bc

ARZETA

book_age18+
1.4K
FOLLOW
8.7K
READ
second chance
pregnant
badboy
goodgirl
drama
sweet
bxg
enimies to lovers
addiction
shy
like
intro-logo
Blurb

Lika-liku kehidupan tidak ada yang mengetahuinya, begitu juga dengan Arzeta Maharani di umurnya yang masih 24 tahun harus menerima luka yang bertubi-tubi. Latar belakangnya yang sudah lama ia tahu tetapi berusaha tak ambil pusing dengan gunjingan-gunjingan dari sekitarnya yang silih berganti.

Lelaki yang ia sukai juga menolaknya mentah-mentah dengan alasan berbagai alasan yang menjatuhkannya. Selain itu laki-laki itu pula yang menghancurkan hidupnya karena seteguk alcohol membuat mereka terlibat insiden, Arzeta hamil dan Genta tidak mau bertanggung jawab ia tidak mau mempermalukan keluarganya dan juga menghancurkan karirnya sampai ia memakai cara keji.

Arzeta mengalah memilih berlindung dalam rengkuhan kasih sayang ibunya, sampai Genta muncul kembali menjadi sosok yang jauh berbeda dari Genta yang dulu. Genta melihat bagaimana Arzeta yang begitu tegar tetap membesarkan janin yang ia kandung diusia mudanya. Genta datang kembali Menawarkan ketulusan, cinta untuk memperbaiki hati Arzeta yang sudah hancur berkeping-keping? Akankah Genta berhasil mengambil hati Arzeta? Akankah Arzeta melihat ketulusan hati Genta untuk kembali masuk dalam hidupnya?

chap-preview
Free preview
DUA LANTAI
Memilih menghilang bak ditelan bumi demi tetap bisa hidup dibawah lindungan ibunya yang hatinya benar-benar sekuat baja, Arzeta benar-benar bergantung pada ibunya tidak ada tempat ia bersanding seiiring perutnya yang semakin bucit. Bak sebuah kertas yang menutupi lubang, satu lubang ditutup tumbuhlah lubang yang lain. Mila memutuskan menutup kedua telinganya dari berita tentangnya yang simpang siur, kedua tangannya tidak cukup untuk menutup semua mulut yang membicarakannya bukan masalah untuk dirinya, ia hanya tidak mau Arzeta mendengar dan tidak menghadapinya. hidup yang hancur itu seperti apa, layaknya sesuatu yang diambil paksa atau harus tetap berjalan dengan kaki diatas serpihan kaca. hidup yang terombang ambing demi menghindari beberapa ucapan yang membuat naluri benar-benar terputus. dikelilingi aib dimana-mana tetapi tetap harus bertahan hidup!  Lelaki itu menunggu seseorang di dalam toilet perempuan, berkali-kali ia mengigit kukunya matanya menatap cemas sekitar. Seperti seseorang yang mengalami depresi ia mondar-mandir dengan setia menunggu seseorang di dalam untuk keluar.  “Kamu nggak minum obat itu kan?” Bentak Genta dengan mata yang memerah dan nafasnya memburu.  “Kamu pikir hidup dan karirku tidak hancur? Aku yang lebih dirugikan disini!” Tandas Zeta kemudian menekan tombol lift membuat Genta terdiam mendengar suara Zeta yang tak lagi bergetar namun justru terdengar sedang menggertaknya.  “Kalau lelaki b******n itu tidak mau bertanggung jawab, ataupun kamu takut mencoreng nama baik keluarga. Mamah tegaskan apapun yang terjadi jangan aborsi bayi yang tidak berdosa di dalam rahimmu!!!” Ucap Mila penuh penekanan, berapi-api dalam kata demi kata.  Story Beginning.....  Langit yang cerah di buan Februari, itu seharusnya kenyataannya benar-benar berbanding terbalik dengan fakta yang ada. Hari ini, langit begitu mendung memberikan sebuah tanda bahwa hari ini kota besar di wilayah itu akan diguyur hujan yang deras. Seorang gadis yang berumur 23 tahun, karyawan swasta di salah satu kantor cabang sebuah perusahaan, di bidang makanan. Ia tengah bersiap-siap di depan cermin, menata penampilannya yang cukup sederhana. Sebuah kemeja dengan celana, riasan make up yang hanya bermodal bedak dan lipstick yang tidak terlalu mencolok, warnanya bahkan hampir sama dengan warna bibir tipis dan mungilnya. Beberapa orang mengatakan sosok yang memiliki bentuk bibir tipis itu adalah sosok yang banyak bicara. Kenyataannya tidak, gadis yang sedang membereskan tasnya itu justru tampak pendiam dengan segala beban yang ia sembunyikan di kepala kecilnya itu. “Jangan hujan!” Bisiknya begitu ia menatap langit yang begitu gelap tak seperti seharusnya. Gadis itu segera menuruni tangga, menghampiri ibunya yang juga sedang bersiap untuk datang pergi bekerja juga. “Jangan lupa bawa payung Ta!” Ucap perempuan paruhbaya itu, sambil menyodorkan nasi bekal untuk anak semata wayangnya. “Iya! Zeta tahu! Nanti ibu nggak usah jemput, Zeta mau bareng sama temen Zeta aja!” Ucap gadis yang ternyata bernama Arzeta Maharani tertera di tanda pengenal karyawan yang ia pakai. “Teman yang mana? Yang kemarin nganterin?” Tanya Mila, sosok orang tua tunggal Zeta menggoda putrinya yang hanya mencebikkan bibirnya. “Dia siapa sih Ta?” Tanya Mila mulai ingin tahu sesuatu hal, Mila tahu teman laki-laki yang hampir setiap hari mengantarkan anaknya itu adalah sosok special di hati putrinya hanya saja sepertinya putrinya tidak mau bercerita. “Temen kantor Zeta, temen biasa juga! Kebetulan arah rumahnya searah aja gitu. Daripada ibu putar balik jemput Zeta ya kan?” Ucap Zeta menatap mata cokelat ibunya, berusaha menyakinkan ibunya bahwa apa yang difikirkan ibunya itu salah. “Terserah kamu deh, Ibu berangkat dulu ya!” Ucap Mila begitu melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul hampir jam tujuh. Perempuan paruh baya itu keluar begitu saja, Zeta berjalan menuju jendela rumahnya. Rumah yang cukup mungil, hanya ada beberapa ruang di dalamnya. Rumah yang ia kontrak selama ia mulai bekerja disini. Mereka tidak mempunyai rumah yang asli hak mereka sendiri. Hidup keduanya lontang lantung kemana Zeta bekerja, ibunya akan mengikutinya. Perbedaan umur yang tidak wajar diantara keduanya sering dikira bahwa Zeta dan Mila adalah saudara bukan antara ibu dan anak. Perbedaan umurnya terlihat tidak normal seperti hubungan anak dan ibu pada umunya, tapi Mila benar-benar mampu menghidupi putri semata wayangnya sendirian tanpa bantuan suaminya. Kehadiran suaminya sepertinya tampak tak terlalu berarti meski pada suatu malam ia akan merindukan sosok suami yang telah lama meninggalkannya. Apakah ia pantas disebut sebagai sosok suami sedangkan pada kenyataannya tidak terjadi pernikahan di antara keduanya. Ceritanya begitu panjang, sampai jadilah sosok Arzeta yang begitu kuat. Siapa bilang, tidak ada yang menggunjingkan tetapi sampai gadis itu berumur 23 tahun gadis itu bisa melaluinya. Arzeta beberapa kali melihat jendela rumahnya menunggu patnernya berangkat kerja datang menjemputnya. Begitu yang ditunggu datang, Zeta segera menenteng tas ranselnya dan helm Zeta menghampiri sahabatnya yang berbeda kantor itu dengan senyum cerianya. Irana, sahabat Zeta yang menerima apa adanya, meski ia tahu betul hidup Zeta yang begitu kacau namun gadis itu tetap menemani Zeta. Bahkan dunia runtuh dan tidak memihak Zeta, Ira tetap menemaninya. “Ira!” Sapa Zeta kemudian segera duduk di jok belakang. Ira perlahan menarik gas sepeda motornya, ia melaju dengan kecepatan yang sedang. Sambil menikmati cuaca yang sedikit gelap sepertinya cahaya sang mentari datang terlambat hari ini. “Ta! Nanti kalau gue lembur gue nggak bisa jemput ya!” Ucap Ira sambil pandangannya tetap focus ke depan. “Iya! Nanti gampanglah!” Senyum Zeta padahal ia tahu harus bagaimana jika Ira tak bisa mengantarnya pulang hari ini. Zeta benar-benar beruntung memiliki sahabat layaknya saudara sendiri, sekian lama Zeta bahkan tidak pulang ke tempat ia dilahirkan dikeluarga ibunya sepertinya gadis itu sedikit di tidak percaya diri terlebih cucu neneknya semuanya cukup berhasil. Selain merasa beruntung, Zeta juga sangat berutang budi pada segala yang diberikan Ira kepadanya, tidak tanggung-tanggung. Zeta turun dari motor melambaikan tangan pada Ira yang melesat pergi meninggalkan kantor Zeta. Zeta masuk menenteng helmnya, baru saja di parkiran sebuah motor berhenti di hadapannya. Tanpa menoleh, Zeta mengetahui siapa yang tengah berhenti disampingnya itu. siapa lagi jika bukan Genta Nugroho, seniornya di kantor, selain itu sosok yang lama dalam benaknya. Awalnya hanya sebatas rekan kerja, Zeta mulai terbawa suasana hati dan mulai muncul benih-benih cinta disana. Sayangnya cerita cinta pertamanya ini tidak semulus cerita novel yang terbalaskan. Sebatas kagum, kemudian perjuangannya dianggap sebuah sikap yang agresif bagi Genta membuat Genta justru menjauh namun sikap ceria Zeta justru semakin membuatnya merasa ilfeel. Baru saja Zeta akan menyapa Genta yang melepas helmnya, Genta segera beranjak dari motornya dan menjauh begitu saja segera menyusul Dicky sahabat karibnya yang kini menoleh dengan lirikan seperti menyepelekan Zeta. “Dicky! Tungguin gue lah!” Ucap Genta yang sudah siap siaga untuk menghadang agar Zeta tidak mengatakan sepatah katapun kepadanya. Dan benar saja, bibir Zeta langsung tertutup rapat baru saja bibirnya membuka suara Genta benar-benar mengurungkan niatnya hanya untuk menyapa. Semuanya berubah begitu laki-laki yang umurnya lebih dari tua dari Zeta itu mengetahui apa yang disembunyikan Zeta dalam hatinya, tiba-tiba ia menjadi sosok lelaki yang arogan, dingin dan selalu menatap tajam bak panah yang disuntik kebencian sebelumnya. Zeta masih menatap Dicky dan Genta yang berjalan perlahan menjauh di lorong, hingga sampai di belokan sempat menatap belakang dan tersenyum mengejek pada Zeta membuat alih-alih marah justru ia hanya memanyunkan bibirnya sedikit kesal dengan Dicky yang sangat dengan sengaja agar Genta segera menyingkir dari hadapannya. Zeta berjalan memasuki ruangannya, sebagai seseorang yang paling terakhir menjadi karyawan di kantor. Membuatkan secangkir kopi untuk rekan kerjanya sudah biasa Zeta lakukan, sebenarnya teman-temannya tidak menyuruhnya hanya saja Zeta inisiatif, terlebih ini menjadi jalan satu-satunya untuk menarik simpati lelaki idamannya, Genta Nugroho yang sikapnya perlahan berubah semenjak mengetahui perasaan Zeta. Meski tidak secara langsung namun Zeta tetap saja tidak bisa bersikap biasa saja kembali seperti dulu. Ia justru semakin mengambil langkah untuk mencoba menaklukan hati seniornya justru adanya tancapan duri yang lelaki itu lemparkan kepada Zeta sebagai peringatan bahwa secara langsung lelaki itu menolak perasaan tulus Arzeta Maharani. *** Sang mentari masih menyembunyikan cahayanya di pagi hari, kehangatan tak juga mau menjalar melalui sela-sela kamar seseorang yang masih bergulat dengan selimut tebalnya. Lelaki itu mulai terusik ketika ponselnya berdering, bukan dari sebuah panggilan melainkan alarm jamnya yang semakin keras begitu tak juga dimatikan. Lelaki itu perlahan membuka matanya, mengerjapkannya berkali-kali mengumpulkan setengah nyawanya yang belum sadar. Ia segera beranjak untuk bersiap-siap pergi berangkat bekerja, memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh ibunya. Ia melihat langit yang tertutup awan hitam pantas saja ia merasa masih terlalu pagi untuk pergi bekerja sedangkan alarmnya sudah berbunyi. Genta Nugroho, laki-laki berumur 28 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan. Ia menatap kaca, menghela nafas pelan untuk sarapan pagi dengan keluarganya. Genta segera turun duduk di meja makan menatap wajah papah dan mamahnya secara bergantian dengan senyum, berpura-pura seolah rutinitas yang ia laksanakan bertahun-tahun ini begitu indah. “Kamu sudah kerja bertahun-tahun kok nggak naik jabatan juga Ta?” Tanya papah Genta dengan wajah yang tanpa bersalah, seolah tidak mengetahui jika pertanyaannya itu menyinggung perasaan anaknya. “Genta udah ngelakuin segalanya dengan baik kok Pah, tapi ya nggak tahu!” Ucap Genta seolah sudah mengikuti apa yang dikatakan orang tuanya namun tak juga membuahkan hasil. “Apa orderannya lagi sepi ya Ta?” Tanya mamah Genta gentian membuat mood Genta di pagi hari selalu buruk dan berimpas pada pekerjaannya terlebih pada rekan kerjanya. Genta lebih banyak diam di kantor karena ia harus meredam amarahnya terlebih dahulu. Genta menuruni tangga teras rumahnya kemudian melesat pergi dengan motor dan tas ransel di punggungnya. Genta melaju dengan kecepatan lumayan, ia melirik rumah gadis yang merupakan rekan kerjanya juga, ah sudahlah. Ia melihat sosok gadis yang berdiri di depan rumahnya sedang naik motor dengan rekannya, bukannya menatap justru Genta segera mengalihkan pandangannya sebelum gadis itu menyadari jika Genta sedang menatapnya dari kejauhan. Genta pun melintas pura-pura tidak melihat ada rekan kerja yang ia kenal meski sangat terlihat jelas dari ekor matanya, gadis itu menatapnya berharap ada kontak mata yang terjadi. Ia menepi sebentar ke pom bensin untuk mengisi bahan bakarnya, ia tidak bisa memungkiri reflek matanya menatap jalan memastikan jika rekan kerjanya sudah melintas. Dan benar saja tak berapa lama, gadis itu melintas tentunya tidak menyadari keberadaan Genta disana. Sesampainya di kantor Genta memarkirkan motornya, ia melihat gadis yang ia temui itu sedang berdiri mematung menatapnya. Sebelum ada interaksi Genta segera berlari kecil menyusul sahabat karibnya yang rupanya juga baru datang. “Dicky!” Panggil Genta kemudian berjalan menyamai langkah sahabat karibnya. Dicky menyipitkan matanya, sangat langka dimana seorang Genta menyapanya terlebih dahulu. Dicky menengok ke belakang dan tersenyum rupanya adanya gadis di belakang membuat Genta segera menyingkir. Tidak ada yang tidak mengetahui bagaimana perasaan gadis itu kepada Genta. Dan itu mulai mengganggu Genta, awalnya ia berpura-pura untuk biasa saja namun sikap Zeta yang tidak tahu diri dan juga kini cerita itu menjadi lelucon di antara rekan kerjanya membuat Genta benar-benar geram dan rasanya ingin meluapkan emosinya saja. “Yaelah Ta! Udah pacarin aja napa, ntar kalau sudah beberapa minggu tinggal putusin.” Ucap Dicky dengan gamblangnya tanpa beban menyuruh Genta untuk menerima pernyataan cinta Zeta. “Ya nggak bisa dong Ky!” Bantah Genta dengan wajah sewot. “Coba aja dulu!” Bujuk Dicky dengan senyuman liciknya, siapa yang tidak mengenal Dicky sahabat Genta dua orang dengan kepribadian berbeda bisa berteman awet dari bangku kuliah sampai sekarang. Dicky yang selalu dikelilingi wanita, hebatnya ia mampu menyakinkan beberapa perempuan bahwa hubungan mereka hanya sebatas pertemanan tidak lebih. “Gila ya lo!” Umpat Genta membantingkan bokongnya ketika duduk di kursinya. “Lah coba aja dulu, Ta! Kali aja cocok kali, sekalinya nggak cocok tinggal putusin kan udah! Selesai!” Ucap Dicky yang masih saja setia dengan pendapat konyolnya itu. “Dari awal udah nggak suka ya dipaksain kayak apa tetep bakal nggak suka lah!” Tegas Genta bersungut menatap Dicky. Dicky baru saja akan membuka mulut untuk membantah ucapan Genta, namun seseorang masuk membawa dua cangkir kopi hangat membuat Dicky mengurungkan niatnya dan justru menatap Genta dengan senyuman aneh. “Ta! Dicari bang Genta tuh!” Ledek Dicky pada Zeta yang menyodorkan kopi hangat. Zeta hanya menatap Genta yang mengalihkan pandangannya dengan kesal, tentu saja ia tahu jika Dicky hanya sedang bercanda tidak mungkin pula jika seorang Genta mencarinya. Dicky hanya tersenyum melihat pemandnagan yang disuguhkan mereka berdua di pagi hari, satunya sangat mengharapkan untuk satu langkah lebih dekat. Satunya lagi mengharapkan untuk segera menyingkirkan. “Ini Bang Genta! Kopinya!” Ucap Zeta dengan senyumannya yang tampak tulus, sedangkan Genta diam bak seperti tidak mendengar sesuatu pun. Benar-benar tidak menganggap Zeta masih berdiri di sampingnya. Kalau sudah begini Dicky hanya bisa menunduk, ia juga tidak bisa memaksa sahabatnya untuk lebih tampak biasa saja pada Zeta terlebih Zeta adalah anak magang dulu yang dibimbing Genta sendiri, sehingga Zeta mulai menyimpan perasaan pada seniornya itu. “Yah sosokan jual mahal segala!” Cibir Dicky begitu Genta yang tampak temperamen pada Zeta, tentunya Dicky mengatakan demikian setelah perempuan itu berlalu keluar ruangan. Zeta dan Genta berbeda ruangan namun cukup bertemu karena bagian mereka saling berhubungan. “Berisik lu!” Ucap Genta kesal karena setiap pagi harus bersikap seolah biasa saja dengan ledekan Dicky kepadanya. Genta dan Dicky mulai serius dengan pekerjaan mereka, suasana kantor cukup hening. Sedangkan Zeta yang rupanya sejak tadi berada di depan ruangan kantor hanya menunduk lemah. Ia sedang menunggu dokumen yang ia fotocopy cepat selesai. Sayangnya ia tidak mendengar obrolan yang terjadi di ruangan Genta, telinganya terpasang earphone, ia sedang mendengarkan lagu kesukaannya. Lagu dari beberapa soundtrack film, ia sangat menyukai sesuatu yang mellow. Genta yang keluar ruangan, menuju mesin fotocopy menghela nafas begitu mendapati gadis yang berusaha ia hindari sedang disana juga. Ia melintas pura-pura tidak mengetahuinya, sedangkan Zeta mendongak tampak senang karena Genta juga ada satu tempat dengannya. “Bang Genta! Mau Zeta bawain?” Tanya Zeta menawarkan untuk membawakan dokumen fotocopy Genta sekalian. “Nggak perlu!” Ucap Genta tegas membuat Zeta mengurungkan niatnya. Lagi-lagi selalu saja nada pedas yang ia dengar. Genta melesat pergi, sedangkan Zeta hanya diam sambil memandang kepergian laki-laki itu. sebenarnya tidak ada yang menyuruh Zeta untuk membeli kopi setiap pagi, itu hanya kebiasaan Zeta menyukai kopi hangat dan keterusan teman sekantornya selalu ikut membelinya. Lebih tepatnya, menitipkan kepadanya. Bagian Genta, itu hanya inisiatif Zeta agar bisa lebih dekat dengan Genta, padahal setelah sekian lama ia tahu jika tidak ada perkembangan diantara hubungan mereka. "Ta!" Panggil rekan kerja Zeta membuyarkan lamunannya.  Zeta tersenyum dan memilih menghampirinya, jujur saja ia sedikit tersentak karena panggilan dari rekan kerjanya. tertuliskan nama, Lili di kartu tanda pengenal perempuan yang memanggil Zeta itu. dengan dokumen yang dibawanya ia pun berjalan menuju Zeta yang juga berjalan menuju ke arahnya.  "Ada apa Li?" Tanya Zeta spontan membaca dokumen yang dibawa Lili, ia mengerutkan keningnya bukankah itu adalah proposal yang ia ajukan kepada manager mengapa ada ditangan Lili.  "Proposal elo diterima!" Ucap Lili dengan senyuman yang tak kalah senang karena proposal yang dibuat sahabatnya akhinya membuahkan hasil.  "Serius!" Ucap Zeta yang langsung dibalas anggukan Lili. ia tersenyum puas bayangan kedepannya apa yang akan ia lakukan pun langsung tergambar jelas dalam angan-angannya. senyumnya tidak terlalu lama, begitu bayangan Genta mengambil dokumen yang ia fotokopi melintas begitu saja seperti biasa tidak menganggap keberadaannya.  "Udah deh Ta! nggak usah diliatin!" Ucap Lili selalu kesal sendiri melihat tingkah Zeta mendadak murung hanya gara-gara laki-laki bernama Genta.  *** Arzeta memandang keluar dari teduahn parkiran, ia memeluk helmnya di kedua tangannya. Melihat jalanan yang masih belum kering dan juga dimana-mana ada genangan. Beberapa karyawan berlalu untuk segera pulang takut jika langit belum selesai mengguyur kota. Hujan susulan bukankah sering terjadi di cuaca dan iklim yang tidak menentu. Ira : Ta, sorry gue ada lembur! Arzeta menghela nafas membaca pesan dari sahabat karibnya. Entah harus bahagia atau justru benar-benar sedih. Arzeta menengok ke belakang melihat motor Genta masih terparkir di tempat yang semula menandakan laki-laki itu belum pulang. Ibu : Pulang sama siapa Ta? Ponselnya bergetar kembali, hanya ia baca sekilas tanpa berniat membalasnya. Ia lebih memperhatikan lorong yang bisa saja tiba-tiba Genta muncul, sedetik lambat saja pasti laki-laki itu mengabaikan Arzeta. Sesuai dengan pengamatan Arzeta laki-laki itu muncul dari lorong, Zeta bergegas menghampiri Genta. Genta hanya melirik sinis, memakai jaket kulitnya. Zeta sudah menyiapkan ekspresi yang akan ia perlihatkan pada Genta saat ini. “Bang, Zeta bareng ya! Temen dan…” “Ibu lo sibuk iya?” Potong Genta menirukan ucapan Zeta yang selalu sama setiap ia ingin pulang bersama dengannya. “Iya!” Jawab Zeta dengan wajah cengengesan padahal astmosfer di sekitarnya tampak jelas jika laki-laki itu tidak menyukai keberadaannya. “Ya udah buruan!” Tukas Genta dengan wajah dan suara sangat sinkron menyiratkan ketidaknyamanannya pada Zeta. Zeta dengan senyum lebarnya segera naik ke atas jok belakang Genta, ia hanya memegang erat tas ransel milik Genta sebagai pembatas antara dirinya dengan Genta. Motor melaju dengan kecepatan sedang, dengan lihai Genta menghindari genangan ditambah kota sehabis hujan, jalanan tampak sepi. Genta menjadi lebih leluasa untuk beraksi di jalanan. Zeta yang berada dibelakang hanya tersenyum malu, lagi-lagi ia berhasil memanfaatkan momen demi momen guna menambah daftar kenangan bersama laki-laki yang ia dambakan, Genta Nugroho. Genta sama sekali tidak mau melihat spion yang memantulkan wajah Zeta yang sejak tadi menyembunyikan senyumannya. Begitu sampai di depan rumah Zeta, Zeta segera turun dan tersenyum kemudian melangkah pergi. Ia pernah basa-basi dengan Genta untuk bersinggah sebentar di rumahnya namun laki-laki itu mengacuhkan itu tidak terjadi sekali dua kali tapi berkali-kali, membuat Zeta memilih hanya mengucapkan terimakasih atas tumpangannya. Perasaan yang ia simpan rapat-rapat membuat Zeta mengetahui Genta merupakan sosok laki-laki yang tidak suka dengan hal yang basa-basi. “Heh!” Panggil Genta membuat Zeta langsung menoleh dengan senang hati. Langsung mendekat pada Genta yang menatapnya dingin, sorot matanya begitu tajam benar-benar membunuh bak seekor elang menemukan mangsa. “Gue tegasin ya Ta sama elo! Gue nolong elo bukan karena gue punya rasa yang sama kayak elo!” Ucap Genta dengan menggebu-gebu namun wajah Zeta tampak tenang mendengarnya, membuat Genta semakin terpancing emosi. “Tapi karena sesame rekan kerja aja! Jadi gue harap elo nggak meminta lebih!” Ucap Genta begitu taja, dan menusuk namun wajah Zeta tampak tenang, membuat Genta berfikir bahwa Zeta tidak mengerti maksud ucapannya. “Percuma gue ngomong sama cewek setengah kayak elo!” Ucap Genta pedas kemudian menancap gasnya kencang meninggalkan Zeta yang mematung kemudian tertawa ketir menertawakan dirinya sendiri. TO BE CONTINUE --->

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
19.7K
bc

TERNODA

read
203.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.4K
bc

Kali kedua

read
222.7K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook