NEGENENTWINTIG

2003 Words

Luka hasil huru-hara semalam nyatanya memberi efek sakit di pagi hari. Bahkan untuk menggerakkan jemarinya saja Sagara harus terus-terusan merintih. Dia tidak yakin jika hari ini bisa masuk sekolah. Setelah salat Subuh, bocah itu termenung di tepi ranjang dengan mata tertuju pada tangan. "Jangankan ke sekolah, gue juga nggak bisa bantu Mama siapin sarapan kalau kayak gini caranya," ujarnya bermonolog. Namun, anehnya meski tak kunjung keluar kamar, Luna sama sekali belum menggedor pintu. Padahal biasanya, wanita itu langsung naik darah ketika Sagara tak kunjung muncul dan membantunya menyiapkan sarapan. Bukannya senang, Sagara justru khawatir jika sang ibu bangun kesiangan. Mengabaikan rasa malas dan sakitnya, bocah itu memutuskan untuk bertolak ke dapur. Berharap dugaannya salah.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD