Rayuan Maut

1106 Words
Ruang tamu rumah Angelina adalah suatu masterpiece mewah yang luar biasa. Langit-langit tinggi yang dihiasi dengan karya seni gips membuat ruangan terasa lapang, dan cahaya yang lembut dipantulkan oleh lampu gantung kristal yang indah. Dinding-dinding dihiasi dengan lukisan seniman terkenal, menciptakan nuansa artistik yang memikat. Perpustakaan dinding penuh dengan buku-buku yang beragam, mengungkapkan kecintaan Angelina pada pengetahuan. Suara-suara lembut gemericik air dari akuarium mengisi ruang tamu bak melodi yang menenangkan, menciptakan suasana yang tak terlupakan. Wira terus memindai keadaan sekitar yang nampak mengagumkan, Dia sedikit tidak percaya apakah dia masih berada di alam manusia ataupun bukan. karena biasanya wanita yang mau berkencan dengannya adalah wanita yang biasa saja, wanita yang membutuhkan harapan lebih untuk hidup bahagia. berbeda dengan Angelina yang nampak luar biasa. rumah besar dengan mobil mewah berjajar di parkiran. "Kenapa masih bengong?" tanya Angelina yang baru keluar dengan menggunakan lingerie memamerkan tubuh putihnya yang berkilauan. "Nggak, aku merasa kagum dengan sikapmu yang pandai sekali menyembunyikan semua ini. biasanya para wanita akan merasa bangga dengan apa yang mereka miliki, berbeda dengan kamu yang terlihat rendah hati." ungkap Wira menyembunyikan kekaguman dengan pujian setinggi langit. "Alah kamu bisa aja aku tidak apa-apanya dibandingkan denganmu yang seorang CEO perusahaan produk olahraga ternama di Indonesia." jawab Angelina sambil meletakkan gelas dan anggur yang ia bawa anggur yang sangat mahal. "Kamu tinggal sama siapa?" Tanya Wira mengalihkan pembicaraan agar tidak terus merasa kalah dengan Angelina yang kekayaannya mungkin sebanding dengan kekayaan yang ia miliki. yang berbeda Angelina tidak sombong sedangkan dia menyombongkan semuanya. "Sendiri, maklumlah wanita karir yang tidak bisa bisa tenang kalau di rumah banyak orang. wanita karir itu harus terus bekerja, bekerja dan bekerja. sehingga tidak ada waktu untuk keluarga." "Emang kamu tidak kesepian?" "Lumayan sih, kadang kita merasa butuh perhatian seseorang yang bisa mengertikan kita, bukan datang hanya ketika ada maunya saja. wanita semuanya pasti sama membutuhkan sosok orang yang selalu hadir dalam hidupnya saling melengkapi." "Sama meski kehidupanku terbilang cukup bahkan bisa dikatakan lebih dari cukup. aku merasakan ada ruang hampa di dalam jiwaku yang sangat kosong, tidak ada keceriaan di tengah-tengah penatnya pekerjaan yang selalu menumpuk, yang selalu dikejar deadline." "Kenapa kamu tidak mencari pengisi kekosongan itu? Sedangkan di Jakarta adalah tempat yang bisa memenuhi semua kebutuhan. mulai dari yang fisik sampai yang non fisik." "Sudah aku sudah mencari ke sana kemari, dari ujung timur sampai ujung selatan. namun aku belum bisa menemukan untuk pengisi kekosongan itu, tapi beberapa jam yang lalu aku merasa yakin aku sudah menemukan yang pas." "Pas untuk dibohongi?" "Untuk memenuhi kekosongan dan dijadikan teman Hidup selama-lamanya sampai maut memisahkan." ungkap Wira mulai kembali mengeluarkan jurus andalannya membuat Angeline hanya menggulung senyum, seperti sudah paham dengan sikap-sikap pria seperti Wira. "Laki-laki itu sangat mudah untuk mengungkapkan kata-kata tanpa berpikir apa sebab dan akibatnya. tapi aku tidak memikirkan semuanya, aku sekarang menikmati Apa yang sedang kamu lakukan." "Berarti kamu juga memiliki perasaan yang sama seperti yang sedang aku rasakan sekarang?" "Mungkin bisa juga ya, bisa juga tidak. Tergantung kamu menilainya seperti apa." "Terus terang ketika bertemu denganmu Ketika aku melihat kamu sedang mabuk sampai tak sadarkan diri. Sebenarnya hatiku menangis melihat gadis cantik seperti tidak memiliki tujuan hidup, hanya mengisi kekosongan dengan segelas anggur yang terus diisi. Aku berharap kedepannya kamu tidak melampiaskan semua kesedihanmu dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, kamu bisa mencurahkannya bersamaku. aku berjanji aku akan menyiapkan bahu untuk kamu bersandar di pundakku." "Seandainya kalau pembicaraanmu serius dan aku pun menanggapinya serius, apa yang akan kamu lakukan ke depannya?" "Umurku sudah lumayan tua. sudah hampir 35 tahun. aku sudah tidak mau bermain-main lagi dengan perasaan, aku ingin menjalin hubungan yang serius, membangun kerajaan kecil dalam ikatan rumah tangga." "Benar kita sudah tidak muda lagi, Kita seharusnya sudah bosan untuk bermain-main, kita Seharusnya lebih menatap ke arah masa depan, membangun rumah tangga, menciptakan anak-anak kecil yang lucu dan imut. tapi entah kapan aku bisa merealisasikan semuanya karena aku selalu sibuk bekerja. jangankan untuk pergi makan malam romantis, untuk hanya sekedar beristirahat membaringkan tubuh rasanya sangat sulit. seperti sekarang sudah larut malam bahkan mendekati waktu subuh, kita belum tertidur karena penatnya semua pekerjaan." Mendengar curhatan wanita cantik yang berada di hadapannya, Wira pun bangkit kemudian berjalan lalu duduk di samping Angelina. tercium aroma wangi tubuhnya yang begitu khas, membuat jakun Wira terlihat turun naik seperti seekor kucing yang sedang mencium bau ikan mas yang sedang digoreng. Tangan kekar Wira Mulai mengambil botol lalu memutar wine bottle opener, sehingga terciumlah aroma anggur yang begitu khas, Wira menuangkannya sedikit ke dalam dua gelas lalu dia pun memberikan ke arah Angelina. "Hanya inilah yang bisa menemani kita dan mengerti apa yang sedang kita rasakan. mereka selalu hadir dalam kegelisahan yang sedang kita hadapi." ujar Wira sambil mengangkat gelas yang dipegangnya. Tring! Suara gelas pun terdengar beradu, kemudian tegukkan demi tegukan air masuk ke dalam tenggorokan masing-masing. mata mereka saling menatap seperti saling mengagumi. Wira dan Angelina terus terlarut dalam obrolan obrolan yang sangat intens, entah Mengapa meski baru pertama bertemu Wira sudah menjanjikan kesenangan, keindahan dalam berumah tangga. padahal dalam hati kecilnya dia belum memiliki niat untuk seperti itu, karena ketika menjalin rumah tangga dia harus berkomitmen Untuk Setia dan akan ada batasan-batasan yang tidak bisa Langgar. sehingga Wira yang sudah memiliki semuanya tidak membutuhkan hal itu, dia adalah orang yang bebas seekor elang yang terus mencari mangsa. Semakin lama obrolan Mereka pun semakin mendalam bahkan Angelina sudah mulai merebahkan kepalanya ke d**a bidang milik CEO perusahaan produk olahraga ternama itu. Dia sangat nyaman berbagi kisah dengan pria yang baru ia temui, karena Wira sangat pandai mencari topik pembicaraan yang menyenangkan, kadang pula Wira terlihat seperti orang yang sangat dewasa yang sudah siap melakukan semuanya. Entah bagaimana mulanya tiba-tiba Wira yang sudah tidak kuat melihat wajah cantik yang berada di dadanya, dia mulai menempelkan bibirnya ke bibir tipis Angelina, sehingga pergulatan mendebarkan dan menggairahkan itu tidak terelakan. mereka berdua terlalu dalam permainan masing masing hanya ada keluhan nafas yang semakin memburu. Permainan yang semakin panas membuat Angelina menarik tangan Wira untuk masuk ke dalam rumah langsung masuk ke dalam kamar. mereka melanjutkan permainan dengan lebih ganas bahkan terdengar teriakan-teriakan kenikmatan, yang tidak elok Untuk didengar oleh orang yang belum menikah. Sejam berlalu suara teriakan itu tidak terdengar lagi Wira terlelap dalam tidurnya merasa capek sehabis melakukan pertempuran yang sangat menggairahkan. begitu juga Angelina yang terlelap dalam dekapan pria yang baru ia temui semalam. Dor! dor! dor! Terdengar suara gedoran dari arah pintu membuat Angelina terperanjat kaget, dengan segera dia pun bangun dari tidurnya, kemudian mengenakan kimono lalu berjalan mendekat ke arah pintu untuk mengetahui siapa yang menggedor pintu kamarnya. "Ada apa Bi?" tanya Angelina dengan wajah yang kusam karena tidak suka diganggu seperti itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD