Cindy Dan Clarisa

1043 Words
Pagi hari di Jakarta, suasana kota mulai hidup dengan penuh aktivitas. Jalan-jalan utama yang biasanya padat kini masih relatif lengang, memberikan kesan tenang sebelum hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari dimulai. Pedagang kaki lima mulai membuka lapak mereka, menawarkan beragam kuliner lokal yang menggoda selera. Toko-toko yang berbaris di pinggir jalan terlihat nampak tertutup, karena libur di hari Minggu. banyak pejalan kaki yang memenuhi trotoar, menikmati suasana yang begitu Asri tanpa berlalu-lalang kendaraan. "Kalian sering berolahraga di sini?" tanya Wira sambil memindai kedua wanita cantik yang sedang duduk di sampingnya. "Tidak, tidak berolahraga setiap hari, hanya di hari Minggu Kami keluar sambil mencuci mata melihat pria-pria tampan yang sedang berolahraga." "Terus kesibukan kalian bagaimana?" "Kalau di hari kerja, Kami pergi ke toko tempat kami bekerja untuk tetap bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi Kota Jakarta." "Ternyata kalian memang sangat Mandiri, walaupun kalian seorang perempuan tapi kalian masih mau bekerja." "Iya sampai saat ini belum ada orang yang dermawan yang mau menanggung hidup kami. Terus pekerjaan kamu apa?" tanya perempuan yang tadi ramah balik bertanya. "Aku baru kerja sebagai CEO perusahaan yang bergerak di bidang olahraga." "Wow... nama perusahaannya apa?" "Aku bekerja di perusahaan Spirtiva, Kalau kalian tidak percaya kalian bisa mengeceknya di internet." Kedua gadis itu nampak penasaran dengan segera mereka mengeluarkan handphone masing-masing, kemudian mereka mencari perusahaan yang disebutkan. ternyata benar foto Wira terlihat menghadiri beberapa pertemuan besar yang diadakan oleh perusahaan. "Kenalkan nama aku Cindy." ujar wanita yang berbaju pink mengulurkan tangan. "Aku Clarissa, aku teman satu kosan dan satu pekerjaan dengan Cindy." seperti tidak mau kalah dengan segera dia pun memperkenalkan dirinya melihat Wira yang memiliki masa depan yang cerah. "Aku Arfan, senang berkenalan dengan kalian berdua." jawab Wira dengan mengukir senyum indah, merasa bangga karena kedua Wanita itu sudah mulai masuk dengan perangkap kekayaannya. namun seperti biasa dia tidak memperkenalkan dirinya dengan nama yang sebenarnya, dia akan bersembunyi di balik nama yang palsu. "Kita juga senang berkenalan denganmu, karena di toko tempat kami bekerja ada beberapa baju olahraga yang dijual dari perusahaan yang kamu Pimpin." "Oh ya, bagaimana penjualan produk perusahaanku di toko yang kamu jaga?" "Sangat bagus bahkan Kami sering kehabisan stok akibat lambatnya pengiriman." "Kok bisa lambat? padahal semua barang yang dijual selalu ready stok." tanya Wira yang terlihat mengerutkan dahi, merasa ada kejanggalan dengan usaha yang ia Pimpin. "Kalau masalah itu kami Kurang tahu karena kami hanya menunggu dan melayani pembeli." "Terima kasih untuk informasinya, semoga saya bisa memperbaiki secepatnya supaya semua pihak diuntungkan." "Sama-sama, ternyata kamu lebih tampan dibanding dengan fotonya." "Ya begitulah hidup, kadang foto bisa menipu keadaan. banyak orang yang memposting foto kemewahan Padahal mereka hidup di bawah garis kemiskinan. Namun ada pula yang jarang memposting kegiatan pribadinya tapi kehidupannya sangat mapan dan bergelimang harta." jawab Wira Sok bijak menyembunyikan rasa kagum dengan tubuh atletis yang ia miliki. "Dan selain gagah kamu juga terlihat sangat ramah, kamu tidak membeda-bedakan Kasta. Meski aku yakin kehidupanmu bergelimbang kemewahan." "Itu hanya titipan, ketika kita diambil oleh yang kuasa Maka titipan itu akan hilang dari genggaman. Oh ya bagaimana kalau kalian aku undang ke rumahku?" Tanya Wira yang sudah tertarik dengan kemolekan tubuh kedua gadis yang baru ia temui. "Untuk