Mengundang Wira

996 Words
"Hidup itu bukan hanya untuk dipikirkan. tapi hidup itu untuk dijalani. Jangan mengeluh, sebelum kita memulai. kita harus terus berjuang sampai ajal menjemput!" jawab Aulia yang menanggapi pernyataan-pernyataan Wira yang selalu menjual kesedihan, namun nampaknya dia tidak sedikitpun merasa iba, karena dia yakin setiap orang yang memiliki kekurangan pasti akan ada kelebihan. "Kamu memang benar-benar hebat. selain cantik, kamu juga pandai untuk memotivasi orang yang sedang terpuruk sepertiku. pantas saja kamu dipertahankan di tempat kerjamu, karena kamu adalah wanita yang sempurna, yang pasti diinginkan oleh setiap lelaki normal." "Itu tidak penting antara diinginkan ataupun tidak. Yang jelas Sekarang aku sedang menikmati hidupku dengan terus berusaha semampuku agar aku bisa hidup lebih lama." "Kamu benar-benar hebat!" ungkap Wira yang tidak henti-hentinya terus memuji wanita yang menemaninya mengopi bersama. mata pria itu terus memperhatikan lekuk tubuh Aulia yang hanya menggunakan tanktop berwarna hitam, dibalut dengan hoodie yang tidak direstingkan. sedangkan ke bawahnya dia hanya memakai celana pendek memamerkan paha yang putih dan mulus. "Terima kasih. Oh iya mohon maaf, aku tidak bisa berlama-lama menemani di sini. sekali lagi terima kasih atas semua jamuannya, apalagi cookiesnya sangat enak." "Mau kemana, Mau nge-date sama pacarnya bukan?" tanya Wira yang sedikit takut, kalau wanita yang di hadapannya sudah memiliki kekasih hati. "Tidak, Aku ada janji bersama teman-teman kantor untuk menonton bioskop nanti jam 08.00." "Teman cowok?" Wira memastikan. "Cewek, cowok. karena ada orang yang dirawat di sana merasa bahagia dengan pelayanan yang kami berikan, sehingga dia pun mentraktir seluruh karyawan untuk pergi ke bioskop bersama." "Kirain..." hati Wira terasa plong karena ternyata Aulia belum memiliki kekasih. "Yah begitulah. sekali lagi aku ucapkan terima kasih dan aku berharap kedepannya kamu memiliki pekerjaan, kamu harus berjuang jangan menyesali keadaan, Jangan jadikan kekuranganmu sebagai alasan untuk menjadi pemalas, karena setiap manusia diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan. Maka jangan terpaku dengan kekurangan, kita harus menggali kelebihan yang kita miliki." nasihat Aulia sambil menghabiskan kopinya, kemudian dia pun bangkit lalu pergi meninggalkan Wira. Melihat Aulia yang tidak terlalu bersimpati terhadap cerita-cerita yang dia ucapkan, Wira pun sedikit tertegun memikirkan kesalahan apa yang ia buat, sehingga Aulia tidak betah berlama-lama mengobrol dengannya. padahal wanita lain mereka akan berusaha menghabiskan waktu dengannya, kalau dirinya tidak mengusir atau tidak meninggalkan, Mungkin wanita itu akan menginginkan kehidupan bersamanya. Wira mengulang kembali memori memori pembicaraan yang baru saja ia obrolkan dengan Aulia, sehingga dia pun mendapat kesimpulan kalau Aulia menjauh karena dirinya tidak memiliki pekerjaan. Akhirnya dia pun memutuskan untuk jujur tentang siapa sebenarnya dirinya. "Aulia." Panggil Wira ketika Wanita itu sudah membuka pintu apartemennya. "Kenapa?" tanya Aulia sambil membalikkan tubuh. Wira pun memutarkan kursi roda, namun roda itu terasa sangat berat karena tadi ketika duduk di dekat jendela dia menguncinya. "Kunci rodanya dilepas dulu." ujar Aulia mengingatkan. Wira pun mengulum senyum kemudian dia melepas pengunci roda, lalu memutarkannya mendekat ke arah Aulia yang masih menunggu di ambang pintu, hendak pergi meninggalkan apartemennya. "Ada apa?" tanya Aulia sambil menatap heran. "Aku mau jujur tentang satu hal." "Tentang apa?" dahi gadis cantik itu mengerut. "Sebenarnya aku bekerja dan memiliki perusahaan ternama di kota Jakarta, bahkan outlet penjualan produkku sampai 150 toko yang tersebar baik di Indonesia maupun di luar negeri." "Perusahaan apa?" "Perusahaan Sportivia, perusahaan yang menyediakan kebutuhan olahraga." "Wow, Apakah kamu sedang tidak bergurau?" "Kamu boleh mengeceknya sekarang lewat internet handphone-mu!" Aulia yang merasa penasaran dia pun merogoh kantung celananya kemudian mengeluarkan handphone untuk mencari informasi perusahaan yang disebutkan. ternyata memang benar Angga Wira Aditya adalah seorang CEO di sana. namun dia yang harus segera bersiap-siap tidak terlalu melihat detailnya. yang jelas dia yakin kalau Wira tidak berbohong dia adalah pemilik perusahaan itu. Aulia pun mengulum senyum membuat Wira merasa bahagia karena gadis yang akan lepas dari buruannya tidak jadi pergi, mungkin sebentar lagi wanita itu akan bertekuk lutut di bawah kakinya, untuk mengemis cinta dan mengemis kekayaan yang ia miliki. "Wow ternyata kamu benar-benar hebat. makanya aku tidak terlalu percaya ketika tadi kamu berbicara bahwa kamu tidak memiliki kelebihan, karena setiap orang pasti akan memiliki keunikan tersendiri." "Iya, aku takut orang mendekatiku hanya dengan harta yang kumiliki. bukan benar-benar menerima keadaanku yang banyak kekurangan ini." "Seharusnya kamu tidak boleh melakukan hal seperti itu. karena nanti orang akan merasa ilfil kalau kamu tidak mempercayai orang tentang ketulusan yang mereka miliki." "Iya, Sekali lagi aku mohon maaf." "Tidak usah minta maaf, aku senang berkenalan dengan orang hebat sepertimu. tapi aku benar-benar harus pergi sekarang . kalau kamu, mau nanti hari Minggu kita main ke rumah orang tuaku." "Maksudnya, kamu ingin memperkenalkanku dengan kedua orang tuamu setelah pertemuan kita hari ini?" "Iya, Itupun kalau kamu tidak keberatan." "Aku tidak keberatan, aku sangat senang mendengarnya. karena baru kali ini ada wanita yang mau memperkenalkanku kepada orang tuanya." "Memang biasanya seperti apa?" "Para wanita akan minder ketika aku meminta mereka mengajakku ke rumah orang tuanya, karena keadaanku yang cacat. mereka hanya ingin bermain denganku untuk mengambil hartaku, Setelah itu mereka pun pergi menghilang tanpa jejak, tahu-tahu sudah menikah dan bahkan yang paling mengenaskan sudah memiliki anak." "Jangan sama ratakan semua orang, setiap orang pasti akan memiliki kelebihan dan kekurangannya. Ya sudah aku tunggu di rumah." "Oke hari Minggu aku akan menjemputmu." "Dengan senang hati aku menunggu." Jawab Aulia seperti tidak dipikirkan karena dia terlihat buru-buru. Akhirnya Aulia pun berpamitan kembali, kemudian dia meninggalkan Wira yang terlihat mengulum senyum karena dia menganggap kalau Aulia sudah masuk perangkapnya. perangkap kekayaan yang semua wanita tidak bisa mengelak karena wanita membutuhkan kehidupan yang nyaman apalagi mewah. "Semua wanita itu sama aja, kalau sudah mengetahui harta mereka akan bertekuk lutut meminta belas kasihan. tapi kalau wanita cantik seperti Aulia Aku tidak akan sayang membagi hartaku kepadanya, karena dia sangat cantik dan menggairahkan. Aulia, Aulia....!" gumam Wira sambil Mengunci pintu apartemenny,a Kemudian dia pun bangkit dari kursi roda lalu meregangkan otot-otot yang terasa kaku Setelah sekian lama duduk di atasnya. Dia masuk ke kamar ibunya, kemudian membaringkan tubuh menatap langit-langit yang berwarna putih, dari arah luar sudah terdengar orang yang bersholawatan dari mushola-mushola terdekat, menandakan sebentar lagi waktu maghrib akan tiba.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD