Di tengah kegelapan, Jakarta terbungkus dalam keheningan yang membingungkan. Jalan-jalan yang biasanya ramai kini sepi, hanya deru angin malam yang sesekali terdengar di antara gedung-gedung tinggi. Cahaya redup dari lampu jalan menyinari lorong-lorong yang sepi, menciptakan bayangan yang menakutkan. Udara dingin menusuk tulang, menciptakan kesan sunyi yang terasa semakin nyata seiring perlahan waktu menjelang subuh. Suasana sepinya terasa seperti sebuah kabut yang menyelimuti kesunyian malam.
Hanya sedikit suara yang terdengar di sini dan di sana; mungkin langkah seorang pengendara sepeda motor yang melintas dengan hati-hati atau suara pelan kendaraan yang masih berseliweran, tetapi semuanya terasa jauh dan samar. Jakarta yang biasanya gemerlap dan penuh aktivitas, kini berubah menjadi kota yang hampir mati.
Sejenak, Jakarta dalam kesunyian tengah malam yang dingin seperti dunia yang tertidur, menunggu subuh untuk menghidupkannya kembali dengan segala kesibukan dan kehidupan kota yang biasa. Suasana ini menciptakan momen sunyi yang hampir mistis di tengah keramaian kota yang selalu bergerak.
Wira dan Angelina terlihat meneguk air teh yang hangat setelah menghabiskan makanan. mereka berdua masih duduk di area carwas setelah mengisi perut yang terasa lapar setelah semalaman begadang.
"Kita belum mengenal lebih lanjut?" ujar Wira memecah keheningan malam.
"Untuk apa bukannya seorang lelaki yang menemukan wanita di tengah dentuman musik hanya mengenal sekilas saja, hanya menemani malam mereka yang terasa kesepian." jawab Angelina terlihat seperti mencibir.
"Mungkin persepsimu akan seperti itu, karena kamu terlalu banyak mendapatkan pria b******k yang hadir dalam hidupmu. tapi aku tidak menyalahkanmu, aku tidak menampik semua itu karena memang begitulah keadaan Metropolitan yang selalu dihiasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, namun apa salahnya kalau kita lebih mengenal siapa tahu saja bisa memberikan inspirasi atau apresiasi."
"Kayaknya kamu terlalu formal ketika berbicara."
"Mohon maaf aku hanya orang kampung yang merantau ke sini, Meski aku bisa bekerja di perusahaan ternama namun gaya hidupku Tidak sepenuhnya berubah, karena didikan orang tua yang sangat kuat, sehingga aku masih bisa memilah dan memilih mana yang baik ataupun yang buruk, mana Yang pantas dilakukan mana Yang tidak."
Pintar sekali Kamu kalau dalam bernegosiasi. memang kamu ingin mengenal aku sejauh mana?"
"Sejauh yang kamu bisa kenalkan sama aku."
"Dimulai dari mana?" Angelina menatap lekat pria tampan yang berada di hadapannya seolah mata itu ingin menembus isi hati Wira yang terlihat sangat misterius, karena sangat pintar dalam merangkai kata-kata.
"Kamu tinggal di mana. Siapa tahu saja nanti aku lewat tempatmu aku bisa mampir untuk meminta seteguk air.
"Aku tinggal di Selatan Kota Jakarta, perumahan subsidi yang diberikan pemerintah." jawab Angelina sedikit merendah karena di kota Jakarta Sudah jarang sekali Perumahan kalau rumah susun Mungkin banyak.
"Kesibukan sehari-harinya apa?"
"Biasa, bekerja di salon kecantikan milik tante."
"Pantes kamu sangat cantik dan manis karena kamu adalah perawat kecantikan semua wanita." ucap Wira memuji wanita yang berada di hadapannya setinggi langit.
Mereka pun terus mengobrol di tengah malam menikmati kesunyian dari hingar-bingar kota Jakarta yang terlihat sangat sepi seperti kota mati yang tak berpenghuni.
Wira dan Angelina terus terlarut dalam obrolan baik yang pribadi ataupun masalah umum , membuat mereka semakin terlihat begitu akrab. apalagi Wira yang pandai menempatkan posisi membuat orang betah berlama-lama mengobrol dengannya.
"Mobilnya sudah selesai dicuci Pak." ujar pegawai carwas sambil memberikan kuncinya.
"Terima kasih!" Jawab Wira sambil mengulum senyum menandakan bahwa dia adalah pria yang sangat baik Bahkan tak segan Dia memberikan sedikit tips untuk pegawai itu.
"Ke mana kita sekarang?" tanya Wira sambil menatap kembali ke arah wanita cantik yang duduk mengulum senyum penuh kekaguman.
"Mungkin sekarang kita pulang saja karena angin malam mulai semakin terasa dingin."
"Ya sudah ayo aku antar pulang." jawab Wira sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia pun menuju ke kasir untuk menyelesaikan pembayaran.
Setelah itu mereka pun duduk di kursi mobil yang hanya ada dua, sebelum menyalakan mesin Wira melirik menggunakan sudut mata ke arah Angelina yang sama-sama sedang melirik ke arahnya, sehingga kedua tatapan itu terbentur menimbulkan guncangan yang tidak bisa diartikan.
"Pandu ya!"
"Siap pak." jawab Angelina sambil tetap terfokus menatap ke arah depan dia bersiap untuk menjadi GPS yang akan mengarahkan Wira menuju ke rumahnya.
Akhirnya Wira pun menekan tombol star, sehingga suara mobil yang sangat halus mulai terdengar menyala. Mereka melintasi jalan-jalan yang kosong, hanya terdengar mesin mobil yang menggerus dan suara pelan angin malam yang berdesir di luar. Meskipun ada kesunyian di sekitar mereka, percakapan dan tawa mereka memecah keheningan, menciptakan momen pribadi yang hanya mereka berdua yang bisa rasakan.
Dalam ketenangan malam Jakarta yang dingin, mobil mewah mereka melaju dengan anggun, membawa mereka pulang ke tempat yang mungkin akan menjadi awal dari sebuah kisah baru dalam hidup mereka berdua.
"Masih jauh?" tanya Wira di sela-sela mengemudikan mobil.
"Sebentar lagi, tuh ada pintu gerbang, kamu masuk aja ke sana."
Mendengar keterangan dari Angelina, Wira pun membelokkan mobil ke arah gapura perumahan yang megah dan indah, dengan lampu-lampu penerangan yang lembut yang menghiasi jalannya. Gapura itu berdiri sebagai penanda masuk ke lingkungan yang eksklusif. Wira mengemudikan mobilnya melintasi gerbang itu, dan mereka berdua merasa seolah-olah memasuki dunia yang berbeda, jauh dari kesunyian kota Jakarta yang dingin yang baru saja mereka tinggalkan.
Rumah-rumah bergaya mewah dengan taman-taman yang terawat rapi menyambut mereka, menciptakan kontras dengan hiruk-pikuk kota yang biasanya mereka alami sehari-hari. Wira memarkir Mobilnya di salah satu rumah membuat pria yang berpura-pura lugu itu sedikit cengok karena rumah Angelina tidak seperti yang ia bayangkan. ternyata Angelina adalah orang yang sangat kaya melihat dari rumah yang ditempati .
"Kenapa diam ayo keluar!" ujar Angelina yang terlihat mengulum senyum seolah merasa menang dengan apa yang ia tampilkan.
"Ini rumahmu.
"Bukan ini rumah orang lain Aku cuma numpang di sini. ayo keluar, Atau kamu tidak mau mampir ke gubuk yang jelek ini." ajak Angelina sambil mendahului.
Wira yang masih belum percaya, diapun keluar dari dalam mobilnya. matanya tetap memindai keadaan halaman rumah yang sangat besar, Lampu-lampu taman yang tersembunyi dengan cermat menerangi setiap sudut, menciptakan permainan cahaya yang menakjubkan. Taman yang hijau dan terawat dengan baik tampak seperti surga pribadi, diterangi oleh sinar bulan yang lembut di langit malam.
Kolam renang yang elegan terlihat menggoda dengan lampu-lampu berwarna-warni yang menyinari airnya, menciptakan kilauan yang mengundang. Terdengar gemerisik air dari air mancur di tengah kolam, menambahkan nuansa tenang pada suasana malam.
"Ayo kenapa malah masih diam?" kaget Angelina sambil berjalan mendekati Wira, kemudian dia pun menarik pria tampan yang berpura-pura lugu itu untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Besar juga ya rumah kamu?" tanggap Wira ketika dia duduk di kursi ruang tamu seperti tidak ada ungkapan lain yang bisa ya bicarakan.
"Lumayan kalau untuk sendiri ini cukup luas. Sebentar ya aku ganti baju dulu, soalnya aku tidak biasa pakai baju yang tidak bermerek seperti ini." jawab Angelina sambil masuk ke dalam meninggalkan Wira yang masih terlihat cengok seperti orang yang baru saja melihat kemewahan.