Terpaksa Menikah?

1735 Words
Mateo yang mendengar itu mendadak murka. Ia menatap tajam Edzhar. “Bawa Gilda ke kamarmu, Ed!” titah Mateo yang langsung dilaksanakan sang cucu tanpa protes sedikit saja. Edzhar menggandeng Gilda setelah perempuan itu sudah berdiri, tepatnya saat wanita yang terlihat garang itu menatapnya tajam. Ia digandeng sampai ke atas. Akan tetapi, kala masuk ke dalam Edzhar, Gilda segera melepaskan tangan yang masih memegangnya. Edzhar meminta Gilda untuk duduk di kasurnya seperti biasa, namun wanita itu menolak dan memilih duduk di sofa. “Jangan pedulikan ucapan ibuku,” ucap Edzhar sesudah ia melihat Gilda duduk. “Sampai kapan pun ibumu tidak akan pernah menyukaiku, terlebih lagi dia tahu kalau kakek Mateo menginginkanmu menikahiku, Ed.” “Setelah tahu kau hamil anakku, ibuku pasti menyetujuinya ... walaupun mungkin dia sedikit terpaksa memberikan restunya.” Gilda tak ingin menjawab. Dia menatap lurus pada jendela kamar Edzhar yang tirainya terbuka cukup lebar. Hingga beberapa detik berlalu, barulah dia mengatakan, “Perasaanku padamu memang sudah berubah menjadi cinta, Ed ... namun aku tidak pernah memiliki niat sedikit pun untuk merebutmu dari Carla.” Ia berkata jujur, dan hal itu membuat Edzhar menatapnya tak percaya. “Aku akan menikahimu, tapi bukan berarti aku harus berhenti mencintai Carla, bukan?” Gilda yang semula enggan melirik Edzhar, kini memandang pria itu. Ia tak menyangka kalau Edzhar akan mengatakan kebenaran pahit. Gilda pikir Edzhar akan fokus padanya dan calon buah hatinya saja, tanpa memerhatikan Carla. “Maksudmu ... kau tidak akan memutuskan hubunganmu dengan Carla walaupun kita nanti menikah, Ed?” “Ya, aku akan tetap menjalin hubungan dengan Carla tanpa sepengetahuan kakek. Jadi, kau pun harus menjaga rahasia ini dari siapa pun. Hanya kau dan aku yang tahu.” Rasa sesak mendiami hati Gilda. Memang salah jika dia sudah mulai mencintai Edzhar, tapi mendengar kejujuran lelaki itu sungguh menyakitkan. “Kalau memang begitu, lebih baik aku mundur. Aku tidak ingin menikah dengan laki-laki yang tak mungkin bisa mencintaiku. Aku tidak mau menikah bersamamu, Ed. “ Lelaki itu menggeleng, sementara Gilda langsung menarik tangan Edzhar. “Biarkan aku mengurus anak ini sendiri,” pintanya. “Tidak, calon bayi yang ada di perutmu itu bukan hanya milikmu, tapi juga darah dagingku. Sudah kuputuskan, aku akan menikahimu sebagai bentuk tanggung jawabku untuk kalian ... kau dan calon anak kita. Lalu Carla ... dia tetap wanitaku, dan kau tidak berhak melarang kami berhubungan, termasuk setelah kita berdua menikah nanti.” “Kau mengatakan bahwa aku egois karena memilih untuk menyembunyikan calon bayi di dalam perutku ini darimu, lalu kau sendiri apa? Bukankah kau lebih egois karena menikahiku, tapi tidak ingin mengakhiri hubunganmu bersama Carla?” Edzhar sedikit memaksa Gilda untuk duduk. Kedua tangan menahan pundak Gilda, dan ia berlutut di depan Gilda yang kembali menempatkan diri di sofa. “Yang terpenting adalah status anak kita. Mengenai hubunganku dengan Carla, kau seharusnya sadar diri. Kau hanya sahabatku, bukan wanitaku.” Saat Edzhar mengatakan itu, sosok Mona sudah berdiri di depan pintu kamar. Wanita itu segera meminta maaf saat kedua manusia yang sedang berkonflik itu mengetahui keberadaannya. “Ma-maafkan aku, aku tidak sengaja mendengar, Tuan.” Mona menunduk tak berani menatap Edzhar. “Ada apa kau kemari?” “Tuan Edzhar, tuan Mateo memanggil kalian berdua,” ucap Mona yang perlahan-lahan kembali mendongak. “Beliau sudah menunggu di meja makan bersama Nyonya Lexa.” Edzhar mengibaskan tangannya dan menjawab, “Turunlah, aku dan Gilda akan menyusul sebentar lagi.” Tanpa membantah, Mona putar badan dan segera angkat kaki. Meninggalkan sepasang muda-mudi yang belum selesai berdebat dengan membuang napas lega, karena tidak diceramahi oleh Edzhar sebelum keluar. “Baiklah jika itu maumu, tapi ... aku ingin kau adil.” Edzhar mengerutkan dahi sebelum Gilda kembali meneruskan ucapannya, katanya, “Saat kita menikah nanti, aku ingin waktumu sepenuhnya kau curahkan untukku ketika di rumah. Jika di luar, lakukanlah apa yang kau mau termasuk pergi bersama Carla.” Memicingkan matanya, Edzhar tak langsung setuju. “Kau yakin hanya memberikan syarat ini?” “Ya, seperti katamu sebelumnya, aku harus sadar diri karena aku bukan wanita yang kau cintai.” Wanita itu tersenyum dan menjauhkan sepasang tangan Edzhar yang menempel di pundaknya. “Kita hanya teman yang terpaksa menikah karena kecelakaan,” sambung Gilda lalu bangkit berdiri. Memilih keluar duluan, daripada berjalan dengan Edzhar yang ia rasa sudah sangat asing. Sesampainya di ruang makan Gilda bisa melihat Mateo yang duduk berdampingan dengan Isidora Lexa, ibu kandung dari Edzhar. Wanita empat puluh tahun itu merupakan menantu satu-satunya di keluarga Martinez. Tatapan tajamnya tak pernah lepas dari sosok Gilda yang turut bergabung bersamanya. Empat orang yang duduk saling berhadapan itu diminta sang kepala keluarga untuk menikmati menu makan malam dengan tenang. Mateo memberi perintah itu karena tidak ingin jika diskusinya bersama Gilda berantakan akibat Lexa yang menentang keputusannya menikahkan Edzhar dengan wanita di depannya itu. Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa Lexa tak menyukai Gilda sejak berteman dekat dengan Edzhar. “Karena aku tidak ingin menimbulkan keributan, aku ingin pernikahan kami tidak diumbar.” Edzhar melirik dan menunjukkan senyum simpulnya saat Gilda menoleh singkat ke arahnya. “Aku ingin pernikahan tertutup, Kakek ...,” pinta Gilda setelah selesai makan dan memandang serius pada pria lanjut usia di depannya yang langsung terkejut. Mateo yang baru saja mengelap mulutnya dengan sapu tangan, lantas bertanya, “Mengapa kau meminta itu? Edzhar adalah cucu satu-satunya yang kumiliki, dan pernikahan kalian hanya terjadi satu kali, Nak. Kau tidak ingin mengenang pernikahan pertama dan terakhirmu?” Dengan tegas Gilda menggeleng. “Mengenang pernikahan bisa dengan cara apa pun, termasuk pernikahan tertutup yang tidak perlu mewah pula.” Mateo tersenyum mendengarnya. “Aku mohon Kakek ... atau, aku tidak akan menikah dengan Edzhar sama sekali.” “Menurutmu kau siapa?! Harus menikah dengan anakku saja karena insiden menjijikkan, kau juga ingin pernikahan sederhana?” Lexa menggeleng tak percaya. “Mimpi apa aku semalam memiliki menantu kampungan sepertimu?! Oh, aku bisa gila lama-lama di sini!” imbuhnya sambil bangun dari kursi dan memilih pergi dari ruang makan. Mateo menatap Gilda dalam-dalam sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. “Baiklah ... sekarang katakan padaku apa alasanmu menginginkan pernikahan sederhana dan tertutup yang begitu tidak kuharapkan ini, Gilda?” tanyanya yang membuat Gilda melirik Edzhar karena pria itu berdeham tiba-tiba. “A-aku hanya ingin pernikahan biasa-biasa saja, Kakek. Aku juga tidak ingin keluarga Carla mengetahui pernikahanku dan Edzhar ... apakah Kakek tidak keberatan jika pernikahan ini tidak mengundang banyak orang?” “Tidak masalah, aku menyetujui saranmu.” Gilda mengangguk tersenyum sebelum meraih gelas berisi jus alpukat. Meminum minuman sehat itu sampai tandas. “Antarlah calon istrimu pulang, agar sampai rumah dengan selamat, Ed ...,” titah Mateo setelah Gilda meletakkan gelas kosong bekas jus alpukatnya. “Baik, Kek.” Edzhar mengangguk dan sedikit tersenyum. * Pernikahan sederhana berhasil digelar oleh keluarga Martinez. Menjadi pernikahan paling sederhana di sejarah keluarga itu. Selama hidup, baru kali ini Mateo menghadiri acara pernikahan paling tertutup. Apalagi ini adalah acara pertama yang digelar oleh cucu kandungnya sendiri. “Bukan gaya hidup Martinez, dan tidak patut dibanggakan,” komentar Lexa sesudah berpose di samping Gilda dan Mateo. Dalila yang berdiri di samping Edzhar sampai mendengar. Ia yang tak terima pun menyahut, “Kesombonganmu yang sebenarnya tidak layak kau bangga-banggakan, Nyonya Isidora.” Dalila sungguh geram pada wanita yang seumuran dengannya itu. “Seharusnya kau merasa beruntung karena mendapat menantu baik-baik dan tidak pernah menilai anakmu dari hartanya.” “Bibi,” panggil Gilda yang sudah memandang ke arahnya lalu menggeleng. “Bukankah setelah dari sini Bibi akan memeriksa toko?” “Ya, aku tidak sabar ingin pergi dari sini,” balas Dalila lalu menoleh ke arah Mateo. “Saya pulang lebih awal, Tuan Mateo. Saya titipkan Gilda pada Tuan dan Edzhar.” Mateo dengan senyum mengembangnya setuju. “Tolong jaga dia seperti Anda menjaga cucu Anda sendiri, Tuan ...,” tambahnya sebelum berdiri di depan Mateo dan mengulurkan tangan. “Tanpa kau minta, aku senantiasa menjaga dan mendukungnya. Kau tenang saja,” balas Mateo sambil menerima uluran tangan Dalila. “Biarkan salah satu sopirku mengantarmu pulang.” Dalila mengangguk setelah tersenyum haru pada Gilda. Sebelum Dalila turun dari panggung, Gilda mendekatinya dan langsung memeluknya. “Bibi tidak perlu cemas, aku baik-baik saja. Edzhar peduli padaku, dan ibunya tidak sejahat itu, Bibi. Tidak seperti yang Bibi bayangkan.” “Aku mengenal Isidora sebelum kau mengenalnya, jadi ... berhati-hatilah dengan wanita itu ...,” bisik Dalila sebelum menarik tubuhnya. Dia mencium pipi Gilda, dan mengikuti ke mana sopir Mateo menuntunnya. Pagi itu, Gilda telah resmi menjadi istri dari Biantara Edzhar Martinez. Sesuai permintaan darinya, Mateo mengabulkan. Pernikahan itu digelar sangat tertutup, hanya beberapa pelayan dan anak buah Mateo saja yang diundang. Namun, sosok lelaki yang tak asing bagi Gilda muncul setelah sesi pemotretan usai. “Dia Kendrick, bukankah kau sudah mengenalnya?” tanya Edzhar sambil menyodorkan satu sendok sup ayam pada Gilda. “Kau tidak perlu terkejut melihatnya ...,” ucap pria itu sebelum memerintah, “Buka mulutmu.” Gilda menurut. Ia menerima suapan dari suaminya, dan cukup terkejut karena Edzhar makan satu mangkuk juga sesendok dengannya. “Apa kau yang mengundang Kendrick?” tanya Gilda kemudian yang dibalas Edzhar dengan gelengan. “Lalu siapa? Atau ... kakek?” “Ya, bagi kakek keluarga Hernandes wajib mengetahui pernikahan kita,” balas Edzhar dan kembali menyuapi Gilda. “Kau ingin mencoba menu apalagi? Akan aku ambilkan.” Belum sempat Gilda menjawab, Kendrick yang berjalan ke arah mereka berdua menyapa. Ia tiba-tiba mengucapkan selamat pada Edzhar, lalu melirik Gilda. “Aku tidak menyangka kalau pertunanganmu dan Carla ternyata tidak bisa mengantarkan kalian ke hubungan lebih suci. Apa wanita ini yang berhasil merebut cintamu dari Carla, Ed?” tanya Kendrick dengan nada bercanda. Edzhar tak mengambil pusing, pria itu justru ikut tertawa. Beda dengan Gilda yang menatap Kendrick tak suka. “Kita tidak pernah tahu takdir, Ken,” balas Edzhar masih diiringi tawa, lalu mempersilakan Kendrick menikmati suguhan yang tersedia di sekitar mereka. “Nikmati waktumu. Aku harus mendampingi istriku,” putusnya yang diangguki Kendrick sebelum pria itu memilih berlalu. “Dia bukan pria baik-baik, Ed ...,” ucap Gilda yang membuat Edzhar mengerutkan dahi. “Kau bilang begitu karena merasa tersinggung gara-gara ucapannya tadi?” “Tidak, aku hanya merasa kalau Kendrick pria yang kurang baik. Itu saja.” Edzhar menggeleng, menganggap ucapan Gilda hanya angin lalu. “Sudahlah, kau mau makan apa?” Gilda tiba-tiba menutup mulutnya. “Ada apa? Apa kau mual?! Ingin muntah?!” tanya Edzhar panik dan membantu Gilda berdiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD