Ta, Zeta sudah melahirkan seorang bayi perempuan. “Benarkah syukurlah, Genta belum bisa kesana ya Bu!” Ucap Genta kepada seorang wanita di seberang melalui sambungan telepon. Kemudian ia meletakkan benda pipih itu, di atas meja setelah sambungan telepon mereka berakhir. Senyum yang Genta pasang sekarang adalah senyum penuh kepalsuan, ia dirundung kebingungan mendalam sebab obrolan papah dan mamahnya semalam membuat terfikir akan bagaimana nantinya dirinya. “Apa aku harus mencoba terlebih dahulu saja?” Gumam Genta entah pada siapa, semua karyawan telah pulang karena jam memang sudah menunjukkan pukul delapan malam hanya tinggal dirinya di dalam ruangan sedang memikirkan bagaimana dan apakah semua pertanyaan muncul setelah ia berniat untuk memberitahu keluarganya tentang sosok Zeta. Men

