Mempelai Pengganti
Di sebuah rumah mewah di tengah kota, tampak seorang pria baru saja menggebrak meja dengan begitu keras. Pria itu terlihat murka karena mendapati putrinya ternyata kabur dari rumah.
Apa!? Jane melarikan diri?" tanya Brama pada pengawal rumahnya setelah mendengar laporan yang membuatnya berdecak kesal.
“Benar, Tuan, Nona Muda melarikan diri dengan membius para pengawal dengan kopi yang beliau berikan. Kami sudah melacak di dalam dan luar negeri, tetapi tidak menemukannya.” Kepala pengawal yang bernama Zack menjelaskan kepada Brama.
“Bagaimana ini? Tuan Rafael pasti akan membuat kita kehilangan perusahaan kita.” Meira yang merupakan ibu Jane terlihat begitu panik.
Brama memijit pelipisnya. Ia benar-benar pusing dengan apa yang terjadi sekarang ini. Namun, saat melihat keponakannya yang bernama Shena datang membawakan teh, Brama pun mempunyai ide gila.
“Aku tahu, Meira. Kita bisa menggantikan mempelai wanita dengan Shena saja,” ucap Brama saat Shena baru saja meletakkan teh di atas meja.
Shena hanya diam sambil memegang erat nampan di tangannya. Sungguh ia tidak bisa berkutik. Jangankan membantah, berbicara saja pun pasti hanya akan mendapatkan amarah atau bahkan pukulan dari bibinya.
“Tapi, apakah Tuan Rafael mau menikahinya? Penampilannya saja seperti pembantu.” Meira menatap Shena dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
“Kita tidak punya pilihan lain. Apa kau mau melihat Tuan Rafael mengambil perusahaan kita karena hutang yang belum kita bayar?” Brama mengingatkan Meira.
“Ya, sepertinya kita tidak punya pilihan lain. Jane pergi pasti karena ia takut menikah dengan Rafael yang sangat kejam itu. Kasihan sekali anakku.” Meira menyeka sudut matanya yang basah.
“Sudahlah, Sayang, sekarang kita sudah punya solusi. Pelayan, sekarang persiapkan dia untuk pernikahan besok,” titah Brama pada pelayannya.
Pelayan langsung membawa Shena ke kamar untuk melakukan perawatan mendadak. Gaun pengantin yang akan dipakai Jane, akan ia pakai besok.
Shena hanya bisa menahan gejolak sedihnya dengan diam dan menangis.
Selama ini, ia sudah puas dengan segala tekanan yang ia terima sejak kecil. Shena memang anak dari adik pamannya. Ibunya meninggal saat melahirkan dirinya, dan ayahnya meninggal saat ia berusia lima tahun. Mau tidak mau, ia pun dirawat oleh paman dan bibinya yang terus saja memperlakukannya dengan buruk. Ia seperti anak yang tak diinginkan. Hanya dianggap sebagai beban padahal tenaganya selama ini digunakan untuk membantu para pelayan rumah dan melayani Jane yang merupakan kakak sepupunya.
“Nona, bersabarlah, Nona harus kuat,” ucap sang pelayan yang kini sedang meluluri tubuhnya.
“Apa salahku? Bahkan untuk hidup saja aku kesulitan. Kenapa aku harus menjadi korban.” Akhirnya Shena menumpahkan isi hatinya.
Padahal, beberapa minggu yang lalu, Rafael datang dan memilih Jane untuk menjadi istrinya. Namun, saat Jane melarikan diri, kini malah ia yang menjadi tumbal keserakahan paman dan bibinya.
Shena menggigit bibir bawahnya. Apakah memang ini akhirnya? Ia akan menjadi mempelai pengganti untuk orang kejam itu?
Shena tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Lari pun percuma, ia hanya akan mendapati dirinya disiksa dan dihukum oleh paman dan bibinya. Hanya pasrah dan menurut, itulah hal yang harus ia lakukan saat ini.
***
Di sebuah rumah mewah.
PRANKKKKKK
Seorang pria tengah melempar vas mahal ke samping dua orang yang sedang berlutut di hadapannya.
“Bagaimana bisa putri kalian pergi dan kalian tidak tahu!!” Mata merah menyala menatap kedua orang yang merupakan Brama dan Meira.
Mereka baru saja datang dan melaporkan perihal putri mereka yang kabur.
“Maafkan kami, Tuan, kami benar-benar tidak menduga akan hal ini,” ucap Brama dengan tatapan memelas.
“Aku sudah berbaik hati menukar hutang kalian dengan anak kalian, tetapi kalian tidak bisa menjaga gadis itu!” Rafael menatap sepasang suami istri itu seperti hendak menerkam mereka.
“Maafkan kami, Tuan, semua terjadi begitu saja. Selama ini Jane menunjukkan sikap yang seolah ia setuju dengan pernikahan ini.” Meira menambahkan.
“Jadi maksud mu ini semua salahku?”
“Tidak, Tuan, ini salah kami.”
“Lalu kenapa kalian berani-beraninya menginjakkan kaki kalian di rumah ini? Apa kalian sudah bosan hidup?” Rafael berdiri dan berjalan mengelilingi mereka yang semakin ketakutan.
“Ka-kami ingin mengusulkan mempelai pengganti untuk Tuan,” ujar Brama.
“Apakah anak kalian ada dua?”
“Tidak, Tuan, dia adalah keponakan kami. Dia akan menjadi mempelai pengganti untuk Tuan,” sahut Meira.
Rafael berpikir sejenak. Ia sebenarnya tidak peduli pada calon istrinya, yang ia ingin lakukan hanyalah menikah karena tidak ingin harta kekayaannya diambil oleh sang nenek karena ia tak kunjung menikah. Ia memilih Jane sebagai istrinya karena ia sangat cantik dan menarik untuk menemaninya sebelum akhirnya ia ceraikan setelah ia mendapatkan hak waris dari harta tersebut.
“Bawa dia besok.”
Sontak ucapan Rafael pun membuat Brama dan Meira mengangguk dengan cepat.
“Sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran!!”
Dengan cepat, Brama dan Meira pun segera pergi dari rumah tersebut. Akhirnya mereka bisa bernapas lega karena Rafael menyetujui usulan mereka.
Rafael kembali ke kamarnya. Ia menatap foto kedua orang tuanya yang selama ini ia cari sejak ia mendengar fakta bahwa kedua orang tuanya menghilang saat menaiki kapal menyebrangi pulau dua puluh lima tahun yang lalu. Ia sudah mencari ke segala penjuru, namun, tim penyelamat yang sudah ia bayar mahal guna mencari mereka tak kunjung membuahkan hasil.
Dulu saat mereka pertama kali menghilang, pencarian dilakukan di laut maupun di darat, namun tidak membuahkan hasil.
Rafael meletakkan foto itu ke atas meja. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia pun memilih berbaring di atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya sambil mengingat sesuatu.
Ia pun tersentak kaget dan segera pergi ke kamar mandi.
Di sisi lain, Shena sudah selesai melakukan perawatan tubuh. Ia bahkan sudah mencoba baju pengantin milik Jane yang akan ia kenakan besok. Tubun mereka hampir sama, hanya saja Jane memiliki tubuh sedikit lebih berisi daripada Shena.
Shena mendudukkan dirinya di atas ranjang. Ia tampak melamun hingga tiba-tiba ponselnya bergetar. Terlihat itu adalah sebuah pesan. Ia pun membuka pesan dari nomor tak dikenal.
Seketika matanya membulat membaca isi pesan tersebut. Di dalam pesan itu tertulis TERIMA KASIH, AKU AKAN SELALU MENGINGAT JASAMU.
Shena yakin itu adalah pesan dari Jane, kakak sepupunya. Sikap Jane berbeda dari orang tuanya. Jika kedua orang tuanya memperlakukan Shena dengan sangat buruk, maka Jane begitu menyayangi Shena seperti adik kandungnya sendiri.
Shena menghela napas pelan. Ia tidak bisa marah kepada Jane. Selain Jane menyayanginya, Jane juga anak paman dan bibinya. Ia pun membalas pesan tersebut. SAMA-SAMA.