"Iya benar-benar sangat indah," ungkap Aulia setelah melihat langit yang begitu cerah
Mendengar tanggapan Aulia Wira pun mengulum senyum kemudian memindai keadaan sekitar yang nampak memperhatikan mereka yang mengobrol dengan berteriak, bahkan kedua pemuda yang tadi mereka pun menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Wira yang di luar batas, karena dia sudah berpura-pura lumpuh hanya untuk mendekati wanita.
"Heh bodoh! Kenapa kalian hanya memperhatikan? bantu aku untuk keluar dari sini!" Gerutu Wira dengan suara pelan meminta bantuan kepada kedua orang pemuda yang sedang berdiri di dekatnya.
"Hahaha, dia panggil kita bodoh. padahal yang bodoh itu adalah dirinya sendiri, Dasar idiot...! hanya demi perempuan dia berpura-pura seperti itu, semoga saja itu menjadi doa yang dikabulkan." Jawab salah seorang pemuda yang menggerutu, merasa kesal dipanggil dengan sebutan bodoh.
Wira terus terdiam, bahkan mendongakkan kepala seperti sedang menikmati cahaya mentari pagi. padahal Dia sedang menunggu Aulia untuk masuk kembali ke dalam rumahnya, agar dia bisa keluar dari jepitan Grating grill yang menghapit roda kursinya.
"Oke Wira sampai ketemu hari esok di rumah!" ujar Aulia setelah puas memindai suasana pagi yang begitu cerah.
Wira tidak menjawab, Dia hanya mengangkat ibu jari, sudut matanya memperhatikan ke arah jendela menunggu Aulia masuk ke dalam. setelah Gadis itu menutup jendela dengan segera dia pun bangkit kemudian mendorong kursi rodanya ke dekat mobil, lalu memasukkannya ke dalam.
"Memang benar-benar i***t!" ujar pemuda yang sejak dari tadi memperhatikannya.
Wira tidak terlalu menanggapi, dengan segera dia pun masuk ke dalam mobil, lalu menekan tombol Star, hingga mobilnya pun terdengar Meraung menunjukkan keganasannya.
Pagi itu, mentari bersinar terang di langit kota metropolitan, dan Wira memulai perjalanan menuju kantor dalam kemewahan mobilnya yang mengkilap. Mobil mewahnya meluncur dengan kehalusan di atas jalan yang bersih, memantulkan sinar matahari seperti permata bergerak.
Duduk di balik kemudi, Wira tampak dikelilingi oleh kenyamanan dan teknologi mutakhir yang terdapat dalam kabin mobil. Suasana interior mobil yang elegan mencerminkan citra profesional dan kesuksesannya. Wira, dengan pakaian bisnisnya yang biasa namun rapi, menjalankan roda kemudi dengan keahlian dan yakin.
Melalui jendela mobil, pemandangan kota terbuka lebar. Gedung pencakar langit bersinar di bawah sinar matahari, menciptakan lanskap perkotaan yang memukau. Wira, sambil melihat-lihat lalu lintas kota yang padat, merenung tentang tantangan dan peluang yang menanti di kantor.
Dalam mobil yang seolah menjadi kantor pribadinya di atas roda, Wira memanfaatkan waktu perjalanan untuk memeriksa pesan-pesan bisnis terkini dan merencanakan hari yang sibuk di kantornya. Layar sentuh canggih di dasbor mobil memudahkan akses ke aplikasi bisnis dan mengintegrasikan komunikasi yang efisien.
Setibanya di kantor, Wira pun mulai bekerja seperti hari-hari biasa, tidak ada sedikitpun kemalasan dalam dirinya meski hari itu adalah hari Sabtu Wira tetap konsisten dengan janji yang ia buat, bahwa dia akan merawat perusahaannya dengan sepenuh hati.
~
Keesokan paginya. hari Minggu kira-kira pukul 08.00 pagi Wira yang sudah membaca alamat yang diberikan oleh Aulia, dia pun hari itu berencana mengunjungi rumah kedua orang tua gadis pujaannya.
Hari Minggu itu tidak secerah hari kemarin, karena meski matahari keluar tapi sedikit terhalang oleh awan yang menggumpal, membuat suasana Jalan yang ia lewati terlihat begitu sejuk, ditemani dengan musik jazz kesukaannya mobil itu terus melaju meninggalkan kota Jakarta menuju ke arah selatan.
Setelah keluar dari tol Gadog, dia pun terus memacu mobilnya menuju ke arah Puncak, matanya terus membagi tatap ke arah jalan dan ke arah map yang tertera di mobilnya, memperhatikan dengan teliti takut alamat yang dituju terlewat.
Setelah berjuang dengan Kecamatan yang ada, akhirnya Wira pun tiba di salah satu jalan kecil yang menuju perkampungan, dia menatapnya dengan begitu teliti menyamakan dengan GPS yang berada di mobilnya. setelah yakin dia pun keluar kemudian berjalan menuju ke belakang mobil untuk mengeluarkan kursi roda yang disimpan di bagasinya.
Dengan cekatan Wira pun memasangkan kedua roda kursi itu, diperhatikan oleh seorang perempuan dengan rambut pirang yang sedang merokok, melihat Wira menggunakan mobil mewah perempuan itu datang menghampiri.
"Mau ke mana Bang?" tanya wanita itu dengan wajah ramah.
"Mau ke kampung mega mendung, apakah ini benar kampungnya?"
"Benar, itu sudah kelihatan dari sini, mau ngapain ke sana?"
"Ada urusan penting yang kamu tidak perlu tahu." jawab Wira dengan angkuhnya meski dia Pencinta Wanita, namun dia kurang tertarik dengan wanita seperti itu.
"Daripada ke Mega Mendung, mendingan kita ngelamar aja atau lebih dahulu, agar pikiran kamu press kembali."
"Maaf, aku sudah memiliki kekasih." Jawab Wira sambil mengangkat jari jemarinya yang polos.
"Sombong banget." Ketus wanita itu sambil berlalu pergi kemudian dia pun duduk kembali di tepian jalan.
Sedangkan Wira dia terus melanjutkan memasang roda kursinya, dia memukul roda itu agar masuk ke dalam asnya. namun pukulannya yang keras membuat telapak tangannya terasa sakit.
"Aduh Sial...! pasti ini gara-gara p*****r itu." gerutu Wira sambil mengibas-kibaskan tangan.
"Apa kamu bilang, gara-gara p*****r? kamu aja yang bodoh Kenapa besi kamu pukul pakai tangan?" Teriak wanita yang duduk memperhatikannya, membuat Wira terperanga kaget karena suaranya bisa terdengar, padahal jarak dirinya dan wanita itu lumayan agak jauh.
"Maaf, maaf...! aku tidak bermaksud seperti itu, Aku hanya memarahi roda yang sering dimasuki oleh besi as, Bukannya itu sama seperti wanita tuna susila."
Wanita itu tidak menanggapi, dia tidak memperdulikan Wira yang terus mengomel, merasa tidak enak karena perkataannya sudah kelewat batas.
Selesai memasang kursi roda, Wira pun mendorongnya memasuki jalan kecil meninggalkan mobil di pinggir jalan. Setelah melewati jalan yang sedikit menanjak Wira mulai duduk di atasnya, kemudian dia memutarkan roda sambil membalikkan wajah ke arah wanita yang acuh memperhatikannya.
"Aku pergi dulu, semoga harimu menyenangkan." Teriak Wira sambil Melambaikan tangan
Wanita itu hanya mendengus kesal, dia tetap tidak merespon Wira yang terlihat angkuh, membiarkan Wira yang mulai pergi meninggalkan mobilnya. dia terus memutarkan roda dengan Seikat Bunga yang berada di pangkuannya, untuk menuju lokasi yang berikan oleh Aulia. hingga akhirnya dia pun tiba di salah satu kampung.
"Aku benci sekali dengan perkampungan, karena ada tanjakan yang harus membutuhkan tenaga ekstra. meski tanjakan itu tidak terlalu curam, tetap saja itu menguras tenagaku." ujar Wira yang mengatur nafas, dia tidak ingin kedatangannya yang menggunakan mobil diketahui oleh Aulia agar Simpati Gadis itu semakin bertambah kepadanya.
Wira terus memutarkan kursi roda menuju salah satu warung kemudian dia bertanya rumah kedua orang tua Aulia, setelah mendapatkan dia pun melanjutkan perjalanan hingga akhirnya dia pun tiba di rumah sederhana, namun cukup besar dengan halaman rumah yang lumayan luas.
"Kayaknya ini rumahnya, sesuai dengan petunjuk Ibu warung. semoga saja Gadis itu tidak membohongiku." gumam hati Wira yang merasa bahagia dia bisa sampai ke tempat tujuan dengan perjuangan yang begitu gigih.
Guk! guk! guk!
Wira terperanjat kaget ketika melihat ada seekor anjing yang berlari menuju ke arahnya. Memang begitulah hewan peliharaan itu yang akan memberikan sambutan kurang baik untuk orang yang belum pernah Anjing itu lihat. hati Wira semakin berdebar ketika melihat anjing yang hendak menggigitnya.
"Berhenti Jangan sakiti orang itu!" teriak suara seorang wanita yang membuat Wira sedikit tenang, karena anjing yang sudah dekat tidak jadi menyerangnya.