"Kursimu? Maaf aku tidak sengaja mendudukinya. karena kursiku rodanya macet tidak bisa digerakkan, jadi aku yang panik memilih salah satu kursi yang berada di sini." jawab Wira sambil mengambil kursi rodanya kemudian dia mencoba untuk menggerakkan kursi roda itu, Namun sayang kursi roda tetap sama tidak bisa berjalan karena rodanya macet entah kenapa.
"Aku sudah bilang tidak apa-apa, kamu bisa memakainya untuk sementara waktu."
"Sekali lagi aku minta maaf, aku merasa tidak enak sudah mengambil kursi rodamu."
"Ternyata kamu selain bekerja keras kamu juga sebagai orang yang sangat baik. sampai berulang kali meminta maaf. sudah jangan terlalu dipikirkan sekarang bawa kursi rodaku pulang besok aku akan mengambilnya ke kantormu."
"Terima kasih kamu juga sangat baik, aku benar-benar malu dan merasa bodoh malam ini. tapi kamu tidak usah datang ke kantor karena aku yang meminjamnya, maka Lisa lah yang harus bertanggung jawab, Besok aku akan menyuruhnya Untuk mengantarkan roda ini ke rumahmu."
"Kenapa harus Mbak Lisa?"
"Karena dia adalah orang yang terbaik yang bisa kuandalkan, dia selalu Sigap membantu pekerjaan kantor dan menunjang semua kebutuhan termasuk dalam merawat tubuh yang tidak berguna ini." jawab Wira yang mulai berbohong kembali.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita pulang." ajak Aluna dengan mengulum senyum merasa lucu melihat tingkah laku Wira yang sangat menggemaskan. kadang dia terlihat dewasa namun ketika dia merasa bersalah tingkah lakunya seperti anak kecil.
"Apa kita tidak minum secangkir teh atau kopi terlebih dahulu?"
"Boleh, tapi aku ingin mengajak temanku untuk merayakan kemenangan ini, soalnya kita semua sudah berjanji untuk merayakan bersama ketika aku memenangkan pertandingan."
"Itu lebih baik, Agar minum kopinya semakin seru." jawab Wira yang sedikit merasa kecewa karena tidak bisa berduaan dengan namun dia tidak menunjukkannya, menyembunyikan dibalik senyum yang dipaksakan.
"Beneran tidak apa-apa, kalau aku mengajak teman-temanku?"
"Justru aku akan senang memiliki banyak teman, supaya kita saling memotivasi karena kehidupan kita sekarang berada di titik yang sama."
"Kalau begitu ayo jangan buang waktu, Nanti keburu malam." ajak Aluna sambil mulai menggerakkan roda kursinya untuk meninggalkan ruangan ganti menyusuri lorong keluar dari gedung olahraga.
Sesampainya di parkiran, Wira dibantu untuk menuruni tangga oleh seseorang yang kebetulan keluar bersamanya, hanya Aluna yang bisa mengendalikan kursi rodanya sendirian.
"Aluna...., Aluna....!" Panggil suara seseorang yang membuat sang gadis cantik menoleh ke arah datangnya suara, terlihatlah ada segerombolan penyandang disabilitas yang sudah menunggunya dengan berbagai kekurangan. ada orang yang sama duduk di atas kursi roda, ada yang memegang tongkat white scan, ada pula yang tidak memiliki tangan, dan ada beberapa yang terlihat normal ketika berjalan tapi setelah diperhatikan ada penyangga besi di kakinya
Para penyandang disabilitas itu Mereka terlihat antusias berlari menuju ke arah alunan. yang perempuan memeluknya memberikan Selamat atas kemenangan, sedangkan yang laki-laki mereka pun ikut bersukacita dengan melakukan hal yang sama.
"Teman-teman Perkenalkan ini adalah Wira, dia salah satu CEO perusahaan yang bergerak di bidang olahraga dan sekarang dia sedang mengembangkan produknya agar ramah terhadap para disabilitas seperti kita."
"Wow....! hebat sekali , Salam kenal dari kami." jawab salah seorang sambil mengeluarkan tangan mengajak Wira bersalaman, hingga akhirnya satu persatu dari mereka memperkenalkan diri masing-masing.
"Terus bagaimana dengan janji kita?" tanya seorang wanita yang menggunakan tongkat.
"Kita tetap merayakan keberhasilan kita bersama-sama sesuai janji yang sudah dibuat." Jawab Aluna yang melegakan semua teman-temannya.
"Tapi bagaimana dengan sahabatmu nanti dia merasa terganggu oleh kehadiran kami?"
"Tidak, Wira sangat senang bisa berkenalan dengan kalian, karena secara tidak langsung kita adalah saudara yang memiliki kesamaan dalam kehidupan."
"Syukurlah kalau begitu. Ya sudah ayo kita berangkat." ajak teman Aluna yang laki-laki dengan mengambil handle kursi roda milik Aluna untuk mendorongnya, begitupun dengan Wira yang dibantu didorong oleh penyandang disabilitas lainnya.
Malam itu terlihat sangat indah, di mana orang-orang yang memiliki kekurangan saling bahu-membahu ketika berjalan. orang yang bisa normal berjalan mereka akan membantu orang yang memiliki kesulitan, sehingga pemandangan indah dan mengharukan terlihat di trotoar yang tidak begitu ramah untuk mereka, akibat kurangnya perhatian dari pemerintah.
Tak lama diantaranya akhirnya mereka pun tiba di salah satu cafe terdekat dari GOR Senayan. dengan segera Wira pun mempersilahkan semua teman-teman Aluna untuk memesan apapun yang mereka sukai, karena malam itu dia akan mentraktirnya sebagai awal mula persahabatan mereka. namun apa Yang Wira dengar membuatnya semakin merasa bangga berada di tengah-tengah mereka, meski memiliki kekurangan mereka tidak ingin menumpangkan hidupnya ke kehidupan orang lain.
"Kita bayar masing-masing saja, kalau ada yang kurang barulah kita bantu, karena kami tidak biasa menggantungkan hidup kepada seseorang, Kami adalah pejuang yang mandiri yang hanya butuh diberikan ruang bukan diberikan rasa belas kasihan." ujar Kirana yang mendengar perkataan Wira bahwa malam itu akan mentraktir semuanya.
"Terima kasih aku sudah diterima di lingkungan kalian. aku sempat binder ketika duduk di tengah-tengah orang yang asing, mata mereka menatap ini ke arahku. Tapi berada di tengah-tengah kalian aku merasa memiliki keluarga yang sangat perhatian." ungkap Wira penuh kekaguman.
"Itulah kenapa sampai sekarang kita masih tetap bersama karena kita tidak pernah menyusahkan satu sama lain. tapi kita saling mengerti kapan kita harus membantu Kapan kita juga harus dibantu."
Mereka pun terus lanjut mengobrol membahas pertandingan Aluna yang begitu memukau, mereka tidak menyangka kalau sahabat mereka akan menjadi juara. soalnya lawan yang dihadapi bukanlah lawan yang mudah untuk dikalahkan, sudah tiga kali turnamen berturut-turut Sumiati selalu menjadi juaranya. namun keajaiban datang di malam itu di mana Aluna lah yang keluar menjadi juaranya.
Obrolan mereka sedikit terhenti ketika makanan yang dipesan diantarkan oleh para pramusaji, sehingga mereka pun menikmati makanan masing-masing meski ada pembicaraan namun tidak seintan tadi.
"Apa kalian semuanya berolahraga?" tanya Wira mulai kembali membuka pembicaraan, setelah menghabiskan makanannya.
"Iya kami semua berolahraga dan kami terus berpartisipasi dalam semua kegiatan. seperti aku yang mengikuti pelatihan menari tradisional jaipong dari Jawa Barat." Jawab Karina yang tidak bisa melihat.
"Aku berolahraga, aku salah satu atlet bulutangkis." jawab perempuan yang duduk di kursi roda.
"Kalau saya adalah atlet pemanah dan yang badannya besar ini adalah atlet angkat berat." jawab yang laki-laki memperkenalkan temannya yang duduk di samping.
"Berarti kalian semua berolahraga. terus Apakah ada Yang menaungi untuk penyandang disabilitas seperti kita?"
"Maksudnya asosiasi yang mengurus para atlet difabel?" jawab Rangga balik bertanya.
"Iyq, Karena tidak mungkin kan kalau suatu atlet tidak mendapat pelatihan."
"Ada, di negara kita namanya NPCI, nasional paralympic komite Indonesia. mereka semua yang mengawasi semua atlet-atlet dari pihak penyandang difabel."
"Berarti kalau ada komite pasti ada kejuaraannya?"
"Pasti ada lah kejuaraan yang diperlombakan, Terus buat apa kita berlatih kalau tidak untuk dipertandingkan. nanti tahun 2024 paralympic akan diadakan di dua provinsi yaitu Banda Aceh dan Sumatera Utara."
"Apa kalian semua termasuk atlet paralympic?:
"Tidak, Seperti aku yang tidak masuk ke daftar atlet karena aku berolahraga bukan untuk mengikuti kejuaraan nasional, melainkan untuk menyehatkan tubuh. Apakah kamu suka berolahraga?" jawab laki-laki yang menggunakan tongkat tunanetra.