“Anda salah kalau mengira saya takut pada Anda, tapi benar adanya kalau selama ini saya sangat menghargai dan menghormati Nyonya.” Dihempaskannya tangan kanan Lexa, dan ia pun bangkit dari kursi. “Rasa hormat saya kepada Anda bukan berarti saya harus menerima semua perlakuan Anda, Nyonya.”
Setelah mengatakan itu, Gilda keluar dari dapur sembari menghembuskan napas panjang. Ia juga menyentuh dadanya, merasakan degup jantungnya. Sampai di ruang makan ia tidak melihat Mateo, hanya ada Mona saja yang menatapnya cemas dan buru-buru menghampirinya.
Lexa pun turut keluar dari dapur. Dia melirik sekilas pada Gilda dengan tangan mengepal. Keluar dari ruang makan, ia masuk ke kamar tidurnya.
Mona yang menghampiri Gilda dan berdiri di depannya menatap wanita muda itu lekat-lekat. "Nyonya Gilda, apa kau baik-baik saja?" Lalu memeriksa kondisi sang nyonya dari ujung kepala sampai kaki, dan kembali memerhatikan bagian muka Gilda.
"Aku tidak apa-apa, Mona." Ia tersenyum dan mengangguk meyakinkan. "Aku sungguh baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir." Mona pun bernapas lega mendengarnya. "Kakek ke mana? Kenapa beliau tidak ada di sini?"
"Pagi ini tuan ada jadwal pemeriksaan, Nyonya. Beliau juga harus menemui sanak saudara yang semalam masuk ke rumah sakit."
Gilda mengerutkan kening, bingung. "Mengapa tidak menemuiku dulu?" Pasalnya, Mateo jarang sekali pergi tanpa pamit. Biasanya, dulu setiap dia bertandang ke sini, Mateo selalu pamit padanya juga jika hendak keluar.
"Tidak tahu, Nyonya. Mungkin tuan terlalu terburu-buru." Gilda hanya mengangguk. "Beliau sempat berpesan agar saya menjaga Nyonya, untuk itu Nyonya Gilda harus memberitahu apa pun yang Nyonya inginkan," ucap Mona sambil mengikuti Gilda yang beranjak dari ruang makan.
Gilda jelas menggeleng, tidak setuju. "Itu tidak perlu, lagi pula aku baik-baik saja. Rasa mualku juga sudah reda," balasnya yang mulai menaiki tangga diikuti Mona yang jalan di belakangnya. "Oh, ya ... hari ini aku harus ke toko seperti biasa."
Mona sontak tidak memberikan izin. "Tidak boleh, Nyonya Gilda. Tuan Mateo melarang, beliau pun sudah meminta Nyonya untuk di rumah saja."
Gilda menggeleng keras. "Aku tetap akan bekerja, Mona. Aku tidak suka diam di rumah. Lagi pula aku tidak memiliki aktivitas apa pun di sini, jadi sangat membosankan kalau di rumah saja," sahutnya yang makin masuk ke kamar Edzhar. Diikuti Mona yang kukuh, tidak memperbolehkannya pergi.
"Tuan bisa marah padaku jika Nyonya nekat bekerja. Tuan Mateo pasti marah besar, Nyonya. Beliau sudah cukup marah karena tuan Edzhar memilih bekerja setelah menikah, pasti beliau semakin marah jika tahu Nyonya juga bekerja." Sambil menatap Gilda dengan tatapan memohon dan membuat Gilda yang hendak masuk ke walk in closet memutar badan ke arahnya.
Gilda cukup merasa khawatir juga kalau Mona kena amukan dari Mateo, tetapi ia benar-benar tidak suka di rumah tanpa melakukan apa pun. "Aku sudah tidak boleh melakukan apa-apa di rumah ini, Mona. Jadi, hanya toko roti saja tempatku beraktivitas. Apa kau masih ingin tetap melarangku ke sana? Kau tidak kasihan padaku?" Mona terdiam sejenak mempertimbangkan permintaan Gilda. "Atau begini saja, kau ikut aku ke toko, bagaimana?"
"A-aku ke toko, Nyonya?"
"Bukannya kau diminta Kakek untuk menjagaku?" Mona menganggukkan kepalanya. "Baguslah, ikut aku saja. Kau bisa mengawasiku saat di ruang produksi."
"Kau yakin ini ide yang bagus, Nyonya?"
Gilda mengangguk. "Aku yang akan menjelaskan pada kakek. Kau tidak perlu takut, kakek tidak akan memarahimu."
Mona yang masih bingung itu teringat akan tugas utamanya. "Tapi, Nyonya ... saya harus menyiapkan makan siang, belum lagi membersihkan halaman belakang dan menyiapkan makan malam."
"Masih ada beberapa pelayan lain di sini, kau jangan beralasan, Mona. Mereka bisa memasak juga, 'kan?" Mona sedikit menganga mendengar jawab Gilda yang benar adanya. "Jangan lupakan juga, kakek bisa makan di resto khusus sesuai anjuran dokter."
Mona tampak terkejut mendengar penuturan Gilda. "Dari mana Nyonya Gilda tahu?" dengan senyum kaku tersungging, sebelum kepalanya menunduk.
Gilda pun turut tersenyum. "Aku pernah bertemu kakek di sebuah resto, dan itu bukan restoran cepat saji atau tempat sembarangan, Mona ... wilayahnya cukup dekat dengan rumah sakit." Setelah itu ia masuk ke walk in closet. Wanita muda itu mengganti baju rumahnya dengan pakaian nyaman untuk kerja.
*
Dalila yang berdiri di depan toko, segera menarik tangan Gilda begitu perempuan itu turun dari mobil bersama Mona. Bukannya senang sesudah sampai di toko, Gilda justru kaget karena ada kasir dan seorang pendamping pembeli di toko. Gilda pun diajak masuk ke dalam, dan Dalila mulai menceritakan apa yang terjadi di toko padanya.
Mendengarkan penjelasan Dalila, ia semakin terheran-heran dengan Mateo. Pria tua itu terlalu berlebihan memperlakukannya sebagai menantu di keluarga Martinez. Gilda pun masuk ke dalam ruang produksi, dan di sanalah mulutnya menganga cukup lebar.
Para pekerja baru yang melihat kedatangan anak pemilik toko roti itu pun menyapa. Ya, karyawan Gilda bertambah. Total lima pegawai di ruang produksi yang ia punya. Mona mulai mengeluarkan gawainya dan diam-diam merekam pembicaraan Gilda dengan Dalila, untuk dikirimkan pada tuannya.
"Bukan di sini saja, di toko yang Bibi kelola pun pegawainya bertambah. Begitu mengecek di sini, Bibi semakin tidak menyangka." Dalila menatap pekerja yang lama dan melanjutkan, "Mereka semua juga tidak tahu kalau karyawan baru itu bukan kita yang mempekerjakan."
"Kalau begini kita tidak akan bekerja, Bibi ...," ujar Gilda menghela napas. Mona yang turut mendampingi Gilda pun terkekeh geli di belakang dua perempuan yang tengah tercengang dengan kelakuan sang tuan.
"Ya, kita tidak akan mengerjakan apa pun. Sebaiknya kau bilang pada tuan Mateo."
"Benar, Bi ... aku ingin bicara dengan kakek, ini sudah terlalu berlebihan." Meraup wajahnya, Gilda pun keluar. "Seharusnya kakek tidak perlu ... AISH ...! Kakek benar-benar mengajak perang!" pekiknya frustrasi.
Mona yang sedari tadi mendengar omelan Gilda berdeham sambil menyimpan ponselnya. Menepuk bahu sang nyonya dua kali, dan yang ditepuk berhasil menoleh dengan tatapan tanya. "Bagaimana jika Nyonya Gilda dan Nyonya Dalila pergi berbelanja saja? Bukankah sejak toko roti ramai, Nyonya belum pernah pergi jalan-jalan lagi?" saran Mona yang membuat Dalila diam merenung.
Berbeda dengan Dalila, Gilda yang sudah tahu maksud Mona, segera menggeleng keras. "Kau jangan berani-beraninya membujukku untuk malas bekerja, Mona. Kau pasti sudah memberitahu kakek kalau aku memilih kerja daripada di rumah, bukan?" Yang ditanya dengan santai mengiyakan.
"Sebenarnya kakek sendiri sudah tahu kalau Nyonya akan bersikeras datang ke sini," ungkap Mona yang didengarkan oleh Dalila juga. "Karena sudah mengirimkan karyawan baru untuk Nyonya, beliau menyarankan Nyonya untuk berbelanja saja bersama Nyonya Dalila," terang Mona kemudian dengan tersenyum pada Dalila yang menatapnya tak berkedip.
Gilda tidak langsung setuju. Dalila sendiri pilih menolak, wanita itu lebih memutuskan untuk kembali ke toko kedua yang sebelumnya telah ia kelola. Sementara Gilda tetap berada di toko, namun jalan ke ruang istirahat.
Membuka pintu ruangan tersebut lebar-lebar, Gilda memijat pelipis. "Jadi, tugasku di sini hanya menerima uang masuk dari toko dan mengeluarkan uang cuma untuk pembelian bahan roti?" gumam Gilda setelah menghempaskan tubuhnya di sofa. "Cuma inikah kegiatanku?"
Mona yang senantiasa mengikuti Gilda, berdiri di samping sofa, dan mengiyakan gumaman Gilda. Kembali diam, Gilda memikirkan saran Mona sebelumnya. Ia pun mendongakkan kepala ke arah pelayan Mateo tersebut.
"Mona, apakah salah kalau kita belanja baju untuk calon bayiku? Apakah terlalu cepat kalau kita beli sekarang?"
"Iya, Nyonya ... terlalu dini jika sekarang kita membelinya, tapi tidak akan menjadi masalah jika Nyonya ingin membeli perlengkapan lainnya."
Mengerutkan kening sejenak, karena otaknya mulai berpikir mengenai kehamilannya, sebelum dalam hitungan detik kemudian bibirnya terbuka dan segera memekik, "Oh, aku tahu! Bagaimana kalau kau menemaniku ke toko buku saja? Aku ingin membeli buku tentang kehamilan dan ilmu parenting. Aku bisa membacanya di sini, Mona."
Mona mengangguk antusias begitu melihat binar di wajah Gilda yang berhasil menyalurkan keceriaan. Mona sangat setuju. "Baik, Nyonya! Mari kita pergi."
Gilda pun bangun dari sofa dengan semangat. Ia langsung keluar dari toko dan buru-buru masuk ke dalam mobil, diikuti Mona yang berjalan pelan mengekor di belakangnya. Wanita yang memakai jumpsuit celana panjang itu tersenyum lebar bersama tangan yang tiba-tiba menyentuh perut ratanya.
Mona merogoh ponselnya dan mulai mengetik sesuatu di sana.
Mona: Nyonya hendak mencari buku-buku mengenai kehamilan, Tuan. Kami dalam perjalanan ke pusat perbelanjaan.
Tuan Mateo: Tetap beritahukan semua kegiatannya padaku.
Usai dibalas, Mona segera menyimpan ponselnya saat Gilda sudah duduk tenang di dalam mobil. Mobil pun mulai bergerak menjauhi toko roti Gilda selepas Mona ikut duduk di samping Gilda. "Apa aku juga boleh ikut kelas yoga, Mona? Setahuku ibu hamil masih boleh beraktivitas, terlebih di toko pun kerjaanku tidak ada yang berarti, selain menghitung uang."
"Boleh saja, Nyonya ... tapi Nyonya harus memberitahu tuan Edzhar dan tuan Mateo."
*
"Setelah melihatnya, apa rencanamu ke depan, Ed?" tanya Janez, seorang pria yang merupakan salah satu anggota dari keluarga besar Martinez, cucu dari kakak Mateo.
Edzhar tak langsung bersuara, ia diam dan memerhatikan fasilitas yang ditawarkan villa dari keluarga Martinez pada penyewa. Tak lama waktu berselang, Edzhar pun bersuara, "Aku ingin penginapan kita yang bermasalah ini menurunkan harga per malam dan memberikan bonus pada penyewa yang menginap selama satu minggu penuh."
"Harga sewa diturunkan? Kita bisa kehilangan banyak uang!" sahut cucu yang lain, tidak setuju dengan keputusan Edzhar.
Edzhar masih senantiasa memerhatikan layar gadget tablet yang memperlihatkan grafik pengunjung atau penyewa villa dari minggu ke minggu hingga bulan ke bulan. "Bisa kita lihat, setiap bulannya penyewa di sini makin menurun, terutama sejak satu tahun terakhir."
Pria lain yang berada di seberang Edzhar dengan tegas menyahut, "Aku tidak setuju jika harga diturunkan, pemasukan kita akan berkurang sangat banyak. Coba pikirkan cara lainnya selain menurunkan harga sewa."
Dengan tegas pula Edzhar menekankan, "Saranku tetap sama. Harga sewa perlu diturunkan, dan kita harus melakukan promosi besar-besaran. Entah itu melalui media sosial maupun brosur, promosi wajib ditingkatkan."
"Apa alasanmu yang ingin menurunkan harga sewa, Ed?" tanya Janez setelah meneguk kopinya.
"Fasilitas WiFi atau jaringan internet gratis dari villa sudah ditiadakan, kolam renang hanya disediakan untuk orang dewasa, dan bagian paling penting ... tidak ada spot foto khusus keluarga maupun pasangan yang baru saja menjalin hubungan, apa kalian tidak memerhatikan itu?" Edzhar menatap mereka satu-persatu. "Jika ingin pemasukkan tetap jalan, perhatikan juga fasilitas yang kita tawarkan."
Mereka semua terdiam menerima usulan dari Edzhar. Akan tetapi, Janez mengangguk-angguk paham. "Jadi, maksudmu kita harus memasang WiFi kembali?"
"Bukan hanya itu. Beberapa kamar yang terlalu besar tanpa mempertimbangkan desain kekinian, cukup membosankan untuk anak muda yang rata-rata menjadi pendatang di villa kita ini. Target kita bukan hanya keluarga, tetapi anak-anak muda yang berlibur."
Janez menerima masukan Edzhar dan mencatatnya di buku catatan. "Masih ada yang ingin memberikan solusi lainnya?" Kebanyakan orang di sana hanya diam, dan beberapa menyetujui masukan Edzhar. "Baiklah, rapat kita berhenti sampai di sini, kembali lagi dalam waktu satu jam lagi. Selamat makan siang," ujar Janez seraya bangun dari kursinya.
Mereka semua keluar dari ruang rapat, kecuali Edzhar yang sudah mencatat kekurangan villa mereka. Edzhar juga menulis beberapa fasilitas lain yang sekiranya baik untuk kemajuan penginapan keluarga Martinez. Pria itu tersadar, dan berhenti memerhatikan gadget setelah pintu rapat dibuka cukup kencang.
Edzhar menoleh dan kaget dengan kehadiran kekasihnya, Carla. "Kau ke sini? Mengapa tidak menghubungiku dulu?"
"Aku tidak sempat, dan lebih mudah mendatangimu langsung."
Edzhar pun berdiri. "Ada perlu apa?" Sambil berjalan ke arah Carla.
"Aku ingin bicara padamu!"
"Baiklah, kita bicara di luar. Ini ruang rapat, kita bisa bicara di ruanganku."
Di saat Edzhar hendak merangkul Carla, wanita itu tiba-tiba berteriak lantang, "Apa sebenarnya tujuanmu menunda pernikahan kita?!" Mendadak pula wanita itu menangis dan mendorong. "Alasanmu kemarin ... bukankah kau berbohong padaku, Ed?!"