ELF

1139 Words
“Cengar-cengir, ketempelan jin mana lo?” tegur Daffin ketika melihat sahabatnya yang sedari tadi tersenyum. Jika biasanya Sagara terlihat manis ketika tersenyum, tetapi kali ini menjadi sedikit seram. Pasalnya, sejak bocah gingsul itu tiba di kelas, dia tidak berhenti tersenyum dan tertawa. Apabila buku yang dibaca adalah komik, mungkin itu bisa jadi alasan. Namun masalahnya, buku yang dibaca Sagara saat ini adalah buku materi pelajaran bahasa Inggris. Di mana letak lucunya? Merasa diabaikan, Daffin melempar pensil di genggamannya hingga mengenai kepala Sagara. “Astaghfirullah, kaget!” Sagara terlonjak ketika sebuah pensil terlempar ke kepalanya. Bocah itu buru-buru menutup mulutnya ketika sadar bahwa suaranya terlalu keras. Guru yang mengajar sampai menoleh. “What’s wrong, Sagara?” tanya Pak Salman, guru bahasa Inggris yang sedang menjelaskan materi di depan kelas. Sagara kelabakan ketika sang guru menegurnya. Bocah itu menggeleng dan menjawab dengan terbata, “No–nothing, Sir.” “Okay, kalau begitu jangan berisik ketika guru sedang menjelaskan. Got it?” “Yes, Sir.” Melihat kawannya ditegur, Daffin tak kuasa menahan tawa. Bocah itu sampai membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara yang bisa mengganggu kenyamanan kelas. Dia baru berhenti tertawa setelah Sagara menatapnya dengan muka masam. “Lagian dari tadi diajak ngomong malah cengar-cengir. Gue khawatir lo gila di usia muda,” sahut Daffin masa bodoh. Bocah itu mengorek telinga seolah-olah di dalam sana terdapat benda yang mengganjal. “Makanya kalo ada masalah tuh curhat, jangan dipendam sendiri,” imbuhnya kemudian. Paham akan tabiat kawannya, Sagara memilih untuk mengabaikan kelakuan Daffin. Dia masih tenggelam dalam euforia kemarin. Meski ada sedikit luka, tetapi dia juga mendapat bahagia. Entahlah, Sagara bingung. “Tuh, ‘kan nyengir lagi.” Daffin memukul bahu teman sebangkunya sedikit keras. “Woy, jomblo! Sadar, istigfar! Lu kesambet apa, sih? Cerita buruan!” sentaknya tak sabar. Dia bisa ikut gila jika terus melihat Sagara tersenyum tanpa sebab. Sadar jika tingkahnya membuat Daffin ngeri, Sagara akhirnya berhenti tersenyum dan membalas pertanyaan kawannya. “Oke, oke. Gue diem,” balas Sagara mulai menetralkan ekspresinya. Bocah itu lantas memainkan penghapus karet di atas meja dan mulai bercerita. Daffin menjadi pendengar yang cukup baik ketika Sagara menceritakan hari libur kemarin bersama sang ibu. Dia menangkap beragam ekspresi yang Sagara berikan ketika menceritakan kegiatannya kemarin lusa. Senang ketika ibunya berlaku manis dan sedih karena manis itu memiliki tujuan terselubung. “Tapi daripada sedih, lebih banyak senengnya, sih. Karena Mama baik banget kemarin, hahaha,” pungkas Sagara di akhir cerita. “Baguslah kalau gitu. Semoga Tante Luna cepet buka hati. Lagian gue juga heran, kenapa beliau bisa sebenci itu sama lo.” Daffin menggaruk tengkuknya. Sagara mengangkat bahu. “Wajar aja, sih. Hati manusia susah ditebak, hari ini mungkin nyokap masih benci sama gue. Tapi nggak tahu sepuluh tahun ke depan, setelah gue sukses mungkin pemikiran Mama bisa berubah,” sahutnya enteng. Dia tidak mau terlalu memikirkan berapa lama Luna membencinya, yang penting dia akan selalu berbakti apapun yang terjadi. Kondisi belajar mengajar berlangsung sangat tenang ketika tiba-tiba pintu kelas XI IPS 2 diketuk oleh seorang siswa dari kelas lain. “Ada apa?” Pak Salman merasa terganggu ketika orang itu mengetuk pintu cukup keras. Siswa laki-laki yang tengah menggunakan seragam olahraga itu menjawab, “Maaf, Pak. Saya mau kasih tahu sama Kak Sagara kalau adiknya pingsan. Sekarang ada di UKS, Pak.” Hanya ada satu nama Sagara di sekolah ini. Siapa lagi kalau bukan cowok bergigi gingsul yang duduk di samping Daffin. Bocah itu langsung mengangkat kepala mendengar kabar itu. Pak Salman yang sudah tahu hubungan saudara itu lantas angkat bicara. “Ya sudah, Sagara bisa tengok dulu kondisi adiknya. Setelah itu kembali lagi ke kelas, mengerti?” pesan pria paruh baya itu. Setelah mendapat izin, Sagara kemudian meninggalkan kelas dengan teman Elio tadi. Tak lupa ia juga meminjam kunci motor Daffin, untuk jaga-jaga jika saja ia harus mengantar sang adik untuk pulang. Setibanya Sagara di UKS, Elio sudah membuka mata. Hanya saja wajah bocah itu tampak pucat dan lesu. Dalam perjalanan menuju UKS tadi, Sagara sudah mendengar bahwa hari ini kelas Elio sedang mengadakan pengambilan nilai untuk lari maraton. Dugaan sementara, Elio kelelahan karena harus berlari mengelilingi lapangan sebanyak dua kali. “Kenapa bisa sampai pingsan gitu, sih, El? Lu pasti kecapekan gara-gara kemarin latihan terus,” celetuk Sagara begitu sampai di hadapan adiknya. Sosok yang dikawatirkan justru menampilkan cengiran tanpa dosa. Bocah itu meneguk air mineral yang temannya belikan dan menggunakan sobekan sampul buku tulis untuk mengipasi dirinya yang kegerahan. “Iya, iya. Maaf gue yang salah,” sahutnya kemudian memijit pelipis. “Kebiasaan! Ya udah, Gerry tolong bawain tas Elio ke sini, ya? Gue bikinin surat izin pulang, deh.” Melihat wajah Elio yang tanpa rona, Sagara tidak tega. Gerry adalah siswa yang memberi kabar pada Sagara sekaligus merupakan teman sebangku Elio. Cowok berambut cepak itu mengangguk dan meninggalkan ruang bernuansa putih itu. Sementara itu, Elio perlahan mengubah menjadi duduk di tepi ranjang. Bocah itu mengamati gerak-gerik kakaknya yang tengah membuatkan surat izin. Terlihat lucu karena bibir Sagara berkomat-kamit ketika tangannya bergerak lincah memainkan pulpen di atas kertas. Tak butuh waktu lama, Sagara selesai menulis surat dan Gerry membawakan tas Elio. Dua bersaudara itu pergi ke tempat parkir untuk mengambil motor milik Daffin. Usai menyerahkan surat izin pulang, Sagara mengendarai motor sahabatnya dengan panuh kehati-hatian. Pasalnya bocah itu juga tak tarlalu mahir mengemudi. Dia terpaksa meminjam motor, karena Sagara takut Elio akan merasa tidak nyaman jika mereka pulang dengan bus. ??? Kepulangan Elio disambut dengan reaksi panik Luna yang sedang memanen sayuran di kebun kecilnya. Wajah Elio yang sedikit mengantuk membuat wanita itu semakin khawatir. Wanita itu lantas memapah si bungsu menuju kamarnya untuk istirahat. Niat awal, Sagara akan langsung kembali ke sekolah. Namun, panggilan Luna menghentikan langkahnya. Ia menunggu sang ibu hingga wanita itu berdiri di hadapannya. “Kenapa El bisa sampai pingsan gitu?” tanya Luna dengan nada penuh telisik. “Kayaknya karena kemarin El kecapekan pas latihan futsal. Dia kalau udah semangat latihan bisa lupa waktu, Ma. Dan lagi, hari ini dia pengambilan nilai buat lari maraton. Keliling lapangan dua kali, jadi deh pingsan,” terang Sagara. Cowok itu sudah bersiap jika Luna anak memakinya. Luna manggut-manggut mendengar jawaban Sagara. Wanita itu seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung dan mengambil tas Elio dari tangan Sagara. “Oke, kalau gitu kamu bisa kembali ke sekolah. Biar Mama yang urus Elio. Lagi pula kalau kamu di rumah juga cuman nambah beban pikiran Mama,” pungkas Luna kemudian. Tak menunggu jawaban Sagara, wanita itu bertolak kembali ke kamar si bungsu. Meninggalkan Sagara yang hanya bisa mengelus d**a dengan perlakuan ibunya. Cowok itu juga tak mau berlama-lama di rumah karena jam istirahat kedua akan segera tiba. Dia harus tiba di sekolah sebelum bel berdering. Atau jika tidak, dia akan terjebak macet karena jalanan akan ramai dengan pengendara yang sibuk mencari tempat untuk makan siang. ???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD