidiki.
"Lima bersaudara, namun mereka semuanya tidak tinggal di sini. hanya orang tuaku saja yang menemani sambil merawat nenek."
"Kalau Kamu berapa bersaudara?"
"Aku tiga bersaudara. yang satu sudah menikah dan yang tadi adalah anak-anaknya. mereka sama seperti kita tinggal di Jakarta, kemarin ketika tahu aku mau pulang Mereka pun menitipkan anak-anaknya untuk ikut ke sini."
"Oh begitu?" hanya kata itu tanggapan Wira.
Dari arah dalam terlihat ada dua orang paruh baya yang keluar, mereka penasaran dengan suara riuh yang ditimbulkan. Wajah mereka menetap ke arah Wira yang baru datang seperti sedang mengingat-ingat Apakah mereka sudah bertemu sebelumnya ataupun belum.
"Itu adalah kedua orang tuaku?" jelas Aulia sebelum Wira bertanya.
"Salam kenal Ibu, Nama saya Wira." ujarnya sambil mengeluarkan tangan kemudian menciumnya, sama seperti Lelaki pada umumnya yang akan memberikan penghormatan kepada orang yang lebih tua.
"Oh ini orangnya, salam kenal. Nama ibu Reni dan ini suami saya namanya Ilham." jawab ibu Aulia memperkenalkan suaminya.
Wira pun melakukan hal yang sama mencium punggung tangan calon mertuanya, kemudian dia mengambil bunga yang berada di pangkuan lalu diberikan kepada Reni.
"Maaf saya tidak membawa buah tangan, Soalnya hari kemarin Saya sangat sibuk sampai-sampai tidak sempat mencari oleh-oleh untuk kalian." ujar Wira seperti biasa berbohong karena tadi malam Dia menghabiskan waktu di klub malam.
"Tidak usah repot-repot, kamu mau datang ke sini saja kami sudah senang ,karena Aulia sudah banyak bercerita tentangmu yang begitu luar biasa hebat, dalam keterbatasan seperti ini kamu bisa menjadi pengusaha sukses."
"Ah, Aulia terlalu berlebihan Bu. saya tidak lebih hanya sebagai orang yang memiliki keterbatasan dalam pergerakan."
"Tidak usah minder, walaupun kamu hanya duduk di kursi roda, tapi kamu memiliki semangat juang yang tinggi, sampai-sampai bisa membawahi ribuan karyawan."
"Lah kenapa Ibu marah ngajak ngobrol Wira di sini, ayo ajak masuk ke dalam." potong Ilham mengingatkan sebelum mereka keasikan mengobrol.
"Iya Ibu sampai lupa, Baru sebentar saja mengobrol Ibu sudah sangat senang. nak Wira Ayo masuk!" ajak Reni mempersilahkan.
Aulia pun kembali mendorong kursi roda untuk membawa Wira masuk ke dalam , di sana terlihat rumah yang begitu besar dengan peralatan yang penuh namun tertata dengan begitu rapi, meski ruang tamu dan meja makan tidak memiliki pembatas.
Di kursi meja makan ada seorang wanita tua yang sedang duduk menghadapi makanannya, di hidungnya terpasang selang oksigen untuk membantu melancarkan ketika mengambil udara. melihat dari keadaannya mungkin itu adalah nenek Aulia.
Gadis cantik itu terus mendorong kursi roda mendekatkan ke neneknya, kemudian dia pun memperkenalkan Wira seperti yang sudah ia lakukan beberapa saat yang lalu.
"Oh ini yang namanya Wira ternyata nampak lebih tua daripada yang diceritakan oleh cucu nenek." wanita itu dengan mengulum senyum membuat wajah Wira sedikit tersipu malu, karena memang begitulah kenyataannya yang mana wajahnya sudah mulai menua karena hampir mendekati umur 40 tahun.
"Ah nenek kalau ngomong suka begitu, perkenalkan Wira ini adalah nenekku, namanya nenek Nurlela."