Bunyi musik dari ponsel yang terhubung ke speaker membuat kegaduhan di dalam kelas semakin menjadi. Riski mengambil sebuah mikrofon bekas yang berada di balik laci meja guru dan berdiri di depan papan tulis.
“Kalau cinta sudah membara ….” Riski mengarahkan mikrofon ke arah teman-temannya.
Sekelompok siswa laki-laki yang menaruh fokus pada Riski balas bernyanyi. “Aha-aha ….”
Riski kembali mendekatkan mikrofon mati itu ke dekat bibirnya. “Rindu jadi menggebu-gebu ….”
“Uhu-uhu ….”
Mendapat respons positif dari kawan-kawannya, Riski semakin semangat.
“Janji-Janji seribu janji!”
“Ihi-ihi ….”
Cowok itu menarik napas dalam-dalam dan bernyayi penuh semangat. “Janji apel di malam ini~”
Seakan konser akbar, Riski dan teman-teman lainnya bernyanyi tanpa peduli jika yang dihasilkan serak dan meru*sak suasana hati orang lain.
Tak cukup dengan kegaduhan dari Riski, di sisi kelas bagian belakang terdapat Sagara dan lima siswa lainnya sedang saling mengoper bola. Menjadikan sisi belakang ruang kelas itu menjadi sebuah lapangan super mini untuk bermain.
Kericuhan seperti ini tidak mungkin terjadi jika itu hanya jam kosong. Rapat besar yang melibatkan nyaris semua guru di sekolah lah yang membuat kondisi setiap kelas jadi tak terkendali. Meski sudah diberi tugas, tak sedikit dari mereka yang abai dan memilih untuk bermain. Berbeda dengan Sagara, bocah itu sudah lebih dulu mengerjakan tugas yang diberikan sebelum akhirnya bermain bola di dalam kelas.
“Aduh, kam*pret!” pekik salah seorang siswi. Kepala gadis itu terkena bola yang tak sengaja lolos dari tangkapan Sagara.
Sagara buru-buru mengambil bola yang mendarat di atas meja.
“Eh, Sorry, Ris. Nggak sengaja,” ujarnya meminta maaf.
Siswi bernama Risma itu mendengkus kesal. “Nggak sengaja jidat lo jenong! Di mana-mana main bola tuh di lapangan, bukan di kelas,” sungut gadis itu marah.
Sagara refleks mengelus dahinya dan mendesis ngilu. “Jahat amat sama temen. Dahi gue udah sempurna bagai purnama gini dikata jenong,” balasnya yang justru mendapat tatapan membunuh dari Risma dan beberapa teman perempuan lain.
Tidak mau mengambil risiko lebih karena sudah berurusan dengan siswi di kelasnya, Sagara memilih kembali menendang bola ke arah Daffin. Mereka terus bermain tendang bola meski tak sedikit dari teman-teman perempuan protes.
Sampai lelah, mereka akhirnya memasukkan bola kembali ke tempat penyimpanan dan berbaring layaknya ikan asin di lantai. Mengabaikan seragamnya yang kotor dan keringat menyatu dengan debu.
“Kantin, yuk, Ga!” ajak Daffin yang terbaring di samping Sagara. Keringat bocah itu sampai membuat rambutnya menjadi lepek.
Sagara mengubah posisi menjadi duduk. “Gas!” sahutnya lebih dulu bangkit dan memacu langkah.
Hanya bermain bola dalam kelas dan tak terkena terik sinar matahari pun ternyata begitu menguras tenaga. Dua sekawan itu langsung membeli minuman kemasan yang tersimpan di lemari pendingin. Niat awal, Sagara ingin duduk-duduk di bangku kantin, tetapi Daffin menolak.
“Meski ini jam kosong, Bu Mel bakal tetep keliling cari mangsa. Masih mending kalau yang dimarahi sekelas. Lah, ini Cuma berdua, hukumannya pasti makin nggak-nggak, deh,” sergah cowok jangkung itu ketika Sagara bersikeras untuk duduk di kantin.
Terdengar helaan napas dari Sagara karena niat untuk tiduran di kantin terhalang oleh guru galak itu.
“Ya terus kita mau ke mana? Gue males balik ke kelas, pasti masih rame sama konser si Riski. Mana panas gini, gue pengin di tempat yang adem,” keluhnya pasrah.
Senyum miring menghiasi bibir Daffin. Bocah itu merangkul bahu sahabatnya, ada ide yang lebih bagus daripada menempatkan diri dalam bahaya karena tidur di kantin.
“Ke roof top aja. Kalau cuman angin mah lu bisa ngadem sampai masuk angin,” pungkasnya dan menunjukkan ke salah satu gedung. Tempat di mana ia dan Sagara mampir untuk menghabiskan waktu ketika membolos.
Saran Daffin tentu membuat Sagara antusias seketika. Tanpa berpikir dua kali, cowok itu mengangguk.
“Oke, sip.”
Atap yang dimaksud Daffin berada di sisi gedung selatan. Hanya perlu melewati dua lorong agar keduanya sampai ke tujuan. Tempatnya cukup strategis untuk membolos karena jarang ada guru yang berpatroli ke gedung yang memang sebagian masih kosong.
Angin tak terlalu kencang ketika mereka sampai, dan langit tampak biru nyaris tanpa awan. Daffin mengeluarkan sebungkus rokok beserta pemantik dari dalam saku celananya. Mengambil satu batang benda mengandung nikotin itu dan menyulut ujungnya dengan api.
Dengan begitu santai, pemuda itu mengisap rokok dan mengembuskan asapnya ke udara. Rasa manis yang melekat di bibir membuat Daffin merasa senang. Remaja itu terus mengisap batang bernikotin itu sampai-sampai melupakan jika di situ juga ada orang selain dirinya.
“Lo mau sampai kapan, sih, ngerokok terus?” celetuk Sagara yang lama-lama terganggu dengan asap rokok milik Daffin.
Si pelaku terkekeh pelan dan mengetuk ujung rokok hingga abunya terjatuh.
“Emang kenapa? Ada masalah?” tanya cowok jangkung itu dengan santai. Netranya menatap tiga lapangan out door sekolah yang bisa dia lihat dari gedung tiga lantai itu.
Sagara mengikuti arah pandang Daffin dan menjawab, “Nggak juga. Cuman gue kasihan sama paru-paru lu, masih muda udah penyakitan.”
Mendengar jawaban itu, Daffin terbahak. Dia tahu, kawannya ini tak pernah setuju dengan keputusan Daffin untuk menjadi seorang perokok. Namun, cowok gingsul itu juga tidak bisa memaksanya untuk berhenti.
Daffin menjatuhkan telapak tangannya ke pundak Sagara. “Tenang aja, soal itu gue udah perhitungkan, kok. Sebelum kita masuk universitas, gue janji berhenti ngerokok,” timpalnya santai.
“Simpen aja janji itu buat diri sendiri, gue nggak butuh. Kalau mampus juga tinggal ngelayat,” tukas Sagara dan menepis tangan Daffin dari bahunya.
Lagi-lagi Daffin tergelak mendengar penuturan sahabatnya. Sagara ini terlalu polos untuk remaja seusianya. Apalagi di zaman milenial seperti ini, bocah SD pun bisa sepintar orang dewasa.
“By the way, gimana kabar Elio? Katanya kemarin pingsan. Hari ini nggak masuk, ya? Gue lihat tadi lo turun dari bus sendirian.” Daffin mengalihkan topik yang mulai tidak nyaman dibicarakan.
Pertanyaan Daffin justru menambah mendung di wajah Sagara semakin pekat. Remaja itu menghela napas sembari memainkan botol minuman yang sedari tadi ia genggam.
“Oh, dia udah baikan. Cuma ya gitu, Mama selalu overprotektif kalau sama dia. Hari ini sebenernya itu bocah mau masuk, tapi Mama malah suruh dia absen.” Sagara menatap langit dan lagi, bocah itu menghela napas. “Gue udah berusaha tahan perasaan ini, tapi kayaknya nggak bisa. Sebenernya gue iri, Fin. Kita sama-sama lahir dari satu rahim, tapi Cuma gue yang nggak disukai,” ujarnya sendu.
Dalam hati, Daffin mengutukk dirinya sendiri. Topik pembicaraan yang ia ambil bukannya membuat Sagara senang, justru malah menambah mendung di wajah bocah itu. Kini dia hanya bisa menjadi pendengar ketika sahabatnya mulai mengeluarkan keluh kesahnya.
“Kemarin juga pas gue balik dari sekolah, Elio sempat demam. Mama dateng ke kamar, beliau marah-marah dan nyalahin gue. Lagi-lagi bahas soal bokap kandung gue yang bikin Mama tersiksa. Gue nggak masalah, sih, soal itu. Tapi lama-lama sakit aja rasanya, dijadikan tempat pelampiasan kesalahan yang sama sekali nggak gue perbuat,” curhat Sagara.
Hanya mendengar saja Daffin sudah merasa nyeri, bagaimana dengan Sagara yang berada di posisi itu?
“Lo bisa sekuat dan sesabar ini bikin gue salut, Ga. Seharusnya orang kayak lo ini berhak bahagia,” bebernya ketika sang kawan menyudahi sesu curhatnya.
Sagara mengangguk. “Aamiin. Gue cuman harus lebih sabar lagi, pasti Allah udah sediain alurnya,” sahut bocah itu tersenyum kecil.
Ponsel di saku Daffin berdering, menginterupsi percakapan keduanya. Cowok jangkung itu melempar puntung rokok yang tersisa separuh ke bawah dan menginjak ujung baranya dengan sepatu.
“Halo, apaan?” tanyanya pada sosok di seberang telepon.
“Guru mapel selanjutnya udah dateng. Lo berdua buruan balik!” Adalah Dimas yang menghubungi Daffin.
“Oh, oke. Kita otw.”
Daffin mengakhiri panggilan dan menatap Sagara. “Balik, yuk. Gurunya udah ada.”
Usai memastikan jika api rokoknya benar-benar padam. Kedua siswa berseragam itu lantas meninggalkan atap gedung tiga lantai itu. Daffin menjadi orang pertama yang sampai ke lantai satu setelah berlomba lari menuruni tangga dengan Sagara.
“Nggak waras! Gue capek, anjir!”
Daffin tertawa puas melihat sahabatnya yang memarahinya dengan napas putus-putus karena lelah menuruni tangga sembari berlari. Sementara si korban mencari pegangan untuk berdiri, kakinya gemetar. Merasa bersalah Daffin membantu Sagara untuk berjalan. Setidaknya sampai kekuatan remaja itu terkumpul sepenuhnya.
Ketika asyik bergurau, seseorang tiba-tiba menyapa.
“Hei, kalian kenapa ada di sini?” tegur seorang gadis di depan pintu kelas.
Sagara dan Daffin langsung menghentikan kegiatan bercanda mereka. Keduanya membenarkan letak dasi dan seragam yang acak-acakan karena saling menarik lengan.
“Oh, hai. Kita kebetulan lewat aja, kok.” Sagara lebih dulu merespons pertanyaan gadis yang ternyata adalah Sabrina.
Gadis berponi itu mengangguk, pasalnya ini adalah area untuk jurusan IPA. Padahal setahu Brina, dua sekawan ini adalah murid kelas IPS.
Sabrina kemudian mengangguk. “Btw … makasih buat bantuannya tempo hari, ya. Sorry juga karena gue marah-marah nggak jelas, hehe,” tukasnya malu-malu.
“Oh, oke. Nggak apa-apa,” jawab Sagara. Cowok itu kembali melangkah disusul dengan sang sahabat.
Sementara itu, Daffin yang melihat interaksi keduanya merasa gemas. Bocah itu ingin sekali mendorong Sagara agar menempel pada Sabrina. Namun urung, karena ia masih cukup waras untuk menjaga reputasi kawannya.
“Fiks … Sabrina ada rasa sama lo,” bisiknya pada Sagara.
Tanpa diberitahu pun, Sagara cukup peka untuk mengerti gelagat gadis tadi. Akan tetapi, bukannya senang yang ia rasakan sekarang, melainkan khawatir.
“Makasih buat dugaannya, tapi gue malah nggak enak hati, njir.” Sagara mendesah kesal.
Kenapa dia harus menarik perhatian seorang gadis di saat kehidupan tenang masa SMA lebih ia dambakan?
***