Menjamu Mereka

1186 Words
"Iya benar. apa yang diucapkan oleh temanku. soal masalah umur itu tidak perlu dipermasalahkan bagi laki-laki, karena yang terpenting dari sebuah pernikahan adalah kemapanan." Timpal Clarissa yang menyahuti perkataan sahabatnya. "Berarti aku masuk dalam kriteria kalian berdua?" tanya Wira sambil menggulung senyum Karena dia sudah bisa memastikan siapapun orang yang berkenalan dengannya dan melihat apa yang sudah ia miliki. maka tidak ada seorangpun yang berani menolak ketampanan dan kedigdayaannya. "Ah kamu suka bercanda, mana mungkin seorang CEO perusahaan yang sudah sangat terkenal mau dengan kami yang hanya bekerja sebagai SPG di salah satu toko pakaian." tanggap Cindy yang tergambar raut wajah pesimis, namun hidungnya sedikit mengembang ada kebanggaan yang terlukis di sana. "Tidak ada yang tidak mungkin, banyak cerita-cerita yang mempersatukan seorang pangeran ataupun seorang putri yang menikah dengan orang yang biasa. ini hanyalah masalah ketakutan yang tidak mendasar karena sejatinya cinta itu tidak memandang harta ataupun fisik, cinta akan mengalir begitu saja memenuhi dada." jawab Wira dengan mengulum senyum menunjukkan ketertarikan. "Kamu memang benar-benar hebat dalam berbicara. aku tidak yakin kalau tidak ada perempuan yang tidak tertarik denganmu, mungkin apa yang aku takutkan memang benar kenyataannya, kamu terlalu banyak memilah dan memilih seorang perempuan sehingga sampai saat ini kamu masih sendiri." Clarissa mengungkapkan kekhawatiran karena dari gaya berbicara dan sudut pandang Wira memanglah sang penakluk wanita. "Begitulah kehidupan yang tidak sesuai dengan pandangan mata orang lain. Kadang orang itu terlihat susah tapi kenyataannya bahagia, namun tidak sedikit yang kehidupannya sebaliknya, kadang dia terlihat bahagia namun banyak kesedihan yang mendalam. jadi kita tidak bisa menilai seseorang hanya dengan covernya saja, hanya dengan penampilannya saja." "Kalau kamu benar-benar tertarik dengan kita, siapa yang akan kamu pilih?" tanya Cindy yang sudah tidak memperdulikan lagi prasangka-prasangka buruknya, dia Ingin secepatnya memiliki Wira dengan seutuhnya. "Jangan hadapan aku dengan dua pilihan yang sangat susah. aku bingung memilihnya, seperti kita disuruh antara memilih berlian dan emas yang memiliki nilai yang sama. tapi Bolehkah aku bertanya?" "Bertanya tentang apa?" jawab Cindy sambil mengerutkan dahi matanya terus menatap ke arah pria yang sangat gagah dan tampan. Sebelum menjawab permintaan dari Cindy Wira pun memberikan dua gelas minuman yang baru saja ia buat, kemudian dia pun duduk menghadap ke arah kedua tamunya yang terlihat saling memamerkan ketertarikan, mata Wira terus menetap ke arah kedua remaja yang sangat cantik dan menggemaskan. "Minum dulu!" tawar Wira yang tak melepaskan senyum di bibirnya. "Terima kasih, Maaf sudah merepotkan. Terus apa yang ingin kamu tanyakan " jawab Clarissa yang terlihat Anggun dan menawan, tidak seperti Cindy yang agresif menunjukkan ketertarikan. "Kalau aku memilih dua-duanya apakah kalian mau menerimaku, karena sudah aku bilang bahwa kalian adalah pilihan yang paling sulit yang harus dipilih." "Waduh jangan gila, itu pemikiran macam apa, buang sejauh mungkin pikiran seperti itu. karena walaupun Kami berteman dan bersahabat Kami tidak akan Sudi berbagi suami." dengan segera Clarissa pun menolak bahkan Dia terlihat marah. "Ini kan hanya pertanyaan jangan terbawa emosi, aku benar-benar menyukai wanita-wanita seperti kalian, jadi kalau tadi disuruh untuk memilih maka aku akan memilih kedua-duanya." jawab Wira yang Tetap santai tanpa sedikitpun menunjukkan raut wajah bersalah, Apapun yang diucapkan hanyalah candaan Semata. "Kalau kita bisa saling berbagi dan hidup rukun ditambah ada kebahagiaan Kenapa kita menolak, karena menurutku apapun pernikahannya yang terpenting kita bisa hidup bahagia. biasanya yang dipermasalahkan dari poligami itu tidak ada kebahagiaan di antara mereka, Kalau pria bisa memenuhi keinginan dan kebutuhan seorang wanita yang terpenting dalam kebahagiaan. apa salahnya kita mencoba menjalaninya." jawab Cindy yang berbeda pendapat dengan Clarissa. "Benar, kalian berdua memang benar-benar sangat cantik dan sangat pintar, Kalian juga sudah memiliki Pemikiran yang sangat dewasa, aku tidak mungkin mengajak kalian hidup dengan pria tua sepertiku, karena aku yakin kalian lebih layak berbahagia dengan pria yang seumuran yang kalian cintai begitu tulus." "Ah kamu, malah bahas masalah umur lagi, sudah kita bilang umur tidak penting yang terpenting dari seorang pria adalah kedewasaan." jawab Cindy yang beralibi menyembunyikan kemapanan dan ketampanan dalam kata dewasa. Memang begitulah perempuan yang terlihat tidak ingin menuntut tapi sebenarnya mereka menginginkan kesempurnaan. Mereka berdua terus berlalut dalam obrolan obrolan masalah pribadi ataupun masalah umum, sehingga waktu pun tidak terasa terus melaju hingga akhirnya Cindy dan Clarissa pun berpamitan untuk pulang. tak lupa sebelum mereka berpisah mereka saling bertukar nomor handphone siapa tahu saja ke depannya bisa saling membantu. Kedua gadis yang baru pertama kali berkunjung ke rumah Wira, Mereka pun dengan sedikit berat hati meninggalkan penthouse yang begitu megah dan mewah. dalam hati mereka berdoa agar suatu saat bisa kembali ke tempat itu bukan sebagai seorang tamu, melainkan sebagai seorang istri dari pria yang kaya, walaupun Wira sudah berumur dan mungkin beda belasan tahun, tapi Wira tetap menunjukkan karismatik seorang pria yang begitu dewasa. "Kalau aku bisa menjadi istrinya, Aku tidak akan melupakanmu, Aku akan mengajakmu tinggal di sana di istana yang sangat megah. namun sebaliknya kalau kamu yang menjadi pilihan dari pria kaya itu, maka kamu tidak boleh melupakan sahabatmu yang sangat miskin ini." ujar Cindy ketika mereka berjalan pergi meninggalkan apartemen termewah di kota Jakarta. "Ah kamu jangan terlalu percaya diri dengan pria seperti itu, Aku yakin bukan hanya kita saja yang menginginkan hidup bersama pria mampan dan tampan, Pasti banyak wanita di luar sana yang mungkin akan sama derajatnya dengan Arfan yang tergila-gila dengan ketampanan dan kesuksesan. Jadi itu hal yang tidak masuk akal Kalau Arfan memilih salah satu dari kita, wanita yang hanya bekerja sebagai seorang SPG dan tinggal di kontrakan kecil." jawab Clarissa yang tidak terlalu optimis seperti sahabatnya. "Apa kamu tadi tidak dengar kalau banyak cerita-cerita seorang wanita yang biasa saja, dinikahi oleh seorang pangeran." "Itu hanyalah cerita bukan dari kenyataan, dan belum bisa dibuktikan kebenarannya. yang jelas wanita itu selalu dijadikan b***k bagi para penguasa yang sedang memimpin, hanya dijadikan b***k pemuas nafsu itulah yang faktanya." "Kamu kayaknya terlalu parno dengan orang-orang kaya, apa salahnya kita mencoba menjalin hubungan dengan pria kaya dan tampan. Siapa tahu saja cerita itu bisa menjadi kenyataan." "Terserah kamu, aku tidak mau ikut-ikutan. aku hanya menitip pesan supaya kamu tetap berhati-hati tidak mudah terbujuk rayu oleh kata-kata dan janji manisnya." Mereka berdua pun terus melanjutkan perjalanan kemudian naik busway untuk menuju ke kontrakan. Sesampainya di sana Mereka pun membersihkan tubuh dari keringat-keringat yang masih menempel, akibat berdesak-desakan dengan para penumpang lainnya. Cindy yang tadi menyimpan nomor Wira, ketika temannya berpamitan untuk tidur siang dia keluar dari kosan kemudian duduk di depan, Suasana panas yang menyengat tubuh tidak terlalu dihiraukan. "Halo Arfan, kamu lagi ngapain?" tanya Cindy ketika teleponnya terhubung dengan Wira. "Aku lagi di rumah aja Cindy, ada apa?" "Enggak Aku hanya ingin mengobrol saja denganmu karena di kosan aku sedang sendirian, sahabatku Clarissa sedang tidur siang." "Kenapa kamu tidak tidur siang. Bukannya itu bagus untuk kesehatan?" "Aku merasa gerah karena kipas angin hanya satu, kalau tidur siang di tempatmu mungkin itu lebih nyaman." entah angin apa yang merasuki wanita itu sehingga dia berbicara seperti orang yang kurang berpendidikan. "Emang kamu mau ke sini lagi, Emang kamu nggak capek?" "Pertanyaannya bukan begitu. emang aku boleh main ke situ lagi sendirian untuk menumpang tidur siang?" "Boleh, boleh. Sebentar aku pesankan taksi online, supaya kamu tidak kepanasan ke sininya. Oh ya kirimkan saja lokasinya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD