Menikahi Gilda?

1715 Words
Gilda masih menutup rapat mulutnya, dan semakin memegangi perut. Berdoa di dalam hati, saat ponsel Mateo yang menyala disodorkan padanya. Gilda yang melihat rekaman CCTV di layar ponsel Mateo, lantas menutup mulutnya yang menganga beberapa detik. “Malam itu kau tidak tidur di kamar tamu, Nak.” Gilda perlahan mengangguk, kaku, bersama senyum yang sangat dipaksakan. Mateo yang mengamati ekspresi Gilda, sama sekali tidak mengalihkan sorot matanya. Ia memerhatikan gerak-gerik Gilda yang mulai berubah lebih jelas. “Pagi-pagi buta itu apakah kau keluar dari kamar cucuku?” tanya Mateo yang membuat jantung Gilda terasa seperti kena pukulan benda tumpul nan berat. Gilda perlahan mengangguk-anggukkan kepalanya, dan membuat sudut bibir Mateo tertarik ke atas. “Tetapi tidak terjadi apa-apa, Kakek. Kakek tidak perlu khawatir,” ucap Gilda yang mencoba tersenyum lebih lebar. “Aku dan Edzhar hanya tidur, tidak lebih.” “Aku belum bertanya sejauh itu.” Gilda makin sulit bernapas mendengar ucapan Mateo yang seakan-akan ingin menggali lebih dalam. Gilda pun merasa bahwa apa yang ia katakan barusan sudah berlebihan, dan mampu menimbulkan kecurigaan Mateo terhadap sikapnya. Gilda tertunduk sebentar, sebelum akhirnya menatap Mateo. “Kumohon, jangan ceritakan kejadian itu pada Edzhar maupun Carla. Aku tidak ingin merusak hubungan mereka berdua, Kakek. Malam itu hanya kecelakaan yang seharusnya tidak pernah terjadi,” jelas Gilda sembari meraih tangan Mateo. “Aku akan menjauhi mereka, aku tidak akan mengganggu hubungan Ed dan Carla, Kakek. Biarkan malam itu menjadi kenangan buruk bagiku saja.” Mateo pun terbungkam. Gilda mengambil sendoknya, dan memasukkan potongan tahu serta sayur ke dalam mulut. Sembari mengunyah, ia menatap Mateo yang berdeham. “Kau yakin malam itu hanya malam terburuk, dan tidak akan pernah berkaitan dengan Edzhar di masa depan?” tanya pria tua itu yang membuat Gilda berhenti makan dengan spontan, dan menaruh sendoknya. “Jujurlah padaku,” tegas Mateo yang membuat Gilda mau tidak mau menatap kakek Edzhar lekat-lekat dan mulai membuka mulut. Menggigit bibirnya, tangan Gilda tak berhenti mengelus perut yang terbalut gaun birunya. “Aku akan merawat bayiku sendirian,” ungkapnya kemudian, dan Mateo terkesiap. Ada raut keterkejutan di wajah pria tua itu. Akan tetapi, binar di matanya tidak dapat disembunyikan. Mateo pun melirik ke arah tangan Gilda yang tengah mengelus perut pelan-pelan. “Kau mengandung anak Edzhar, dan dia bukan janin sembarangan. Calon anakmu itu bagian dari Martinez,” ungkap Mateo yang membuat Gilda menelan ludah. “Aku tidak ingin menghapus kebahagiaan Ed, terlebih lagi hanya demi bayi yang kukandung ini,” hembus Gilda yang duduk lebih tegap dan tersenyum tegar walaupun netranya berkaca-kaca. Tatapannya secara penuh terarah pada pria di hadapannya itu. “Aku tidak mungkin menghancurkan rencana pernikahan mereka, hanya karena mengandung janin hasil kecelakaan,” imbuh Gilda yang teguh pada pendiriannya. “Sampai kapan pun bayi itu milik keluarga Martinez. Jadi, pikirkan tindakanmu ke depan. Benar-benar harus kau pikirkan,” jelas Mateo dengan nada yang lebih serius, tapi lembut. “Ikatanmu dan Ed ada padanya sejak janin itu tumbuh. Aku tidak akan menyembunyikan keberadaannya dari Ed. Cucuku berhak tahu.” Ekspresi Gilda terlihat makin cemas setelah mendengar penjelasan Mateo. Itu bukanlah rencananya. “Sungguh, aku tidak apa-apa merawatnya. Aku tidak ingin menghancurkan masa depan Ed bersama Carla, Kakek.” Diraihnya tangan Mateo dan dipegang kuat-kuat sambil meminta, “Aku mohon, biarkan aku hidup tenang dengan calon bayiku.” “Aku tidak ingin kalian menanggung malu ataupun kesengsaraan di masa yang akan datang,” ujar Mateo sembari menarik tangannya dari pegangan Gilda. Mateo memundurkan kursi lalu berdiri. “Makanlah dengan tenang,” ucapnya sambil menepuk singkat pundak kiri Gilda. Pria berumur itu menjauh dari meja tempat Gilda makan. Disusul oleh seorang pria muda yang muncul dari meja lainnya. Mateo didampingi sampai kedua pria itu masuk ke dalam sebuah mobil hitam besar. Gilda yang sadar akan perkataan Mateo, bertambah risau. “Aku bukan perusak hubungan orang. Aku bukan penggoda. Aku tidak pernah menginginkan hal ini terjadi, Ed. Maafkan aku ...,” bisiknya dengan kepala tertunduk. Gilda benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Ia yakin, cepat atau lambat Mateo pasti membongkar rahasianya pada Edzhar. Jika itu sampai terjadi, mungkin bukan hanya Edzhar yang membencinya, Carla dan semua orang di sekitarnya pun akan memandang jijik padanya. * Sore ini Gilda baru saja selesai menyimpan adonan yang sisa ke dalam freezer. Para karyawan sudah pulang lebih dulu, hanya dia dan Dalila saja yang masih berada di sana. Begitu keluar dari ruang produksi, sosok Edzhar yang menyambutnya. Gilda yang terkejut itu sampai berhenti jalan. “Sudah selesai?” tanya Edzhar yang membuat Gilda spontan mengangguk. “Bibi sudah kuminta untuk pulang lebih dulu, karena aku ingin mengajakmu keluar.” “Untuk apa?” tanya Gilda yang mencoba untuk tidak gugup di hadapan Edzhar. “Aku ingin pulang, sepertinya aku butuh istirahat, Ed. Bisakah besok saja.” “Aku tidak bisa menundanya, karena sesuatu yang ingin kubicarakan sangat penting.” Gilda menelan ludahnya saat melihat tatapan intens sahabatnya ini. “Aku janji tidak akan lama.” “Baiklah, tunggu dulu. Aku ambil barang-barangku dulu,” jawab Gilda seraya menyingkir dari hadapan Edzhar dan masuk ke ruang istirahatnya. Wanita itu buru-buru masuk sambil menghela napas panjang. “Apakah mungkin kakek Mateo memberitahu Ed?” tanya Gilda pada dirinya sendiri sambil menyentuh perut ratanya. Diam beberapa detik guna menenangkan diri, setelah itu Gilda mengambil tasnya dan segera keluar untuk menemui Edzhar yang sudah menunggu. Gilda dibukakan pintu oleh Edzhar setelah wanita itu menutup toko rotinya. Keduanya masuk ke dalam mobil pribadi Edzhar, dengan Gilda yang duduk di samping pria itu. Sembari mengendalikan setir mobil, Edzhar tiba-tiba bertanya, “Apakah menurutmu aku bukan lelaki yang baik?” “Apa maksudmu, Ed?” “Apakah menurutmu aku bukan sahabat yang baik untukmu?” “Aku tidak paham. Mengapa tiba-tiba kau bertanya hal yang tidak penting? Jelas kau sahabat terbaik, kau laki-laki yang baik.” “Lalu, mengapa kau tidak terbuka padaku?” tanya Edzhar sambil melirik perut rata Gilda. “Kau tega menyembunyikan bayi kita dariku, Gil. Mengapa kau tidak ingin bercerita padaku?” “Bukannya aku tidak ingin bercerita, aku hanya tidak mau menghancurkan pernikahanmu dengan Carla. Aku tahu seberapa besar cintamu untuknya, Ed.” “Tapi apa yang kau lakukan sejauh ini salah. Kau mengandung karena ulahku.” Menoleh ke arah Gilda sejenak, sebelum menambahkan, “Kau tidak akan bisa mengandung jika aku tidak menyentuhmu malam itu.” “Kalau aku mengatakan apa adanya setelah tahu aku hamil, apakah kau akan langsung percaya?” Edzhar yang hendak menyela ucapan Gilda itu dibuat diam dengan ucapan Gilda lagi yang bertanya, “Terlepas dari bukti CCTV di rumah kakek Mateo, apa kau akan tetap mempercayaiku? Bahwasanya, ucapan tanpa bukti tidak akan dipercayai, sekalipun aku sahabatmu, Ed.” “Lalu rencanamu ke depan apa? Apa kau akan hidup bersamanya tanpa memberitahu siapa papa kandungnya?” Gilda yang semula menatap Edzhar itu, menolehkan kepala ke kiri. Ia enggan bersuara. “Kau egois jika melakukan itu,” ucap Edzhar sebelum menambah laju kendaraan roda empat yang ia tumpangi bersama Gilda. Sebelum menginjak pedal gas, ia mengarahkan lirikannya pada perut Gilda sambil mengucapkan, “Kau tidak perlu cemas, aku akan bertanggung jawab.” Keduanya diselimuti keheningan selama perjalanan karena Gilda tak memiliki niat untuk menyahut. Gilda tidak bisa buka suara lagi setelah mendengar pertanyaan juga pernyataan terakhir dari Edzhar. Wanita itu memilih diam sambil menundukkan kepala. Pikirannya semakin kalut setelah Edzhar mengetahui kehamilannya yang ia rahasiakan dari semua orang, termasuk sang bibi. Mobil silver Edzhar melewati halaman luas milik seseorang yang sangat ia kenal. Gilda sudah bisa menebak dari awal kalau dirinya akan dibawa ke kediaman Martinez. Terlebih lagi begitu tahu Edzhar mendengar kabar kehamilannya, sudah pasti bersumber dari Mateo. Ia langsung turun setelah Edzhar lebih dulu membuka pintu. Gilda mengikuti langkah Edzhar, berjalan di belakang pria itu dengan tangan memegang tali tas selempangnya. Sesudah melewati pintu utama, Gilda bisa melihat sosok Mateo duduk di salah satu sofa di ruang tamu. “Masuklah ke kamar Ed, Mona sudah menyiapkan pakaian untukmu di sana. Bersih-bersihlah sebelum berdiskusi dan makan malam bersama,” perintah Mateo saat Gilda hendak ikut bergabung di sofa bersama Edzhar dan pria berumur itu. “Baiklah, Kakek ...,” jawab Gilda patuh dan segera pergi ke kamar Edzhar yang seharusnya tidak ia datangi lagi. Mona yang berdiri di dekat tangga lantai dua, menemaninya naik hingga berada di depan kamar Edzhar. Wanita itu mengatakan bahwa ia wajib menemani Gilda atas perintah Mateo. Tak banyak waktu yang dibuang untuk Gilda bersih-bersih dan memakai gaun rumahan polos warna cokelat muda. Wanita itu pun turun bersama Mona. Pelayan utama di rumah besar Martinez itu diperintah pergi ke belakang setelah Mateo meminta Gilda duduk di samping Edzhar, dan bersebrangan dengannya. “Aku setuju dengan saran Kakek, aku akan menikahi Gilda.” Gilda yang baru bergabung, dikejutkan dengan ucapan Edzhar pada Mateo. “Sudah seharusnya kalian bersama. Kakek yang akan mengurus pernikahan kalian, dan membicarakan baik-baik pembatalan pernikahanmu dengan Carla.” “Izinkan aku yang mengatakannya pada Carla, Kek.” “Baiklah, kakek yang akan membicarakannya pada orang tua Carla setelah kau berbicara pada tunanganmu itu.” Edzhar mengangguk setuju. Kemudian melihat ke arah Gilda yang menatap sang kakek. “Ada yang ingin kau sampaikan pada kami?” “Hamil anakmu tidak mengubahku menjadi wanita jahat,” ucap Gilda lalu menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang hendak turun. “Aku bukan wanita kejam, aku sahabatmu dan Carla, aku tidak mungkin tega melihat pernikahan kalian batal.” “Keputusanku sudah bulat. Aku tidak ingin cucu buyutku dicap sebagai anak haram atau apa pun sebutannya. Dia bagian dari Martinez yang wajib kuperhatikan statusnya.” Edzhar mengangguk. “Ikutilah rencana Kakek, Kakek hendak memberikan keadilan untukmu dan bayi dalam perutmu,” bisik Edzhar lalu melanjutkan, “Pikirkanlah baik-baik masa depan anak kita.” “Sebagai calon ibunya seharusnya kau tahu, bahwa anak yang lahir di luar pernikahan akan dipandang sebelah mata, Gilda. Apa kau ingin anakmu diperlakukan tidak baik setelah lahir tanpa orang tua yang jelas, Nak?” Gilda menggeleng. “Tapi aku memikirkan perasaan Carla, Kakek.” “Kalian tidak bisa menikah tanpa restuku,” ucap seseorang yang tiba-tiba masuk dan membuat semua mata tertuju padanya. Wanita yang umurnya jauh di atas Gilda itu melirik tajam sambil berjalan cepat ke tempat mereka berbincang. Wanita itu duduk di samping Mateo dan mengatakan, “Aku tidak pernah setuju putra kesayanganku menikah dengan gadis yatim piatu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD