Penyampai Pesan

1099 Words
Kring kring kring Sesaat setelah merebahkan tubuhnya ke atas kursi sofa yang sangat empuk, tiba-tiba teleponnya berbunyi kembali. melihat orang yang memanggil Lisa pun menggeser tombol berwarna hijau ke arah atas untuk mengangkat dengan wajah yang sangat kesal dan marah. "Kenapa di rumahmu ada seorang wanita, katanya kamu sangat mencintai Aluna. kalau kamu ingin menyakiti hati seorang perempuan, kamu harus memilih orangnya, jangan menyakiti orang yang memiliki keterbatasan. Harusnya kamu memberikan motivasi bagi orang-orang seperti mereka bukan malah menambah bebannya." cerocos Lisa mengungkapkan semua kekesalan. "Kamu jangan salah paham dulu Lisa, wanita itu hanyalah wanita yang tergila-gila padaku. Dan aku bingung bagaimana mengusirnya, beruntung kamu datang dan dia pun bisa pergi." jawab Wira dengan suara santai seperti tidak ada rasa bersalah dalam dirinya. "Tidak mungkin wanita itu tergila-gila, kalau kamu tidak mendekatinya, merayunya dan menipunya. Mau sampai kapan kamu seperti ini? ingat hidup ini hanya sesaat jadi jangan sia-siakan kesempatan untuk terus berbuat baik, jangan terus menambah dosa!" "Aku berani bersumpah, kalau aku tidak ngapa-ngapain dengannya. kemarin dia memintaku untuk menerimanya tidur di kamar, karena di kosannya terasa sangat gerah." "Sudah kamu jangan terus menutupi kebohongan dengan kebohongan yang lain. aku sudah tidak percaya denganmu lagi. Aku sudah lelah mengikuti semua permainanmu yang tidak berguna ini, aku melamar di kantor Sportiva untuk menjadi asisten yang mengurus semua kebutuhan atasan di kantornya, bukan mengurus masalah pribadi yang sangat menguras emosi." "Maafkan aku Lisa, aku membawamu ke dalam situasi yang tidak mengenakkan. tapi aku berjanji aku akan segera berubah, karena sekarang aku sudah menemukan cinta sejatiku, yaitu Aluna. "Oke, kalau kamu bisa mencintainya dengan setulus hati aku akan tetap bersama denganmu tapi ingat, kalau kamu menyakitinya maka Akulah Yang paling pertama merasa sedih dan mungkin kedepannya aku akan mencari pekerjaan yang lain yang sesuai dengan fashion ku." "Iya Lisa, sekali lagi aku minta maaf, aku berjanji ini yang terakhir kalinya. tapi sekarang Tolong antarkan kursi roda karena aku sudah menelepon Aluna." Mendengar permintaan itu, Lisa hanya menarik nafas dalam kemudian mematikan teleponnya. matanya menatap ke arah kursi roda yang ada di dekat pintu dia membayangkan Aluna yang terlihat begitu cantik dan begitu bersemangat menangis karena disakiti oleh atasannya. "Semoga saja kamu bisa berubah, aku kasihan melihatmu yang selalu mencari wanita lain untuk mengobati hati yang kesepian." gumam Lisa sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian dia mulai mendorong kursi roda itu keluar dari apartemen, meninggalkan asisten rumah tangga yang datang setiap pagi untuk membersihkan rumah atasan. Lisa terus mengemudikan Mobilnya di jalanan yang sudah ramai dilalui oleh kendaraan-kendaraan yang menjemput rezek mulai dari angkutan umum sampai mobil pribadi. ada juga jasa kirim yang sudah mulai mendatangi setiap rumah dan kantor untuk mengirimkan paket yang dipesan oleh pelanggannya. Sampai akhirnya dia pun tiba di salah satu apartemen yang sudah lama, Namun perawatan yang begitu baik membuatnya terlihat sangat rapi. Lisa turun dari mobilnya kemudian mengecek handphone untuk memastikan alamat yang dikirimkan, setelah yakin dia pun menuju resepsionis apartemen untuk bertanya lebih jelas. setelah mendapatkan informasi dia pun naik ke lantai 2 menggunakan lift sambil tetap mendorong kursi roda yang hendak dikembalikan dan Seikat Bunga mawar merah di tangan kirinya. Tring, tring, tring! Bel pintu pun terdengar berdering setelah Lisa menekan tombolnya. sehingga tak lama keluarlah seorang wanita yang duduk di kursi roda dengan menatap heran ke arah orang yang bertamu. "Selamat pagi!" sapa Lisa sambil manggut memberi hormat, Bahkan dia melempar seutas senyuman hangat kepada Aluna. "Selamat pagi juga, ibu bukannya sekretaris Wira di kantor spotiva?" "Benar, Nama saya Lisa. hari Sabtu kemarin kita bertemu di kantor. maksud dan tujuan saya datang ke sini untuk mengembalikan kursi roda yang dipinjam oleh atasan saya. "Kalau begitu, Silakan masuk!" Jawab Aluna sambil mendorong kembali kursi rodanya memberikan jalan kepada Lisa. Asisten pribadi itu mendorong kursi roda masuk ke dalam apartemen, kemudian dia memindai keadaan sekitar untuk menyimpan kursi roda yang hendak ia kembalikan. "Simpan di situ saja! Maaf Kalau merepotkan." ujar Aluna seolah mengerti dengan kebingungan tamunya. Lisa pun mengangguk, sambil menyimpan kursi roda ke tempat penyimpanannya, kemudian dia pun berjalan mendekati Aluna yang sedang berada di ruang tamu. "Pak Wira mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan dia menitipkan bunga ini untukmu." ujar Lisa yang memberikan buket bunga mawar merah yang masih nampak segar seperti baru diambil dari pohonnya. "Sama-sama, tapi seharusnya tidak merepotkan seperti ini. jawab Aluna yang mendekatkan bunga pemberian dari Wira ke hidungnya, sehingga tercium aroma wangi yang begitu khas. "Dia juga menyampaikan Selamat atas kemenanganmu yang sudah menjuarai turnamen tenis. kamu benar-benar sangat memukau dan membuatnya terus kepikiran. kamu adalah benar-benar wanita sejati yang tidak pernah menyerah keadaan. "Ah itu, kayaknya terlalu berlebihan. Terima kasih atas bunga yang sangat cantik ini, silahkan duduk!" jawab Aluna yang mempersilahkan tamunya untuk beristirahat sebentar. "Terima kasih banyak." "Oh Ya, mau minum apa?" tanya Aluna layaknya tuan rumah pada umumnya yang akan menjamu tamu dengan begitu baik. "Tidak usah merepotkan saya datang ke sini hanya untuk menyampaikan pesan saja." "Air kopi saja ya!" tawar Aluna sambil kembali menggerakkan kursi rodanya untuk menuju ke dapur, membuat Lisa merasa tidak enak sudah merepotkan tuan rumah, apalagi keadaan Aluna yang terlihat mengkhawatirkan. Lisa memindai keadaan ruang tamu yang begitu rapi dan bersih, nampaknya Aluna sangat pandai merawat tempat tinggalnya. tidak ada sedikitpun debu yang menempel di sana, membuktikan wanita itu adalah wanita pekerja keras, meski berada di dalam keterbatasan dia tetap terus hidup layaknya orang normal pada umumnya. Pemindaian itu terhenti sesaat setelah mendengar suara roda yang diputar mendekat ke arahnya, dan muncullah Aluna yang membawa secangkir kopi di atas nampan yang disimpan di depan rodanya, mungkin kursi roda itu sudah di desain untuk bisa membawa barang untuk menunjang aktivitas, suapaya mudahkan kedua tangannya bekerja maksimal menggerakkan alat penopang keseharian. "Aduh jadi merasa tidak enak sudah merepotkan tuan rumah, Padahal saya datang ke sini hanya untuk menyampaikan pesan, dan mungkin itu tidak akan lama." "Ini tidak repot kok, hanya segelas kopi yang tinggal diseduh. maaf kalau tidak dijamu sebagaimana mestinya." "Ini sudah luar biasa, pagi-pagi seperti ini memang enaknya ngopi ditemani dengan cookies kering." jawab Lisa yang melihat Aluna menyimpan beberapa toples cemilan. "Silakan diminum!" "Terima kasih!" jawabnya sambil menyeruput sedikit kopi yang terasa masih panas, mata Lisa kembali memindai keadaan sekitar seperti mencari sesuatu. "Mohon maaf kalau Rumahku sangat berantakan." ujar Aluna yang merasa tidak enak. "Tidak rumahmu sangat rapih dan bersih. Oh ya kamu tinggal sama siapa Di Sini?" "Aku tinggal sendirian, orang tuaku di Puncak Bogor." "Berarti yang mengurus rumah ini cuma sendiri?" tanya Lisa seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Iya aku sendiri, Karena aku belum mampu untuk membayar asisten rumah." tangga jawab Aluna yang mengulum senyum mencairkan suasana agar lebih hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD