Angelina

1066 Words
Uwwek! Uweek! Uwek. Wanita itu terus memuntahkan isi yang berada di dalam perutnya. Wira dengan sabar memijat lembut punggung Gadis itu, bahkan tangannya mengambil air mineral yang selalu tersedia di dalam mobil untuk menjaga dehidrasi di tengah aktivitas yang sangat padat. "Minum air putih ini!" ujar Wira sambil memberikan air mineral yang sudah dibuka penutupnya. Tanpa memberikan jawaban, gadis itu mulai meneguk air beberapa tegukan. kemudian Ia pun menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi matanya yang sayup terlihat menatap ke arah depan, seolah sedang mengumpulkan roh-roh halus yang sempat keluar dari tubuhnya. Suasana pun terasa sangat sunyi karena sudah melewati Tengah malam, dan kota Jakarta telah memasuki fase kesunyian yang mendalam. Lampu jalan yang penuh warna tetap bersinar terang, tetapi jalanan menjadi sunyi dan lengang. Kebisingan lalu lintas yang sibuk dan klakson kendaraan telah reda, dan sekarang hanya suara gemerisik angin yang tersisa. Di jalan-jalan sepi, hanya sedikit kendaraan yang melintas, meninggalkan jejak cahaya lampu pada aspal. Orang-orang yang berada di luar rumah menjadi sangat jarang, dan mereka yang masih berada di jalanan bergerak dengan langkah hati-hati. Suasana sunyi telah menenangkan keramaian dan kegaduhan kota. Di beberapa sudut kota, hentakan langkah seorang penjaga malam mungkin menjadi satu-satunya suara yang terdengar, sementara gedung-gedung perkantoran yang menjulang dalam kegelapan menjadi lebih menakutkan. Tetapi di tengah keheningan, Anda juga bisa merasakan aura ketenangan. Ini adalah saat ketika kota Jakarta, yang biasanya begitu sibuk dan hiruk pikuk, beristirahat. Bagi beberapa orang, ini mungkin saat yang ideal untuk merenung, merenovasi energi, atau hanya menikmati keindahan kesunyian malam di tengah keramaian kota yang begitu hidup pada siang hari. Kedua orang itu tetap terdiam beberapa saat terlarut dalam lamunan dan pikiran masing-masing, sesekali terlihat ada orang yang melewati depan mobil mereka sambil berpelukan dengan pasangan masing-masing, bahkan terlihat ada yang menyelipkan ciuman ke pipi pasangannya, Mereka terlihat sangat bahagia menikmati malam yang sangat sunyi. Perlahan mata Sayu Gadis itu melirik ke arah orang yang berada di sampingnya, tatapan tajam yang galak sirna seketika, menjadi tatapan kelembutan yang sangat menenangkan hati. "Maaf, aku tidak bermaksud berbuat jahat. aku hanya menyelamatkanmu dari gangguan-gangguan orang yang akan berbuat jahat dan jahil. Karena tidak semua pengunjung klub malam itu orang baik apalagi ketika melihat wanita tergeletak di atas meja minumnya." ujar Wira dengan segera menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. "Emang kamu tidak termasuk salah satu dari mereka?" "Tidak, aku bukan pria seperti itu. tujuanku ke sini hanya ingin mengetahui yang menurut orang bahwa klub malam itu sangat menggairahkan dan menyenangkan, tetapi ternyata itu hanyalah bualan belaka karena aku tidak suka musik yang kencang dengan bau alkohol di mana-mana." jawab Wira menirukan malaikat yang tak memiliki dosa "Hehehe." hanya itu tanggapan yang keluar dari wanita yang sedang duduk di kursi mobil, tangannya yang masih memegangi botol kemudian mengangkat didekatkan ke bibir, sehingga jakunnya pun mulai terlihat turun naik membuat Wira ingin segera merekamnya, namun dia adalah pemain yang sangat handal yang pandai memainkan peran. "Emang sulit untuk dipercaya ketika ada pria baik yang datang ke klub malam, soalnya tempat itu sudah dicap tempat berkumpulnya lelaki yang b******k, namun seperti yang kita ketahui tidak semua air laut itu asin karena ada ikan yang masih terasa tawar di tengah-tengah air asin yang sangat luas." "Ternyata lu pandai sekali berbohong, mana ada ikan tawar di tengah-tengah gerombolan air alkohol, sebelum mereka bisa menarik nafas mereka sudah mabuk duluan." "Mohon maaf sebelumnya, Kalau kita sering dibohongi maka kita tidak akan bisa menerima kebenaran karena mindset kita sudah melekat bahwa apa yang dikatakan oleh orang lain adalah kebohongan." "Terserah lu, tapi Terima kasih udah membawa gua ke sini. sekarang lu mau minta imbalan apa?" "Nggak ada, aku gak minta imbalan sedikitpun, buat aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat, karena aku melihat kamu itu adalah orang baik yang sedang ditimpa musibah sehingga kamu berlari ke tempat ini." "Oh Cuma itu. kenalin nama gua Angeline." akhirnya Gadis itu mengenalkan dirinya membuat Wira bertepuk tangan di dalam hati, dia memuji kepiawaiannya dalam menaklukkan sang wanita. "Apendi." jawab Wira yang selalu menggunakan nama samaran. "Wajah aja ganteng, tapi nama sangat norak." Ledek Angeline sambil mengulum senyum. "Yah walaupun jelek tapi itu adalah warisan orang tua yang harus tetap kita jaga sampai wafat." "Kayaknya kalau ngobrol sama lu sebentar lagi gua pakai hijab dan pergi ke pengajian." "Semoga saja kita bisa pergi bersama untuk mengikuti acara kajian yang sama." Kedua sudut bibir Wira dan Anggelina terlihat mengembang mengulum senyum saling mengagumi karena wanita mana yang akan menolak ketampanan CEO perusahaan yang sangat karismatik, cara bicara, tutur kata yang lembut, membuat wanita terasa nyaman dan betah tinggal berlama-lama menemaninya. "Lapar." ujar Angeline sambil melirik ke arah Wira yang masih memandangi kecantikannya. "Cari jagung bakar atau martabak, kalau mau makan karbo kita bisa cari nasi goreng." "Terserah, aku rasanya malas pulang malam ini, tapi bagaimana dengan muntahanku." "Gampang, kita bisa cari toko baju yang masih buka karena ini Kota Jakarta semuanya berada di sini masalah mobil kita bisa makan sambil mencuci mobil Angeline tidak menjawab Dia hanya mengagukan kepala sekolah menyetujui apa yang disarankan oleh Wira dengan segera pria yang mengaku nama Apendi itu mulai menekan tombol Start mobilnya kemudian meninggalkan parkiran klub malam Wira mengendarai mobilnya jalan-jalan yang sangat sunyi di kota Jakarta. Lampu-lampu jalan yang berkilauan memberikan pandangan yang begitu indah dan magis. Suasana sunyi di tengah malam memberinya ruang untuk merenung dan merasakan ketenangan yang jarang ditemukan di kota ini. Jalanan yang biasanya padat kini terasa lapang, sehingga perjalanan menjadi lebih lancar. Suaranya mesin mobil yang bergetar terdengar jelas di keheningan malam. Wira merasa seolah-olah ia adalah satu-satunya penjelajah yang berkelana di kota ini pada saat ini. Keindahan itu semakin bertambah ketika sudut matanya menangkap wanita cantik yang sedang duduk sambil menatap ke arah depan, sesekali wanita itu mencuri pandang ke arahnya nggak kedua sudut mata mereka beradu menimbulkan getaran-getaran perasaan yang susah diartikan. Ketika melihat toko baju yang masih buka Wira pun mengajak Angeline untuk turun, mencari baju yang pas untuknya. setelah menemukan baju yang cocok meski tidak dari merek yang ternama, namun itu cukup untuk dikenakan sementara waktu. Setelah membeli baju, Wira pun melanjutkan perjalanan mencari tempat carwas yang masih buka. dan seperti yang sudah dikatakan olehnya bahwa tempat mereka tinggal adalah kota Jakarta kota yang tidak pernah tidur meski dalam keheningan malam, dengan mudahnya mereka menemukan tempat untuk membersihkan muntahan-muntahan Angelina. Setelah mobil ditangani oleh ahlinya, mereka berdua pun memesan makanan untuk mengisi perut yang mulai terasa keroncongan, karena waktu itu malam sudah semakin larut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD