CEO Minta tiket Orkestra

1214 Words
Ceklek! Pintu ruangan kerja pun terbuka dengan lebar, kemudian muncullah seorang wanita dengan rambut pendek, sepatu selop berwarna hitam menjadi hiasan yang tidak bisa dilepaskan. di tangannya tergenggam beberapa map berisi berkas perusahaan yang harus diperiksa oleh atasannya. "Kenapa Kamu memanggilku?" tanya orang yang baru datang sambil meletakkan barang bawaan di hadapan atasannya. "Begini Lisa Tolong kamu belikan tiket konser musik orkestra." ujar Wira sambil menunjukkan iklan yang berada di laptopnya. "Musik orkestra?" jawab Lisa sambil mengurutkan dahi seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Iya, pasti kamu heran karena musik kesukaanku adalah musik jazz. tapi entah mengapa tiba-tiba aku mengidam ingin menonton konser orkestra." "Halah, pasti ada tujuan busuk yang tersembunyi yang kamu inginkan Jujur saja Kenapa kamu ingin menonton musik orkestra?" jawab Lisa seolah bisa menebak apa ke mana keinginan atasannya. "Kamu Jangan berpikiran buruk terlebih dahulu, karena aku benar-benar menginginkan menonton acara itu." "Baiklah kalau kamu tidak mau jujur, karena yang nanggung semua dosanya kamu sendiri mau tiket seperti apa?" "Tiket untuk orang disabilitas." jawab Wira dengan sedikit ragu-ragu. "Disabilitas?" ulang Lisa mengingat kembali dengan keadaan Aluna yang kondisinya tidak bisa berjalan dengan kaki. "Iya wajahnya biasa aja kali, jangan terheran seperti itu, kayak baru mendengar kata disabilitas aja." "Bukan, bukan itu yang aku maksud. tapi untuk apa membeli tiket konser untuk orang disabilitas, karena tubuhmu normal-normal saja tidak ada yang kurang sedikitpun. jangan bermain-main dengan keadaan, nanti kamu bisa kualat. dan apa yang diperankan bisa menjadi kenyataan. Apakah kamu mau menjadi orang cacat seutuhnya?" "Ah kamu, suka ke mana-mana aja kalau ngomong. siapa juga yang pura-pura cacat, aku tidak melakukan hal bodoh seperti itu, kayak aku orang nganggur yang tidak punya pekerjaan." "Aluna sudah cerita semuanya, jadi kamu nggak usah berbohong lagi. Ingat ya Wira! meski Kamu adalah atasanku aku tidak segan-senggan untuk melabrakmu kalau terjadi sesuatu yang buruk kepada Aluna. kamu memang benar-benar pria bodoh yang tidak mengerti tentang cara menghormati orang lain, kamu berpura-pura lumpuh hanya untuk mendekatinya. bagaimana perasaannya kalau dia tahu kamu sudah menipunya?" Ujar Lisa seolah Tidak segan dengan atasan Dia berbicara dengan sangat lantang karena tidak ada ketakutan di dalam dirinya. "Sudah ini tidak ada hubungan dengan pekerjaan yang seharusnya tidak kita dibahas, mendingan kamu bacakan apa agenda aku hari ini." jawab Wira yang secepat mungkin mengalihkan pembicaraan. "Kamu ini sudah tua, pemikiranmu seharusnya sudah jauh lebih dewasa daripada orang lain, karena kamu sangat pintar dan sangat cerdas, tidak hanya bermain perempuan, tapi kamu harus mulai berusaha merubah kebiasaan burukmu, karena hidup itu pasti akan dibatasi, tidak selamanya kamu bisa sehat, tidak selamanya kamu bisa berjaya. nanti ketika kamu terpuruk maka akan ada orang yang menyediakan bahu untuk beristirahat, ketika kamu sakit maka ada orang yang rela bergadang untuk menemanimu. tapi kalau sekarang kamu terus menyakiti perempuan, maka tiada akan mungkin ada yang mau menemanimu, apalagi hartamu sudah habis, maka mereka akan pergi menjauh tanpa melihatmu lagi." nasehat Lisa yang sangat menyayangi atasannya. Entah mengapa dia merasa kalau Wira adalah kakaknya sendiri yang harus diingatkan ketika ada dalam jalan yang salah. "Yah aku tahu Lisa, aku akan mulai mencoba berubah. sudah jangan membahas itu karena hatiku terasa sakit mengingat kehidupanku yang sangat acak-acakan. sekarang Tolong kamu bacakan agendaku hari ini! jawab Wira dengan menundukkan pandangan seolah mengerti dan memahami dengan nasihat yang diberikan. Lisa pun mulai membacakan agenda atasannya hari itu, mulai dari bertemu dengan para Manager kantor, sampai bertemu dengan klien untuk membahas kerja sama. namun dia tidak pernah bosan mengingatkan Wira agar hidupnya menjadi lebih baik layaknya seorang adik yang sangat menyayangi kakaknya. Hari itu Wira terus disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan seperti biasa, sampai waktu pulang pun tiba. dan ketika waktu malam menjelang, dia pun keluar kembali untuk mencari wanita-wanita yang mudah rayu. perkataan dan nasehat dari Andi dan Lisa seolah air di atas daun talas, tidak ada perkataan yang tembus masuk ke dalam hati. Waktu pun terus melaju dengan kesibukan masing-masing, hingga akhirnya waktu konser pun tiba. hari itu adalah hari Sabtu Wira sudah bersiap pulang untuk membersihkan badan terlebih dahulu, sebelum dia menonton konser Aluna yang akan diadakan di sebuah gedung teater yang berada di kota Jakarta. Setelah semuanya rapi dia pun keluar dari apartemen dengan menggunakan mobil sportnya, dia mengendarai mobil dengan sengaja membuka kap agar orang-orang yang melihat tahu kalau dialah pemilik mobil mewah itu, sehingga ketika sedang menunggu lampu merah banyak siulan siulan dari wanita-wanita yang menatap kagum ke arahnya, membuat Wira mengulum senyum merasa bangga dengan apa yang ia miliki. Mobil mewah itu terus melaju berbaur dengan kendaraan-kendaraan lain yang sedang sama-sama keluar menikmati hari weekend bersama keluarga. ada yang pergi menonton bola ke Stadion, Ada pula yang datang ke restoran untuk menikmati malam minggu bersama keluarga. Sesampainya di tempat yang dituju, Wira memarkirkan mobilnya kemudian dia turun lalu berjalan menuju gedung Theater.namun ketika hendak masuk untuk penukaran tiket Wira pun menepuk dahinya seolah melupakan sesuatu. "Haduh! kenapa aku sampai lupa tidak membawa kursi roda, padahal setelah melakukan pertunjukan Aku ingin mengajaknya makan malam bersama." gumam hati Wira yang membalikan tubuh keluar kembali dari gedung. Sesampainya di parkiran, dia pun memindai keadaan sekitar mencari Apotek yang masih buka atau mencari toko yang menjual kursi roda. Namun sayang di hari hari Sabtu hampir semua toko yang berada di dekat Gedung Teater mereka berjualan setengah hari, membuat Wira semakin merasa kebingungan. "Haduh bagaimana ini? tujuanku menonton pertunjukannya hanya untuk bertemu dan mengobrol, agar secepatnya bisa menaklukkan hatinya." gumam Wira sambil terus berjalan berharap masih ada toko yang berjualan, Namun sayang dia tidak menemukan toko yang menjual alat elektronik ataupun alat kebutuhan medis yang dia temukan hanyalah restoran-restoran yang dipadati, penuh sesak oleh orang-orang yang menikmati malam mingguan bersama pacar ataupun keluarga. Semakin lama, dia semakin jauh meninggalkan Gedung Teater, mencari-cari kursi roda untuk penunjang penyamarannya. sampai akhirnya Wira pun bisa bernapas lega ketika melihat seorang kakek-kakek yang sedang duduk di depan toko yang tutup, ditemani seorang anak muda, sedang mengobrol menikmati suasana malam minggu yang lumayan cerah. tanpa membuang waktu Wira pun berjalan mendekati. "Selamat malam, maaf mengganggu." sapa Wira dengan manggut memberi hormat. "Yah ada apa?" jawab anak muda itu dengan sedikit sinis, mungkin dia sudah bisa menebak kalau Wira akan meminta bantuannya. "Begini, kursi roda istriku macet. aku sedang membutuhkan kursi roda." "Maksudnya?" tanya pemuda itu tanpa sedikitpun menunjukkan ketertarikan. "Kalau boleh aku mau menyewa kursi roda milik Bapak ini?" "Menyewa? Maaf di sini bukan tempat penyewaan kursi roda, kalau kamu mau kamu cari saja di tempat yang lain." "Tolonglah! toko-toko yang menjual barang-barang penunjang kesehatan sudah pada tutup, sedangkan istriku ingin berjalan-jalan menikmati suasana malam di kota Jakarta. jadi tolonglah izinkan aku untuk menyewa kursi roda milik bapakmu." pinta Wira dengan wajah yang dibuat memelas supaya orang itu merasa kasihan. "Memangnya istrimu kenapa sampai memakai kursi roda?" tanya bapak tua yang sejak dari tadi diam memperhatikan seolah tertarik dengan apa yang dibicarakan oleh Wira. "Istriku baru kecelakaan Pak, dan baru pulang dari rumah sakit. dia ingin mengobati rasa sedihnya dengan berjalan-jalan menggunakan kursi roda, Namun sayang kursi roda yang hanya menjadi penopang hidupnya tiba-tiba macet dan tidak bisa digunakan." "Kasihan sekali istrimu, kalau kamu mau kamu boleh menggunakan kursi rodaku yang ada di dalam, kamu tidak usah menyewa tapi kalau sudah selesai tolong dikembalikan." "Terima kasih terima kasih banyak Pak." Jawab Wira dengan mengulum senyum seolah mendapat angin segar dari kesanggupan orang yang akan menolong.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD