Lidya duduk di bar restoran masakan Jepang, siap memesan makan siang. Tapi sang pelayan sudah mendahului menyapanya. “Hei, ini pelanggan cantikku.” Ia tersenyum lebar kepada Lidya. “Itu julukan khusus untukmu.” Ya, Lidya paham. “Rasanya tidak adil jika aku saja yang mendapat julukan. Bagaimana kalau juga kupanggil si tampan,” katanya sementara sang pelayan menuju mesin kasir untuk mencatat pesanannya. Lidya memang pelanggan tetap, dan ia bangga akan hal itu. Restoran itu hanya berjarak dua blok dari kantor, yang berlokasi di dalam mall, sehingga sangat sesuai untuk beristirahat sejenak di tengah hari. Dan restoran ini juga menyajikan menu favorit Lidya, yaitu Sukiyaki. Itu adalah pendapat Lidya secara objektif menilai kelezatan masakan itu di sini. Lidya menyodorkan dua lembar uang dua

