Pagi telah menyapa ruangan CEO dengan sinar matahari yang lembut menembus jendela tinggi. Pemandangan kota yang sibuk tampak damai dari ketinggian. Wira memasuki ruangan dengan langkah mantap, memberikan kesan bahwa hari ini adalah sebuah perjalanan yang akan diemban dengan tugas dan tanggung jawab besar.
Meja eksekutif yang bersih rapi menjadi pusat perhatian, terhiasi oleh laptop dan beberapa dokumen. Di sudut meja, sebuah papan catatan besar menahan sekumpulan prioritas dan tujuan harian, menjadi panduan untuk memetakan strategi. Wira duduk dengan penuh keyakinan, mengawali hari dengan merinci agenda yang akan dihadapi.
Sudut ruangan didekorasi dengan bijaksana. Lukisan-lukisan seni yang mewah nan elegan memberikan sentuhan pribadi pada keseriusan bisnis yang sedang di jalanan kan. Tanaman hijau yang segar memberikan nuansa alam dan ketenangan di antara keramaian rencana bisnis.
Sebelum memasuki pertemuan dengan tim eksekutif, wira mengarahkan fokusnya pada persiapan dan refleksi diri. Sebagai pemimpin, ia mengakui pentingnya menghadapi tantangan dengan kesehatan dan pikiran yang jernih.
Setelah berkutat beberapa saat, Wira pun mengambil gagang telepon yang berada di atas meja, kemudian dia menghubungi seseorang untuk masuk ke dalam ruangannya.
Truk! truk! truk!
Tak lama pintu kaca pun terdengar ada yang mengetuk kemudian terbuka. lalu masuklah seseorang sambil manggut memberi hormat.
"Bapak memanggil saya?" tanya orang yang baru datang.
"Yah Andi, silakan kamu duduk!" jawab Wira sambil menunjuk kursi yang ada di depannya.
Orang yang disuruh pun kembali manggut, kemudian dia duduk di hadapan atasannya, meski Mereka berdua adalah sahabat tapi mereka tidak melupakan personalisme pekerjaan, sehingga terlihat pemandangan yang berbeda dengan sebelumnya.
"Ada apa Pak?"
"Tolong kamu kasih tahu apa Agenda saya hari ini!"
Andi pun mengeluarkan handphonenya, kemudian dia membuka tabel jadwal kegiatan atasannya yang harus dikerjakan pada hari itu.
"Jam 10.00 kita akan mengadakan rapat bersama eksekutif, itu sebagai rutinitas keseharian kita. nanti siang kita akan bertemu klien untuk membahas produk baru yang akan mensponsori kegiatan mereka, sore hari kita akan membahas pertemuan bersama para staf yang berada di kantor ."
"Oke, terima kasih kalau begitu saya masih punya waktu sekitar 1 jam lagi."
"Ya sudah, kalau begitu saya pamit untuk melanjutkan pekerjaan."
"Tunggu dulu, aku mau bercerita sedikit tentang wanita yang aku ceritakan kemarin pagi."
"Maksudnya?"
"Iya aku mau mengucapkan terima kasih kepada kamu dan Lisa yang sudah mencarikan ku baju bekas."
"Terus?" tanya Andi yang sudah merasa tidak enak karena pasti pria sombong ini akan menceritakan tentang perjalanannya mendekati seorang perempuan yang pernah diceritakan sebelumnya.
"Aku berhasil mendekatinya, Bahkan aku sampai diundang untuk makan siang bersama nanti di hari Minggu." Jelas Wira dengan mengulum senyum penuh kebahagiaan karena apa yang dia inginkan selalu bisa menjadi kenyataan.
"Bagus dong kalau begitu." tanggap Andi memberikan antusias seolah Dia sangat senang mendengar cerita Sang atasan, padahal Sebenarnya dia tidak peduli tentang apa yang terjadi ataupun menimpa dengan bosnya yang ia peduli bagaimana tiap bulan bisa menghasilkan uang untuk dibawa ke rumah.
"Iya, aku memang luar biasa. tidak ada wanita yang bisa menolak ketampanan dan kekayaanku, namun yang jadi permasalahan aku akan berkunjung ke rumah Aulia dengan pergi bersama-sama dari apartemen."
"Apa permasalahannya, kan mobil sudah ada. apa Saya perlu sewakan mobil bekas tabrakan yang sudah usang, agar Bapak bisa lebih mendalami peran."
"Tidak, tidak seperti. itu karena aku sudah jujur bahwa aku adalah seorang CEO di perusahaan sportivita."
"Lanjut permasalahannya seperti apa yang sedang Bapak khawatirkan sekarang?"
"Aku masih belum jujur tentang keadaanku yang tidak bisa berjalan."
"Maksudnya bagaimana? Tolong ceritakan saya tidak terlalu paham biar mudah ketika membantunya!"
"Jadi begini Andi!" Wira pun mulai menceritakan Semuanya dari awal dia berpura-pura menjadi penyandang disabilitas yang hanya duduk di kursi roda, sampai-sampai sahabatnya itu menggeleng-gelengkan kepala tidak paham dengan apa yang dilakukan oleh atasannya, karena seharusnya Wira tidak berbuat seperti itu, soalnya dia yang memiliki fisik normal, tidak harus berbohong hanya untuk mendapatkan seorang wanita. namun dia yang sudah paham dengan sikap sahabat yang keras kepala, hingga akhirnya ia hanya diam memperhatikan seluruh alur jalur ceritanya.
"Jadi bapak mau mencari sewaan mobil penyandang disabilitas?" tanya Andi setelah mengetahui alur cerita yang dibawakan oleh Wira.
"Benar, karena menurut pepatah ketika kita berbohong maka kita harus menutupinya dengan kebohongan."
"Apa sebaiknya bapak nggak Jujur saja kalau bapak tidak cacat seperti itu."
"Kalau saya jujur nanti semua rencana saya berantakan, aku ingin Aulia menerimaku dengan kekurangan, bukan dengan kelebihanku sebagai seorang CEO perusahaan."
Mendengar penjelasan dari sahabatnya, Andi terlihat menghela nafas karena dia sudah tahu kalau Wira tidak akan mudah untuk diingatkan, Ia memiliki jalan sendiri untuk mengendalikan hidupnya. Apapun akan dia lakukan baik benar ataupun salah, yang terpenting keinginannya akan tercapai.
"Sangat susah pak, karena di negara kita mobil untuk disabilitas sangat jarang dan mungkin bisa dikatakan langka, kalau kita mencari sekarang kita tidak akan mudah menemukannya, kalau kita merubah mobil yang Bapak miliki supaya cocok untuk dikemudikan orang disabilitas, itu juga membutuhkan waktu."
"Terus bagaimana dong, aku bingung kalau begini."
"Kenapa harus bingung Bapak tinggal nyuruh orang aja untuk menjadi Sopir, itu beres dan mudah."
"Tidak semudah itu Andi, kalau saya membawa sopir maka saya tidak akan nyaman mengobrol dengannya. Apalagi waktu itu adalah waktu yang sangat intim tidak boleh ada yang mengganggu."
"Terus maunya bapak bagaimana?"
"Makanya aku menyuruhmu ke sini untuk membantuku memikirkannya."
Andi pun terdiam seolah berpikir namun Sebenarnya dia hanya mengulur waktu agar terlihat sedang membantu atasannya, padahal dalam dirinya sedikitpun Tidak tertarik dengan apa yang dibicarakan oleh Wira, dianya menghargai sahabatnya sebagai atasan yang selalu harus didengarkan oleh para sekretaris dan asistennya.
"Bagaimana Andi, kenapa kamu malah diam?"
"Saya sedang berpikir mencari cara dan saya menemukan solusi terbaik untuk bapak."
"Apa solusinya?" tanya Wira dengan antusias.
"Bapak pagi-pagi temui Aulia, Kemudian Bapak minta izin untuk berangkat terlebih dahulu, alasannya agar bisa mengenal lebih dekat tentang keluarganya. jadi Bapak memiliki dua keuntungan pertama Bapak tidak harus mengajak orang lain untuk mengunjungi rumah Aulia. Yang kedua bapak bisa meluluhkan hati Aulia melewati kedua orang tuanya, karena menurut pepatah ketika hati orang tuanya mengizinkan maka hati anaknya pun akan ikut."
Sekarang giliran Wira yang terdiam seolah sedang menimbang baik dan buruknya saran yang diberikan oleh sang sahabat, membuat suasana ruangan itu terasa hening hanya terdengar suara mesin printer ataupun fotocopy dari arah luar bercampur dengan suara keyboard yang ditekan.