ARZETA MAHARANI

1852 Words
Sebuah motor yang tadinya melaju dengan kecepatan sedang, perlahan menepi setelah menyalakan lampu sen kirinya. Sang pengemudi tidak sendiri, ada sosok perempuan yang duduk di jok belakangnya. Raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya setiap kali laki-laki itu mengantarnya pulang. Ia turun, tadinya ia masih tersenyum begitu menatap mata elang lelaki itu, senyumnya luntur begitu saja. “Terima…” Ucapannya terpotong karena lelaki itu langsung menancap gas begitu memastikan jika perempuan yang ia antar sudah turun. Arzeta hanya tersenyum masam menatap kepergian Genta, lelaki itu sengaja segera pergi. “Kasih…” Lanjut Arzeta melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong. Arzeta melangkahkan kakinya menuju rumah kontrakannya, baru saja ia membuka pintu sudah dikejutkan dengan ibunya yang sudah berdiri di ambang pintu, melihat anaknya yang sedikit tersentak kebelakang ibunya hanya tersenyum tanpa dosa. “Tadi siapa Ta?” Tanya Mila yang rupanya sejak tadi melihat interaksi antara Genta dan Arzeta. “Temen kamu?” Tanya Mila begitu tak mendapat jawaban dari sang anak yang sMamah melepas sepatu kantornya. “Bukan.” Bantah Zeta dengan kata yang begitu singkat. “Terus? Pacar kamu?” Tanya Mila dengan senyumannya yang mengembang. “Bukan, ih!” Pekik Zeta mendengar tebakan ibunya yang semakin menjadi-jadi itu. “Iya masa orang yang kamu nggak kenal? Ibu sering loh lihat kamu dianter sama itu cowok!” Ucap ibunya, terus mendesak anaknya sampai Zeta mengambil air di kulkas pun ibunya tetap membuntutinya dari belakang. “Senior aku!” Jawab Arzeta membuat ibunya mengangguk-angguk pelan. “Dia suka sama kamu!” “Uhukk…” pernyataan ibunya membuat Arzeta yang sedang meminum seketika langsung tersedak. “Hati-hati dong Ta!” Ucap Mila dengan tatapan khawatirnya. “Mamah ini yang aneh, bisa-bisanya berpikiran begitu.” Ucap Zeta memandang ibunya dengan kerutan di keningnya, ia kesal rupanya. “Ya kan kali aja! Lagian senior mau nganterin pulang.” Ucap Mila menunduk semakin memelankan ucapannya. “Enggak! Nggak ada. Aku bareng sama Bang Genta karena rumahnya searah aja udah.” Jawab Arzeta dengan Panjang lebar, menegaskan jika Genta tidak mungkin ada perasaan dengan dirinya. Lebih tepatnya Zeta mengulang ucapan Genta kemarin yang menggebu-gebu. Ibunya hanya tersenyum mendengar Zeta yang menegaskan hubungan mereka, kemudian Zeta berbalik badan dan menuju kamarnya. Tubuhnya sudah lengket meski ia bekerja di ruangan ber-AC tetap saja keringatnya keluar ketika siang hari. Bukannya bergegas menuju kamar mandi, ia merebahkan tubuhnya terlebih dahulu. Memainkan ponselnya berharap ada pesan entah dari siapa. Ia melihat kontak Genta yang sedang online. Arzeta tersenyum kemudian jari-jemarinya mengetikkan sesuatu disana. Arzeta : Makasih Bang Genta! Pesan itu tidak dibaca, ah bukan lebih tepatnya pesan-pesan dahulu sudah berbulan-bulan pun tidak dibaca. Notifikasi yang tadinya online berubah menjadi terakhir dilihat. Arzeta menghela nafasnya kasar, ia masih saja percaya jika suatu hari akan ada satu hari dimana Genta akan membaca pesannya satu demi satu. “Ah tauk ah!” Umpat Zeta entah kepada siapa, ia membuang ponselnya asal di tempat tidur. Kemudian beranjak pergi menuju kamar mandi dengan sehelai handuk yang ia ambil dari gantungan belakang pintu. Ia membersihkan dirinya, ia sedang mandi tapi pikirannya kemana-mana. Bukan masalah pekerjaan tapi Genta, laki-laki yang tadinya menjadi senior yang mengajarkan ini itu berubah menjadi satu-satunya orang yang membenci dirinya. Terkadang, pernahkah berfikir? Ketika kita melakukan segalanya kepada seseorang akankah mereka melakukannya juga kepada kita, kalaupun tidak! Karma biasanya tetap saja terjadi pada mereka. Meski bukan kita yang membalas tapi justru orang lain. “Siapa yang tahu!” Desis Arzeta mengangkat kedua bahunya. Melanjutkan acara mandinya bak ritual malam sebelum pergi tidur, sedangkan ibunya sedang menonton acara televisi sambil menunggu Arzeta selesai mandi. Semua makanan telah ia hangatkan untuk putri semata wayangnya. Ia bekerja di salah satu took besar, di pasar tepatnya menjadi