Suasana kantor yang cukup riuh, pada jam kerja mereka sibuk dengan layar monitor mereka masing-masing. Bahkan mereka tidak akan menyadari siapa yang sedang berlalu Lalang di sekitar mereka, pandangan mereka benar-benar sudah terkunci pada monitor masing-masing. Sesekali meneguk kopi atau air mineral untuk meredakan kerongkongan yang terasa mengering. Sepeninggal Genta, yang sudah mengundurkan diri kini mejanya sudah tergantikan. Dua bulan berlalu, Dicki kini memiliki patner terbaru, yakni seorang gadis dari departemen lain yang sengaja dipindahkan untuk mengisi jabatan Genta. Dicki pun juga tidak mempermasalahkannya, ya mau mempermasalahkannya pun juga percuma karena keputusan ada di tangan para atasan. “Dik! Dokumennya bener gini kan?” Tanya Rani yang menghampiri meja Dicki, lelaki it