apa, dan Dalam rangka apa?" tanya Cindy seolah tidak percaya ada pangeran yang mengundang ke istananya. "Tidak dalam rangka apa-apa. Anggap saja Ini adalah ucapan terima kasih atas laporan yang kalian berikan, karena itu sangat penting bagi kemajuan perusahaan." "Kapan dan kita akan Ngapain aja di sana?" "Sekarang aja karena tempat tinggalku tidak jauh dari sini kamu lihat gedung yang menjulang tinggi di sana, Itulah apartemenku. kalau ditanya mau ngapain aja, kamu bebas mau ngelakuin apa aja di sana, karena kalian adalah tamu istimewaku." "Tapi kami berpakaian seperti ini?" "Tidak apa-apa, Siapa tahu saja ke depannya kita bisa berteman tanpa harus menggunakan pakaian yang rapi ketika mau bertemu, kalau kalian berkenan Ayo kita ke rumah sekarang." Kedua wanita itu saling menatap seperti saling berbicara di dalam hati, lama terdiam akhirnya Clarissa yang sudah terpikat oleh ketampanan dan kekayaan yang dimiliki mereka berdua memberikan kesanggupan untuk bertamu ke rumah. sehingga akhirnya mereka bertiga melanjutkan olahraga sebentar, kemudian menuju apartemen mewah yang menjulang tinggi di kota Jakarta. Kedua gadis itu terpana ketika pintu lift membuka diri, mengungkap pemandangan spektakuler dari penthouse mewah yang memukau. Dengan ekspresi penuh kekaguman, mereka melihat sekelilingnya, terpesona oleh dekorasi elegan dan jendela-jendela besar yang memperlihatkan panorama megapolis dari ketinggian. Langit-langit setinggi langit dan furnitur mewah menciptakan aura kemewahan yang sulit dijelaskan. Setiap detail tampaknya dipilih dengan cermat untuk menciptakan harmoni visual yang memukau. Cahaya alami memasuki ruangan dengan gemilang, menyoroti furnitur mahal dan seni-seni dinding yang menghiasi dinding. "Silakan duduk, sebentar saya ambilkan minum terlebih dahulu. Tapi maaf kalau agak berantakan soalnya saya tinggal sendirian " ujar Wira mempersilahkan kedua tamunya ketika berada di ruang yang berisi sofa. "Terima kasih, kenapa bisa tinggal sendirian di rumah sebesar ini. Apa kamu tidak kesepian?" "Pasti pasti aku sangat kesepian, penthouse ini merindukan sentuhan sosok wanita." Jawab Wira yang berjalan menuju ke belakang meja bar untuk menjamu kedua tamunya. Cindy yang awalnya terlihat cuek sekarang dia yang terlihat agresif mendekati Wira, Dia berjalan mengikuti lalu duduk di di kursi tinggi memperhatikan Wira yang sedang membuat minuman. "Memangnya kamu belum memiliki istri dengan kemewahan yang kamu punya?" "Aku belum menemukan yang cocok, yang seideologi denganku." "Kamu terlalu banyak memilih kali, atau kamu terlalu menutup diri, sehingga wanita yang akan mendekatimu sudah minder duluan." sahut Clarissa yang mengikuti duduk di samping temannya. "Aku tidak menutup diri dengan siapapun atau dengan wanita bagaimanapun. buktinya aku mengundang kalian untuk menikmati minuman dingin di rumahku, namun mungkin beginilah takdir yang harus kujalani." "Kasihan banget ya, terus kriterianya seperti apa?" Tanya Clarissa yang mulai menunjukkan ketertarikan. "Kriteria apa yang kamu tanyakan jawab?" Wira balik bertanya matanya sedikit menatap ke arah Clarissa yang terlihat Anggun sedikit menawan. "Ya mungkin dimulai dari fisik?" "Sebagai lelaki yang sudah berumur Aku tidak terlalu memandang fisik seorang wanita, yang aku inginkan hanyalah satu tujuan dan satu keinginan dalam membina rumah tangga." "Kira-kira dari diri kita berdua, Adakah yang termasuk dengan kriteria kamu?" "Semuanya masuk, namun aku tidak tahu dengan kalian, apakah kalian memasukkan aku sebagai calon pendamping hidupku "Kalau dari aku umur tidak terlalu dipermasalahkan, karena seorang pria semakin berumur terlihat semakin berkarisma." jawab Cindy dengan cepat takut keduluan oleh Clarissa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD