CEO Arogan

1110 Words
Di kantor yang penuh dengan suara mesin fotokopi dan berkas-berkas yang disusun rapi, suasana kini berubah menjadi hening. Ruang rapat diisi dengan derap langkah kaki dan bunyi kursi yang digeser ketika para pekerja mulai berkumpul untuk rapat pagi. Meja panjang di tengah ruangan dipenuhi dengan laptop, catatan, dan gelas air. Papan tulis besar di dinding menjadi tempat proyektor memancarkan grafik dan presentasi yang akan dibahas. CEO perusahaan dengan serius, memimpin rapat, sementara peserta rapat mencermati setiap kata dengan antusiasme yang tampak dalam wajah-wajah mereka. Suara-suara diskusi dan pertanyaan terdengar, memenuhi ruangan dengan energi produktif. Aura kerja sama dan semangat tim menciptakan suasana yang dinamis di dalam ruang rapat tersebut. Dalam setiap percakapan, ide-ide kreatif dan solusi masalah mulai mengalir, memberikan warna tersendiri pada pagi di kantor yang sedang bersemangat. "Kira-kira apa rencana kita ke depan untuk mengembangkan produk kita?" tanya Wira mulai membuka acara sesi diskusi. Salah satu karyawan pun mengangkat tangan. kemudian dia menarik nafas dalam seperti hendak mengungkapkan Pemikiran yang sangat berat, membuat Wira menatap ke arahnya. "Iya Riana, apa yang akan kamu usulkan?" tanya Wira mempersilahkan karyawannya untuk menyampaikan ide-ide berlian yang akan memajukan perusahaannya. "Begini Pak selama ini kita terfokus membuat perlengkapan atlet yang normal-normal saja, bagaimana kalau untuk kali ini kita membuat baju atau sepatu olahraga untuk penyandang disabilitas." jawab Riana yang mengungkapkan gagasan yang sudah lama ia inginkan, agar mereka tidak membeda-bedakan orang. "Hahaha, apa? membuat perlengkapan olahraga untuk disabilitas, untuk, apa keuntungannya apa? Bukankah mereka mau pakai baju ataupun tidak itu tidak berpengaruh sama sekali, karena mereka tidak mampu menggunakan bagian tubuh cacatnya dengan normal. Terus apa gunanya kita membuatkan produk ternama kita untuk orang-orang seperti itu?" Jawab Wira dengan angkuhnya membuat orang-orang yang mengikuti rapat terlihat menarik nafas dalam, tidak menyangka kalau Wira akan berucap seperti itu. "Kita sebagai salah satu produk ternama dalam bidang olahraga, seharusnya kita tidak boleh membeda-bedakan orang, karena kalau kita mampu sampai ke sana maka orang pun akan memiliki simpati terhadap perusahaan kita. Sehingga para calon customer tidak akan ragu lagi memilih produk kita yang menyediakan semua jenis kebutuhan." "Ide macam apa itu? perusahaan ini tidak membutuhkan belas kasihan dari para calon pembeli, karena produk yang kita buat adalah produk yang berkualitas, sehingga menimbulkan kebanggaan bagi penggunanya." "Memang perusahaan kita sudah sangat terkenal di seluruh penjuru Negeri bahkan produk kita banyak diekspor keluar negeri. namun apa salahnya kalau kita memperluas pasar dengan menyisir semua sektor agar kemewahan yang didapat oleh para customer tidak hanya dirasakan oleh orang normal, tapi mereka yang memiliki kekurangan, mereka akan merasakan hal yang sama." "Untuk masalah itu tidak harus membuat khusus perlengkapan untuk orang-orang yang disabilitas, karena mereka akan merasa bahwa hidup mereka memang sangat tidak berguna, sampai-sampai dibuatkan pakaian yang khusus " "Itu tidak merendahkan mereka, Justru itu akan menaikkan tingkat kepercayaan diri mereka karena mereka dihargai bahkan sampai dibuatkan baju khusus untuk mereka berolahraga, dan mereka akan menganggap bahwa mereka benar-benar diperhatikan." jawab Riana yang tetap Kukuh dengan pendiriannya. Antara CEO dan karyawan pun mulai beradu argumen, yang satu tetap Kukuh ingin membuatkan baju khusus untuk orang-orang yang menyandang disabilitas, sedangkan sang CEO tetap Kukuh tidak mau menerima pendapat bawahannya, karena menurut pemikirannya perusahaan yang ia dirikan adalah usaha yang sangat berkualitas maka produk-produk yang dihasilkan akan berkualitas, tidak pantas untuk digunakan orang orang-orang yang menyandang disabilitas. "Riana kalau kamu masih Kukuh ingin mempertahankan argumenmu, maka sekarang kamu buat surat pengunduran diri!" Bentak Wira Ketika semakin lama dia semakin tersudut salah berdebat dengan bawahan. Memang begitulah orang yang memiliki kekuasaan mereka akan memanfaatkan kekuasaan dengan semena-mena. Mendengar pengusiran dari atasannya Riana yang sudah terpancing emosi, dia pun bangkit sambil sedikit menggebrak meja kemudian menghampiri Wira yang duduk di paling depan. "Terima kasih atas kesempatannya, Karena sebenarnya saya sudah dari dulu ingin mengundurkan diri dari tempat terkutuk ini. mereka yang duduk di sini kalau tidak butuh dengan uang dan menemukan pekerjaan baru pasti mereka juga sudah akan pergi dari sini, mereka tidak akan betah bekerja dengan bos yang sangat Arogan dan tidak pernah mau menerima pendapat orang lain. oke Hari ini saya mengundurkan diri, Terima kasih sudah mengizinkan saya untuk mengenal sikap bos yang sangat terkutuk." ujar Riana tanpa menunggu jawaban dia pun pergi meninggalkan ruang rapat membuat suasana Hening seketika. "Kalau benar apa yang dikatakan oleh Riana, silakan kalian keluar dan Cari tempat pekerjaan yang baru yang lebih baik dari tempat kalian bekerja sekarang." ujar Wira setelah beberapa saat berlalu memberikan keleluasaan pada karyawannya untuk resign dari perusahaannya. Para karyawan pun hanya saling melirik dan menatap dalam hati kecil mereka memiliki perasaan yang sama dengan Riana, namun mereka yang sudah berusia lanjut tidak akan mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang baru, sehingga mau tidak mau Mereka pun harus bertahan dengan bos yang sangat sombong dan tidak memiliki rasa pri kemanusiaan, namun meski begitu Wira adalah pemimpin yang baik Dia sombong karena mungkin dia merasa bahwa apa yang dia rencanakan selalu berjalan dengan mulus dan membuahkan hasil yang luar biasa. Setelah tidak mendapat jawaban Wira pun mulai melanjutkan acara rapat sampai dengan selesai, setelah itu dia kembali masuk ke ruangan kantornya, untuk mengecek berkas-berkas yang harus dia pelajari atau harus ia tanda tangani. Di ruangan sang CEO di siang hari, suasana tenang dan penuh profesionalisme terasa menghiasi setiap sudut. Cahaya matahari menembus jendela-jendela kaca, menciptakan suasana hangat yang melibatkan ruangan dengan kecerahan alami. Meja kayu berlapis elegan dipenuhi dengan dokumen-dokumen penting, sedangkan layar komputer besar menampilkan data dan analisis terkini. Sang CEO, duduk di kursi eksekutifnya, tengah mendalami laporan-laporan strategis, menggambarkan keseriusan dan fokusnya terhadap pengembangan perusahaan. Suara langkah-langkah kaki yang lewat dan bisikan diskusi dari luar ruangan hanya terdengar sebagai latar belakang, seiring sang CEO mengatur prioritas dan strategi untuk memastikan kelancaran perjalanan perusahaan. Meskipun suasana mungkin serius, namun keberhasilan dan ketenangan tampak dalam setiap gerakan dan keputusan yang diambil di ruangan sang pemimpin. Truk! truk! truk! Terdengar suara ketukan di pintu kaca, membuat kepala Wira sedikit mendongak melirik ke arah datangnya suara, dia pun menggerakkan jari sehingga Pintu itu terbuka. Dari luar masuklah seorang wanita dengan membawa karung lalu disimpan di dekat kursi sofa yang berada di ruangan itu, membuat Wira mengerutkan dahi tidak paham dengan apa yang ia lakukan. "Kenapa kamu membawa sampah ke ruangan saya?" tanya Wira dengan menatap tajam. "Lah kan tadi Bapak yang menyuruh saya untuk membeli baju bekas dari pasar loak. nah ini buktinya!" jawab Lisa dengan Ketus karena dia tidak suka dengan pengambilan keputusan sepihak memecat karyawan yang bernama Riana, soalnya Lisa sangat tahu ke piawaian karyawan itu dalam mengembangkan perusahaan. "Santai aja kali jawabnya jangan terbawa emosi seperti itu." jawab Wira sambil bangkit dari kursi singgasananya kemudian dia pun berjalan menuju kursi sofa tangannya yang kekar Mulai mengambil karung yang berisi baju bekas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD