Saat tangan Carla terangkat lagi, sopir Mateo menahannya. Sementara Kendrick yang berada di belakang Carla, dengan sigap menarik pinggang Carla. "Semua orang di sini melihat kalian, Carla. Jangan sampai kau diusir security di sini juga!"
"Ayo, Nyonya Gilda! Mari pergi dari sini," ucap sopir Mateo tersebut yang sudah mengemasi paper bag milik Gilda dan sebuah buku yang berhasil memancing emosi Carla. Ia juga membantu Gilda berdiri dari kursi, juga membentengi sang nyonya dari tangan Carla yang hendak menarik rambut panjang Gilda.
Keduanya buru-buru berjalan keluar menjauhi gerai. Sambil memegangi pipinya yang panas, Gilda mengatakan, "Tolong jangan beritahu kakek tentang ini. Cukup kita saja yang tahu kejadian barusan." Sopir itu tidak menjawab, hanya melirik ke arah pipi Gilda yang mulai memerah. Setelah itu Gilda mengambil masker dari dalam tasnya, memasang masker tersebut untuk menutupi wajahnya, sekaligus bekas tamparan keras dari Carla.
"Nyonya tidak ingin melaporkan ini pada pihak berwajib?" Mendengar pertanyaan itu Gilda yang sudah memakai masker menggeleng. "Nyonya bisa melakukan visum dan melaporkan kejadian ini, saya juga akan membantu mengumpulkan bukti tambahan melalui kamera CCTV yang ada di tempat makan tadi, Nyonya."
"Tidak, tidak perlu. Aku tidak mau masalah ini sampai ke kakek, terlebih lagi diperpanjang sampai melapor," jawab Gilda yang matanya sudah berkaca-kaca. "Tidak perlu lapor siapa pun, karena kejadian ini tidak akan terjadi kalau aku tidak menikah dengan Ed, dan aku juga salah di sini."
"Maafkan saya karena kurang cepat menjauhkan tangannya, Nyonya."
"Tidak apa-apa, aku juga tidak sadar kalau dia akan menamparku secepat itu." Gilda memegang perutnya, menunduk, dan menangis dalam diam. "Yang terpenting janinku baik-baik saja," sambung Gilda membatin.
*
Di toko roti, Gilda duduk di sofa yang menempel pada dinding hampir di sudut ruangan. Dengan sebuah buku seputar kehamilan menemani, tangan satunya yang tidak memegang buku dipakai untuk mengoles salep berupa gel ke pipi. Bekas tamparan dari Carla sanggup menciptakan rasa nyeri dan sedikit bengkak.
Tidak ada ringisan yang keluar dari bibir Gilda dan sudah dua puluh menit di sana. Berhenti membaca, Gilda memikirkan beberapa rencana agar Mateo tidak bisa melihat bekas tamparan itu. Sebelumnya, Gilda harus tahu dulu apakah Mateo sudah di rumah atau belum.
Ia pun menghubungi Mona, dan tak butuh waktu lama bunyi ponsel pertanda pesannya dibalas, terdengar. Meletakkan bukunya, Gilda menggapai handphone yang bersebelahan dengan salep di atas meja.
Mona: Tuan Mateo belum datang, Nyonya. Ada apa Nyonya bertanya? Apakah Nyonya ingin pulang lebih lama lagi? Jika iya, maka saya akan kena marah tuan Mateo, Nyonya.
Melihat jawaban dari pesan Mona, Gilda bangun dari sofa dan menyampirkan tali tas ke bahu. "Kebetulan kakek sedang di luar, aku harus pulang mendahului kakek agar luka ini tidak dilihat," ucap Gilda yang langsung memasukkan salep dan ponselnya ke dalam tas dan segera keluar dari ruang istirahat. Buku kehamilan di tangannya bersama masker yang kini mulai dipakai.
Di perjalanan menuju rumah Mateo, Gilda tak berhenti meremas-remas tangannya sambil mengamati sopir kepercayaan kakek mertuanya. "Tolong sembunyikan kejadian di mall tadi dari kakek," pinta Gilda masih melihat sopir yang meliriknya dari kaca. "Sekali ini saja, aku mohon padamu cuma sekali."
"Apakah Nyonya tahu? Nyonya terlalu memikirkan perasaan orang lain sampai rela mengorbankan perasaan Nyonya sendiri."
Gilda merasa tertampar lagi, namun kali ini hatinya yang terasa nyeri. Ucapan sopir Mateo membuat perasannya tersentuh. Dengan tersenyum sedikit lebar Gilda menjawab, "Aku begini karena aku merasa bersalah, dosaku terlalu besar. Aku menghancurkan hubungan sahabatku sendiri."
"Apa Nyonya yakin kekasih tuan Edzhar yang menampar Nyonya tadi benar-benar tulus mencintai tuan Edzhar?" pertanyaan sang sopir yang kini fokus menyetir itu membuat mulut Gilda terkunci.
Kali ini Gilda tidak bisa menjawab, dia belum bisa memastikan kebenaran itu walaupun ia curiga dengan hubungan Kendrick dan Carla. Harus mencari bukti dan itu tandanya ia harus mengawasi Carla, sementara hubungannya bersama Carla sekarang sudah terputus. Tidak mungkin ia menanyakan perihal hubungan Carla dengan Kendrick secara langsung, walaupun yakin mereka berdua lebih dari sekadar teman.
"Apakah kau mengenal Kendrick?"
"Ya, tentu saja saya mengenalnya, Nyonya. Dia adalah adalah kakak sepupu tuan Edzhar dari pihak ibu. Kakak dari nyonya Lexa merupakan ibu dari tuan Kendrick."
"Lalu, bagaimana hubungan Kendrick dengan Edzhar? Apakah sebelumnya kau pernah melihat mereka bertengkar? Maksudku, bertengkar karena soal perempuan, apakah pernah?"
Sang sopir menggeleng, dan hal itu membuat helaan napas panjang Gilda terdengar. "Apakah Nyonya sudah mengetahui sesuatu mengenai tuan Kendrick dan nyonya Carla?" Gilda menatapnya, dan sopir Mateo lantas melihat ke kaca setelah mobil mereka berhenti di lampu merah. "Mendengar pertanyaan Nyonya tadi, saya merasa Nyonya seperti mengetahuinya."
Gilda mengingat-ingat lagi saat dirinya bertemu Kendrick dan mengobrol di hari lamaran Edzhar dan Carla. "Aku tidak begitu yakin, tapi Kendrick pernah mengaku padaku bahwa dia sakit hati melihat pertunangan Ed dan Carla saat itu. Sayangnya, aku tidak merekam apa pun dan menanyakan lebih lanjut hubungannya dengan Carla."
Sopir Mateo mengangguk paham. "Jika saya amati sejauh ini, nyonya Carla terlalu pandai menyimpan rahasia."
"Ya, selama aku mengenal dan berada di sekitarnya bersama Ed, dia terlihat tulus. Aku sama sekali tidak menaruh curiga bahwa dia akan berselingkuh di belakang Ed." Lampu lalu lintas yang berubah warna menjadi hijau, seakan memerintah mobil mereka melaju. "Apa kau mau membantuku memata-matai Carla? Aku tidak ingin Ed terluka terlalu lama." Antonius mengangguk.
*
Ketukan dari luar pintu kamar disusul panggilan, membuat Gilda menyahut dari dalam. “Nyonya, tuan Mateo memanggil Nyonya untuk makan malam bersama di ruang makan,” lapor Mona yang masih di luar kamar Edzhar. Pelayan Mateo memang tidak berani membuka kamar, karena Gilda tidak memerintahnya.
“Aku sedang membaca, biarkan aku makan di kamar saja.” Gilda bangun dan mendekat ke pintu kamar. Lupa bahwa saat ini dia tidak memakai masker, Gilda yang hampir saja membuka pintu menepuk jidat. “Mona, tolong bawakan makananku ke sini saja, dan sampaikan maafku pada kakek karena aku tidak bisa turun ke sana sementara.”
Mona yang tidak curiga sama sekali dengan alasan Gilda, lantas membalas, “Baik, Nyonya. Saya sampaikan pada tuan Mateo kalau Nyonya ingin makan di kamar, saya permisi.”
Begitu merasa kondisi di luar pun sunyi, Gilda mampu bernapas lega. “Untuk sementara ini aku harus menutupi perbuatan Carla,” gumam Gilda di dalam hati dan melanjutkan kegiatan membacanya. Wanita itu juga buru-buru memakai masker jika Mona mendadak datang membawakan makan malamnya.
Benar saja, tidak sampai sepuluh menit Gilda menunggu kedatangan Mona, pintu kamar pun diketuk. Gilda mendatanginya dan segera membukakan pintu untuk Mona. Belum sempat Mona melangkah masuk, Gilda menyerobot nampan penampung semangkuk bakso dan segelas jus jeruk yang dibawakan Mona. “Biar aku saja yang membawa ini ke meja. Datanglah ke sini lima belas menit kemudian, Mona.”
“Mengapa Nyonya memakai masker? Apakah Nyonya sakit?”
“Mungkin akan flu, tidak perlu khawatir.” Sesudah itu Gilda mendorong pintu dengan lengan kanannya. Membuat Mona yang di luar mengerut bingung, namun memilih mengiyakan dan pamit pergi. Gilda membawa makanannya ke meja bekas tempat Edzhar meletakkan buku-buku semasa kuliah. “Aku harus makan cepat, apalagi sampai sekarang Edzhar belum pulang ... aku tidak mau dia tahu luka di pipiku.”
Melepas masker, Gilda menyantap makanan yang menyegarkan tenggorokan dan perutnya dengan lahap. Menu bakso sapi malam ini membuat suasana hatinya makin membaik setelah dirusak kala di pusat perbelanjaan. Dalam waktu sepuluh menit saja bakso semangkuk dan jus jeruk di atas nampan itu habis tak bersisa.
Gilda membasuh mulutnya di kamar mandi sebelum kembali memakai masker. Ia tinggal menunggu kedatangan Mona. Hingga suara pintu diketuk, membuat Gilda bangun dari kursi sembari membawa nampan. Dibukanya pintu itu dan Gilda segera mengucapkan terima kasih pada Mona.
Sebelum pintu ditutup kembali, Mona memerintahkannya untuk turun karena Mateo memanggilnya. “Tuan Mateo ingin membicarakan sesuatu pada Nyonya di ruang keluarga, Nyonya. Jadi, Nyonya harus turun,” jelas Mona yang menerbitkan rasa kaget dan waspada Gilda.
“Haruskah malam ini?”
“Iya, Nyonya. Tuan Mateo akan menunggu Nyonya sampai pukul delapan.” Baru menutup mulutnya, kedua wanita itu dikejutkan oleh kedatangan seseorang dari arah tangga. Sosok Edzhar datang sambil membawa tas laptop dan jaket hitamnya. Melihat masker di wajah sang tuan muda, Mona dengan refleks menanyakan, “Tuan juga terserang flu?” Dalam hati dia melanjutkan, “Apakah kalian memang berjodoh? Sampai-sampai sakit di hari yang sama.”
“Ini ... tidak, aku tidak flu.” Sesudah itu Edzhar melewati keduanya dan masuk ke kamar setelah membuka pintu di samping Gilda lebih lebar. “Kita akan turun ke ruang keluarga setelah aku mandi, Mona. Beritahu kakek untuk lebih sabar menunggu.”
“Baik, Tuan Edzhar. Saya turun dulu.” Mona bergegas pergi dari sana.
Sementara Gilda sudah ditarik masuk oleh Edzhar, setelah lelaki itu menutup pintu dengan salah satu kakinya. Gilda didudukkan di tepi ranjang. Sementara dirinya meletakkan laptop dan jaket di meja.
“Apa maksudmu menyuruhku duduk di sini?”
“Aku ingin kau menandatangani surat perjanjian,” jawab Edzhar tanpa menoleh ke arah Gilda. Dia saat ini tengah mengambil sesuatu dari dalam tas laptopnya.
“Surat perjanjian?”
Sambil memutar badan, Edzhar membenarkan. “Ya, surat perjanjian tentang pernikahan kita.” Melangkah ke arah Gilda, dan kala di hadapan sang istri, tangannya menyodorkan sebuah kertas. Kertas tersebut sudah diberi materai, bersama tanda tangannya di sana.
“Bacalah selagi aku mandi,” ucapnya yang membuat Gilda menatap kertas perjanjian tersebut dengan tatapan tak percaya.
“Perjanjian pernikahan?”
“Ya, bacalah baik-baik, setelah itu tandatangani.” Edzhar berlalu dari sana, masuk ke kamar mandi.
Sedangkan Gilda yang masih terkejut melihat judul surat perjanjian di tangannya, menutup mulut. Air matanya mendesak, ingin keluar. “Kau ingin pernikahan ini cuma sementara, Ed?” tanyanya masih tak percaya bersama air mata yang sudah menetes.
SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK
Yang bertanda tangan di bawah ini masing-masing:
Nama: Biantara Edzhar Martinez
Tempat tanggal lahir: Belalang, 11 Januari xxxx
Agama: A
Yang selanjutnya disebut sebagai Pihak Pertama (1)
Nama: Violetta Gilda
Tempat tanggal lahir: Capung, 11 Mei xxxx
Agama: A
Yang selanjutnya disebut sebagai Pihak Kedua (2)
Menerangkan bahwa Pihak Pertama (1) mengajukan pernikahan kontrak terhadap Pihak Kedua (2) selama satu tahun penuh. Yang sebelumnya telah menikahi pihak ke dua (2) pada tanggal 11 September xxxx dan akan diceraikan pada tanggal 11 September xxxx. Pihak Pertama wajib menafkahi Pihak Kedua dan Pihak Kedua berhak atas harta Pihak Pertama selama kontrak perjanjian berlangsung.
Kepada siapa pun tidak dibenarkan membatalkan kontrak selama kontrak masih berlangsung. Demikian surat perjanjian pernikahan kontrak ini dibuat dengan sebenarnya dan ditanda tangani dalam keadaan sadar tanpa ada unsur paksaan dan tekanan dari pihak mana pun serta dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Di bagian bawah surat perjanjian, Gilda dapat melihat tanda tangan Edzhar mengenai materai 10000 yang bersebelahan dengan tempat Gilda tanda tangan. Melihat itu, rasa sesak semakin menekan dadanya. Gilda yang sudah selesai membaca surat perjanjian kontrak di tangannya, menarik napas dan berusaha menguatkan diri.
Ia meraba perutnya sekilas. Lalu menatap kamar mandi, di mana sang suami berada. Gilda menaruh kertas perjanjian kontrak itu di atas meja, dan mengambil pena di sana. Tanpa pikir panjang lagi ia menandatangani dan menyimpan kertas tersebut ke dalam tas laptop Edzhar.
Tak lama, Edzhar pun muncul. Gilda yang mendengar langkah kaki, menoleh ke sumber suara. “Kalau menurutmu ini pilihan terbaik, aku ingin kau berhenti memperlakukanku sebagai istrimu. Jangan pernah sentuh aku.” Menatap tajam Edzhar yang baru saja keluar dari ruang ganti.
“Apa maksudmu?”
Gilda berjalan mundur saat tatapan Edzhar jatuh pada perut ratanya. “Tidak ada sentuhan apa pun, termasuk menyentuh perutku. Aku tidak ingin perasaanku padamu semakin tumbuh, karena ujung-ujungnya kita harus berakhir karena perjanjian bodoh itu.”
“Aku tidak yakin untuk itu.”
Gilda mengerutkan keningnya begitu tahu ada bekas kemerahan di pipi Edzhar seperti miliknya. “Ada apa dengan pipimu, Ed?” tanya Gilda kemudian.