pelayan disana. Ia tidak mau putrinya menjadi tulang punggung keluarga. Ia masih kuat, kenyataannya menghidupi Arzeta selama berpuluh tahun ia masih sanggup meski tanpa ada suami di sisinya. Tak berapa lama, Arzeta keluar dengan rambut yang sudah ia sisir meski masih basah. Menggunakan baju babydoll ia masih pantas justru terlihat seperti anak remaja. Arzeta melihat satu persatu lauk yang disediakan ibunya. “Banyak banget?” Tanya Arzeta pada ibunya yang duduk disebelahnya namun matanya menyimak acara sinema di televisi. “Iya, tadi dikasih tetangga ada acara hajatan katanya.” Ucap Mila dengan senyum namun tak mengalihkan pandangan matanya. “Bohong!” Desis Arzeta membuat Mila menoleh dengan wajah sedikit gugup bak tertangkap basah bahwa ia sedang berbohong. “Iya, dikasih tetangga.” Ucap pendek Mila membuat Arzeta menghela nafas Panjang. “Mamah itu nggak udah bohong, pake acara hajatan segala. Zeta tahu kalau ini tuh dikasih tetangga karena mereka kasian sama kita!” Ucap Zeta kesal membuat ibunya yang tadinya sMamah dengan sinema di televisi kini mulai tertanggu dengan omelan anak semata wayangnya. “Kalau mereka kasian kenapa? Mamah harus menolak? Zeta ! Mamah nggak meminta-minta.” Tegas Mila membuat Arzeta mengatupkan dengan rapat kedua bibirnya. Ia kalah, lagi pula memang tidak ada yang salah hanya Arzeta saja yang terlalu sombong. Merasa ia sudah menjadi seseorang yang terpandang. “Kamu harusnya bersyukur! Dikelilingi orang-orang baik! Nggak seperti kontrakan kita sebelumnya yang…” “Cukup!” potong Arzeta dengan nada tingginya membuat ibunya tersentak kaget. “Iya! Zeta salah. Sudah nggak usah ngungkit masa lalu!” Ucap Arzeta kemudian menyuapkan satu sendok nasinya dengan sedikit kasar ke dalam mulutnya. Mila pun memilih diam, sejak dulu Arzeta selalu tidak mau lebih tepatnya menghindar setiap kali Mila membicarakan masa lalu mereka. Ia tidak menutup telinga pada gunjingan-gunjingan tetangga bahkan keluarga besarnya. Itu alasan mengapa Mila dan Arzeta memilih hidup di kota orang tanpa mau pulang ke kota kelahiran mereka. “Mamah udah bayar kontrakan?” Tanya Zeta begitu ponselnya menyala, matanya menangkap tanggal jatuh tempo ia harus membayar kontrakan. “Sudah barusan! Sebelum kamu pulang.” Jawab Mila dengan senyum meski Zeta tidak melihatnya, perempuan itu sibuk dengan ponselnya. Beginilah kehidupan ibu dan anak, terkadang berselisih paham, saling bersitegang adalah sesuatu gelombang penghias dalam hubungan. Bukankah hubungan yang selalu baik-baik saja tidak menandakan yang sebenarnya justru ada yang disembunyikan. Zeta kembali melihat kontak Genta yang kembali online, seperti biasa pesan yang Zeta kirimkan tidak pernah dibaca dan juga story pun tak pernah Genta lihat. Arzeta yakin jika kontaknya tidak disimpan oleh lelaki berumur 27 tahun itu. Ia meletakkan ponselnya memilih focus pada makan malamnya, mencintai seorang Genta memang butuh tenaga yang cukup rupanya ya. *** “Pagi !” Sapa seorang perempuan yang baru sampai menyapa teman-teman satu kantornya mereka tersenyum pada Zeta. “Ta hari ini gue gak titip kopi dulu deh!” Celetuk seseorang dari belakang yang langsung dibalas anggukan Zeta. “Kenapa lo? Tumben bener!” Tanya Dicky pada lelaki yang berkutik dengan ponselnya. “Gue habis dari rumah mertua gue, kebetulan dibawain kopi.” Ucap lelaki itu memperlihatkan botol termosnya membuat Dicky mengangguk paham. Dicky, yang berbeda kantor itu selalu nimbrung Bersama teman-temannya disini sebelum jam kerja dimulai. Lebih tepatnya sebelum Genta datang, pastinya ia akan sendiri di ruangan jadi lebih baik tertawa dengan teman-teman lainnya. Tak lupa menggoda fans sahabatnya adalah kegiatannya berhari-hari yang tak pernah bosan. Zeta mulai malas jika Dicky sudah berjalan menuju kearahnya ia pun memasang muka masam. Bukannya mengurungkan niat justru Dicky tersenyum. “Widih nggak ada Genta aja lo galak bener sama gue!” Ucap Dicky duduk di meja kerja Zeta. Zeta meliriknya dengan tajam, sejak pertama kali masuk kerja Zeta sudah mengetahui jika lelaki ini lumayan tengil dan playboy, ceweknya dimana-mana bung. “Nggak usah banyak ngomong deh Bang Dicky, cepet bayar kopi yang kemarin sekaligus sama punya Bang Genta!” Ucap Zeta galak membuat Dicky mau tidak mau mengeluarkan dompetnya karena semua mata tengah memandangnya. “Nih! Gue bayar! Punya Genta minta sendiri sonoh!” Ucap Dicky menyodorkan uangnya yang langsung diterima Zeta. Zeta tersenyum dalam hatinya jika harus menambah kenangan Bersama Genta adalah keberuntungan dan kesempatan yang tidak akan ia lewatkan. Dicky tidak bisa melihat raut wajah Zeta yang perempuan itu sembunyikan pasalnya raut wajahnya tetap. Perempuan itu memasang wajah garang special untuk Dicky, gara-gara lelaki ini Genta mengetahui perasaan Arzeta kepadanya membuat hubungan keduanya sebaga senior dan junior hilang dalam sekejap. Kini tatapan hangat telah berubah menjadi tatapan tajam, dingin dan begitu menusuk siapapun. Ah tidak lebih tepatnya hanya berlaku pada Arzeta. Genta melintas di depan kantor menatap tajam langsung lurus pada Arzeta, Arzeta terpaku di tempat. Begitu lelaki itu lewat, Arzeta beranjak berdiri. “Gue beli kopi sekarang yah!” Ucap Arzeta kemudian bergegas pergi semua rekan kerjanya sudah hafal, Genta yang melintas adalah sebagai alarm untuk membeli kopi. Arzeta sedikit berlari untuk mensejajarkan langkah kaki kecilnya dengan langkah lebar Genta. Genta tidak bergeming ia tahu siapa yang sedang berjalan bersamanya. Siapa lagi jika bukan perempuan yang selalu ingin ia hindari itu. “Bang Genta mau titip kopi nggak?” Tanya Arzeta dengan ucapan yang lembut. “Nggak!” Ucap Genta pendek tapi Zeta tidak menyerah. Seolah mereka sedang mengulang percakapan yang sama setiap harinya. Penolakan yang sama namun tak berhasil menggertak langkahnya untuk mundur mengejar lelaki dingin seperti Genta. “Kalau gitu, Zeta minta uang kopi kemarin!” Ucap Zeta dengan senyum manisnya bukannya terpesona Genta justru semakin terpancing emosinya. “Nih! “ Ucap Genta yang sudah sampai di ruangan dan Zeta masih membuntutinya. Lelaki itu mengeluarkan uang selembar dan sedikit melempar sayangnya uang kertas itu jatuh dan terkesan dibuang,  dari mata Genta terlihat jika lelaki itu sedikit tersentak dengan tingkahnya sendiri. Zeta pun dengan singgap berjongkok mengambil uang yang jatuh itu kemudian berdiri dengan senyumannya yang tetap utuh, begitu tulus dan manis. Sayangnya Genta tidak melihatnya, kebenciannya akan kehadiran Arzeta dalam hidupnya sudah menyelimuti hati nuraninya terlebih dahulu. “Lo tuh nggak tahu malu ya Ta! Gue nggak pernah minta dibeliin sekarang elo minta ganti uang.” Hardik Genta dengan ucapan pedasnya membuat Zeta menunduk, entah mengapa ada nyeri di dadanya yang ia rasakan tiba-tiba. Zeta pun mengembalikan uang Genta, meletakkan uang itu di atas meja kerja Genta yang sudah berapi-api menatap perempuan yang mengalihkan pandangan darinya. “Yaelah, Zeta cuman bercanda lagi!” Ucap Zeta dengan senyumannya seolah ia tidak menyadari situasi yang sedang memanas di antara keduanya. Genta hanya tertawa sinis membuat Zeta mengerutkan keningnya mencoba mencari tahu apa yang sedang difikirkan lelaki itu sebenarnya. “Kenapa Bang?” Tanya Zeta dengan senyumannya. Zeta yang berada di hadapan Genta bukan Zeta yang sebenarnya, Zeta adalah perempuan yang pendiam, dingin dan irit berbicara tetapi di depan Genta ia justru terlihat dengan seorang perempuan yang humble dan penuh dengan keceriaan dalam dirinya. “Percuma gue debat sama cewek bodoh kayak elo! Nggak bakal ngerti udah!” Ucap Genta dengan sinis memandang Arzeta dari atas sampai bawah terlihat menyepelekan sekali. Arzeta mematung mendengar ucapan Genta, ia sedikit tersinggung dengan sikap yang ia tunjukan kepada Genta semata-mata untuk menarik Genta rupanya justru menyakitinya sendiri. “Udah buruan pergi sana! Muak gue lihat elo!” Usir Genta membuat Zeta terperanjat kemudian tersenyum dan bergegas pergi keluar ruangan. Siapa bilang dia tidak paham, kata pedas dari mulut Genta benar-benar menyiksanya. Ia mengusap air mata yang hamper keluar takut jika ada orang yang melihatnya. Memang benar “ jadi diri sendiri itu lebih baik dari pada mencoba jadi orang lain justru mendatangkan luka”. TBC 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD