"Lagian kalau menyuruh itu tidak sesuai dengan job desk kerja, sampai sampai saya harus pergi ke pasar loak untuk membelikan baju. Lagian untuk apa baju butut, untuk disumbangkan ke korban bencana?" tanya Lisa sambil menempatkan badannya duduk di kursi sofa, walaupun bosnya sangat galak dia tidak sedikitpun memiliki ketakutan, karena mungkin dia sependapat dengan Riana keluar dari tempat ia bekerja sekarang adalah salah satu Anugerah.
"Untuk dipakai lah, masa untuk dikasih sama orang. kalau mau ngasih itu harus yang bagus tidak boleh baju bekas."
"Serius?" tanya Lisa sambil mengangkat tubuhnya matanya menatap heran ke arah sang Bos, mungkin dia sedang memastikan bahwa bosnya sedang baik-baik saja tidak kesurupan atau tidak keracunan makanan.
"Yah Lisa, Ini semua saya lakukan demi satu kata, yaitu cinta. Demi Cinta Saya akan melakukan semuanya, karena hidup tanpa cinta bagaikan taman yang tak berbunga."
"Hahaha, cewek Mana yang mau dengan pria miskin dan berpakaian lusuh seperti itu, bukannya wanita-wanita yang mendekati Bapak mereka hanya tertarik dengan kata CEO dan kekayaan yang dimiliki, mereka datang tidak dengan ketulusan melainkan dengan ke matrean."
"Yang ini berbeda Lisa, bahkan tadi malam saja aku tidak bisa tidur terus mengingat tentang senyumnya yang begitu indah. Aku yakin bahwa wanita ini adalah pelabuhan Ku yang terakhir."
"Emang bapak kapal apa, kapal kargo?"
"Susah kalau orang yang sudah menikah tanpa memiliki suami yang romantis, mereka seperti Kehilangan sentuhan magis tentang indahnya dunia percintaan."
"Sudah jangan bawa-bawa tentang urusan rumah tangga, saya sangat bahagia dengan pasangan saya. kalau tidak ada kepentingan lagi saya akan melanjutkan pekerjaan."
"Kamu lagi PMS, Kenapa kata-katanya terasa kurang berkenan di telinga?"
"Siapa yang sedang PMS, Bapak kali yang sedang PMS. tiba-tiba memecat karyawan hanya gara-gara memberikan ide."
"Oh kamu marah gara-gara Aku memecat Riana? wajarlah Aku memecatnya karena dia memberikan ide yang sangat payah, masa Perusahaan kita yang sudah terkenal dengan produk-produk berkualitas harus menjatuhkan dirinya sendiri dengan membuat produk-produk untuk orang yang disabilitas. coba kamu pikirkan dengan kepala yang jernih, buat apa kita membuat sepatu sedangkan mereka tidak bisa berjalan, buat apa kita membuatkan pakaian sedangkan mereka tidak bisa berdiri untuk menatap keindahan produk berkualitas milik kita."
"Tahulah bingung kalau ngomong sama atasan yang tidak memiliki moral, jangan-jangan saya juga akan dipecat kalau tidak sependapat dengan bapak."
"Untuk 2 orang yang ada di perusahaan ini tidak akan saya ganggu gugat, meski mereka kerjaannya tidak becus. karena aku memiliki hutang Budi kepada mereka, Kalau tidak ada mereka mungkin perusahaanku tidak akan semaju ini."
"Tumben, siapa aja itu?"
"Kamu dan Andi. kamu tidak akan aku pecat selama kamu masih mau bekerja di sini, maka pasti akan ada jabatan atau ruangan yang akan dikosongkan. Ya sudah kamu jangan marah-marah, kalau kamu PMS mendingan kamu ambil cuti saja." Jawab Wira tanpa memperdulikan kembali asistennya Dia mulai mengeluarkan baju yang berada di dalam karung. memperhatikan satu persatu sehingga senyum dibibirnya pun mulai terlihat mengembang.
Melihat atasannya seperti orang yang kurang waras Lisa tidak membuang waktu, dia pun meninggalkan ruangan Wira karena kalau berlama-lama di tempat itu takut dirinya tidak bisa mengontrol emosi.
Wira terlihat memilah dan memilih baju yang pantas ia gunakan, kemudian dia menyortir lalu mengambil box yang berada di kantor, untuk memisahkan baju yang akan ia kenakan dan baju yang tidak akan ia kenakan.
"Memang kalau orang ganteng tidak harus memakai baju mewah, memakai baju dari pasar loak saja wanita itu akan tergila-gila. Aulia tunggu kedatanganku pasti kamu akan bertekuk lutut seperti wanita-wanita yang pernah bertemu dengan pria tampan sepertiku." gumam hati Wira sambil terus merapikan baju yang baru dibeli oleh Lisa.
Setelah itu dia pun kembali ke meja kerjanya, Wira kembali menggali masalah di depan layarnya hingga akhirnya, suara ketukan jam di dinding mengingatkannya bahwa waktu pulang telah tiba. Dengan gerakan tegas, ia menyimpan dokumen-dokumen penting dan menutup laptopnya.
Ruang kerjanya yang awalnya penuh dengan fokus dan kegiatan kini memasuki fase penutupan. Wira meninggalkan meja kerjanya dengan rapi, mengamati dengan puas hasil pekerjaannya hari ini. Langkahnya mantap menuju pintu keluar, dan suasana kantor yang sibuk tadi perlahan mereda dengan banyaknya karyawan yang meninggalkan pekerjaan mereka.
Di pintu keluar, Wira tersenyum, menghirup udara segar di luar. Meskipun hari kerja telah berakhir, namun pencapaian dan produktivitasnya terus menginspirasi, menciptakan jejak kerja keras yang ditinggalkannya di kantor. Sore itu dia sudah berganti pakaian dengan baju yang dibelikan oleh Lisa membuat para karyawannya terlihat sedikit berbisik-bisik membicarakan penampilan atasan yang berubah drastis seperti karyawan pada umumnya, karena biasanya Wira sangat glamor dan sangat perfect dalam berpenampilan.
Wira terus mengemudikan mobilnya melewati jalan-jalan kota yang semakin ramai menjelang senja. Saat memasuki kawasan yang terlihat kumuh, kontras dengan glamor mobilnya, wajahnya mencerminkan refleksi keadaan sosial yang berbeda.
Apartemen yang menjadi tujuannya tampak sederhana, dikelilingi oleh jalanan yang penuh dengan warna-warni kehidupan sehari-hari. Wira memarkir mobilnya di halaman parkir apartemen, menghela nafas sejenak sebelum melangkah keluar.
Langkahnya mantap mengikuti koridor-koridor yang sederhana, melalui aroma masakan dan suara tertawa dari setiap pintu. Saat pintu apartemen terbuka, Wira terlibat dalam kehidupan sehari-hari yang jauh dari kemewahan yang biasa dia kenal. Namun, di sini, ada kehangatan dan kebersamaan yang menciptakan suasana yang berbeda, memberikan kontrast antara dunianya yang profesional dan realitas keseharian yang sederhana.
Sesampainya di kamar apartemen ibunya. dengan segera dia pun mengambil kursi roda lalu duduk di atasnya, dia mulai menjalankan roda itu keluar kembali dari ruangan kemudian dia pun mengetuk salah satu pintu kamar. namun tidak ada tanggapan sama sekali membuat Wira khawatir kalau orang yang dituju sedang tidak berada di apartemennya.
Wira melihat jam yang ada di tangannya menunjukkan pukul 15.30, membuat Dia memiliki prasangka yang baik bahwa orang yang dituju belum pulang ke apartemennya. sehingga dia pun memutuskan menunggu di dalam apartemen milik almarhum ibunya.
Mata Wira menatap keluar dari jendela apartemen yang sederhana, menghadap ke kawasan yang terlihat kumuh. Dia melihat realitas keseharian yang berbeda dari tingkat ketinggian tempatnya berdiri, meresapi kehidupan di sekitarnya.
Jalanan penuh dengan aktivitas anak-anak bermain dengan gembira, orang dewasa berbincang di tepi jalan, dan pedagang kaki lima menjajakan dagangannya. Wira mencerna kehidupan sehari-hari yang berpulang dari kesederhanaan, sambil merenung tentang perbedaan yang kontras dengan dunianya yang serba canggih.
Wira terus memperhatikan halaman parkir berharap orang yang ditunggu lewat, namun orang yang ditunggu tidak kunjung datang membuat Wira sedikit pesimis Apakah wanita yang sedang ia dekati tidak pulang ke apartemennya, karena dia mengetahui kalau Aulia tinggal di situ hanya mengontrak.
"Haduh memang bodoh, bodoh....! kenapa kemarin aku tidak meminta nomor handphonenya agar aku mudah menghubung, tidak seperti sekarang yang harus menunggu sampai lumutan." Gerutu Wira sambil bangkit dari tempat duduk merasa pegal terlalu lama menunggu.
Namun di tengah rasa pesimis yang mulai melanda tiba-tiba ada wanita yang turun dari angkot, kemudian dengan wajah penuh ceria tanpa sedikitpun kelelahan meski baru pulang dari tempat kerja. wanita itu berjalan menuju apartemen membuat Wira dengan segera kembali duduk ke kursi roda, supaya penyamarannya tidak diketahui.