Wira terus melangkah masuk ke dalam lobby, menaiki lift untuk menuju lantai teratas apartemennya. setelah tiba dia membuka kuncinya kemudian masuk ke dalam, membaringkan tubuh di atas sofa mengingat kembali perkataan sang supir, di mana dia sudah mengidap gejala kelumpuhan, Padahal dia hanya kelamaan duduk sehingga kakinya terasa kram.
"Tidak, itu tidak akan mungkin terjadi. aku selalu berolahraga melatih otot-ototku setiap pagi dan setiap malam. jadi mana mungkin penyakit menyebalkan itu menghampiriku." gumam Wira sambil bergidik ngeri, dia tidak bisa membayangkan Bagaimana nantinya kalau hidup di atas kursi roda.
Untuk mengusir kekhawatiran dan ketakutannya, wira memaksakan bangkit dari tempat duduk, kemudian masuk ke dalam kamar menghempaskan seluruh baju yang ia kenakan, lalu mengguyurnya dengan air shower hangat di kamar mandi, membuat kekhawatirannya sedikit sirna digantikan kesegaran yang mulai menyelimuti.
Malam itu Wira yang biasa Menghabiskan malam di klub atau di bar nampaknya tidak memiliki semangat sedikitpun, dia langsung membaringkan tubuhnya ditemani lantunan musik klasik, namun tidak serta-merta membuat dirinya gambaran menakutkan selalu menghampirinya.
Lama terdiam dalam lamunan, akhirnya mata itu perlahan terpejam dengan sempurna diikuti dan dengjuran halus yang keluar dari bibir, di kipas oleh angin sepoi-sepoi yang keluar dari AC membuat kamarnya semakin terasa nyaman dan tenang.
"Kamu harus kuat, Kamu harus berani! tidak boleh menyerah dengan keadaan, aku yakin kamu adalah pria yang sangat pemberani." suara teman-teman Aluna mulai kembali terdengar dalam impiannya.
"Sekarang kamu Tentukan mau olahraga mana yang kamu pilih, kamu tidak boleh malu dengan keadaan karena kita sebagai makhluk hidup memiliki hak yang sama untuk hidup sehat."
"Jangan hiraukan kecacatanmu dan ocehan orang lain, karena itu akan membuatmu semakin terpuruk. Ayo bangkit dan bergabunglah dengan kami, menikmati hidup dengan penuh kebahagiaan."
"Tidak apa-apa kita berada dalam keterbatasan, yang terpenting cinta kita sempurna tanpa ada kekurangan." Jawab Aluna yang hadir dalam mimpinya, ketika Wira berada di salah satu tempat yang tinggi untuk mengungkapkan cinta.
"Tidak, tidak.....! aku tidak lumpuh, aku tidak lumpuh." teriaknya sambil bangkit dari tempat tudur, nafasnya sangat memburu Karena mimpi itu terasa begitu nyata.
"Ternyata hanya mimpi!" teriaknya sambil meremas kepala kemudian melihat ke kedua kaki untuk digerakkan dan beruntung kaki itu masih memberikan respon Wira hanya ketakutan karena mimpi yang mengganggu tidur lelapnya.
Orang yang sedang terlarut dalam suatu peran, maka peran itu akan selalu hadir dalam benaknya, bahkan akan sedikit besar mempengaruhi kehidupan, begitulah yang sedang dirasakan Wira sekarang. dia berpura-pura menjadi orang lumpuh dan itu mengganggu alam bawah sadar dan diwujudkan di dalam mimpi.
Wira membaringkan tubuh kemudian dengan cepat menggerakkan kakinya menunjukkan bahwa kaki itu masih normal tidak ada kecacatan sedikitpun. Tidak puas dengan berbaring Wira turun dari ranjang kemudian berjalan ke kamar mandi lalu menatap wajahnya di cermin.
"Kenapa aku menjadi pengecut seperti ini? tidak tubuhku sangat sehat, Aku selalu merawatnya dengan baik." gumamnya terus mengusir rasa ketakutan menguatkan diri bahwa semua ini hanyalah Obsesi belaka.
Wira mencuci wajahnya menggunakan air, entah angin apa yang menerpa tubuhnya, sehingga dia terlihat mengambil air wudhu kemudian mencari-cari sejadah yang sudah berdebu. pagi itu CEO yang sangat sombong dan Arogan menundukkan kepalanya ke hadapan sang pencipta, meminta ampunan dari segala dosa dan berdoa agar dirinya tetap baik-baik saja.
Selesai beribadah. Wira handphone untuk menghubungi seseorang, Karena Dia teringat janjinya dengan Aluna tadi malam. tak lama menunggu telepon pun terhubung.
"Ada angin apa pagi-pagi sudah menelepon?" tanya Lisa dengan nada mengejek.
"Kamu sudah bangun apa belum? Kalau belum, Ayo buruan bangun kemudian salat subuh! karena sebagai manusia kita diwajibkan menunaikan ibadah."
"Apa Aku nggak salah dengar? sebelum menyuruh orang lain dirimu sendirilah yang harus mengerjakannya karena kewajiban itu tidak harus diingatkan."
"Aku sudah melaksanakan salat, makanya mulai dari sekarang seluruh karyawanku harus menyembah Tuhannya sesuai dengan kepercayaan masing-masing."
"Heran, aku benar-benar heran. Kamu sebenarnya telat minum obat atau salah Minum obat? pagi-pagi sudah menelpon dan berceramah."
"Begitulah orang-orang yang hatinya sudah keras mengalahkan batu. diingatkan bukannya menerima malah mencibir, padahal petunjuk itu bisa datang dari mana saja. Seharusnya kamu merasa beruntung memiliki pimpinan yang sangat perhatian. ayo bangun salat subuh dulu!"
"Aku sudah dari tadi bangun, sekarang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga."
"Syukurlah kalau begitu, ya sudah sebelum berangkat ke kantor kamu ke apartemen ku dulu."
"Mau ngapain? Lagian ini kan hari Minggu hari libur untuk bekerja."
"Ya ampun aku lupa, maaf mengganggu hari liburmu." jawab Wira sambil menepuk jidat dia baru sadar bahwa hari itu adalah hari Minggu.
"Ya sudah kalau sadar ,tolong dimatikan teleponnya! Aku sedang menyiapkan sarapan nanti makananku gosong."
"Baik, baik. besok sebelum berangkat ke kantor aku tunggu di apartemenku. Jangan sampai telat!"
"Bagaimana besok saja kalau aku sempat aku mampir."
"Harus, harus mampir. ya sudah selamat menikmati hari liburmu, selamat pagi jangan lupa berolahraga." tanpa menunggu jawaban Wira pun memutus teleponnya, kemudian dia mengulum senyum merasa malu sendiri keadaannya yang membuat dirinya sangat panik sampai lupa dengan waktu.
"Aku tidak boleh terus terdiam di rumah, pasti ketakutan itu akan terus menghantui, sebaiknya aku menyibukkan hari ini dengan berolahraga."
Tanpa membuang waktu Wira pun mengenakan setelan jogging kemudian keluar dari apartemen mewah untuk menikmati suasana pagi kota Jakarta yang belum tercampur polusi, kendaraan-kendaraan belum terlalu banyak yang berlalu Lalang masih terlelap dalam tidurnya.
Waktu itu matahari belum nampak keluar dari ufuk timur, membuat suasananya terasa sangat segar dan sejuk Wira yang berada di trotoar, dia terus berlari penuh semangat menghilangkan ketakutan bahwa dirinya akan terkena penyakit kelumpuhan.
Suasana pun semakin lama semakin siang, Matahari mulai menampakan sinarnya sedikit mengusir rasa dingin membuat keringat semakin bercucuran dan semakin banyak pula orang yang menikmati Minggu pagi dengan berolahraga.
Fokus Wira mulai teralihkan ketika dia berpapasan dengan dua wanita cantik yang sama-sama sedang berlari, Wira memutarkan tubuhnya mengikuti kedua wanita itu dengan percaya diri sambil berlari mulai mengajak wanita itu berkenalan.
"Kalian jangan terlalu cepat-cepat larinya, Nanti banyak pria yang tergoda."
"Maksudnya apa?" bentak wanita yang memakai baju kaos ketat berwarna merah muda, dipadukan dengan legging yang mencetak lekuk tubuhnya.
"Kalau cepat-cepat kalian akan mudah lelah yang nantinya tidak berproses baik untuk tubuh, mendingan lari itu santai saja sambil mengobrol." Jawab Wira mengalihkan maksudnya karena dirinya berbicara seperti tadi melihat kedua buah melon yah ndak jatuh.
"Ngobrolin tentang apa?" tanya yang satunya lagi dia menatap Wira dari sekujur rambut sampai telapak kaki yang semuanya mengenakan barang branded.
"Apa aja yang terpenting kita jangan terlalu memportir tubuh untuk terus berolahraga, sesekali tubuh kita harus diistirahatkan untuk mengambil nafas."
Mendengar saran dari Wira kedua wanita itu saling menatap lalu mereka pun memutuskan untuk beristirahat di bangku taman, karena mereka sudah hampir sejam terus berlari membuat Wira mengurung senyum penuh kemenangan, kedua Wanita itu sudah masuk ke dalam perangkatnya.