Senja Bersamanya

1078 Words
"Kenapa bisa terjatuh seperti ini?" tanya Aulia yang menatap sekujur tubuh Wira memastikan tidak ada yang terluka patal. "Aku mau ngambil kopi di kabin atas, namun ketika aku berdiri dan hendak duduk, kursi yang kusimpan tidak dikunci sehingga rodanya pun tergelincir tidak menopang tubuhku dan akhirnya terjadi seperti ini." jawab Wira dengan wajah memelas menjual kesedihan untuk mendapat simpati. "Ya sudah ayo bangun!" ujar Aulia sambil menarik tubuh Wira agar bangkit membuat dadanya yang besar terlihat bergelayun. Dengan segera Wira pun memeluk Aulia, agar Gadis itu tidak terlalu kesusahan mengangkat tubuhnya. setelah duduk Aulia pun mengambil kursi roda yang tadi terdorong, kemudian mendekatkannya ke arah Wira. setelah mengunci rodanya Aulia pun berusaha membantu Wira, membuat pria itu terlihat tersenyum ketika gadis yang sedang membantunya tidak memperhatikan. "Aduh, Terima kasih. Maaf merepotkan, maklum orang yang cacat tidak bisa memberikan manfaat bagi orang lain." ungkap Wira dengan nafas yang memburu Setelah dia berhasil duduk di kursi rodanya. "Tidak, tidak merepotkan Oh iya tadi mau ngambil apa?" "Gula sama kopi, yang ada di kabin atas." jawab Wira sambil menunjuk ke arah kabinet yang masih terbuka. Aulia pun mengulum senyum, kemudian dia membalikkan tubuh untuk mengambil gula yang ditaruh di rak paling atas. dia harus sedikit melompat untuk mengambilnya membuat bagian belakang tubuhnya sedikit terayun yang berada tepat di wajah Wira, sehingga laki-laki itu terlihat kembali mengulum senyum membayangkan bagaimana bagian itu nantinya berada di bawahnya. "Memang kamu sangat sempurna Aulia, tidak ada ada kekurangan dalam dirimu. Kulitmu sangat mulus dan putih, Wajahmu sangat cantik dan menawan, tubuhmu tercium wangi dan elegan. sungguh tidak sabar Aku ingin mengenalmu di kamar." gumam hati Wira sambil menelan ludah. "Di mana panci untuk menyeduh air?" tanya Aulia setelah menurunkan dua toples gula dan kopi. "Panci air, panci air. tuh mungkin di kabin bawah!" Jawab Wira sambil menunjuk ke bawah tempat kompor. Aulia menunduk membuat kedua belahan belakangnya terlihat mebulat begitu sempurna, kemudian dia mengambil panci lalu mengisinya dengan air dispenser setelah itu dia merebusnya. sambil menunggu Aulia menyeduh air Wira pun menuangkan kopi dan gula ke dalam gelas. setelah airnya matang kopi itu diseduh membuat aromanya tercium begitu khas. Wira mengajak Aulia untuk mengopi di meja yang dekat jendela. pemandangannya adalah halaman rumah yang masih ramai digunakan oleh anak-anak penghuni apartemen bermain bola, ada pula yang bermain kucing-kucingan, bermain petak umpet, sesuai dengan permainan anak-anak kecil. Cahaya mentari Dari ufuk sebelah barat terlihat mengeluarkan warna kuning keemasan membuat suasana terasa semakin romantis dan semakin pas ketika ditemani wanita cantik seperti Aulia. mereka berdua duduk sambil sesekali meneguk kopi yang masih panas ditemani cemilan Cookies yang berada di meja itu. entah Sudah berapa lama namun itu masih enak untuk dimakan. "Cookiesnya enak banget. terima kasih, untuk undangan mengopinya." ujar Aulia sambil mencelupkan Cookies yang baru ia ambil ke dalam kopi kemudian memakannya. "Sama-sama, aku yang harusnya berterima kasih, karena kamu sudah mau bermain mengunjungi rumahku yang sederhana ini." "Ini tidak sederhana, ini rumah yang layak huni, meski keadaan di luar sangat kumuh. tapi Ibu Linda mengurusnya dengan begitu baik, sehingga nampak rapi dan nyaman untuk ditinggali. Aku saja belum tentu bisa kebeli rumah seperti ini, meski aku bekerja puluhan tahun." jawab Aulia sambil memindai keadaan sekitar yang memang nampak bersih dan rapi. "Memang sekarang kamu sudah bekerja berapa lama mengurus orang disabilitas?" "Aku baru kerja 2 tahun lebih." "Wah itu lumayan lama. kamu betah di sana?" "Bukan masalah betah ataupun tidak, tapi ini adalah perjuangan untuk tetap bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi kota Jakarta. Kalau kita memilih-milih pekerjaan nanti kita tidak bisa makan." "Benar kalau kita bermalas-malasan akan sangat kesulitan, kita mungkin sudah menjadi bagian sampah dari kota ini." "Ya makanya aku selalu berjuang untuk ikhlas menjalani semuanya, karena dengan begitulah Aku masih bisa bertahan di sana. kalau kamu sekarang kerja apa?" "Aku tidak bekerja, mana mungkin ada perusahaan yang mau mengerjakan orang cacat sepertiku, orang yang tidak bisa berjalan. jangankan untuk berjalan untuk berdiri saja sering terjatuh?" "Kok bisa, padahal Jangan jadikan alasan kecacadan, kekurangan, sebagai alasan untuk tidak berjuang karena semua orang memiliki keunikan masing-masing, aku yakin karena aku sudah menyaksikannya. seperti Stephen Hawking yang bisa menjadi seorang Fisikawan hebat dan diakui seluruh dunia, meski dia hanya berada di kursi roda." "Inginnya sih seperti itu, tapi sangat sulit untuk membuktikan karena setiap manusia memiliki motivasi yang berbeda." "Lantas dirimu tidak memiliki motivasi untuk bersaing dalam kehidupan?" "Untuk apa Aku berusaha sekeras mungkin, karena walaupun aku sukses aku hanyalah pria yang duduk di kursi roda, yang tidak bisa bergerak dengan leluasa." "Jangan bilang seperti itu, karena aku memperhatikan kamu sering menatap bagian Dadaku, berarti kamu memiliki motivasi yang sama dengan pria-pria normal lainnya." ujar Aulia yang sejak dari tadi terus memperhatikan tatapan pria yang duduk di hadapannya, yang selalu memandangi bagian tubuh paling menonjol. dia bisa mengerti seperti itu karena dia sering bertemu dengan orang-orang disabilitas yang mereka masih memiliki keinginan yang sama seperti orang-orang normal pada umumnya. Mendengar perkataan Aulia ,Wira pun dengan segera membalikkan pandangan merasa malu ternyata gerak-geriknya selalu diperhatikan. "Maaf, maaf kalau aku kurang ajar, karena aku tidak memiliki banyak teman, apalagi teman wanita secantik dirimu, sehingga Aku sangat kagum dengan apa yang kamu miliki sekarang." "Makanya jangan bilang tidak memiliki motivasi, karena kalau orang meski memiliki kekurangan, tetapi mereka memiliki kelebihan lain pasti akan banyak orang yang mengaguminya, karena mereka tidak hidup di bawah bayang-bayang penderitaan." "Sekali lagi aku mohon maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. jujur kali ini aku baru bisa mengobrol secara dekat dengan seorang wanita, karena dengan kondisi fisikku yang sekarang jangankan untuk mengobrol, melihatnya saja mereka sudah mencibir." "Tidak apa-apa, itu hal yang normal. karena walaupun kamu berada dalam keadaan cacat, tapi kamu masih memiliki perasaan yang sama, masih memiliki kebutuhan tentang seorang wanita, berarti kamu secara naluriah memang sangat normal." "Iya, tapi perasaan itu tidak sesuai dengan keinginan, karena begitulah orang yang memiliki kekurangan, mereka diabaikan dan dilupakan, sehingga perasaan itu hanyalah tinggal perasaan yang tidak bisa ada tempat untuk mengungkapkan." "Jangan bilang seperti itu, karena aku yakin setiap makhluk yang diciptakan pasti mereka akan diberikan keunikan masing-masing dan diberikan pasar yang sama. sudah menjadi hukum alam bahwa setiap wanita akan disukai oleh laki-laki dan setiap laki-laki akan diterima oleh seorang wanita apapun keadaan mereka, bagaimanapun kondisi mereka, pasti akan ada orang yang mau memberikan ruang hatinya yang kosong untuk diisi." "Terima kasih atas pengertiannya. kadang sekarang aku menangis di dalam kamar karena aku hidup Sebatang Kara, ibuku yang sangat tangguh dan sangat menyayangiku kini sudah meninggalkan untuk selama-lamanya. aku bingung bagaimana kehidupanku kedepannya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD