Paranoid

1205 Words
"Aku tidak berolahraga, lagian untuk apa berolahraga kita hanya duduk di kursi roda. kalaupun bisa, Olahraga apa yang akan kita lakukan jawab Wira ketika mendapat pertanyaan dari teman Aluna "Itu adalah jawaban orang yang tidak percaya diri, karena walaupun kita hanya hidup dengan keterbatasan banyak aktivitas-aktivitas yang bisa kita lakukan." "Aktivitas apa yang bisa dilakukan oleh orang cacat seperti kita?" tanya Wira sambil menatap ke arah orang yang menjawab keluhannya. "Banyak, mulai dari berjalan-jalan sore. melatih otot-otot dan bagian tubuh yang masih normal karena olahraga tidak harus selalu menggunakan kaki, ada pula olahraga yang hanya menggunakan tangan. dan yang paling penting olahraga itu adalah untuk menumbuhkan rasa percaya diri kita di tengah-tengah keterbatasan yang kita miliki." Jawab Rangga panjang lebar, dia terus mendorong Wira agar mau berolahraga. "Nah, mulai sekarang kamu Pilihlah olahraga yang menurutmu bisa dilakukan. kalau kamu butuh motivasi kamu bisa memulainya bergabung dengan kami." tawar Kirana sambil mengulum senyum memberikan motivasi. "Masalah terpenting yang sering kita hadapi bukanlah masalah olahraga tapi mental kita yang lemah, sehingga kita malu Ketika Harus berada di luar ruangan, menjadikan kita semakin terpuruk, bahkan bisa menjadi drop. Untuk itu kamu harus sering melakukan aktivitas dan berolahraga, selain tubuhmu yang sehat jiwamu juga akan kuat." nasehat penyandang disabilitas lainnya, yang terlihat peduli dengan kondisi Wira sekarang. Malam semakin menyelimuti cafe dengan nuansa yang hangat dan penuh semangat. Lampu-lampu yang lembut menggantung di langit-langit dan dinding, menciptakan suasana yang nyaman dan penuh kebahagiaan. Meja-meja yang diatur dengan rapi diisi oleh berbagai kelompok pengunjung yang menciptakan keceriaan di dalam cafe. Bunyi cekikikan, percakapan yang meriah, dan musik latar belakang yang lembut menciptakan harmoni yang khas dari kehidupan malam di cafe. Pelayan sibuk berkeliling, mengantarkan pesanan kopi, teh, atau hidangan ringan kepada para pengunjung yang tengah menikmati malam mereka. Beberapa meja dihiasi lilin, memberikan sentuhan romantis pada suasana. Sudut-sudut dinding diisi dengan seni dan hiasan yang menciptakan karakter unik bagi cafe tersebut. Bau kopi yang harum dan aroma makanan lezat melayang di udara, menggoda lidah dan memberikan nuansa kenyamanan. Sejumlah pengunjung ada yang sibuk bekerja di laptop, sementara yang lain bersantai bersama teman atau pasangan. Suasana campur aduk dari percakapan dan tawa menciptakan energi positif yang mengisi cafe dengan kehidupan. Wira terus mengobrol bersama teman-teman barunya, hingga ketika pukul 11.00 malam Mereka pun membubarkan diri, Wira yang awalnya hendak mengantar Aluna, namun itu tidak jadi ia lakukan karena malam itu dia lupa membawa mobil Kalaupun dia membawa pasti Aluna akan curiga kalau mobil yang dimiliki bukanlah mobil penyandang disabilitas, sehingga akhirnya mereka pun pulang ke rumah masing-masing dan lain kali akan bertemu kembali. Setelah semuanya pergi Wira pun memesan mobil online untuk pulang ke rumahnya, dan tak lama setelah itu mobil pun datang menghampiri. sang supir yang melihat keadaan Wira dia pun merasa kasihan hingga akhirnya turun untuk membantu penumpangnya naik ke dalam. "Mau ngapain?" tanya Wira yang seperti lupa dengan keadaannya sekarang, matanya menatap heran ke arah orang yang baru datang. "Mau membantu bapak, untuk naik ke dalam mobil?" "Apa....? mau membantuku naik ke dalam mobil, aku tidak cacat, aku duduk di kursi ini hanya pegal saja terlalu lama berdiri, menunggumu yang terlambat datang." jawab Wira yang bangkit dari kursi rodanya namun ketika dia berdiri kakinya terasa bergetar, hingga Dia memegang mobil untuk menopangnya. "Aduh kenapa dengan kakiku, apa jangan-jangan aku akan lumpuh beneran?" gumam Wira dalam hati sambil dipenuhi oleh keringat penuh ketakutan. Melihat penumpang kesusahan, dengan segera sang supir pun memegang tubuh Wira agar tidak terjatuh, membuatnya semakin merasa panik takut terjadi sesuatu yang buruk menimpanya. "Sudah, sudah....! jangan bantu aku bukan orang cacat." dengus Wira yang dengan segera membuka pintu mobil, kemudian dia duduk di kursinya, nafasnya terlihat memburu ketakutan terus tergambar di wajah. Sang sopir hanya menggeleng-geleng kepala, kemudian merapikan kursi roda untuk dimasukkan ke dalam bagasi. Setelah semuanya dirasa rapih dia pun kembali ke balik kemudinya untuk mengantar penumpang sampai ke tujuan. "Sesuai map Pak?" "Yah, kenapa kamu banyak bertanya? Kamu jalankan saja mobilnya antarkan saya ke tempat yang dituju!" Jawab bila dengan nada kesal. "Baik Pak, saya bertanya karena biasanya Maps suka error, Nanti kalau saya salah mengantar Bapak juga yang repot." Mendengar ocehan sang sopir Wira tidak menjawab, Dia memegang kedua lututnya yang terasa pegal, mungkin akibat kelamaan terduduk di atas kursi roda. Namun Wira tidak sadar semakin tidak berkonsentrasi takut sesuatu hal yang buruk menimpanya, dia terus menggerakkan kaki-kakinya memeriksa otot-ototnya masih berfungsi dengan normal. "Kenapa Bapak terlihat sangat frustasi dengan kondisi bapak yang sekarang. apa bapak sedang mengalami gejala kelumpuhan?" tanya sang sopir yang sejak dari tadi memperhatikan dari spion Tengah, dia mulai membuka pembicaraan menjalin interaksi baik dengan pelanggan. "Enak aja kalau ngomong, Lagian Kenapa kamu terlalu mempedulikan urusan orang lain. tugasmu hanya mengantarku untuk sampai ke rumah dengan selamat. Kamu jangan terlalu banyak membual karena saya merasa risih. "Kalau masih gejala, bapak harus secepatnya berkonsultasi dengan dokter kalau Bapak belum melakukannya. Soalnya kalau dibiarkan nanti seperti anak saya yang tidak bisa berjalan sama sekali, akibat lambatnya penanganan dan menyepelekan gejala-gejala yang sudah ada." "Kamu bisa diam gak sih, jangan buat orang semakin Parno." bentak Wira yang semakin merasa kesal. "Maaf Pak saya bukan mau mencampuri urusan Bapak tapi saya hanya menyampaikan pesan sebagai orang tua yang lalai dalam menanggapi keluhan sang anak, sampai sampai sekarang saya harus banting tulang mencari tambahan penghasilan untuk membiayai pengobatannya. Coba kalau dari awal ditangani dengan baik, maka kejadian yang mengerikan itu tidak sampai terjadi." jawab sang sopir yang tidak pernah lelah untuk mengingatkan, wajahnya terlihat sendu mengandung kesedihan yang mendalam. Merasa tidak ada untungnya berdebat dengan sang supir, Wira pun menyandarkan tubuhnya menatap keluar jendela yang memamerkan kemegahan kota Jakarta, dengan hingar bingar yang dimiliki lampu-lampu di samping kanan kiri jalan menerangi setiap sudut gelap yang berada di Metropolitan. Mengacuhkan ocehan sang supir yang terus mendorongnya untuk segera memeriksakan keluhan yang sedang dirasakan. Khayalan Wira mulai terbang ke mana-mana mulai merasa takut kalau Apa yang dibicarakan oleh sang sopir terjadi menimpanya. Bagaimana kalau penyamarannya menjadi kenyataan dia menjadi orang yang lumpuh yang hanya bisa bergerak menggunakan kursi roda. sesekali Dia terlihat menggerakkan kakinya untuk mengecek bahwa kaki itu masih bisa digunakan dengan baik. Wira menikmati perjalanan sambil terus dinasehati oleh sang supir, agar dia segera memeriksakan gejala kelumpuhan. Wira tidak usah malu dengan kondisi yang sedang dialami, harusnya Wira semakin semangat agar kejadian terburuk tidak menimpanya. "Orang ini ngomong apa sih nggak jelas banget. Lagian siapa yang mengalami gejala kelumpuhan, aku hanya berpura-pura untuk mendekati Aluna?" gumam Wira yang sekarang lebih banyak terdiam daripada menyahuti. Lama di perjalanan akhirnya Wira pun tiba di apartemennya, dengan segera sang sopir pun membantu mengeluarkan kursi roda dari bagasi. "Perlu saya antar masuk ke dalam?" tanya sang supir menawarkan diri. "Tidak aku sudah bilang aku tidak mengalami gejala kelumpuhan, aku tadi duduk hanya merasa pegal ketika kelamaan menunggumu yang datang terlambat." jawab Wira sambil memberikan uang sebesar Rp200.000. "Ini kelebihan Pak, tarif yang berada di aplikasi hanya Rp40.000." Wira tidak menjawab Dia hanya berlalu pergi sambil mendorong kursi rodanya untuk masuk ke lobi apartemen, sambil membayangkan Bagaimana dirinya terus duduk di atas kursi itu. "Terima kasih banyak Pak, semoga Bapak lekas sembuh!' teriak langsung sopir yang merasa bahagia karena dikasih uang tip yang begitu besar. "Sekali lagi kamu ngomong seperti itu, aku akan kembali dan merobek mulutmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD