Alden melonggarkan pelukannya. Dia sangat merasa lega gadis di hadapannya sudah sadar. Dia juga tidak mau sekali lagi kehilangan seseorang yang penting baginya. Alden melepas pelukannya dan menyaksikan gadis yang ia peluk tadi terdiam dan terlihat sangat bingung. “Maaf, aku tidak bermaksud buruk.” Alden mengucapkan kalimat yang ia rasa dapat menjelaskan aksinya barusan. “Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Kau sudah menolongku. Aku sangat berterima kasih.” Aira menatap Alden yang sedari tadi masih memasang raut kekhawatiran di wajahnya. “Aku baru sadar kau memiliki banyak sekali tumpukkan buku.” Seperti tidak terjadi apapun, Aira bangkit dari tempat tidur Alden dan menghampiri salah satu rak yang penuh terisi buku-buku dan dokumen yang entah apa saja isinya. “Boleh aku lihat?”

