Perhatian Kecil Edzhar

1119 Words
Tanpa menunggu jawaban dari Gilda, Edzhar membopongnya. Dibawanya Gilda pergi dari aula, pergerakan Edzhar yang sigap itu membuat beberapa orang di sana menatapnya dan Gilda penasaran. Dari mereka semua, hanya Mateo yang tersenyum senang melihat kemesraan sepasang pengantin baru itu. “Apakah menantumu sedang tidak enak badan, Lexa?” tanya seorang wanita yang merupakan ibu dari Kendrick. Lexa menggeleng dan dan mengangkat bahu tak peduli. Sedangkan Mateo yang mendengar pertanyaan itu menyahut, “Mereka pengantin baru, kau pasti paham.” Mateo menatap Lexa dan memberi tatapan tajam sebelum memandangi wanita yang berdiri di sebelah menantunya. Wanita yang memegang segelas minuman beralkohol itu mengiyakan. “Ah, benar Tuan Mateo. Pihak wanita pasti kelelahan mengurus pernikahan mereka,” jawabnya seraya tersenyum dan kembali melihat ke mana Edzhar membawa sang istri. Mateo yang mendengar jawaban dari saudara Lexa itu ikut menyunggingkan senyum. Kembali melihat ke mana Edzhar membawa sang istri. Edzhar berjalan cepat menuju toilet, dan menurunkan Gilda di depan pintu toilet. “Masuklah, muntah di dalam sana,” perintahnya kemudian, sambil menunjuk pintu toilet perempuan yang tertutup rapat. Gilda tidak menjawab, tapi langsung pergi masuk. Sembari menunggu Gilda yang pastinya sedang berusaha memuntahkan isi perut, Edzhar bersandar pada dinding lalu mengeluarkan ponselnya. Selama sibuk dengan acara, gawainya bergetar. Beberapa pesan dari Carla masuk, dan rata-rata mengingatkannya untuk berbelanja di mall siang ini, sesuai permintaan perempuan itu tadi malam. “Wajahmu tampak bingung, ada apa?” tanya Kendrick yang tiba-tiba berada di depannya. “Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu, Ed.” “Oh, tidak. Hanya saja, aku harus pergi siang nanti.” “Di hari pernikahanmu?” tanya Kendrick yang membuat Edzhar mengangguk kecil. “Ternyata kau semakin sibuk sekarang.” Edzhar tersenyum tipis. “Kenapa kau berdiri di sini? Kau ingin ke toilet atau menemuiku?” tanyanya saat melihat Kendrick diam dengan melipat dua tangan di depan d**a, sambil menatapnya. “Apakah ada sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku?” Kendrick menggeleng sambil membalas, “Tentu tidak. Aku hanya ingin pamit padamu dan Gilda. Sudah cukup waktuku di sini.” Edzhar tertawa, ia pikir ada sesuatu yang terlalu penting sampai Kendrick menunggunya. “Ngomong-ngomong, mengapa istrimu terlihat kurang sehat? Aku tahu dia mual sebelum masuk ke toilet. Kau yakin Gilda baik-baik saja?” Gilda yang baru saja keluar dari toilet perempuan itu lantas menyahut, “Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Ken. Aku sehat.” “Oh, baguslah. Kalau begitu aku bisa pergi dengan tenang,” sahut Kendrick seraya mengulurkan jemarinya pada Gilda. “Aku pamit, Kakak Ipar. Sekali lagi selamat untuk pernikahanmu,” lanjutnya sambil melirik tangan Gilda yang belum membalas jabatan tangannya. Edzhar yang melihat Gilda bergeming, lantas sedikit menyenggol lengan sang istri sampai Gilda meliriknya. Kemudian dengan sedikit terpaksa menerima uluran tangan Kendrick. “Ya, terima kasih.” Sesudah itu Kendrick tersenyum lebar sambil mengusap punggung tangan Gilda dengan jempolnya. “Kau terlalu lama memegang tanganku.” “Ah, ya! Baiklah, aku pergi sekarang. Bye, Ed!” Edzhar merangkul Kendrick, lalu mempersilakan saudara lelakinya itu angkat kaki dari hadapannya. Ia hendak mendampingi Gilda, namun wanita itu sudah pergi, jalan ke bagian minuman. Saat Edzhar hendak membalas pesan Carla, kekasihnya itu tiba-tiba membatalkan acara mereka. Ia pun menelepon Carla untuk memastikan sang kekasih tidak marah karena dirinya terlalu lama mengabaikan pesannya. Namun, panggilannya ditolak, dan Carla mengatakan bahwa dia ada acara mendadak bersama teman-teman SMA-nya. “Baiklah kalau begitu, aku jadi tidak perlu memikirkan alasan untuk izin ke kakek,” ucap Edzhar sambil memasukkan benda pipih itu ke dalam saku tuxedo hitamnya. Ia pun menyusul Gilda. Turut menikmati minuman yang menyegarkan di atas meja. Mengajak Gilda duduk ke tempat semula dengan satu tangan merangkul pinggang sang istri. Acara hari ini berlangsung sangat baik, sesuai keinginan Mateo dan Gilda. Akan tetapi, salah satu dari mereka yang ada di sana sangat membenci pernikahan tersebut. Lexa bertekad untuk menjauhkan Gilda dengan keluarga Martinez, bagaimana pun caranya. “Tidak peduli yang kau kandung itu cucuku atau bukan, aku tidak pernah sudi menerima dan mengakuinya sebagai darah daging putraku,” batin Lexa yang tatapannya tak pernah lepas dari wanita dalam pelukan Edzhar. * Malam telah berlalu. Gilda yang sudah menjadi bagian dari keluarga Martinez, kini tidak boleh melakukan kegiatan apa pun termasuk membantu pelayan memasak. Alhasil, ikut menunggu di meja makan bersama anggota keluarga lainnya. Begitu masakan berbau amis datang, entah mengapa rasa mual Gilda bangkit lagi. Membuat aktivitas semua orang di meja makan berhenti, kecuali Lexa. Edzhar dengan sigap menarik pelan kursi yang dipakai sang istri, dan ingin menemani Gilda jalan ke wastafel. Akan tetapi, Gilda menahannya. “Lanjutkan makanmu, aku bisa jalan, Ed ...,” pinta Gilda seraya melirik Lexa yang menatapnya tak suka. Mau tidak mau Edzhar menurut. Melihat sang nyonya berusaha memuntahkan isi perut di depan wastafel, Mona segera membuatkan segelas air jahe. Gilda tak langsung ke ruang makan, tetapi duduk dulu di kursi yang disiapkan Mona. Gilda juga menerima minuman hangat dan harum buatan Mona sebelum lanjut sarapan. Di tengah minum air jahe buatan Mona, Edzhar datang dengan membawa semangkuk sup jamur yang tadinya dinikmati Gilda, sebelum insiden mual menyapa. Edzhar tiba-tiba berjongkok. “Apa itu salah satu kejahilanmu, Baby?” tanya Edzhar sebelum mengusap perut rata Gilda. Gilda yang mendapat perlakuan manis itu tak bisa menahan senyum di wajahnya. Namun, ia buru-buru berdeham. “Aku harus berangkat kerja sekarang,” ucapnya pada sang istri. “Hati-hati di jalan,” ucap Gilda yang dibalas Edzhar dengan mengusap perut ratanya. Edzhar juga tak ragu untuk mencium kening Gilda setelah berdiri. “Kau juga harus hati-hati, terutama saat ke kamar mandi dan turun tangga,” balas Edzhar. Gilda pun mengiyakan, dan sebelum beranjak, Edzhar mengusap perut rata Gilda lagi sambil tersenyum. “Sampai jumpa, Baby ...,” pamitnya dan benar-benar beranjak dari dapur. Tak lama setelah Edzhar pergi, Lexa masuk ke dapur dan segera meminta Mona keluar. “Sadarlah, kau itu tidak pantas bersanding dengan putraku, terlebih lagi menjadi bagian dari keluarga ini.” “Jauh sebelum Anda berkata begitu, saya sudah bercermin, Nyonya Lexa.” Lexa semakin mendekat dengan tangan yang setia dilipat di depan dadanya. “Memiliki sahabat seperti Ed saja saya sudah merasa beruntung, Nyonya Lexa.” “Kalau kau sudah sadar, ceraikan putraku setelah anakmu itu lahir!” bisiknya namun dengan penuh penekanan, lalu menambahkan, “Karena hanya Carla yang pantas menjadi pasangan Edzhar selamanya. Kau paham itu?!” Gilda masih dengan menatap sang mertua, kemudian menyahut, “Kita tidak pernah tahu takdir, Nyonya. Jika suatu saat saya harus bercerai dengan Edzhar, maka saya harus menerima, namun ... jika saya sudah ditakdirkan menjadi pasangan hidup Edzhar, saya tidak akan menyerah untuk menjaga keutuhan rumah tangga saya.” “Berani-beraninya kau membantah perintahku?!” pekik Lexa yang sudah melayangkan tangannya, hendak menampar mulut Gilda. Akan tetapi, dengan cepat Gilda menahannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD