Tamparan

1321 Words
"Kau bisa tenang dulu? Akan kujelaskan semuanya, Carla ...." "Orang tuaku bilang kau sudah menikah!" Edzhar belum berani mengiyakan sampai Carla membentak, "JAWAB, ED! APA BENAR KAU SUDAH MENIKAH?!" Para cucu dari keluarga besar Martinez yang semula sudah di luar, mendadak menoleh ke ruang rapat dan mendekat. Mereka semua terkejut dengan ucapan Carla. Setahu mereka, pernikahan Edzhar dibatalkan bukan untuk ditunda, tetapi karena hubungan keduanya yang sudah kandas karena Edzhar lebih mencintai sahabatnya, Gilda. "Maaf, Honey ... mari kita bicara di ruanganku. Aku bisa menjelaskan semuanya." "Aku kecewa padamu, Ed!" Carla memukul dadanya masih dengan berurai air mata. "Kau menyakitiku, Ed. Aku membencimu!" Edzhar lantas meraih tubuh Carla, dan memeluknya erat-erat. Didekapnya tubuh sang kekasih dengan terus membisikkan kata maaf bersama rasa penyesalan. "Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu, tapi aku tidak punya pilihan lain selain menikahinya. Ada calon bayiku yang harus kupikirkan juga, Carla." Suara telapak tangan mendarat dengan sangat keras di pipi, membuat langkah Edzhar terhambat. Meninggalkan jejak kemerahan yang terasa sangat perih dan panas. Masih merangkul, Edzhar menatap Carla penuh permohonan maaf. Wanita di sampingnya yang masih berlinang air mata itu menangis tersedu-sedu. Ia masih memandang Edzhar kecewa. Tubuhnya cepat-cepat digiring keluar dari ruangan rapat kala Edzhar merasa bahwa Carla sudah mau diajak bicara di ruangannya. Dalam pelukan Edzhar, Carla berbisik, "Ternyata wanita itu ular berbisa, ya?" Edzhar tak langsung menjawab, namun terus menggiring Carla bersamanya. Sementara di luar ruang rapat, sudah banyak orang mencuri pandang ke arahnya. Begitu keduanya mulai keluar, semuanya balik badan dan bubar. Keduanya berjalan dengan langkah cepat. Carla yang berusaha menghentikan tangisan mendadak tersenyum sinis ke arah mantan calon suaminya. "Apa selama ini kalian menikmati setiap malam panas tanpa sepengetahuanku?" tanya Carla bersamaan dengan tangan Edzhar menggapai gagang pintu. Edzhar mendelik mendengar ucapan kekasihnya, tetapi mencoba tenang. Sampai benar-benar masuk ke ruangannya lebih dulu, sebelum buka mulut. Menempatkan Carla di sofa, sementara dia berdiri sambil memegang kedua pundak perempuan di hadapannya. "Malam itu tidak sengaja," ujar Edzhar mempertegas tatapannya. "Kecelakaan itu terjadi ketika kami pulang dari pesta perayaan." Carla lagi-lagi tersenyum sinis mendengar pengakuan Edzhar. "Sudahlah, akui saja kalian berselingkuh di belakangku selama ini. Kehamilan dan pernikahan kalian sudah menjadi bukti." "Tidak! Aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu, Carla. Kamu tahu sendiri bagaimana aku selama ini, dan aku memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Gilda selain sahabat!" "Lalu, aku harus percaya kalau perbuatan kalian itu tidak sengaja?! Cih!" Carla menyingkirkan tangan Edzhar dari pundaknya lalu bersandar pada sofa sambil melipat kedua tangannya. "Aku bukan wanita bodoh yang bisa kalian bohongi! Buktinya, kalian berdua sudah menikah! Kalian menikah, Ed! Menikah!" Edzhar yang marah karena Carla tidak mempercayainya, meremas kuat-kuat rambutnya. Sambil menunduk, dan bertekuk lutut di depan Carla, laki-laki itu menjawab, "Malam itu ... akibat kami mabuk malam itu, semuanya terjadi. Gilda tidak sengaja masuk ke dalam kamarku." Edzhar perlahan mengangkat kepalanya. "Semua terjadi tanpa niat dan maksud tertentu, percayalah padaku, Carla ... ini semua terjadi tanpa disengaja." "Aku tidak percaya!" Carla menghapus tangisannya ketika air mata turun di pipinya lagi. "Gilda pasti sudah menaruh hati padamu dan membuat semua ini terlihat seolah-olah kecelakaan! Dia pasti diam-diam mencintaimu dan ingin merebutmu dariku, Ed!" "Gilda ... Gilda memang mencintaiku, tapi perasaannya ada setelah mengetahui bahwa di rahimnya tumbuh anakku. Sebelumnya dia tidak begitu, Carla. Kumohon, percayalah ...." "Kamu membelanya?!" Edzhar dengan lantang mengatakan tidak dan bersumpah bahwa hanya Carla wanita yang selalu dicintainya. Ia benar-benar ingin serius dengan Carla, dan tidak pernah sedikitpun ingin berpisah dengan sang kekasih. "Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Pernikahanku dan Gilda aku lakukan karena keadaan, aku tidak pernah menaruh rasa padanya. " "Kalau kamu memang tidak mencintai Gilda, ceraikan Gilda setelah anak kalian lahir!" putus Carla sebelum dia bangun, diikuti Edzhar yang bangkit dari posisi berlutut. Lengannya langsung ditarik Edzhar saat hendak melewati Edzhar begitu saja. "Lepaskan aku! Aku tidak mungkin mengganggu pria yang sudah menikah!" "Baik, aku setuju," tandas Edzhar. "Aku akan menceraikannya seperti yang kamu minta, tapi ... tetaplah di sampingku selama masa kehamilan Gilda, aku sungguh tidak ingin kehilanganmu, Carla." "Baguslah kalau kamu setuju, itu tandanya kamu memang mencintaiku." Edzhar menarik Carla dalam pelukan dan mencium puncak kepala wanitanya. Setelah pelukan itu terlepas, Carla mendongak dengan sudut bibir tertarik ke atas. "Jangan pernah tinggalkan aku, Carla." Carla mengangguk dan mencium bibir Edzhar. "Aku harus pergi, sudah ada janji dengan temanku untuk makan siang bersama." Melihat sorot mata Edzhar yang semula hangat dan penuh cinta berubah curiga, Carla terkekeh geli. "Tenang, cuma teman, dan dia perempuan." "Kabari aku usai makan siang, aku ingin mengajakmu jalan-jalan sebentar." Carla mengangguk setuju dan benar-benar keluar dari ruangan Edzhar. Ia terus berjalan sambil mencari ponselnya di dalam tas. Begitu dapat, wanita itu mengabari seseorang. Carla: Aku sudah meminta Edzhar menceraikan Gilda, dan Edzhar menyetujui permintaanku. Setelah anak itu lahir, mereka akan bercerai. Tante Isidora: Kerja bagus, Carla, tapi jangan berhenti di sana. Terus buat Edzhar membenci Gilda supaya mereka segera bercerai. Tante akan memberikanmu hadiah jika kalian menikah secepatnya. Carla tidak menjawab pesan balasan dari Lexa. Justru ia memasukkan gawainya ke dalam tas dengan berdecih. "Dasar model murahan! Memangnya aku pelayanmu yang harus mengikuti perintahmu?!" geramnya dalam hati karena saat ini di depannya, dua saudara sepupu Edzhar berpapasan dengannya. Carla tersenyum pada mereka satu-persatu sebelum mempercepat langkah kakinya. * Gilda yang sudah mendapatkan buku tentang kehamilan, persalinan, menyusui, buku MPASI, hingga buku parenting, kini sedang duduk bersama Mona di salah satu gerai makanan. Keduanya sudah puas berjalan-jalan di mall setelah sebelumnya mampir ke toko hewan. Dalam perjalanan ke mall, tiba-tiba saja Gilda kepikiran ingin melihat kelinci. Karena tentu saja, di pukul delapan pagi pusat perbelanjaan belum buka, sang sopir dan Mona pun mengabulkan permintaan Gilda. Mobil itu mengarah ke toko hewan, yakni kelinci, kucing, anjing, dan marmut yang berada di pinggir jalan. Sekarang, perut mereka sudah kenyang. Mona sangat kepenuhan, karena Gilda hanya mengambil nasi dan lauk sedikit. "Nyonya, apa Nyonya sudah lelah? Apakah kita langsung pulang setelah selesai makan siang?" tanya Mona yang membuat Gilda menggeleng. "Nyonya belum lelah?" "Belum, apa kau sudah lelah, Mona?" "Saya tidak lelah, Nyonya ... tapi, saya harus segera pulang untuk memasak makan malam. Tuan Mateo lebih suka masakan yang saya buat daripada pelayan lain, Nyonya." "Kalau begitu kau bisa pulang dulu. Aku akan mampir ke toko roti, dan akan di sana sampai sore." Jelas saja Mona tidak setuju dengan saran Gilda, karena sudah diperintahkan Mateo untuk mendampingi Gilda. "Sebenarnya tuan Mateo tidak mengizinkan Nyonya kembali ke toko dan tidak ingin kita pulang sore, Nyonya." Tarikan napas Gilda membuat Mona merasa tidak enak hati, karena ia tahu Gilda butuh dunia luar. "Aku tidak suka di rumah seharian, Mona." Terdiam sebentar, Gilda kemudian tersenyum sembari melirik sopir mereka yang duduk tak jauh dari meja makannya dan Mona. "Bagaimana kalau aku ditemani sopir saja? Dia juga sangat menjagaku, kakek tidak akan khawatir." Mona pun menoleh ke arah sopir yang diam-diam selalu memerhatikan sekitar Mona dan Gilda. "Nyonya benar, dengan dia saja sudah aman. Kalau begitu saya akan pulang sendiri, Nyonya." Gilda mengangguk mantap dan mempersilakan Mona untuk pulang lebih dulu. "Hati-hati di jalan, dan sampaikan pada kakek untuk tidak perlu cemas." Mona mengangguk dan melambaikan tangan. Gilda terus memerhatikan Mona yang semakin keluar dari sini, dan di saat Mona sudah menghilang dari pandangannya, dahi Gilda membentuk lipatan. "Carla dan Kendrick?" tanya Gilda saat dua sosok yang jalan berdampingan itu hendak masuk ke gerai makanan di mana Gilda berada. Gilda tak pernah memutuskan pandangannya sampai Carla menyadari keberadaan Gilda. "Wow!" Carla berjalan cepat dan memerhatikan buku yang sudah sempat dibaca Gilda, buku kehamilan. Ternyata kau sangat antusias dengan kehamilanmu dari hasil rencana kotormu, ya, Gilda?" Gilda yang mendengar kata hamil, lantas menyentuh perutnya. "Apa yang kau bicarakan?" "Jangan pura-pura tidak tahu!" Sebuah tamparan pun melayang, dan mendarat di pipi mulus Gilda sebelah kiri. Sopir Mateo yang kaget, lantas beranjak dari duduknya. "Kau sudah menjebak Edzhar malam itu, dan karena kau hamil, pernikahanku dibatalkan! Kau tidak jauh dari kata murahan, Gilda! Sahabat macam apa itu?! Murahan kau Gilda! Dasar p*****r!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD