TEORI DAN REALITA

2134 Words

Sebatang rokok sudah Genta habiskan setelah pulang bekerja, setelah sekian lama ia akhinya bersinggah kembali apartemen Dicki, dia tidak sendirian melainkan ditemani oleh Sam. Mereka memang berencana berkumpul bersama-sama. Dicki pun tampaknya juga menyambut kedua sahabatnya dengan wajah gembira. Genta beberapa kali terpegok sedang tersenyum sendiri bak orang gila, setiap ia membaca pesan di layar ponselnya. “Kenapa eh Ta? Gue rasa setelah elo diterima kembali sama Zeta jadi makin gila lo!” Cibir Dicki yang diiringi dengan senyumannya. “Yaelah, diterima kembali Dik? Emang kapan mereka putus?” Tanya Sam membuat Genta semakin tidak bisa menahan senyumannya. “Apasih yaelah! Sorry nih udah jadi bapak-bapak gue! Wajar dong!” Ucap Genta meminta sebuah toleransi rupanya. Jika bukan karena p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD