"Hebat...! kamu memang benar-benar wanita hebat. pantas saja atasanku terobsesi denganmu." Puji Lisa yang terlihat manggut manggut seolah mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Wira, padahal dia sangat tahu kalau Wira mungkin hanya ingin mempermainkannya.
"Jangan membuat aku terbang melayang, karena itu adalah keinginan semua wanita yang dikagumi oleh sosok pria yang sangat tampan dan mapan, Begitu juga dengan kepribadian yang sangat baik. Oh ya, kenapa dia sudah mengembalikan kursi rodanya, Padahal kalau dia masih membutuhkan dia boleh menggunakan kursi rodaku." jawab Aluna yang mengalihkan pembicaraan, Mungkin dia merasa tidak nyaman terus mendapat pujian dari Lisa.
"Dia sudah tidak membutuhkannya, soalnya dia sudah sembuh dari penyakitnya." jawab Lisa yang tidak semua mengetahui Peran apa yang sedang dimainkan oleh atasannya.
"Maksudnya, dia sudah sembuh dari kelumpuhannya?" tanya Aluna seperti merasa heran.
"Yah mungkin begitu." jawab Lisa yang terlihat ragu-ragu.
"Syukurlah kalau begitu, tapi menurut keterangan yang diberikan. dia tidak akan bisa sembuh kembali Soalnya saraf-saraf yang terhubung ke kaki sudah putus akibat kecelakaan mobil."
"Kurang tahu juga sih, mungkin maksudnya kursi rodanya sudah diperbaiki, bukan sembuh dari kelumpuhannya." jawab Lisa yang merasa bingung harus berkata apa lagi.
Lisa pun terlihat manggut-manggut, seolah mengerti dengan jawaban yang diberikan. suasana terasa sepi karena penghuni apartemen lainnya sudah berada di tempat kerja masing-masing, hanya terdengar detak jam yang menggantung di dinding. mata Lisa terus memindai keadaan Aluna yang sangat cantik namun memiliki kekurangan, membuatnya semakin merasa kasihan dengan wanita yang satu ini, kalau harus menjadi korban selanjutnya akibat petualangan sang atasan.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Aluna yang sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan.
"Tidak, Kamu terlihat sangat cantik." Jawab Lisa sambil memalingkan pandangan.
"Itu juga bagian dari pesan?"
"Tidak juga, aku mengagumimu karena kecantikanmu, kamu memang benar-benar wanita tercantik yang pernah aku temui, berpadu dengan sifatmu yang sangat baik, pantas saja atasanku sangat mengagumimu."
"Dari mana kamu mengetahui kalau Wira mengagumiku, Apakah dia sudah berbicara dan mengakuinya?"
"Meskipun aku belum mendengar ucapan pengakuan tapi aku sangat yakin dia sangat menyukaimu, karena dia memang sangat mencintai wanita-wanita yang cantik."
"Terus Adakah wanita yang mau dengannya?"
"Maksudnya?" tanya Lisa yang terlihat kebingungan karena dia belum sepenuhnya bisa mendalami peran yang diberikan.
"Iya dengan kecacatannya, Apakah ada wanita yang mau menerima kekurangannya?"
"Oh gitu, iya, Iya. dia tidak bisa mendapatkan wanita yang diinginkan, memang hidupnya sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan karena setiap kali berdekatan dengan perempuan dia selalu diusir jauh-jauh, seperti enggan berdekatan dengan orang yang memiliki kekurangan."
"Kalau begitu, Kasihan sekali hidupnya yang sangat kesepian. makanya kemarin malam aku mengajak Wira untuk berkumpul dengan komunitasku supaya kepercayaan dirinya tumbuh kembali dan tidak terus tenggelam dalam kepedihan."
"Yah aku tahu, mungkin dia hanya butuh waktu untuk menemukan jati dirinya kembali."
"Semoga saja begitu dan dia bisa menemukan wanita yang tepat yang akan selalu menyayanginya." jawab Aluna yang terlihat mengulum senyum membayangkan dirinya bisa bersanding dengan Wira, Di mana mereka bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing.
"Oh ya, kalau boleh tahu apakah kamu memiliki ketertarikan terhadapnya." tanya Lisa yang ingin mengetahui sejauh mana perasaan wanita berkursi roda itu untuk menentukan sikap ke depannya.
"Semua wanita yang mengenal Wira pasti mereka akan mengagumi kepribadian yang begitu mengagumkan, pasti perempuan itu akan tertarik. namun kalau ditanya masalah pribadi aku belum bisa menjawab, soalnya walaupun aku memiliki ketertarikan terhadapnya Wira mungkin tidak memiliki perasaan yang sama. Walaupun kita memiliki kekurangan, tapi kita selalu menginginkan hal yang sempurna, yang ingin kita dapat." jawab Lisa yang terlihat menarik nafas pelan seolah menyembunyikan kepiluan hati yang sangat mendalam, meski raut wajahnya sangat bahagia namun ada satu Sisi Gelap yang mungkin tidak diketahui oleh orang lain.
"Aku yakin dia sangat menyukaimu, hanya butuh waktu saja untuk mengungkapkan perasaannya."
"Semoga saja seperti itu." jawab Aluna yang terlihat menunjukkan ketertarikan kepada Wira, soalnya mereka berdua memiliki kesamaan yang sama.
Mereka berdua pun terus mengobrol masalah-masalah yang lain sambil menikmati jamuan yang diberikan. Lisa meski baru pertama kali mengobrol dengan Aluna Entah mengapa dia sudah sangat menyayangi, Lisa seperti menyayangi Adiknya sendiri, sehingga ketika kalau Wira menyakitinya dia pasti akan benar-benar marah.
Setelah menghabiskan kopi dan bercerita banyak hal, Lisa pun berpamitan untuk melanjutkan pekerjaan di kantornya, apalagi hari itu adalah hari Senin di mana pekerjaan Minggu lalu akan diselesaikan dan dirumuskan kembali di hari itu.
Di perjalanan menuju kantor Lisa terus menggeleng-gelengkan kepala seolah tidak percaya dengan permainan yang dimainkan oleh atasannya, dia rela berpura-pura menjadi orang yang lumpuh demi mendekati seorang perempuan. yang Lisa khawatirkan sekarang, ketika atasannya hanya mencoba untuk menyakiti Aluna, namun dia sudah bertekad kalau itu sampai terjadi, Dia akan mengundurkan diri dan hidup normal seperti ibu rumah tangga pada umumnya. suami yang sudah memiliki pekerjaan yang tetap seringkali memintanya untuk Berhenti bekerja.
Sesampainya di kantor, Lisa mulai disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rutinitasnya mulai dari mengecek ulang jadwal pertemuan dan proyek-proyek penting yang sedang ditangani oleh sang atasan, karena tugas seorang asisten menyiapkan semuanya dengan begitu rapi. kesuksesan Wira itu adalah berkat kedua asistennya yang sangat menguasai segala aspek perusahaan.
Lisa terus terlalu dalam pekerjaannya bersama karyawan karyawan lain yang bekerja di di bawah perusahaan Sportiva. Wira yang kala itu sedang tidak ada kegiatan dia duduk di kursi sambil memperhatikan sosial media salah seorang wanita yang sedang ia dekati.
"Kalau kamu tidak lumpuh mungkin Pilihanku akan jatuh kepadamu untuk menemani sampai hari tua." gumamnya yang mengagumi kecantikan seorang wanita.
"Kulitmu sangat putih, tubuhmu sangat tinggi berpadu dengan leher yang jenjang dan buah d**a yang tidak begitu menonjol, membuatmu sangat manis ketika ditatap seperti ini."
Wira terus mas Scroll sosial media itu sampai dia pun menemukan sebuah promosi, bahwa wanita yang sedang ia dekati akan menggelar konser orkestra yang diikutinya, seperti yang sudah diketahui bahwa Aluna adalah pemain biola.
"Kayaknya aku harus datang ke konser ini agar aku bisa lebih mendekatinya." putus Wira setelah beberapa saat terdiam berpikir!
Teett!
Dia menekan tombol telepon yang ada di ruangannya yang otomatis terhubung dengan telepon yang berada di ruangan asisten.
"Yah ada apa? Jangan bilang aku disuruh yang tidak berhubungan dengan pekerjaan kantor." Jawab Lisa seperti sudah menebak apa yang diinginkan oleh atasannya.
"Tolong! kamu ke ruanganku sekarang!" Jawab Wira seolah tidak memperdulikan omelan bawahannya.
Ketika Lisa mau berbicara lagi Wira pun sudah menutup teleponnya, membuat asisten itu kamu tidak mau harus datang ke ruangan kerjanya, dengan membawa beberapa file yang harus dipelajari dan ditandatangani oleh sang atasan.